
Aku membuka mata dengan perlahan,, mengerjap beberapa kali karena merasa silau dengan teriknya cuaca hari ini.
Mesin mobil masih menyala, bangku kemudi kosong, aku sendirian di dalam mobil.
Ku edarkan pandanganku ke luar mobil, ini di rumah mama. Jadi aku telah tidur selama perjalanan. Tidur ku benar benar pulas tak terganggu. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan tiba di rumah mama.
Beberapa hari ini, aku memang tidak cukup tidur, meski aku berusaha melelapkan mata di tempat ternyamanku, kamar. Tapi itu hanya sia sia. Aku bahkan sering menggunakan obat tidur, karena bagaimanapun tubuhku memang butuh tidur untuk menyerap energi baru.
Di mana manusia kutub?
Aku mematikan mesin dan keluar dari mobil. Mata ku masih mengawasi sekitar, dimana es balok itu?
"Nah, sudah bangun,, gih cuci muka, langsung sholat zuhur, jangan di tunda tunda." Ucap mama saat berpapasan denganku di depan pintu.
"Mama,," Aku mencium punggung tangan mama.
Mama sudah rapi siap ke kondangan.
"Pada tega ga ada yang bangunin, Yevn. Masa di biarin anak gadis tidur di dalam mobil, ntar kalo ada yang nyulik gimana?" Aku memasang raut wajah cemberut.
"Mana ada manusia mau ambil resiko di terkam singa, nyulik kamu bikin rugi besar perusahaan culik culik an."
Ucap suara laki laki yang tiba tiba muncul dari belakang. Siapa laki kalo bukan bang Vhen.
Aku memberikan lirikan maut pada bang Vhen, lirikan yang membuat nyamuk yang lewat pada mati. π π
"Bareng aja ma, tungguin Yevn, bentar kok ga lama." Rengekku.
"Hmm,, susul mama aja di sana, mama dah di tungguin bu Ani."
Ucap mama sambil menunjuk bu Ani yang berjalan kaki menuju ke rumah mama.
Bu Ani adalah tetangga sekaligus teman dekat mama.
"Yevn sholat dulu, dah lewat jam nya..." Aku buru buru berlari ke kamar untuk membersihkan diri dan melaksanakan sholat zuhur.
"Abang tunggu Yevn yah." Pekikku.
"Gak, abang mau pacaran sama kak Aisyah, masa kamu ngintilin mulu." Ucap bang Vhen yang masih bisa ku dengar suaranya.
Belum sempat masuk kamar, aku di buat kaget oleh sosok laki laki yang rambutnya masih basah.
Seperti nya beliau baru saja selesai sholat, rambutnya masih menyisakan sisa air wudhu.
Aku kembali berlari menuju kamar setelah langkahku sempat terhenti di depan freezer.
Ternyata beliau 'numpang' sholat, dan membiarkan aku tertidur di dalam mobil, bahkan tidak membangunkanku.
(Hilih, si Yevn pake nyalahin orang. π π
Pada dasarnya aku memang susah buat di bangunin kalo dah tidur, kalo ada yang teriak pocong atau kunti juga, aku tetap terlelap dan ga bakal sadarπππ ππ)
....
Aku keluar dari kamar sambil memasang jarum jilbab, karena begitu buru buru, tak ingin di tinggal bang Vhen.
Tapi yang ku lihat di teras rumah hanya ada mama dan manusia kutub. Bang Vhen benar benar dengan niatnya buat berduaan sama kak Aisyah.
"Bapak, gak pergi? temen temen bapak mungkin udah pada di sana." Tanyaku pada pak Kavin.
Beliau hanya tersenyum tanpa berucap, membuatku jengkel dan kesal. Menyesal aku berwajah manis ke dia, padahal aku udah akting di depan mama.
__ADS_1
Sampai di sana, aku, mama dan Gunung Fuji di musim dingin memilih meja. Seseorang menyentuh punggunggu, aku menoleh dan ternyata kak Sri yang mencari bangku kosong.
Pak Kavin menawarinya bergabung bersama kami, aku juga mengiyakan, memintanya ikut bergabung, tapi beliau menolak karena mereka berombongan. Mungkin karena kak Sri segan ikut bergabung di antara kami, di tambah ada calon mertua dari bosnya.
Aku sedikit menundukkan kepala, berpura pura bermain ponsel, padahal aku hanya mengelak di kenali sama karyawan pak Kavin.
Seseorang menyapaku.
"Hei, Yevn." Aku menoleh. Benar, suara itu miliknya.
"Hai, Ozy,, baru nyampe ya?" Tanyaku sedikit gugup, takut hubungan aku dan pak Kavin tersebar.
"Iya nih, panas banget, aku duduk di sini aja ya," ucapnya, yang memang masih ada satu kursi yang kosong.
"Iya, gapapa, duduk aja." Ucap ku.
Pak Kavin melihat ke arahku, dengaaaannnn,,,, apa itu, hellooww, aku bukan penilik yang bisa membaca garis tangan, apa lagi garis muka. Kecuali garis garis halus pada wajah, dan jalinan garis akibat penuaan dan bertambahnya usia.. heheheπ π
"Siang, pak,," Ozy menyapa es balok, yang hanya di balas dingin oleh beliau.
