Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Lega


__ADS_3

"Terus gimana?" Tanya abang yang masih mencari titik terang nya.


"Ya,,, Yevn bilang kalau Yevn masih kuliah, belum lulus. Ternyata dia dan yang lain sudah tau aktivitas Yevn sekarang. Katanya ga apa apa. Yevn bisa kerja sambil kuliah nya tetap jalan. Tapi Yevn belum jawab, dan pak Safri kasi waktu pikir pikir dulu, tapi jangan lama lama, biar namanya di ajukan ke Bupati."


Tambahku lagi, semuanya serius mendengarkan.


"Terus tadi ada yang nelfon Yevn."


Tambah ibu yang sudah tau kejadian tadi pagi saat aku mendapat telfon. Dimana saat itu ibu ada di dekatku.


"Ah iya. Itu tadi pak Andris yang nelfon, dia nanya apakah Yevn sudah di kabari sama pak Safri. Terus dia juga nanya apa yang memberatkan Yevn."


Jelasku.


"Jadi apa keputusanmu? kamu kan sangat menyukai bidang ini, apa yang meragukanmu?"

__ADS_1


Tanya ayah mulai membuka suara. Aku tak berani menatap ayah.


Hening, ternyata semua menunggu jawabanku. Aku melihat abang berharap abang memberi bantuan untuk memecahkan keheningan ini. Tapi abang berlaku bodoh, tak menghiraukan tatapanku.


Di samping abang kak Arfan sedang menatapku. Tatapan simpati dan menguatkanku, kak Arfan mengangguk kecil padaku, memberi kepercayaan padaku untuk menjawab pertanyaan ayah. Aku sangat senang setidaknya masih ada yang mengerti apa yang ku fikirkan. Tapi di satu sisi aku sangat kesal dengan abang.


"Kalo Yevn terima, kuliah masih bisa jalan, mereka memberi keringanan selama Yevn masih kuliah. Selain jadi protokoler Yevn masih bisa nge-mc dan nampil music di acara tertentu. Tapi bagaimana dengan mengajar yah? ayahkan sangat ingin melihatku menjadi seorang guru."


Tanyaku pada ayah sambil menatap khawatir pada ayah dan ibu. Abang mengangkat tangannya di belakang kepalaku, dan mengelus pucuk kepalaku. Aku meraih tangan abang dan mengembalikan ke tempat semula.


"Ayah sudah mendapatkan impian ayah. Ada kakak dan abangmu yang masih mengajar, menjadi seorang guru dan dosen. Kamu juga sudah mengabulkan impian ayah selama dua tahun ini. Meskipun sebenarnya ayah tidak pernah memaksa keinginan anak anak ayah dari awal."


Penjelasan ayah membuatku sangat senang dan hatiku lega. Ku tatap wajah ibu dan ibu mengangguk mengiyakan penjelasan ayah.


"Jadi? apa keputusanmu sekarang?" Tanya abang yang mengangkat tangannya untuk kembali mengelus kepalaku. Sebelum niatnya itu berhasil aku menepis pelan tangan abang. Ku lihat kak Arfan tersenyum geli dengan tingkahku.

__ADS_1


Kasian kak Arfan harus mendengar pembicaraan keluarga malam ini. Aku tau dia serba salah di posisi nya saat ini.


Tapi keluargaku tidak masalah karena kak Arfan sudah dekat dengan keluargaku.


"Menurut ayah sama mamah gimana? apa Yevn tidak apa apa kalo menerima tawaran nya dan berhenti mengajar?"


Tanyaku sambil menatap sedih pada orang tua ku.


"Kami akan sangat senang melihatmu senang nak." Jawab ibu.


"Terimalah tawarannya. Bukankah lebih menyenangkan bekerja pada hal yang kita gemari. Apalagi kau berbakat. Tapi ayah minta tetap jaga kesehatanmu. Obatmu tetap di minum, katakan jika kau merasa tidak enak badan. Biar segera di periksa."


Ucap ayah serius dan penuh perhatian. Ada nada khawatir yang ku tangkap dari ucapannya.


Aku mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Ku tatap satu persatu wajah wajah yang ada di ruangan itu.


__ADS_2