Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Dan lagi?


__ADS_3

Setelah mengambil tas di ruanganku, aku menuju pintu samping yang mengarah langsung ke arah parkir.


Kak Teguh sudah meninggalkan ku sejak tadi.


Sembari terus melangkah, terlihat seseorang di pintu yang ku tuju.


Beliau sedang bercakap cakap dengan seseorang yang merupakan camat dari kecamatan Y, pak Andris yang berdiri memunggungiku.


Pandangan kami kembali bertemu, setelah beberapa jam yang lalu sempat bertemu.


Iya, seseorang itu adalah camat dari kecamatan X, pak Kavindra.


Aku kemudian berlalu melewati mereka setelah menyapa dengan sopan.


Aku terus berjalan hingga tiba di depan pintu mobil.


Hingga tiba tiba aku di buat begitu kaget dengan suara yang tiba tiba muncul di belakangku memberi salam.


"Assalamu'alaikum.." Sapa beliau.


Begitu ku balikkan badan dan mengetahui siapa yang memberi salam, aku di buat cukup terperangah.


"Wa'alaikumsalam." Sunggingan senyum terlukis di bibirnya.


"Mau pulang?" Tanya beliau padaku.


"Iya, pak." Jawabku sekedarnya sambil membalas senyum nya dengan canggung.


Lama kami terdiam tak tahu akan berkata apa. Akhirnya aku mengambil inisiatif untuk pamit pada beliau.


"Ehnn, saya duluan kalo begitu." Ucapku langsung berbalik membuka pintu mobil.


Beliau masih mematung tak merespon. Aku juga tak memperdulikannya.


"Hmm,, Yevn."


Tiba tiba suaranya terdengar memanggilku. Aku kembali menoleh ke arahnya bertanya tanya.


"Oh, hati hati." Ucapnya dengan bingung dan ragu ragu menurutku.


"Oh, terimakasih." Jawabku. Lalu pergi meninggalkannya.


Apa yang ingin dia katakan.


.


.


.


.


.


Usai shalat isya', aku duduk di pinggir tempat tidur dengan memegang sebuah benda yang ku ambil dari laci meja hias tadi.


Sebuah benda,,


Benda persegi, sebuah kotak dengan lapisan beludru lembut berwarna maroon yang ku dapatkan dari sebuah paperbag mini berwarna serupa dengan kotak yang ku pegang saat ini.


Aku menilik dengan kedua tanganku, lalu membuka nya.


Terlihat sebuah cincin dan sebuah gelang emas yang melingkar di dalam kotak mungil ini.


Aku ragu jika bingkisan yang ku terima darinya ini, benar benar untukku.


Apa benar ini untukku?


Aku tak bisa menerimanya.


..


Tok tok tok.....


"Dek,, dek.... kamu di dalam?"


Ketukan pintu dan panggilan dari suara bang Vhen membuyarkan lamunan ku.


"Hn,, iya bang." Sahutku dari dalam.


Aku buru buru menutup dan menyimpan box kecil berwarna maroon di laci nakas. Abang membuka pintu kamar melirik ke arahku.


"Lagi ngapain?" Tanya nya sembari melangkah maenghampiriku.


Aku tersenyum ke arah abang.


"Ga ada, habis sholat jadi duduk duduk aja." Jawabku.

__ADS_1


Abang mengusap kepalaku, seakan mengerti dengan isi kepalaku yang sesak dan kusut.


Terlalu banyak yang ku fikirkan.


Tentang pekerjaan di kantor, sikap kak Teguh yang menurutku sedikit berubah, dan aneh menurutku.


Tentang mama, ucapan mama masih terngiang ngiang di kepalaku. Lamaran dari teman SD ku.


Dan,,


,,,,,


Tentang dia, pak Kavindra.


Akhir akhir ini dia sering mengalihkan perhatianku untuk memikirkan hal lain.


"Dek, pake jilbabmu, yuk keluar." Ucap bang Vhen kembali membuyarkan lamunanku.


"Keluar? kemana?" Tanyaku heran.


"Keluar dari sarangmu ini,, yuk, di luar ada tamu, nyari kamu" Aku kembali heran dan tercengang.


Tamu? Malam malam? Apa teman kantor ada keperluan mendesak? Karena besok libur dia mencariku malam malam hingga di rumah.


Tapi keperluan apa yang membuat nya tidak bisa menghubungiku lewat telfon saja.


Aku mengenakan jilbab dan mengikut abang dari belakang.


Terdengar suara kak Aisyah dan Eva mengobrol dari arah dapur tepat di sebelah kanan ku.


Bicara apa mereka hingga tertawa begitu keras hingga terdengar sampai ke sini?


Gumamku kesal.


Aku mengekori abang yang terus melangkah ke ruang keluarga?


Tunggu,.


Ruang keluarga? Katanya tamu, kok di ruang keluarga?.


Aku melirik dari balik punggung bang Vhen.


Deg,,,,


Langkah ku terhenti dan tak ku sadari abang telah duduk di sofa melirikku dengan tatapan heran.


Pak Kavin juga sedang menoleh ke arahku yang sedang membatu.


Mengapa aku bersikap seperti ini, mengapa aku selalu merasa aneh dan di buat tak berkutik juga di dekatnya.


Tak lama kak Aisyah datang bersama Eva membawa minuman dan makanan ringan dari arah dapur.


Dalam waktu yang sama, bang Vhen beranjak meninggalkan kami karena menerima telfon.


"Silakan di minum pak," Ucap Eva pada pak Kavin.


"Silakan bu Yevn, di minum,, ga usah malu malu, anggap di rumah sendiri ya.."


Eva melirik dan menggodaku.


