Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Kepiting Rebus


__ADS_3

Semua anggota keluargaku sudah tiba beberapa jam yang lalu, yang mana perwakilan keluarga pak Kavin menyambut mereka di dermaga. Keluargaku di sambut dengan meriah, dan di tempati pada kamar yang sudah di sediakan.


Waktu Isya sudah lewat, setelah tadi aku berjamaah bersama dengan pak Kavin. Malam ini akan di selenggarakan beberapa rentetan acara, seperti tepuk tepung tawar, dan di lanjutkan berinai. Aku sudah di rias sedemikian rupa oleh MUA yang sudah di booking.


Sebenar nya ujung jari dan kuku ku tak perlu di inai lagi, hanya perlu polesan Henna di punggung tangan. Tapi karena orang tua pak Kavin ingin mengadakan upacara persis pernikahan awal, kecuali tidak hari akad nikah.


Tabuh, merawis bersahutan, memeriahkan acara malam ini, setelah acara doa di adakan usai acara tepuk tepung tawar.


Aku dan kutub berbaring di tempat yang sudah di sediakan. Jarak dipan kami hanya muat lorong untuk di duduki satu orang, untuk memudahkan nya memasang inai di jari kami.


Usai memasang inai, tabuh masih terus berbunyi, hingga seseorang berbisik pada ku.


"Kalo ngantuk, tidur aja ga apa apa kak." Ucap perempuan yang merupakan anggota dari mak andam.


Aku mengangguk dan tersenyum pada nya. Memang mata ku sudah sangat berat. Lelah menjalar di sekujur tubuh ku. Di seberang ku lihat kutub sedang menoleh ke arah ku.


Malam ini saja dua acara di gelar dan sudah dua kali juga aku dan pak Kavin berganti pakaian.


Eva tak meninggalkan ku, setia duduk di samping dipan ku sambil terus mengoceh pelan, bercerita banyak hal. Seperti di dongengkan, aku tak lagi mendengar suara nya, sayup hingga hening.


Sayup sayup terdengar, badan ku juga seakan di gerak tanpa keinginan ku sendiri. Bau maskulin menyeruak dekat tercium oleh ku. Mata ku masih sulit untuk di buka.


Beberapa hari dengan rentetan acara di kampung halaman, kemudian menempuh berjam jam perjalanan, dan kembali dengan rangkaian acara dan upacara, cukup menguras tenaga.


Hingga terasa punggung ku mendarat di tempat yang terasa empuk. Ku buka mataku perlahan, mata kami beradu, wajah kami sangat dekat. Aku langsung gelagapan.


"Maaf, kamu ketiduran, tadi sempat di bangunin sama Eva, tapi aku ga tega." Ucap nya begitu saja.


'Dasar bodoh, sudah tau kalo tidur susah di bangunin, ngapain pake acara tidur tiduran sih Yevn. bodoh bodoh bodoh,, memalukan.'


Aku mengumpat dalam hati.


"Hehehe,,," Aku menoleh ke asal suara.


Aku yakin Kutub menertawai ku.


Setelah beliau berlalu masuk ke kamar mandi, aku segera membuka satu persatu jarum dan aksesoris yang menempel di jilbab yang ku kenakan. Sayang nya jilbab belum berhasil lolos dari kepala ku, karena masih ada yang menyangkut tak bisa ku buka.


Kutub yang baru saja keluar dari kamar mandi, segera membantuku. Setelah semua pernak pernik dan segala bentuk jarum, peniti, paku segala ukuran termasuk paku kuntilanak aku menahan jilbab ku untuk tetap menutup kepala ku.


(ngeri ngeri sedep ya, nulis paku kuntilanak nya,,,😅)


Aku segera masuk ke kamar mandi membawa baju dan jilbab ganti untuk ku kenakan.


.

__ADS_1


.


.


Acara hari ini berlangsung, mulai Khatam Qur'an, hingga resepsi yang di mulai dengan upacara kenegaraan, bersanding di pelaminan, hingga makan adat. Dan sudah berganti pakaian beberapa kali.


Lelah teramat sangat ku rasakan, tapi ini terakhir aku melewati perjalanan serta perjuangan yang melelahkan ini.


