
Assalamu'alaikum,,,," Ucapku padanya yang sedang duduk di bangku yang terletak di teras samping rumahku.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi,,," Jawabnya dengan wajah berseri.
"Kenapa ga di dalam saja? Apa ini begitu penting?" Tanyaku sambil bercanda.
"Buatku sangat penting untuk melihat bahagia mu tanpa beban." Jawabnya.
Aku lantas tersenyum mendengar jawabannya. seketika ku edarkan pandanganku ke sekeliling.
"Ada apa?" Tanya nya memasang wajah werius.
"Tidak ada, yuk di dalam saja, di sini banyak nyamuk." Jawabku sekenanya.
Tanpa pikir panjang dan banyak bertanya, manusia kutub langsung masuk ke rumah. Aku memilih duduk di ruang keluarga.
"Apa bapak keberatan jika aku ajak Eva bergabung bersama kita? Karena bang Vhen sedang keluar sebentar, Aku ga enak hanya berdua saja."
"Iya, ga masalah." Jawab nya cepat.
,,,,
Eva sudah duduk di dekat ku memainkan ponselnya, sementara kak Aisyah sedang sibuk di dapur, mungkin menyiapkan alat makan atau sedang bikin minuman.
"Jadi?" Aku mulai bertanya pada pak Kavin.
"Aku masih ga enak terkait jawaban mu tempo hari mengenai jadwal pernikahan."
Ucapan nya terhenti, seperti nya sedang menimbang nimbang kalimat berikut yang akan di sampai kan nya pada ku.
"Lusa orang tua ku beserta keluarga akan berkunjung ke rumah orang tua mu."
"Iya, bang Vhen sudah menyampai kan nya pada ku." Jawab ku cepat.
Terlihat wajah manusia kutub ragu ragu dan penuh kekhawatiran.
"Insyaallah, ku percaya kan pada takdir Allah dan apapun keputusan dari kedua belah pihak."
"Sejujurnya disini aku lah yang lebih merasa khawatir, pak. Dari awal aku sudah jujur dan terus terang pada bapak, bagaimana perasaan ku sekarang, aku belum bisa mencintai bapak. Aku juga masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan, aku tidak ingin membuat bapak merasa kecewa dan aku tak bisa berbohong tentang hal ini."
Ucapku tak berani menatap ke arahnya.
"Apa kamu merasa pernikahan ini sebuah paksaan?"
"Tidak, aku tahu aku salah dengan perasaan ku yang tertanam Dan tertuju pada satu arah, mencintai dia hingga melanggar takdir Tuhan yang sesungguh nya. Aku bukan penyair atau pujangga, bukan tokoh telenovela atau lain sebagainya. Aku hanya seorang tokoh yang mempertahankan perasaan pada laki laki yang pernah hadir di hidup ku."
"Dia pernah hadir, 'pernah'." Pak Kavin memotong membuatku tercekat dan bungkam dengan kata yang di tekan kan nya.
__ADS_1
"Maaf ." Sambung nya.
"Tidak, tidak ada yang salah." Jawab ku dengan melempar kan senyum pada nya.
Hingga obrolan kami terputus begitu ku ajak beliau ke meja makan. Karena makanan sudah tertata rapi di atas meja, karena bang Vhen sudah pulang sejak tadi.
Terlihat bang Vhen sedang bermesraan di sambil membantu kak Aisyah.
"Ambooooii,,,, bikin iri yang jombling." Ucap ku menggoda mereka.
"Jombling apa nya? Gak lama lagi bakal tak kalah mesra nya."
Bang Vhen malah balik menyerang ku. Sontak muka ku memanas, pipiku memerah, terlihat manusia kutub tersenyum dengan sedikit tawa.
"Hahaha,,,, senjata makan tuan." Ledek Eva menertawai ku Penuh puas.
"Sama aja, kamu juga." Ucap kak Aisyah. Kini bang Vhen kembali tertawa melihat ekspresi Eva yang terlihat kesal.
Entah bagaimana kabar hubungan nya dengan Rahmad. 'Semoga hubungan mereka baik baik saja', gumamku.
