Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Antara Ada Dan Tiada


__ADS_3

Aku sudah rapi dengan gamis berwarna brown, dengan garis kecil membentuk persegi yang berwarna coklat muda, dan pasmina yang senada dengan warna garis kecil di gamisku.


"Loh,, kok pak Kutub di sini? Evanya mana?" Tanya ku melongo dengan penuh rasa curiga di hatiku.


Bang Vhen lebih terlihat bingung tak mengerti, berarti bang Vhen tidak terlibat,,,,,


Jadi, ini semuaaaaaaa,,,,,,,, 'Evvvaaaaaaaa, awas kalo aku sempat liat bayang mu.' Gumamku.


Usai sarapan, mau tidak mau aku terpaksa berangkat bersama kutub yang biasa saja, sementara aku kesalnya bukan kepalang.


***


"Assalamu'alaikum, sayang.." Aku melemparkan senyum hangatku padanya, hatiku mulai mendung,, namun, hujan tak ku harapkan turun. Aku lelah menangis,,,, tiadakah lagi bahagia yang benar benar ikhlas untukku kini dan ke depan.


Aku usap nisan yang terukir namanya, laki laki yang bertahta di hatiku hingga kini.


Arfan Hadi Al-Ghifary bin Usman Al-Ghifary.


"Uhibbuka Fillah kak,, berkat kesabaran kakak dalam melatihku, aku bisa berada di titik ini, akan ku buat kakak bangga sebagai guruku, sebagai calon imamku di masa mendatang,, sambut aku di mahligai cinta yang di siapkan Tuhan untuk kita, kan ku perbaiki diri agar layak menyapamu nanti."


Ku tahan laju dan derasnya hujan yang ingin segera mencurahkan kerinduan. Tapi aku tak ingin menangis.


Sebelum pulang, ku selipkan rinduku dalam bait munajat pada sang pencipta.


Aku tak menyadari kehadiran laki laki lain di belakangku. Saat ku balikkan punggung terlihat pak Kavin menatap ke sembarang arah mambatu. Aku tercekat dengan tatapannya yang membuatku bertanya tanya. Aku benar benar lupa dengan kehadiran pak Kavin di dekatku hari ini.


Aku langsung berlalu tak menghiraukan pak Kavin yang sibuk dengan fikirannya.


Yang kemudian beliau menyusul di belakangku.


Di dalam mobil kutub diam di kursi kemudinya yang fokus dengan jalanan. Tak ada yang bersuara di antara kami hingga tiba di rumah mama.


....


Mama sedang masak di dapur, aku langsung membantunya, kutub tak terlihat setelah menerima telfon.


Aku yakin manusia es itu pasti senang mama telah menyiapkan bahan bahan untuk menu kesukaan pak kutubku ini.


Aku hanya akan melihatnya makan olahan seafood ini, karena obat alergi tidak ku bawa.


Nasib berpihak pada pak Kavin hari ini.


Semua makanan tersaji di atas meja. Mama, aku, pak Kavin sudah duduk mengitari meja menikmati makan siang.


"Bu, ada tamu di depan." Ucap mbak Asih pada mamaku yang kebetulan sudah selesai makan.


"Mba Asih, habis dari mana aja? Yuk ikut makan mba." Ucapku pada mba Asih.


"Ga apa apa Yevn, lanjut aja makan nya, mba sedang puasa." Jawab mba Asih dengan ramah.


"Oh, maaf mba." Ucapku.


"Iya, ga apa apa. Lanjut makannya, mba tinggal keluar dulu ya. Pak lanjut makannya."


"Iya mba, makasih ya." Jawab kutub. Aku melirik ke arahnya yang duduk di sampingku setelah mbak Asih pergi.


"Bisa juga bilang makasih." Ucapku ketus.


Pak kutub hanya menyeringai sambil mengupas kulit udang tanpa menoleh ke arahku.


Udang di susun di atas piringku, aku menatap nya dengan mulut terisi nasi yang belum ku kunyah.


"Aku ga bisa makan udang, obat nya ketinggalan."


"Makan aja, di mobil ada obatnya." Jawab kutub membuat mataku berbinar.


"Kenapa baru bilang," Tanpa pikir dua kali aku langsung melahap udang dan kerang bambu yang sudah di kupas sama pak kutub yang genius ini.

__ADS_1


.


.


.


Aku duduk bersama kutub di pantai sebelum kami memutuskan untuk pulang. Jarak antara pantai dan rumah mama tidak begitu jauh, hanya memakan waktu lebih kurang 15 sampai 20 menit berkendara.


Aku duduk di pelataran pondok sambil menjuntaikan kaki ke bawah, kutub duduk di sampingku melakukan hal yang sama.


Angin bertiup sepoy dengan suara ombak yang yang melafaskan bait rindu menyapa karang.


Kerudungku menari nari mengikuti irama angin meniupkannya.


Tiba tiba hatiku tercuit gelitik teringat ucapan mak Megha tentang cairan yang mungkin saja menempel di baju kutub saat itu.


"Apa yang lucu?" Tanya nya.


"Enggak, aku ingat temen jauh."


"Beruntung sekali, mengingatnya saja kamu bisa jadi senang begini. Seorang laki laki?" Tanya kutub.


"Tidak, perempuan dengan dua orang anak."


Aku menceritakan sedikit tentang mak Megha padanya. Tidak banyak, hanya memberi tahunya siapa mak Megha.


