
Pagi ini aku masih menempel dengan selimut di kamar. Menyempatkan diri untuk membaca beberapa komentar di coretan lusuhku ini. Aku bahkan mengingat nama mereka dan ada beberapa orang yang menarik perhatianku.
Lalu aku membuka private chat. Ada banyak yang mengirimiku pesan pribadi, salah satunya mak Megha. Mak Megha menanyakan jadwal malam Minggu ini. Aku hanya menjawab tidak akan kemana mana, karena begitulah adanya.
Aku jadi memikirkan chat dari mak Megha kemarin sore,,,
Flashback on.
"Yevn, aku mau nanya boleh?"
"Iya, boleh."Jawabku singkat.
"Kamu masih jaga jarak kah sama pak kutub? Sebegitukah kamu gak mau nerima dia sampe sempat mencoba mengakhiri hidup??"
Aku tak menyangka mak Megha akan bertanya demikian. Apa yang membuatnya bisa berfikir demikian?
"Kok mak mikir seperti itu?" Tanyaku.
"Aku cuma coba memikirkan posisi mang kutub." Balas mak Megha.
Aku lantas tidak langsung membalas pesan mak Megha. Aku berusa menelaah arah pembicaraan mak Megha.
"Apa dia kepikiran gitu juga gak ya???" Mak Megha masih melanjutkan ucapannya.
Aku sendiri masih mematung dengan setiap kata yang di kirim oleh mak Megha. Fikiranku mulai meresap masalah ini.
"Semoga dia gak mikir kek gitu Yevn, alangkah pedihnya dia kalo mikir kek gitu."
Lagi lagi mak Megha berkomentar.
Ada apa ini? Setiap yang di sampaikan mak Megha terutama terkait masalahku, selalu masuk akal. Meski aku selalu menepis pernyataannya.
"Aku ga tahu harus jawab apa mak.... Jujur seperti yang aku bilang sebelumnya, aku nyaman sama dia,, tapi aku risih dan ga tau bersikap apa saat dia mulai bahas tentang hubungan kami, tentang perasaan."
Aku mulai berkomentar, setelah lama bergelud dengan pikiranku menemukan jawaban dari pertanyaan wanita dua anak ini. Yang mana selalu berbalik menjadi pertanyaan di kepalaku.
"Seenggaknya kamu nganggap dia ada, dan rasa nyaman itu ada. Alhamdulillah kemajuan itu Yevn." Balas nya.
Flashback off
"Apa dia pernah kepikiran seperti itu?"
Balasku pada mak Megha tentang pembahasan kemarin.
"Coba kamu tanya, terus kalo misalkan bener, kamu mau jawab apa Yevn?"
"Aku? Nanya ke dia? Ga ah."
"Hilih."
Akhirnya mak Megha pamit buat mandi, setelah ku ledekin karena matahari sudah naik, sementara beliau baru mau mandi. //Padahal aku sendiri masih di bawah selimut..😅😂😂✌
Tak banyak yang ku lakukan hari ini, selain mencuci pakaian kotor, membersihkan rumah, masak dan berkumpul dengan penghuni rumahku.
Termasuk mendengarkan kisah Eva yang semakin kusut. Aku tak berani memberinya banyak saran, karena masalahku sendiri sedang tak karuan. Rasanya tak etis jika aku sok memberi pandangan atau semacamnya.
"Bang, gimana? Jadi besok bang Adi (tukang kebun di rumahku) rapiin dahan pohon yang di depan?"
Tanya ku pada bang Vhen saat melihatnya sudah rapi hendak keluar.
"Belum tau dek, pohon gede dan berduri bikin orang orang mikir buat ngurusnya. Tapi katanya kalo jadi mungkin dia ajak temen nya, ga sanggup kalo sendiri."
Balas bang Vhen seraya mendongakkan kepalanya melihat pohon yang menjulang dan lebat.
__ADS_1
Aku hanya diam, lalu melihat bang Vhen semakin menghilang dengan motor nya.
.
.
***
Minggu pagi aku bangun lebih awal, menyediakan sarapan. Eva belum terlihat batang hidungnya, membuatku sedikit khawatir dan berniat akan memanggilnya untuk ikut sarapan.
Belum sempat aku melangkah dari letak meja makan, terdengar suara Eva menyapa dengan lengkingan dan cempreng.
"Pagi bu Singa,,,,"
Aku di buat kesal dengan panggilannya padaku. Tapi untunglah, dia baik baik saja dan tidak terlihat seperti tanaman yang layu kekeringan.
