
Siap siap dapat pc cinta Yevn 😉
Nanti di umumkan nama namanya...
Disini Yevn tidak benar benar menulis novel. Di sela sela kesibukan kerja, Yevn menyempatkan diri menulis kisah pribadi, kisah yang hanya menjadi sejarah buat Yevn.
Ambil ibrah nya saja, yang buruk ketepikan.
😘😘
****
Malam ini menjadi malam panjang buat ku.
2 jam kemudian, aku menerima telfon dari Umi, kakak angkat nya kak Machel.
Aku di kabarkan bahwa kak machel telah selamat melahirkan seorang anak laki laki.
Dan umi sengaja ga menelfonku ketika kak Machel akan melahirkan. Mereka khawatir dengan ke adaanku, yang mana aku sendiri sedang tidak fit.
Aku langsung menelfon mama, dan mendapat kabar, ayah telah selamat menjalankan operasi pemasangan alat di rongga dada ayah.
Tapi ayah masih belum sadar.
Doa terus ku panjatkan, di sini lah masa masa tersulitku. Aku benar benar terpuruk dan jatuh.
Ingin rasanya merutuki takdir hidupku. 😢 Rasanya sangat lelah dengan perasaan ini. Aku rapuh..
Dua hari setelah nya ayah kembali menjalan kan operasi penambahan alat di rongga dadanya.
Malam sebelum menjalan kan operasi, ayah memanggil saudara bang Vhen, ipar ku, mama.
Saat ini aku sedang tidak di RS karena jadwal kerja.
Ayah meminta maaf pada semua anggota keluarga ku.
"Deeja, aku minta maaf atas segala kesalahan dan dosa yang telah aku perbuat, maaf atas segala kekuranganku, maaf telah menyusahkanmu. Aku minta ampun."
Ucap ayah pada mama dengan suara lemah.
Ketika memanggil bang Vhen, ayah juga berpesan padanya.
"Vhen, ayah minta maaf dan ampun. Jaga ibadahmu, jaga mama, jaga kakak dan adik mu, jangan pernah tinggalkan mereka."
Ucap ayah, bang Vhen sudah tak kuasa menahan tangis.
"Ayah jangan mikir yang macam macam. Semangat yah, biar lekas sembuh dan cepat pulang. Cucu kita menunggu di rumah." Ucap mama.
"Kasian Mashel, ma. Harusnya saat seperti ini kita harusnya ada buat dia." Ucap ayahku sedih.
"Mashel ga apa apa yah, ya g penting ayah lekas sembuh, semangat, biar segera pulang."
****
Sepuluh hari setelah operasi ke dua, ayah akhir nya di rujuk ke rumah sakit yang lebih besar.
Ayah di berangkatkan dengan di membawa dua orang perawat medis.
Aku tidak bisa ikut mengantar ayah.
"Ayah enggak apa apa, jangan nangis. Kalo ayah nanti pulang, ayah ingin dengar kabar baik dari kamu. Sama latihan music nya di jaga juga. Ibadah jangan lupa."
Ucap ayah sambil tersenyum padaku dengan wajah pucat dan lemah. Aku memeluk ayah yang sedang terbaring di dalam mobil dengan hati hati. Karena di dada ayah masih terpasang alat yang nancap di rongga dadanya.
"Yevn minta maaf, yah, 😠maaf Yevn ga ada nemenin ayah berangkat kesana,, ðŸ˜...."
Ayah mengelus kepalaku,,,,
"Dek, udah dek, udah mau berangkat ini." Ucap bang Vhen.
Aku lihat wajah ayah, ayah tersenyum padaku, ayah tidak bisa ngomong lagi, karena sudah tak kuat buat bicara.
Bang Vhen memelukku, aku tau bang Vhen sedang menangis. Abang terus mencium pucuk kepalaku dengan sayang.
"Doakan ayah, abang berangkat ya."
Ucap bang Vhen pelan.
****
Aku selalu menyempatkan diri mengunjungi ayah di Rumah sakit.
Meski menempuh lima jam perjalanan menuju ke Rumah sakit. Jadi aku akan menghabiskan waktu sepuluh jam pergi dan pulang.
Aku tidak di izinkan bang Vhen berangkat dan menyetir mobil sendirian. Jadi aku sering berangkat bersama abang ipar ku atau bersama pak Amrisal.
Pernah suatu hari aku berangkat bersama pak Amrisal, beliau mengirim pesan kalau hari itu kami berangkat tidak menggunakan mobilku.
Aku di minta menunggu di depan rumah, karena beliau yang akan menjemputku.
__ADS_1
Sampai ku lihat sebuah mobil berhenti di depan, ku liat pak Am memanggilku.
Dan beliau tidak sendiri.
Aku labgsung masuk duduk di kursi belakang.
Karena pak Am dan 'sang supir' di depan.
Aku tidak kenal dengan nya, hanya saja aku merasa kalau wajahnya sangat tidak asing.
Sepanjang perjalanan aku hanya mendengar pembicaraan 'dia' sang sopir dan pak Amrisal.
Kadang saat aku berbicara dengan pak Am, dia yang menjadi pendengar.
Sesampai nya di rumah sakit, aku menghabiskan semua waktuku di sana hanya menemani ayah.
Ngeri dan ngilu ku rasakan saat melihat alat alat yang menancap di rongga dada ayah. Sesak yang teramat sangat ku rasakan.
*
Keesokan hari nya aku pulang bersama pak Am dan temannya yang usia nya jauh lebih muda menurutku.
Aku merasa sangat mengantuk, karena sudah dua hari tidak cukup istirahat dan kurang tidur.
