
πΌπΌββ »»Hai hai hai ...... para kesayangan....πππ
Makasih banyak dah mampir..... π€π€
Jangan lupa like, fav, rate lima bintang β β β β β ya, jangan kurang ππ tinggalin jejak di komentar biar aku tau π Vote juga bagi yang berkenan. Makaciiih... ππππ
## ......] βββββ‘β‘πππππ
Malam ini, aku lanjut latihan piano. Kak Arfan sudah tiba di rumah. Iya, kak Arfan adalah guru les Pianoku.
Sebenarnya kak Arfan tidak ingin di bayar sejak awal awal lagi. Karena menurutnya ini hanya membantu adik dari teman dekatnya sendiri.
Tapi bang Vhen dan orang tuaku tidak enak. Jelas jelas ini akan mengurangi waktu istirahatnya kak Arfan yang sibuk bekerja.
Kak Arfan sampai di rumah dan langsung izin untuk sholat isya, karena beliau belum melaksanakan shalat isya.
Aku sudah menunggu di ruang latihan sambil memainkan ponselku.. Abang Vhen duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan sambil membaca buku.
Kemudian kak Arfan masuk, latihan di mulai. Malam ini kak Arfan mengajar ku dengan sangat serius. Lebih serius dari biasanya.
Usai latihan aku melihat ke arah kak Arfan.
"Kakak baik baik saja." Tanyaku masih menatap ke arah nya.
"Apa kakak terlihat sedang tidak baik baik saja?" Jawab nya tertawa.
"Dua hari lagi kita akan bertunangan dan dua minggu setelah nya kita menikah. Bagaimana menurutmu?" Sambung kak Arfan.
Aku tersenyum mendengar ucapannya.
"Baiklah, aku baik baik saja. Tapi semua tetap pada musyawarah keluarga nantinya."
__ADS_1
Jawabku.
Kak Arfan tersenyum mengangkat tangan kanannya meraih kepalaku mengusap nya dari balik jilbab yang ku kenakan.
"Kak, aku sayang kakak karena Allah." Ucapku mengalir begitu saja.
Kak Arfan tersenyum senang.
"Kakak juga. Kakak sangat mencintaimu." Ucap kak Arfan tulus.
"Ekhem.... Aku masih di sini loohh." Ucap abang Vhen melihat ke arah ku dan kak Arfan.
"Baiklah, kalian mengobrollah. Yevn akan ke luar menyusul mamah." Ucapku berdiri hendak berlalu.
****
Usai sholat subuh aku keluar dari kamar ingin menuju dapur membantu ibuku menyediakan sarapan.
"Ada apa mah...?" Semua menolah ke arah ku. Aku melangkah menuju mamah.
"Mamah kenapa menangis? ayah, abang ada apa ini?"
Tak ada yang menjawab, semua hanya saling menoleh.
"Kenapa kalian diam?" Tanyaku mulai bingung.
Abang Vhen memelukku, memelukku dengan erat, mencium pucuk kepalaku.
"Allah lebih menyayangi nya dek, lebih dari kita menyayanginya." Ucap abang Vhen masih memelukku.
Aku semakin bingung dan mulai panik. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
__ADS_1
Ibu menangis di pundak ayah. Mereka tak bisa berkata kata. Itu membuatku semakin panik.
"Aku tidak mengerti bang. Apa maksudnya?" Tanyaku.
Abang menarik nafas dalam dalam dan menghembusnya berat. Terdengar jelas suara abang bergetar.
"Arfan, sudah pergi dek... Arfan sudah pulang ke rahmatullah." Ucap abang Vhen berat dengan suara bergetar.
Aku diam terpaku, diam bahkan tak sanggup bernafas. Tubuhku lemah tak berdaya. Aku ingin segera bangun dari mimpiku. Seseorang tolong segera bangunkan aku.
Air mataku menetes tanpa suara. Aku masih setia terdiam. Tubuhku sepenuhnya bertahan di dekapan abang Vhen.
Abang membawaku duduk di sofa.
Airmataku terus mengalir deras.
"Ana uhibbuki fillah."
Aku hanya mendengar suara kak Arfan, Aku bahkan melihatnya tersenyum manis padaku.
Tangisku semakin pecah. Abang memelukku, mencoba menenangkanku.
Aku tak percaya semua ini. Aku tak akan bisa percaya.
.
.
.
Saat azan subuh kak Arfan selesai berwudhu. Beliau membentang sajadahnya.
__ADS_1