
πΌπΌββ »»Hai hai hai ...... para kesayangan....πππ
Makasih banyak dah mampir..... π€π€
Jangan lupa like, fav, rate lima bintang β β β β β ya, jangan kurang ππ tinggalin jejak di komentar biar aku tau π Vote juga bagi yang berkenan. Makaciiih... ππππ
## ......] βββββ‘β‘πππππ
Abang Vhen yang mendengar ucapanku dan melihat ke arah kak Arfan yang sedang tersenyum, menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Abang Vhen menoleh kearah ibu dan ayah bergantian. Memberi kode dan di balas senyum oleh ayah dan ibu.
"Ekhem.. Jadi kapan keluargamu datang masuk melamar" Tanya ayah tiba tiba dengan sambil tetap menikmati sarapannya.
Pipiku terasa panas, abang Vhen ketawa pelan melihat kearahku. Kak Arfan tersenyum melihat pipi tomatku yang sudah sangat matang.
Hari ini di meja makan hanya ada ayah, ibu abang Vhen, kak Arfan dan aku. Kak Mashel sudah pulang kerumah mertuanya beesama suaminya.
Jika tidak maka akan semakin ramai yang menggodaku.
"Secepatnya Paman." Ucap kak Vhen mantap.
"Baguslah kalo begitu." Jawab ayah.
Ibu meraih pundakku dan mengelusnya. Abang Vhen tersenyum ke arahku, ada raut bahagia bercampur sedih yang dapat ku tangkap di wajahnya.
Semua selesai sarapan. Kami masih duduk di meja makan. Abang Vhen yang tadi beranjak meninggalkan tempatnya kini kembali sambil menyodorkan beberapa ibat padaku.
Abang Vhen selalu memperdulikan ku. Dia tidak akan memastikan aku mengkonsumsi obat ku tepat waktu. Abang Vhen juga selalu memastikan kalau aku baik baik saja.
__ADS_1
Aku mengambil obat dari tangan abang Vhen dan meminumnya. Dari sudut mataku dapat ku lihat kak Arfan memperhatikanku.
"Kakak kenapa melihat? mau?" Ucapku asal.
Semua tertawa termasuk kak Arfan.
"Apaan sih kamu , dek." Ucap abang Vhen mencubit pipiku.
Ayah menoleh pada kak Arfan.
"Yevn sudah ada kemajuan, setiap kali periksa dokter selalu menyampaikan hal hal positif. Tapi Yevn masih hatus tetap rutin minum obat dan terus kontrol." Jelas ayahku.
"Aku yakin dia bisa sembuh, insyaallah. Kita terus berusaha yang terbaik dan berdoa pada Allah." Ucap kak Arfan.
"Terimakasih sudah mau menerimanya dan segala kekurangannya." Ucap ibuku haru.
Ucapku sambil bangun dari duduk dan terus melangkah meninggalkan semuanya.
"Pantesan bau. Abang pikir apa, ternyata kamu dek." Ledek abang Vhen.
Semua tertawa mendengar ledekan dari abang Vhen.
"Bau bau gini semua pada sayang." Jawabku sambil menoleh pada abang Vhen.
"Apalagi itu teman abang." Ucap ku melihat ke arah kak Arfan. Kak Arfan tersenyum geli sambil menggelengkan kepala melihat tingkahku dan abang Vhen.
Aku berlalu meninggalkan semuanya menuju kamar untuk mandi. Kak Arfan dan keluarga ku masih lanjut mengobrol.
Usai membersihkan diri di kamar, Aku menuju ruang latihan. Ku pikir semua sudah sibuk dengan kegiatan masing masing. Kak Arfan, mungkin sudah pulang.
__ADS_1
Aku mengambil Biola dari tempatnya.
Berniat tadinya mau memainkan piano.Tapi saat memasuki ruangan aku justru menghampiri biola.
Aku memainkan sebuah lagu. Ku gesek dengan perlahan. Ku mainkan dengan penuh penghayatan dan cinta.
Aku memejamkan mata menikmati setiap gesekan yang ku buat. Hingga usai, tepuk tangan menyambut.
Kulihat ada abang Vhen, ayah dan kak Arfan sudah berada di ruanganku.
Aku hanya tertawa malu.
Abang Vhen mengambil gitar, ayah mengambil biola dari tanganku. Aku duduk siap dengan piano, kak Arfan duduk di sampingku.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1