Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Masihkah Kau ....?


__ADS_3

Makasih yang sudah mampir di coretan Yevn.


Sungguh masih banyak kesalahan dalam penulisan ini. 🙏🙏


Disini Yevn hanya berbagi sedikit kisah pribadi Yevn. Ada komentar yang Yevn baca kalo ini lebih seperti membaca diary, betul sekali. 👍✌


Buat yang dah mampir dan sudah komen, follow Yevn. Nantikan 'surat cinta Yevn' di pc kalian ya. Gift misterinya masih ada ya.... 😄😄


Pastikan kalian sudah Follow Yevn.


💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠💠


Dua bulan sudah setelah selesai acara pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran malam itu.


Hari hari ku jalani dengan sibuk kerja dan kuliah. Aku menetapkan target lulus kuliah ku. Aku mulai sering sharing dengan dosen pembimbing.


Saat ini aku sedang tugas dinas di luar kota.


Sudah 3 hari aku tidak pulang. Saat ini Eva sering mengikuti ku bahkan tinggal bersamaku di rumah Dinas.


Aku juga menyusun target untuk memiliki rumah sendiri. Akan kah kesampaian? Ku mulai azam ini dengan Bismillah, semoga Allah berkenan mengabulkan.


Setelah kembali dari luar kota, aku dapat izin libur dari kantor.


Ku manfaatkan waktu ini untuk pulang ke rumah mama.


Sudah lama aku tidak pulang menemui wanita tangguh, cahaya hati dan juga duo jagoan penyemangat ku.


Siapa lagi kalo bukan Ibu, ayah dan bang Vhen.


Kak Mashel? Tentu saja, karena sekarang beliau sedang menyiapkan masa kelahiran anak pertamanya.


****


"Dek, ke pantai?" Ucap bang Vhen kala melihatku duduk melihat mama mengeluarkan kue pie dari panggangannya.


"Ngapain panas panas ke pantai?" Jawabku.


"Ya ampun dek,, panas sore biasa aja kali, lagian ga bikin gosong kulitmu. takut banget.." Jawab bang Vhen meledek ku.


Mama tertawa mendengar jawaban bang Vhen.


"Isshh...." Jawabku sambil melirik tajam ke arah bang Vhen.


Lalu tersenyum merekah sambil memotong pie dan melahapnya.


"Masakan mama memang top." Ucapku.


Bang Vhen duduk di sampingku,


"Mau dek,, suapin." Ucap bang Vhen.


"Boleh, aaaaaa nyam, ambil sendiri."


Bang Vhen menatap tajam ke arahku.


"Abang ku yang tampan jangan ngambek, cup cup cup.. ambil sendiri."


Abang menatap ku semakin kesal. Mama tertawa di susul ayah dari arah belakang ku.


"Wah, ga ajak ajak ya kalo lagi makan enak." Ucap ayah sambil duduk di kursi.


"Ayah mau? sini Yevn suapin."


Abang Vhen semakin menjadi kesal. Cemburu akan perlakuanku.


"Jangan ngambek, ntar adek ga mau loh ke pantai nya." Ucapku pada bang Vhen.

__ADS_1


"Yevn, kemarin itu pernah ada temen mu datang ke rumah." Ucap mama.


"Hm,, siapa mah? laki laki, perempuan?"


Tanyaku sambil tetap menyantap pie ku. 😙


"Laki, 2 orang. Mama ga kenal, Vhen juga ga ada d rumah. Jadi ayah sama mama suruh masuk aja. Katanya mereka kebetulan lewat, trus mampir. " Jelas mama.


"Ooh.... ga apa apa lah. Kalo penting pasti mereka telfon Yevn." Jawabku tak tertarik. Karena fokusku dengan pie buatan mama.


😅😅😂😂😂


****


Aku benar benar memanfaatkan waktu libur ku ini. Bahkan saat ada tawaran main musik aku tolak. Karena aku benar benar ingun istirahat sejenak, benar benar libur.


"Mau kemana dek?" Tanya bang Vhen yang melihat ku siap siap di kamar.


Kebetulan pintu kamar ku terbuka.


"Keluar bentar bang. Hmm,, ke rumah mama Finda." Jawab ku sambil tersenyum berat.


Aku masih rutin berkunjung ke rumah almarhum kak Arfan. Menjenguk kedua orang tuanya, menjalin hubungan silaturrahmi meskipun beliau sudah tidak ada.