Mama, masih asik bersama teman yang di sebelah bangkunya, setelah membalas sapaan dari Ozy.
"Kalian nanti pulang aja ya, mama bareng bu Usayi aja, mau jenguk temen mama yang sakit, bu Ani juga ikut." Ucap mama padaku.
Pak Kavin mungkin juga mendengar, karena beliau mengiyakan ucapan mama.
Mama berlalu meninggalkan kami.
Ku lihat Ozy yang sibuk bermain ponsel dan sesekali menyapa teman yang di kenalnya.
"Udah?" Tanya Kutub yang terlihat sudah tidak betah. Mungkin beliau tidak suka keramaian dan hiruk pikuk di tempat pesta.
"Hm, iya." Jawabku. Beliau langsung berdiri, Ozy sontak melihatnya.
"Kalian berdua bareng?" Tanyanya.
"Heh,? Kebetulan tadi ketemu, lagian kan ini kampungku, pak Kavin sama abangku kan temenan, makanya tadi bisa bareng." Jawabku salah tingkah.
"Ooo,,,, iya, hati hati ya." Ucap Ozy , tampaknya tak ragu dengan penuturanku.
Aku bangkit menyusul pak Kavin yang menunggu tak jauh dari meja tempat Ozy yang di tinggal sendiri. Sebenarnya aku merasa tak tega meninggalkannya. Tapi karena aku tak sanggup lagi di lempar pertanyaan pertanyaan yang menjebakku.
Terlihat para gadis yang melihat ke arah manusia kutub, bahkan ada yang ku dengar memuji ketampanan beliau.
Dimana letak ketampanan nya? Aku hanya melihatnya biasa, tapi mereka sibuk berbisik bisik merasa terpesona.
Aku berjalan bersama pak Kavin menaiki panggung pelamin untuk memberi selamat.
"Dah asik berdua, ga liat abang nya lagi."
Aku menoleh ke belakang, bang Vhen menggodaku, di sampingnya kak Aisyah tertawa manis. Aku hanya cemberut, menunjukkan kesal karena di tinggal pergi pacaran sama mereka.
"Selamat sayang,, samawa ya,," pipiku dan pipi Zura sang pengantin beradu,,
"Oiy,, corona," Ucap bang Vhen melawak,, Zura dan penganten laki laki hanya tertawa.
"Eh, kok elu bisa barang bos gue?" Bisik Zura yang menarik tanganku agar aku berdiri di samping nya. //Ini nih, pengantin masih sempatnya ngajak gosip.
"Ah, kebetulan doang, kan ga berdua, abang sama kakak iparku juga ada." Jawabku ngeles. Keberuntungan masih di pihakku untuk mendqpatkan alasn yang tepat.
"Ih, bohong lu ya, jangan jangan yang kata emak gue lu dah tunangan itu, sama bos gue kali, iya kan." Zura mulai menarik akar rahasia yang berusaha ku tutup.
__ADS_1
"Apaan?" Jawabku ngeles.
"Kalo sama bos gue, hati hati lu, banyak yang ngincer tuh."
"Ngada ngada lu Ra, dah lah, pengantin ga boleh gosip, ntar bentan."
Aku mengucapkan selamat pada pasangan pengantin itu, dan menuju ke parkir mobil.
.
.
.
***
Aku semakin frustasi, hidup ku jadi serba salah. Menjadi pasangan dari seseorang yang tidak ku cintai, membuatku terus meredam sesuatu yang tidak ku mengerti.
Aku jadi semakin sulit melelapkan mata, kerinduan menguasai seluruh perasaanku. Rasa bersalah pada almarhum atas keputusan ini, membuatku semakin tertekan.
Aku bahkan mendapatkan lelapku hanya dengan bantuan obat tidur.
Ku lihat obat dengan dosis yang ku minta di lebihin dengan seksama. Ku keluarkan semua obat yang berbentuk pil dari dalam botol nya. Aku sudah tidak bisa berfikir dengan jernih. Berkecamuk,, Hingga mata ku gelap, fikiran memintaku menuntaskan perasaan rindu ini.
Jantungku berdetak dengan ngilu, nafasku tersenggat dan terasa pedih, tenggorokanku panas, kepalaku mulai ngilu dan berat. Sakit,,,
Hingga aku tak lagi mendengar kegaduhan perasaanku.
Kakak,
Aku akan bertemu dengannya,,
Hanya ini ku fikirkan,,
.
.
.
.
Kepala ku terasa sakit, tubuhku terasa sangat lemah. Ku buka mataku perlahan karena kepalaku sangat berat.
Semua serba putih, apa aku sudah mati?
Dimana ayah? di mana kak Arfan?
Kepalaku sangat sakit, aku menyentuh kepalaku.
Aku mengenakan alat bantu pernapasan.
Terlihat selang transparan dengan jarum yang menancap di pergelangan tangan dan air bening yang mengalir lewat tetesan tabung yang tergantung di tiang besi samping tempat tidur.
Apa aku masih bermimpi? Mimpi yang sama?
Dimana kak Arfan? Ayah dimana? Kenapa kak Arfan tidak di sini membacakan surat kasih Tuhan?
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.....