Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Mengelak....


__ADS_3

๐ŸŒผโ†’โ†’ ยปยปHai hai hai ...... para kesayangan....๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜


Makasih banyak dah mampir..... ๐Ÿค—๐Ÿค—


Jangan lupa like, fav, rate lima bintang โ˜…โ˜…โ˜…โ˜…โ˜… ya, jangan kurang ๐Ÿ™๐Ÿ™ tinggalin jejak di komentar biar aku tau ๐Ÿ˜˜ Vote juga bagi yang berkenan. Makaciiih... ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


## ......] โ†โ†โ†โ†โ™กโ™ก๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“๐Ÿ“


"Yevn, yang sabar nak, ayah tau kamu kuat." Ayah mengelus kepalaku, berusaha tegar di depanku. Aku tau perasaan ayah. Aku tahu semua sedang berduka. Tapi sungguh hatiku benar benar rapuh.


Abang Vhen masih memelukku erat. Mama masih menangis.


****


Aku bukanlah jenis yang mudah membuka hati. Tapi kak Arfan benar benar membuatku membuka hati ku selebar lebarnya, dan ku tutup serapat rapatnya.


Calon imam yang di suguhkan memang sempurna di mataku. Allah menghadirkan cahaya mata yang begitu indah.


Seorang laki laki dewasa pemikirannya, sholeh, yang langsung mengajakku membina rumah tangga, menyuntingku menjadi makmumnya.


Usia ku memang terbilang masih sangat muda. Tapi saat keputusan ku ambil untuk menerima seorang Arfan Hadi Al Ghifari, ku ointa petunjuk sang Rabb. Jawaban ku temukan, saat itu hatiku mantap untuk menerimanya.


Hanya Tuhan yang tahu bagaimana rasa ini tumbuh, dan terus tumbuh. Melayangkan surat surat cinta, bait bait cinta dalam do'a.

__ADS_1


Kini terus bersarang di dasar hati, sangat dalam.


Bagaikan kanker yang merebak dan terus merebak. Jika kanker bisa sembuh karena keajaiban Tuhan, akankah 'kanker rasa' yang tumbuh di hati dan bersarang ini mendapatkan keajaiban.


****


Calon imamku pergi buat selamanya. Pergi meninggalkan kisah yang belum usai. "ana uhibbuka fillah, kak".


****


"Dek, beneran mau tinggal sendiri?" Tanya bang Vhen padaku.


"Iya bang. Yevn kan tinggal di sana ga bayar, lagian dekat sama tempat kerja. Dengan begitu Yevn bisa nabung lebih ."


"Tenang aja. Eva bakal kerja di sana juga. Nanti Yevn tarik Eva tinggal sama Yevn." Jelasku lagi, semoga abang Vhen tidak terlalu cemas lagi padaku.


Sudah hampir enam bulan kak Arfan pergi meninggalkan ku. Hubungan ku dengan keluarganya masih terus berlanjut. Bahkan mama Fida sangat peduli padaku.


Mama Fida memperlakukan ku seperti anak kandung nya sendiri, aku juga demikian, aku menghormatinya dan menyayangi mama Fida.


Saat ini ku putuskan untuk tinggal sendiri, tinggal di tempat baru. Selain karena dekat dengan kantor, aku juga menghindari sesuatu. Sesuatu yang membuatku pusing, juga membuat orangtuaku ikut pusing.


Hmm, satu persatu lamaran masuk. Untuk siapa? Untuk bocah yang bingung ini.

__ADS_1


Tetangga depan rumahku, anak laki lakinya yang entah sejak kapan menaruh hati padaku. Namanya? Junaidi.


Dia ini kerja di kapal milik ayah nya sendiri. Ayahnya seorang pengusaha terkenal di tempatku.


Aku menolak mentah mentah, dengan alasan yang semasuk akal ku layangkan pada pihaknya. Orang tuaku? Keluargaku? Jangan di tanyakan.


Meskipun orang tuku sudah sangat ingin melihat anak perempuan nya ini menikah, tapi lamaran satu ini benar benar di tolak.


Junaidi, di kenal sangat sangat,,, dia biasa dengan minuman keras, dan,,,, mungkin banyak lagi yang aku tidak tau.


Tapi dia pernah menghubungiku via telfon. Dia ingin berubah, dan katanya dia akan berubah dan dia butuh aku untuk berubah.


Aku menganggapnya hanya sebagai kakak laki laki dari temanku. Iya, adik perempuannya teman sekolahku. Adik bungsunya adalah salah satu siswaku saat aku menjadi seorang guru.


Selain Junaidi, lamaran juga di layangkan padaku. Siapa lagi??


Ada apa dengan mereka semua....?


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2