Kak Aisyah hanya tersenyum melihat aku melirik Eva dengan jengkel. Kemudian beliau berlalu meninggalkan kami.


Ku lihat Eva ikut beranjak sambil melambaikan tangan nya bak miss-missqueen.. Hahaha 😅😅😂 peace avE ✌


Aku melemparnya dengan bantal sofa, karena kesal dan geli melihat tingkah konyol dan menyebalkan yang di buatnya.


Dia memungut bantal sofa yang ku lempar dan memberikan pada pak Kavin.


"Hati hati, singa mengamuk pak."


Ucapnya berlalu kabur dengan berlari kecil sambil menjinjit kakinya dengan masih menoleh ke arahku. Tatapan yang menjengkelkan.


Pak Kavin tersenyum, hmm mungkin tertawa karenanya. Beliau juga menggelengkan kepala karena tingkah Eva.


Seketika tatapan kami bertemu, dan aku jadi salah tingkah.


Sepertinya dia menyadari kegugupanku.


"Jangan marah marah bu singa.. Eh, maap bu." Pak Kavin tertawa ikut menggodaku.


Aku memonyongkan bibirku mendengar ucapannya. Sungguh menjengkelkan,,


Tapi, tunggu,, apa baru saja dia berani bercanda padaku?


Es balok, manusia kutub, freezer, gunung es ini sedang tertawa dan bisa bercanda? Bisa?


Mana selama beberapa hari ini aku di buat bingung harus bersikap bagaimana padanya.

__ADS_1


Sejak bertemu dengan mama, sejak penolakan untuk melanjutkan pendekatanku padanya, terlebih lagi sejak aku tahu isi dari hadiah yang di berikan nya padaku.


Tiba tiba matanya beralih ke arah tanganku. Aku lantas ikut melihat ke arah yang di tatapnya. Apa yang dia lihat?


Seketika ku lihat gurat kecewa dari wajahnya. Tapi apa? Kenapa? Aku kan tidak bisa membaca isi hati dan fikiran orang lain.


Tiba tiba aku menyadari sesuatu, dan aku sepertinya aku mengerti maksudnya.


Aku berlalu meninggalkannya setelah minta izin untuk beranjak sebentar dari tempat.


Begitu kembali dan duduk di tempat sebelumnya, aku menyodorkan paperbag mini yang pernah di berikan padaku, sebagai hadiah.


Beliau mengalihkan pandangannya dari benda tersebut kearahku. Menatapku dengan lekat.


"Maaf, pak." Ucapku menunduk tak berani melihat ke arahnya.


"Kenapa?" Tanyanya singkat.


"Aku makasih banget karena kebaikan hati bapak, atas doa terbaik dengan bertambahnya usiaku. Tapi ini terlalu berlebihan menurutku, aku tak bisa menerima." Ucapku.


"Aku gak bisa nerima balik, karena itu dari mamaku." Ucapnya singkat, dan cukup,, ah tidak, tapi sangat membuatku kaget mendengar ucapannya.


"Dari tante Suhaera?" Tanya ku lagi.


pak Kavin mengangguk,


"Aku tidak memberikan apapun untukmu, selain sebuah harapan." Ucapnya lagi. Aku menatapnya heran.


"Ehmm,, sepertinya ini bukan waktuku untuk tampil ya. Hehe, aku salah, silakan,, lanjutkan,, aku menyusul mereka saja." Ucap bang Vhen yang tiba tiba muncul setelah menerima telfon.


Namun bang Vhen kembali berlalu meninggalkan kami.


Aku melihat punggung bang Vhen yang semakin menjauh dan hilang di balik dinding.


Ku lihat wajah laki laki di hadapanku yang menatapku dengan serius, namun hangat.


"Hm,, sampai dimana?" Tanyaku berusaha mencairkan suasana, karena aku sudah di buat takut dengan tatapannya yang seolah siap melahapku hidup hidup.


"Kamu siap menerimaku menjadi imammu dan kamu menjadi makmumku." Ucapnya cepat.


"Kapan aku mengatakannya?" Jawabku setelah lama terdiam mendengar ucapannya yang ngasal.


"Lah, kok tiba tiba bisa ingat, tadi kan nanya sampai dimana. Pura pura tadi ya,,,"


Ucapnya meledekku.


Manusia kutub lantas mengangkat cangkir dan menempelkan pada bibirnya.


Aku mengambil air putih di sudut sofa yang selalu tersedia di sana.


Karena aku tidak terbiasa minum minuman manis dari dulu.


Aku terkesiap begitu meletakkan minumanku di atas meja. Karena tatapannya begitu sulit ku artikan, tapi sangat tajam hingga aku di buat bergidik.


"Yevn,," Panggilnya.


Aku mengernyitkan kening dan melihat ke arahnya, menunggu kalimat apa yang ingin dia ucapkan. Karena sedari tadi aku di tatap penuh mangsa.


"Uhibbuki fillah,,,," Ucapnya lirih.


Dia mengeluarkan sesuatu dari tangannya, membuka box merah kecil dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapanku.


"Pilihan untukmu hanya dua,,," Ucapannya terhenti.


",,,pertama, menerimaku sebagai suamimu, atau kedua, siap menjadi istriku?"


Dia kembali mengangkat wajah nya melihat ke arahku, tanpa senyuman.


Aku tak bisa berucap apapun. Hanya bisa terdiam dan penuh kebingungan.


"Yevn,,,," Dia akhirnya bersuara setelah lama keheningan tercipta dari kami berdua.


"Aku,,,,"


Aku tak bisa berucap lagi, lantas menyunggingkan senyuman padanya.


.


"Maaf,,,,"


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


.


__ADS_2