
Saat di dalam mobil menuju pulang, aku melihat ke arahnya yang fokus menyetir.
"Apa bapak tidak ingin bertanya apa yang membuatku menangis seperti tadi?" Tanyaku.
"Aku tak akan bertanya jika itu privasimu, tapi jika kamu bersedia ingin bercerita, aku mendengarkan." Jawabnya.
Aku menceritakan padanya, apa yang tadi aku alami.
Berharap dia mengerti bahwa aku tidak bisa menerimanya.
Dia langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Aku tak mempermasalahkan masa lalu mu, Yevn. Sama sekali tidak. Kamu bisa menyimpannya atau mengenangnya." Ucapnya.
Aku menyampaikan padanya bahwa aku tak bisa melakukan perkenalan ini lagi.
****
Hari hari berlalu dengan mengacuhkan manusia kutub.
Ku abaikan semua chat nya, kecuali urusan pekerjaan.
"Aku ga bisa, bang. Aku sama sekali ga bisa ngerasain apa apa sama dia." Ucapku saat di berbicara dengan bang Vhen di rumahku.
"Kurang apa dia dek? Kamu lihat sendiri dia bagaimana. Pelan pelan aja, biar aja mengalir, ikuti aja arus nya. Ga perlu kamu dorong atau kamu tahan." Ucap bang vhen.
"Aku nya ga bisa, anggap aja aku masih mau sendiri, senang senang, lagian aku masih muda. Teman teman ku juga masih kesana kemari, bahkan ada yang masih kuliah." Jawabku.
Bang Vhen hanya garuk garuk kepala mendengar penuturanku.
Kemudian lanjut mengikut langkah kaki ku saat aku mondar mandir menyiapkan bahan bahan untuk persiapan makan siang.
"Dia masih bertahan loh, dek." Ucap bang Vhen mengingatkanku.
"Itu urusan dia bang, lagian,,, abang jelasin noh keteman abang. Malu bang kalo sampai ada yang tau. Ga cuma reputasi ku yang kena, dia juga loh." Ucapku sambil terus memotong sayur di atas meja.
"Kamu khawatir sama dia?" Bang Vhen menggodaku.
"Gak lah." Jawabku cepat.
****
Saat itu aku sedang menyusun jadwal kerja di kamar.
Eva pulang ke rumah orang tuanya setelah mendapat izin dari kantor.
Dan sekarang aku tinggal bersama bang Vhen.
Aku ketiduran di kamar begitu selesai minum obat. Karena pada dasarnya aku bukanlah seorang yang suka tidur siang.
Begitu terjaga, aku langsung mandi dan menuju dapur begitu usai melaksanakan shalat ashar.
Sedang menyantap makanan terdengar suara bang Vhen sedang berbicara dengan seseorang.
Suara nya semakin dekat dan terdengar jelas di telingaku.
Dan benar saja, bang Vhen menawarinya ikut makan bersama.
__ADS_1
Dia melihatku dan tersenyum kecil menyapa.
Aku hanya membalas senyumnya dengan mengangguk dan membantu bang Vhen menyediakan alat makan di atas meja.
Akhirnya saat itu kami makan bersama. Iya, siapa lagi jika bukan pak Alfandy.
Usai makan, pak Alfandy meminta izin untuk berbicara dengan ku. Abang memberikan privasi pada kami untuk berbicara.
"Gimana kabarnya?" Tanya nya.
"Baik, alhamdulillah." Jawabku.
Hening, tak ada kata yang terucap. Aku hanya melihat kearah cangkir yang ku pegang.
"Kamu benar benar menghindar?" Ucapnya memecah keheningan di antara kami.
"Hmm,, tidak." Jawabku menoleh tersenyum padanya.
"Hati kita mungkin sama sama keras. Kamu berkeras menolakku dan mempertahankan perasaanmu, menguncinya rapat rapat," Ucapannya terhenti.
"Dan aku akan berkeras mempertahankan posisi ku untuk menunggu saat terbukanya hatimu." Jawabnya serius melihatku.
Aku terdiam tak tahu akan berkata apa.
"Silakan, tapi aku bilang sejak awal, jangan membuang dan menyia nyiakan waktu bapak. Karena semua yang bapak lakukan adalah hal sia sia dan percuma." Jawabku tersenyum meyakin kan nya.
