Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Uhibbuka Fillah


__ADS_3

Aku dan pak Kutub tiba di rumah ku. Sementara bang Vhen belum bisa tinggal bersama ku karena harus keluar kota kembali mengajar. Eva seharus nya juga tiba hari ini di rumah ku, tapi karena tiba tiba mendapat urusan mendadak di keluarga nya akhirnya beliau kembali libur kerja.


Tadi malam di rumah mama beliau sempat bertanya tentang laki laki yang datang tiba tiba mencari bang Vhen. Aku bisa menangkap wajah kesal suami ku yang menurutku mungkin dia tahu siapa laki laki itu.


Junaidi, laki laki yang pernah melamar ku tapi langsung di tolak. Wajah kesal kutub tadi malam sangat tergambar jelas, apa mungkin dia cemburu? Entah lah.


Aku memilih diam, karena tidak tahu harus bersikap seperti apa untuk menghadapi manusia salju yang sedang kesal.


Usai shalat Ashar berjamaah,


"Malam ini tidak perlu masak, kita pesan di luar saja." Ucap nya tiba tiba.


"Aku istri, kenapa tidak boleh masak? Apa masakan ku tidak enak?" Aku mulai protes, rasa nya benar benar kesal.


Beruang kutub yang tadi nya tidak menoleh, namun saat mendengar ucapan ku, kini langsung menghampiri ku.


"Bukan begitu sayang, aku hanya tak ingin kamu lelah, apalagi kita baru saja tiba dari rumah mama." Aku hanya diam tak menggubris, rasanya masih saja kesal.


"Aku sangat senang, makan dari masakan yang di sediakan istriku, aku hanya tak ingin melihat mu lelah. Jangan marah." Ucap nya sambil memeluk tubuhku dari belakang.


"Kalo aku ga boleh marah, terus bapak boleh marah?" Tanya ku lagi dengan masih kesal.


"Kapan aku pernah marah?" Beliau mengangkat kepala nya.


"Dari kemarin diem aja."


Wajah nya terlihat mencoba mengingat.


"Hahaha,,, itu hanya karena aku kesal, dia melirik ke arah istri ku."


"Dia? Dia siapa?" Tanya ku.


"Sudah, jangan di bahas." Ucap nya lagi sambil mencoba memeluk ku. Tapi aku menghindar.


"Jangan bilang bapak cemburu?"


Goda ku.


"Cemburu? Mana mungkin." Ucap nya.


"Hilih,,,,"


Aku terus menghindar, berusaha meninggalkan nya di kamar.


.....


Aku yang sudah merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, menyalakan televisi di dalam kamar siap memutar film horror hasil pencarian ku dua hari lalu. Kini mendapati pintu kamar yang terbuka, menunjukkan manusia kutub yang masuk dengan sebuah gitar di tangan nya.


Aku hanya melongo melihat nya, kemudian tertawa, karena aku memang tidak pernah melihat nya bermain alat musik apapun. Meskipun ku akui beliau memiliki suara yang bagus saat dulu pernah bernyanyi di festival music di malam duet camat dengan peserta.


Aku hanya tersenyum melihat kutub yang duduk di tepi tempat tidur, kemudian jari nya mulai memainkan gitar, sontak membuat ku tertawa.


Raut wajah…Mendamaikan…


Dan sesuci..Selembut hatimu


Sinar mata…Mempesona…


Bagai gugur seluruh jantungku…


Aku ingin engkau tahu…


Cinta aku satu…


Tercipta buat dirimu


Hanya… Untuk kamu…


Huuu…Huuu…Huuu…

__ADS_1


Huuu…Huuu…Huuu…


Aku ingin engkau tahu


Cinta aku satu…


Tercipta buat dirimu…


Hanya untuk kamu…


Aku benar benar di buat kaget dengan sikap beruang kutub yang tak pernah ku duga duga.


Beliau memang dingin pada semua orang, termasuk dengan diriku sendiri yang merupakan istri nya.


Namun kadang berubah manja, sangat perhatian, bahkan sangat romantis. Romantis?? Hahaha,, dari dulu aku tahu dan dengan berpegang dengan satu hal, tidak ada yang romantis di dunia nyata, semua itu hanya ada di novel dan film film saja.


Tapi kini aku menikmati semua itu,,,,


Kutub kini memeluk ku, "Jangan pernah marah, bahkan ngambek pada suami mu ini." Ucap nya dengan lirih.


Aku hanya tersenyum mendengar nya. Kemudian beliau menghujani ku dengan kecupan nya.


Doa di panjatkan pada sang Rabbi, pemberi cinta pada setiap hamba Nya. Segala nya kami serah kan pada pencipta alam semesta, berharap kebaikan atas ridha Nya.


.....


Suami ku,


maaf kan cintaku yang datang terlambat,


,,,,,


.....