"Hmm,, abang ikut." Ucap bang Vhen.


Aku hanya mem alas dengan senyum dan mengangguk mengiyakan.


Sesampainya di halaman rumah, mama Finda yang sedang menyiram tanaman langsung menyambut kami.


Mama Finda memelukku dengan hangat.


"Kaifahaluki?" Ucap mama Finda.


"Bikhoir alhamdulillah." Jawabku.


"Alhamdulillah nak, sehat sehat orang tua." Jawab nya sambil tersenyum, dah menyentuh pipiku dengan tangannya.


Raut wajahnya terlihat sedih, meski beliau masih coba untuk tetap tersenyum.


Beliau menatap ku iba.


Aku hanya tersenyum, menahan sesuatu yang membuncah di hatiku.


"Om dimana tante?"


Tanya bang Vhen memecah keharuan di antara kami.


"Om ada di samping, bersih bersih tanaman. Yuk masuk, tante panggil om dulu."


Setelah bertemu dan menyapa papa Usman, ku tinggalkan bang Vhen mengobrol bersama beliau.


Aku mengikuti mama Finda ke dapur menyiapkan minuman dan camilan.


Tiba tiba mama Finda menatap ke arahku.


Aku membalas melihat ke arah beliau.


"Kapan kamu akan membuka hatimu lagi nak?" Tanya mama Finda.


Ku hanya tersenyum lalu menunduk.


"Kuncinya sudah di bawa almarhum ma." Jawabku.


"Mungkin usia mu masih muda, tapi cobalah buka hati mu lagi. Mama yakin almarhum juga tidak senang jika kamu gini terus. Kata mama mu beberapa laki laki sudah masuk melamarmu, tak adakah satu pun yang menarik hatimu? mungkun kamu bisa mencobanya dulu" Ucap mama Finda.


"Yevn masih muda ma. Mungkin saat ini Yevn sedang tidak ingin memikirkan hal itu. Yah, selain almarhum alasan utamanya." Jawabku.

__ADS_1


"Ayah mu sudah tua, sudah sakit sakit. Kamu bisa lihat bagaimana kesehatan beliau akhir akhir ini. Beliau sangat ingin melihatmu menikah, Vhen juga.


Vhen juga sudah ada calon, tapi dia ingin melihat mu menikah dulu, baru dia menyegerakan dirinya." Jelas mama Finda.


"Mama jadi bersalah jika kamu menutup diri seperti ini. Mama sangat ingin kamu yang menjadi menantu mama. Pilihan Arfan adalah pilihan mama sekeluarga. Tapi Allah berkendak lain. Tapi kamu tetap putri mama. Hanya ini yang bisa mama kasi." Ucap mama lagi dengan mata berkaca kaca.


Aku memeluk mama Finda dengan sayang. Sungguh aku tak ingin beliau menangis.


Aku sendiri mencoba menahan air mata agar tak jatuh.


Mama mengangkat nampan berisi teh hangat dan biskuit. Aku memasuki ruang latihan almarhum kak Arfan setelah minta izin pada mama Finda.


Disini lah pertama kali aku bertemu almarhum. Aku dikenalkan oleh bang Vhen.


Masih terlihat jelas wajah kak Arfan menyambut kami.


****


Rindu pada sang terkasih,


sangatlah lumrah,,


Rindu ku pada sang kekasih juga terukir jelas,


Hanya saja,


Rinduku tak berujung,,


Rinduku,


tak seperti ombak yang kunjung menemui pantai,,


hanya aja, rinduku ku labuhkan ia dengannya


mencium bibir pantai dan melebur menghantam karang,,,,


Aku bahkan tak mengerti alurnya,,,,


****


Kak Arfan tersenyum manis kala itu. Kasih dan perhatian yang ku sangka hanya sebatas saudara, ternyata sayang menyusul di baliknya.


Namun hati ku benar benar terlabuh dengannya.


Aku bahkan melupakan keberatanku menerimanya yang beralasan umurku yang masih terbilang belia.


"Ana uhibbuka fillah, kak. Arfan Hadi Al Ghifary bin Usman Al Ghifary, aku siap menerima lamaranmu, menjadikanmu imamku, menjadi teman hidupmu, mencintaimu sepenuh hati karena Allah.


Aku akan berusaha untuk memantaskan diriku untukmu. Semoga Allah meridhoi."


Tak kan ada yang akan mengerti dilema ini.


Takkan pernah ada yang mengerti hati mu Yevn.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2