****
Aku melewati lorong kantor menaiki satu persatu anak tangga menuju ke aula lantai atas, dimana pertemuan beberapa anak seni di kecamatan X dan beberapa karyawan pertamina serta perangkat pemerintah kecamatan.
Iya, aku sekarang di kantor X memenuhi undangan untuk menghadiri rapat terkait ke berangkatkan ke Lombok.
Ada di antara mereka ku lihat para gadis bahkan saling berbisik. Perasaan ku mulai tidak nyaman dengan tatapan mereka seakan menguliti ku dengan sadis.
Rapat di langsung kan. Dan aku menyampai kan ucapan maaf karena harus menolak tawaran yang di berikan. Hal ini sudah ku sampai kan pada manusia kutub dan beliau memaklumi nya.
Mama juga sudah memberi saran pada ku agar tidak bepergian jauh buat sementara waktu. Mereka mempercayai bahwa aku sudah di kategorikan 'gadis manis' atau di sebut juga 'anyir'.
Para hadirin rapat sangat menyayangkan penolakan ku, namun mereka juga tak mampu mempertahan kan ku dan membujuk ku untuk ikut. Meski tawaran yang di janjikan mampu membuat gemuk dompet ku. ðŸ¤ðŸ˜…
.....
"Yevn, aku mau bicara sebentar."
Seseorang muncul begitu saja menyambar tangan ku saat usai rapat, sontak itu membuat ku kaget.
"Ozy...?" Aku semakin kaget begitu menyadari siapa gerangan yang menarik tangan ku.
" Bagaimana mungkin kamu memilih untuk menikah dengan nya,?"
Lagi lagi aku semakin naik kaget. Ternyata Ozy belum menyerah untuk mempertahan kan perasaan nya pada kutub dan memisah kan hubungan kami.
"Ozy, aku sedang tidak ingin membahas ini." Ucap ku.
__ADS_1
"Tapi kita harus membahas ini." Ozy bersikeras,
Aku heran bagaimana mungkin bisa ada manusia yang benar benar real seperti Ozy. Ku kira karakter seperti Ozy hanya ada di tv atau di novel saja.
"Begini saja, jika kamu memang masih mau membahas ini, oke. Aku ga masalah, tapi bos mu juga harus ikut. Karena di sini, masalah ini, bos mu lah kunci utama nya."
Ucap ku pada Ozy, lantas membuat Ozy membelalak.
"Tidak, ini hanya antara kita, Yevn. Kunci nya hanya kamu, jika kamu melepas kan dia ini akan jadi mudah."
"Mengapa aku harus melepas nya?"
Tanya ku cepat memotong ucapan Ozy yang tak ada habisnya.
"Karena kamu tak mencintai nya. Jadi untuk apa kamu berpura pura mempertahan kan dan menjalan kan hubungan yang penuh fatamorgana ini." Ozy semakin membuat ku hilang kesabaran.
"Ozy, aku,,,," Belum sempat aku berucap,,
"Ada apa? Ozy, ke ruangan saya, sekarang."
Ucap laki laki yang tiba tiba muncul dengan nada penuh tekanan pada kalimat nya.
"Ba,, baik, pak." Ucap Ozy terbata bata.
Aku masih kaget bukan kepalang, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tiba tiba kesadaran ku kembali tat kala tangan nya menarik tangan ku meminta ku untuk ikut dengan nya. Siapa lagi kalo bukan bos Ozy alias manusia kutub.
Menyadari tangan ku masih di genggam nya, aku segera menarik tangan ku tak ingin ada yang melihat dan menjadi pusat perhatian penghuni kantor. Untung di lorong saat ini sepi.
Tapi tidak pada satpam, pak Ijal dan dua karyawan kantor . Kak Sri yang sedari tadi bersama kami, yang ikut bersama bos nya memergoki aku dan Oz, segera menghampiri pak Ijal dan dua orang karyawan tersebut.
.....
"Kak, ke ruangan ku bentar."
.
.
.
Bersambung,,,,
.
.
.
__ADS_1