Usai shalat subuh aku bergegas memasuki dapur, meninggalkan kutub yang masih membereskan sajadahnya. Wajahku terasa panas dan aku yakin akan membuat ku meledak jika berlama lama di dekat nya.


"Sayang, biar aku saja." Ucap nya.


"Tidak perlu." Jawab ku cepat.


"Hm, baiklah,, hhmm'mh,,, dek, nanti,,"


"Diam, jangan ngomong apapun sama aku." Ucap ku cepat, kemudian berlalu meninggalkan nya.


Aku dan kutub duduk di meja makan menikmati sarapan.


"Kamu kenapa? masih sakit?"


Tanya nya penuh perhatian.


"Jangan ajak aku ngobrol." Ucap ku hingga aku benar benar menangis.


"Hei, kamu kenapa?" Pak Kavin mulai terdengar cemas, beliau berdiri memelukku, dan terus berusaha menenangkan ku.


"Kenapa? Ceritakan."


"Aku sangat malu." Ucap ku.


"Malu?? Malu kenapa?" Ucap nya. Aku benar benar kesal dengan nya sekarang. Apa dia benar benar tidak tahu, atau sengaja hanya ingin mengerjaiku.


"Kutuuub..!" Pukulan ku mendarat pada lengan dan dada bidang nya.


Beliau hanya tertawa, dan terus kembali merangkul ku.


"Aku suami mu, sayang,, kenapa kau harus malu karena....."


"Diam. Atau aku akan marah." Ucapku.


"Hahaha, iya iya, jangan marah." Ucap nya.

__ADS_1


"Apa kau akan terus memeluk ku, dan tak mengizinkan ku untuk makan, mengisi tenaga ku kembali."


/Plaaakk..


Sebuah pukulan keras mendarat di lengan nya.


"Hahaha,,,, iya aku diam."


Aku pergi meninggalkan nya di meja makan yang masih mengelus lengan nya yang terkena pukulan ku. Tawanya masih saja terdengar.


"Sayang, masa aku di tinggal makan sendiri, hahaha." Suara nya masih terdengar menggodaku.


.


.


.


Sudah lebih satu Minggu aku terbaring di rumah sakit, sejak aku tak sadarkan diri setelah darah mengalir dari hidungku.


Aku bisa melihat wajah kusut suamiku yang terlihat sangat khawatir. Dia menjaga ku dengan baik. Sahur dan puasa pertamanya di lakukan di rumah sakit karena menemaniku.


Aku bersikeras untuk berpuasa, Alhamdulillah ini hari kedua aku menjalan kan ibadah puasa bersama dia yang kini bergelar suamiku.


Hari ini juga, aku di izinkan pulang, dokter tidak menyarankan ku untuk berpuasa, bahkan mengingatkanku untuk tidak memaksa diri.


....


"Sayang,, kok pulang awal?"


Tanya ku saat kutub masuk ke kamar dengan masih mengenakan seragam kantor nya.


"Aku kangen." Ucap nya langsung memeluk ku yang sedang berbaring di tempat tidur sambil menonton film Doraemon.


Aku tersenyum dengan sikap nya, ku elus kepalanya yang masih memeluk ku dan memejamkan matanya di samping ku.


"Sudah makan?" Tanya nya dengan masih di posisi yang sama.


"Aku puasa, sayang."


Pak Kavin langsung mengangkat kepala nya,


"Dek,, kamu ga dengerin ya, kamu belum di bolehin puasa." Kutub mulai mengoceh.


"Nanggung,, berapa jam lagi buka, lagian aku sudah merasa semakin baik. ga apa apa ya?" Aku mulai merengek.


"Pufftt,,, selalu begini, jangan di paksakan, nanti kalo sudah ga kuat langsung batalin aja puasanya ya.. Ya sudah, hari ini mau makan apa?"


Akhirnya kutub mengalah.


"Kita cari makan di luar aja ya, lagian tadi bang Vhen bilang mau makan di sini, mereka yang bawain menu buka nya." Jawab ku.


Aku tak kan tega melihat suamiku berkutat di dapur setelah lelah pulang dari kantor. Dan beliau juga tak kan mengizinkan ku melakukan pekerjaan itu. Mamaku tadi pagi sudah pulang ke kampung, karena sudah berapa hari menemaniku sejak di rumah sakit.


"Maaf, aku ga bisa menyediakan semuanya untuk mu." Ucapku dengan sedih.


"Jangan bilang begitu, aku suamimu."


"Iya, kamu suamiku." Ucapku dengan tersenyum. Pak Kavin masih di posisinya, menyimpan wajahnya di leherku.


Air mata ku meleleh, rasa bahagia dan haru ku memiliki nya sebagai suami tak bisa ku pungkiri.


.


.


.


Bersambung,,,,

__ADS_1


__ADS_2