Pak Kavin tak meninggalkan ku barang sekejap, beliau sentiasa menemaniku, dan tetap berada di dekat ku.


Usai semua rentetan acara di gelar, aku dan kutub serta team FG berangkat ke beberapa lokasi untuk mengambil foto. Salah satu nya rumah panggung berbahan dasar kayu yang tidak di cat.


.


.


.


Malam nya merupakan malam untuk acara kekeluargaan. Dimana semua keluarga berkumpul menikmati makan malam dan aneka kue mue di hidangkan.


.


.


* * * *


.


.


Eva belum kembali ke rumah ini, demikian juga dengan bang Vhen dan kak Aisyah.


Aku langsung menuju kamar, untuk membenahi isi koper dan memilah-milah.


Lain hal nya dengan pak Kavin yang malah melebar jarak, mau menuju ke kamar yang biasa di gunakan nya ketika menginap di sini.


"Loh, mau kemana?" Tanya ku saat menghentikan langkah dan memperhatikannya.


"Oh, jadi aku boleh ikut ke kamar itu?" Tanya nya sambil menunjuk ke arah kamar ku.


Bukan nya menjawab, aku malah terus berjalan meninggalkan nya. Pipi ku memanas seperti kepiting rebus, benar benar malu di goda oleh nya.


Yang menggoda ketika di tinggal malah senyum puas mengerjai ku.


Saat tiba di kamar, ketika hendak berbalik arah menutup pintu, kepala ku malah kepentok. Belum hilang rasa panas dan wajah ku yang memerah tadi, aku kembali menubruk dada bidang pak es ku ini.

__ADS_1


"Maaf, aku ga sengaja." Ucapku.


Sejak kapan dia berada di belakang ku? ya ampun, rasanya sangat canggung. Aku coba melangkah mundur dan menjaga jarak dari nya. Kutub malah tersenyum dan menarik tangan ku membawa ku ke dekapan nya.


"Kamu sering sekali mengucap kan maaf padaku. Aku ini suami mu." Ucap nya. Jantung ku seakan mau copot.


Dengan posisi seperti ini aku bisa mendengar suara detak jantung nya, sangat 'rapi'.


"Baiklah, jika lebih nyaman berdiri di pelukan ku seperti ini, aku turuti." Astaga,, dia masih saja terus menggodaku. Tidak tau kah bagaimana aku sudah cukup canggung dan salah tingkah?


Aku kembali melangkah meninggalkan nya yang tersenyum puas.


"Kalo bapak terus meledek ku seperti ini, aku yakin wajahku matang sempurna, dan bisa gagal jantung." Ucap ku kesal.


"Hahaha, ketika di goda begitu, kamu terlihat lucu."


Astaga, gunung es benar benar meleleh dan tidak membeku. Sejak kapan???😱


Aku lantas tak memperdulikannya, lanjut mengeluarkan isi koper ku, memilah pakaian bersih dan kotor.


Kini aku membuka koper pak Kavin untuk memasukkan pakaian nya ke dalam lemari. Tiba tiba tak ada gravitasi di sini, tubuhku terangkat mengambang.


"Gitu aja ngambek." Ucapnya, sambil mengangkat tubuhku. Ga berat apa?


"Aku tidak ngambek, seriusan. Cuma tidak tau harus merespon apa, aku sudah cukup malu dan canggung. Sekarang turunkan, malu di liat orang, lagian itu masih berserak."


Dia hanya tertawa dan menurunkan ku tepat di atas tempat tidur.


"Kamu istirahat saja, aku yang kerjakan sisanya." Ucapnya dengan lembut.


Bukan nya mendengarkan nya, aku ke dapur dan kembali dengan membawa gelas yang berisi air teh hangat untuk nya.


"Pak, teh nya." Ucapku sembari meletakkan cangkir di atas meja.


"Iya, makasih sayang." Ucap nya.


Aku kembali merebahkan tubuhku di atas ranjang. Meluruskan urat syaraf yang bengkok dan berliku liku. Hingga ku jemput alam bawah sadar ku.


.


.


Bersambung,,,,,


__ADS_1




__ADS_2