Tak ku sangka kutub meresponku dengan baik dan hangat. Komunikasi di antara kami berjalan baik tanpa beban, aku bercerita padanya layaknya seorang teman.


Status pekerjaan dan hubungan terlupakan dan kami bebas berkelana dengan cerita cerita yang santai dan ringan.


Hingga waktu terasa berlalu dengan cepat, kami memutuskan pulang ke rumah mama.


.....


Di perjalanan menuju pulang ke rumahku, mama dan Kavin asik bercerita dan saling menanggapi. Aku merasa takjub dengan kedekatan mereka.


Manusia kutub tak selama nya membeku, dia bisa meleleh sesuai pada tempatnya. Mama, salah satu yang membuatnya melepas gelar 'kutub' yang di kenal banyak orang.


***


"Kok kamu di sini?" Tanyaku padanya.


"Iya, aku mengantar barang bang Sigit yang ketinggalan. habis ini balik ke kantor lagi." Ucapnya.


Awalnya aku cukup heran dengan kehadirannya, karena manusia kutub tidak hadir di sini, yang di ganti oleh sekcam.


Aku dan Ozy lanjut mengobrol di sela kesibukanku hari ini.


Aku menghormatinya, menyempatkan diri di tengah acara yang sedang ku hadiri.


Hingga ucapan lirihnya merenggut kesadaranku hampir sepenuhnya.


"Yevn, lepaskan pak Kavin."


Aku terdiam, kerongkonganku kering, karena aku masih tak berucap dan masih terdiam dengan berpura baik baik saja dengan apa yang baru saja aku dengar, Ozy terus mengoceh.


Mengoceh dengan semua luapan perasaan dan masalahnya, nama kutub terus di sebut berulang ulang.


"Tidak semudah yang kamu ucapkan, Zy." Ucapku yang mulai naik pitam.


"Apa masalahnya? Jelas kamu tak menginginkan dia, kamu masih mencintai orang lain dan tak membuka hatimu. Bukan rahasia umum lagi Yevn." Ucap Ozy semakin tak waras.


Dengan enteng nya dia berucap tentang privasiku.


"Kita hidup di negeri beradap dan beradat, Zy. Banyak hal yang tidak bisa kita putuskan dengan logika yang terus menggila hingga tak terdengar waras."


Ozy terdiam,,,,

__ADS_1


"Tapi kamu kan tidak menc,,,,,"


"Aku mencintainya."


Aku membungkam mulut Ozy dengan geram. Sikapnya yang terlalu semena mena dan tak bisa menghormati kehidupanku, membuat aku cukup lelah menghadapinya.


"Aku mencintainya." /


Aku tak yakin dengan apa yang baru saja ku ucap. Mengalir begitu saja saat emosiku sudah memuncak dengan perlakuan Ozy.


***


Pagi ini, aku ke rumah duka, kediaman keluarga salah satu teman seniman, seorang ikhwan bertalenta yang telah pergimeninggalkan istri dan anak anaknya buat selamamya.


Bang Vhen pagi pagi sudah berangkat mengantar mama pulang kampung.


Saat pulang dari takziah, di halaman rumah mobil pak Kavin menyambut ku.


Ku lihat pak Kavin duduk di gazebo samping rumahku sedang melakukan panggilan telfon.


Begitu melihatku, pak Kavin segera menutup telfon. Aku menghampirinya.


Namun raut wajahnya tak terlihat bersahabat, beliau terlihat gusar dan matanya melihat tajam ke arahku.


.....


"Apa maumu lagi, Yevn?"


Ucapnya terdengar menahan emosi.


Aku masih tidak mengerti arah pembicaraan nya.


"Kamu tak bisa mencintai aku, oke aku terima karena aku yakin kan ku buat kau mencintaiku walau hanya sedikit. Kamu minta hubungan kita tidak di hebohkan, aku terima, aku ikuti semuanya. Karena bukan itu tujuan aku melamarmu."


Pak Kavin meluapkan perasaannya. Wajahnya terlihat merah menahan luapan emosi.


"Kemarin,, kamu berbuat nekat sampai terbaring beberapa hari di RS. Ku sembunyikan dari keluargaku kabar buruk itu. Aku gila Yevn."


Aku masih terdiam ketakutan dengan luapan emosinya. Air mataku mulai menetes.


Pak Kavin berdiri dengan mengurut pangkal hidungnya, dan satu tangan tercekak di pinggangnya. Aku hanya melihat laki laki di depanku dengan ketakutan.


"Sekarang Ozy lagi, lagi dan lagi. Hal konyol apa lagi yang kamu mau? Kamu lebih memilih menuruti Ozy yang jelas jelas dari awal jadi benalu di antara kita? Melepaskan apanya?"


Aku tercekat mendengar ucapan pak Kavin mengenai pertemuanku dengan Ozy tempo hari. Suaranya menggeram dan terdengar gemetar menahan emosi.


Air mata tak mampu ku bendung, aku tak berucap, tak mampu menjawabnya.


Ku lihat kaki pak Kavin melangkah ke arahku yang duduk terpaku dan membisu.


Tangannya menyentuh pipiku, mengusap air mataku yang mengalir. Lalu langkahnya kembali terayun meninggalkanku.


Mobilnya sudah berlalu pergi, menjauh tak terlihat bayangnya.


Seseorang berdiri di hadapanku, memelukku dan membiarkan ku menangis di pelukannya.


Tangan lembutnya menepuk pelan punggungku.


.


.


.


Bersambung,,,,


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2