Malam sebelumnya aku sedang tugas kantor bagian lapangan, siangnya aku langsung menemui ayah yang mana perjalanan memakan waktu lima jam.
Saat malam bersama ayah, aku tak ada keinginan buat tidur.
Alhasil, saat ini, aku benar benar di serang rasa mengantuk. Akhirnya ku putuskan buat melelapkan mata di dalam mobil saat perjalanan pulang. Membiarkan para senior saling mengobrol di depan.
****
Aku sering mendapat kabar bahwa ayah sangat ingin pulang.
"Ayah, sudah makan?" Tanya ku saat mengobrol via telfon.
"Sudah, hambar." Jawab ayah.
"Ayah harus banyak makan, semangat, biar lekas sembuh dan segera pulang."
"Hmm... Ayah ini sudah mau pergi, waktu ayah sudah tidak lama."
Perkataan ayah membuat ku bahkan tak sanggup menelan saliva. Air mataku meleleh, aku menahan isak.
"Ga boleh ngomong gitu Yah, ga ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepan, bahkan satu menit yang akan datang. Ajal maut hanya Allah yang tahu. Ayah yang sekarang sakit, bisa saja kami yang sehat yang duluan pergi. Bisa saja Yevn yang duluan pergi."
Ucapku.
*Kisah ayah bisa di baca di coretan ku "Ayah".
****
Setelah satu bulan ayah di rawat di rumah sakit, dan tidak ada perubahan baik, akhirnya ayah di bawa pulang, atas permintaannya.
Karena setiap malam ayah selalu merengek ingin pulang.
'Mak, tunggu aku ya mak'
'Aku ingin pulang, ayo lah kita pulang, aku ingin menghembuskan nafas terakhir di rumah'
Dan banyak lagi ucapan ayah yang membuat kami terpuruk.
Saat ayah sudah tiba di rumah, aku mengambil izin libur tanpa batas waktu karena hal terdesak.
Satu minggu, pas satu minggu setelah ayah di bawa pulang,,,
Hari itu, seharian ayah hanya diam. Aku memegang tangan ayah, memijitnya pelan.
"Sakit Yevn, jangan." Ucap ayah.
Aku mengentikan memijit tangan ayah, dan hanya mengelus tangannya.
"Sakit." Ucap ayah.
Akhirnya aku berhenti lagi.
Kemudian ayah memengang tangan ku dan menggenggamnya.
Ayah sangat kurus dan lemah.
Ayah selalu memanggil mamaku kalau mama sedang tidak di dekatnya.
Ayah ingin mama selalu di samping ayah.
Sore nya, saat maghrib, aku dan bang Vhen sholat berjamah di dekat ayah, ibu menjaga ayah sambil menunggu kami buat gantian sholat.
Kak Machel menjaga sang bayi di ruang sebelah tak jauh dari tempat ayah.
__ADS_1
Selesai sholat bang Vhen mengaji di samping ayah, dan ayah mengikuti bacaan bang Vhen.
Kak Machel meminta ku menelfon suaminya untuk segera pulang karena kondisi ayah yang sudah sangat lemah.
Kerabat yakni saudara dekat ada di rumah.
Doker dan perawat da juga sudah tiba sejak sebelum maghrib.
Tiba tiba tangisan pecah dari suara sepupu ku di ruangan ayah.
Aku berlari menghampiri, ayah sedang di jemput. ðŸ˜
Ayah melafaskan dua kalimah syahadat, dan sempat memanggil mamaku.
Dan kini,, aku bergelar yatim. Tak ada lagi sosok ayah, tidak ada lagi tangan kekar yang memelukku, mendekapku dengan sayang.
Tidak ada lagi, senyum dan tawa itu. Hanya tersisa rindu untuk sayang ku pada ayah. Rindu yang takkan ada habisnya, rinduku kini tak berujung..ðŸ˜ðŸ˜
Aku memeluk ayah, tanpa isak, menghapus tiap kali bulir bulir air mata yang tumpah. Aku memeluknya enggan melepas.
Tetangga dan anggota masjid sekaligus teman ayah, sudah memenuhi rumah. Aku tak mempedulikan mereka.
Aku hanya tak ingin di pisahkan. Aku hanya ingin seperti ini, lalu memejamkan mata, berharap semua hanya mimpi dan aku segera bangun.
Dan saat aku terbangun, aku akan melihat ayah sedang duduk di meja makan menikmati sarapan.
Tapi, saat ku bukakan kedua mataku, yang kulihat hanya orang orang yang sedang menangis. Dan ayah masih memejam kan mata nya enggan membuka.
Sakit.
Aku sangat sakit.
Namun aku coba mengikhlaskan.
****
Ayah,
aku masih ingat, dulu aku pernah memegang tanganmu lalu memperhatikan dengan seksama,
aku masih ingat,
aku pernah menanyaimu dengan konyol,
'ayah, mengapa tangan ayah lebih besar dari tangan Yevn? kok tangan dan jari Yevn sangat kecil?'
saat itu, ayah tertawa mendengar kepolosanku.
'karena ayah akan menggenggam tangan Yevn, ayah akan menjaga Yevn dengan tangan yang besar ini'
Yevn masih ingat jelas tawamu, yah. Sangat jelas,,,
.....
****
Aku mengabari mama Finda dan papa Usman kabar duka ini.
Sabar dan ikhlas, itulah yang di ucapkan mama Finda.
Beliau juga akan langsung datang ke rumah.
Tuhan,,,
bisakah aku ikhlas,
dan bisakah aku bersabar?
Ayah,
laki laki pertama yang aku cintai,
kini pergi buat selamanya dan takkan kembali,,,,
Alfatihah buat ayah....
Salam rindu anakmu,
Yevn,.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.