"Tidak ada usaha yang sia sia, Allah lah yang membolak balikkan kan hati hambanya." Ucapnya.
"Aku,,, berbulan bulan Yevn, aku menunggu mu sejak kamu masih bersama dia. Laki laki yang sampai sekarang kamu pertahankan di hatimu. Saat itu aku cuma bisa berandai andai. Melihatmu dari kejauhan, memperhatikan sikap mu. Dan aku percaya bahwa usia bukan jaminan dewasa nya seseorang, begitu aku tau tentangmu."
Wajahnya serius menatapku. Aku sama sekali tak menyangka dia bisa bicara banyak, panjang lebar seperti ini.
"Aku tahu bagaimana perasaan mu terhadap dia sampai sekarang. Dan aku tak merasa itu sebuah ancaman atau saingan ku." Ucapnya lagi.
"Udah pak." Jawabku cepat.
"Berikan kesempatan buat hatimu menerima kehadiran orang lain." Ucapnya.
Dia bangun dari kursinya dan berlalu meninggalkanku. Aku hanya terdiam menyesali posisi ku saat ini.
****
Hari berlalu begitu cepat, bulan berganti. Dia masih sama tak berubah. Ternyata dia memang keras kepala.
Pihak keluarga ku menyerahkan semua keputusan di tanganku.
Meski mama sudah senang dengan pak Alfandy, begitu juga dengan bang Vhen.
Tapi mereka tak mau mendesakku.
Pernikahan bang Vhen akan segera di laksanakan.
Seorang gadis memenangkan hatinya. Ada rasa bahagia, haru dan sedih yang aku rasakan.
Aku senang dan ikut bahagia dengan kebahagiaan yang di peroleh bang Vhen.
Dan aku juga merasa sangat sedih karena tidak akan bisa seperti dulu dengan abang.
__ADS_1
Usai akad nikah, malam nya aku menangis di dalam kamar. Besok merupakan pesta di rumah mertuanya bang Vhen.
Bang Vhen masuk ke kamar ku dan mendapati aku sedang menangisinya.
"Apa salah abang hingga adek abang menangis di hari bahagianya abang?" Ucapnya memelukku.
Aku semakin terisak dan membenamkan mukaku di dada bidang bang Vhen.
"Apa kamu tidak senang dek?" Tanya bang Vhen.
(Saat menulis ini, aku benar benar nyesek, dan mataku benar benar kabur karena menangis 😅ðŸ˜)
"Mengapa menangis?"
Aku tak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan bang vhen padaku.
Melihatku tangisku tak kunjung mereda, abang semakin mendekapku erat, mencium pucuk ubun kepalaku.
"Posisi adek abang tak akan berubah, kamu tetap nomor satu, sayang abang juga tak akan berkurang, baik sebelum atau setelah abang atau kamu mendapat pasangan hidup." Ucap bang Vhen.
"Hei, berhentilah tertawa." Ucap bang Vhen.
"Yevn nangis bang, bukan tertawa." Jawabku kesal.
"Laah,, nangis toh? Kenapa nangis?" Ucapnya meledekku.
Dia tertawa, dan menghapus air mataku, mengusap kedua pipiku dengan jarinya.
"Makanya, segera menikah, dah ada yang pas, cocok kamu nya jual mahal. Sekarang nangis kan." Ucap abang Vhen.
....
Keesokannya pesta di adakan, aku gugup. (lah,, pestanya siapa, yang gugup siapa 😅😂😂)
Saat sesi foto keluarga, abang menarik tanganku, seakan mengerti dengan kegundahan hatiku.
Kak Aisyah yang sekarang telah sah menjadi istrinya bang Vhen tersenyum melihat kedekatan kami.
Aku memberikan ucapan selamat dan doa pada mereka dan memeluk mereka berdua.
Abang mengecup ubunku. Aku ingin menangis dan ku tahan, tak ingin mengkhawatirkan abang di hari bahagianya.
Dia lah teman, dialah sahabat, dialah pengganti sosok ayah bagiku. Bang Vhen Aziq satu satunya kakak laki laki yang aku miliki.
Di tengah acara ku lihat sepasang mata yang sama memperhatikanku.
Sepasang mata yang masih bertahan dengan perasaannya.
.
.
.
Bersambung
Dunia Kedua
__ADS_1