"Maaf, ga bantu nyolek nyolek di dapur." Ucapnya lagi dengan mata berbinar menatap ke arah hidangan di atas meja.
"Hilih,, padahal seneng, atau jangan jangan sengaja." Ucapku sinis padanya.
"Tau aja lu, tapi ga apa apa, jadi nya aku ga perlu acting drama lagi." Eva terus mengisi piring dengan nasi gorengnya.
Aku menuangkan susu pada gelasnya dan juga pada gelasku sendiri.
"Makasih, baik banget kamu, sering sering ya. Waahh,, makanannya banyak banget, aku bingung mau makan yang mana. Ngomong ngomong tumben masak banyak." Ucap Eva yang tidak habis habisnya mengoceh dari tadi. Seakan hidupnya enteng banget, dan tercipta hanya buat makan.
Belum sempat menjawab ocehannya, bang Vhen masuk setelah memeriksa luar rumah, entah apa itu.
"Kak Aisyah mana dek?" Tanya bang Vhen yang sembari duduk untuk ikut bersarapan.
Lagi lagi belum sempat aku menjawab, kak Aisyah muncul dengan wajah lesu. Mungkin keadaan hari ini memaksaku untuk tidak banyak bicara. Baguslah, hemat energi, hahaha..😂
"Kenapa yank?" Tanya bang Vhen pada kak Aisyah. Aku dan Eva ikut melihat ke arah nya.
"Jangan jangan karena masakan elu kemarin kali bu Singa." Ucap Eva sembarangan.
"Bukannya kemarin kamu yang masak, nenong." Ucapku kesal.
"Ah, iya kah? Hm,, iya iya. Pasti karena gue goreng garam sampe heboh bunyi percikan minyak." Jawab Eva membuatku geli di gelitik membayangkan kejadian kemarin.
Bang Vhen mengeluarkan kotak obat mencari obat buat kak Aisyah. Kak Aisyah pun ikut sarapan bersama kami.
.
.
Di halaman tepat di sebuah pohon besar bang Adi dan seorang temannya sedang memotong dahan dahan pohon dengan cara memanjat atap rumah. Sementara istri bang Adi mulai memungut sampah ranting yang kemudian di potong kecil kecil untuk di bakar.
Bang Vhen ikut membantu agar pekerjaan cepat selesai,
Aku sudah selesai masak menu makan siang untuk di santap semua orang. Es campur yang ku belikan ketika belanja bahan bahan dapur ku masukkan ke wadah besar.
Jam sudah menunjukkan jam sebelas lewat, sebentar lagi akan masuk waktu zuhur.
Aku meminta bang Vhen untuk mengajak semua orang menyantap makan siang yang sudah di hidangkan di pelataran gazebo yang berada di samping rumah.
Jam 2 siang aku baring di atas lantai saung di depan rumah tepat di salah satu pohon yang sangat rimbun. Rasa lelah menjalar di sekujur tubuh setelah ikut membantu kak Fatimah istri dari bang Adi memotong dan membakar ranting kayu.
Eva dan kak Aisyah sedang di dapur membuat kue. Aku masih ngos ngosan dan memainkan ponsel bercerita di salah satu grup chat yang menghubung antara aku, mom May, mak Megha, Santi/Santan, dan Fadhila. Hingga mataku mulai terasa berat.
Tiba tiba ponselku bergetar pertanda ada telfon masuk.
Manusia Kutub, memanggil.....
__ADS_1
"Assalamu'alaikum,," Sapaku..
"Wa'alaikumsalam warahmatullah,,," Jawab suara laki laki di seberang telfon dengan lembut.
"Sedang apa?" Tanya beliau.
"Tiduran." Jawabku singkat.
"Jam berapa ini? Udah mau ashar dek."
"Hmm? Masih lama kok." Jawabku dengan kesadaran yang semakin berkurang.
Aku mengabarkan pada beliau perkara hari ini, dimana di rumah sedang banyak orang.
Beliau juga merespon dengan menceritakan entah apa itu, karena aku telah hanyut tak sadarkan diri karena tertidur.
.......
Terdengar riuh rendah suara orang orang bahkan sesekali tertawa. Aku mencium aroma sedap, membuatku mengumpulkan setengah kesadaranku.
Terasa sakit dan ngilu di sekujur tubuh, mungkin kram otot karena terlalu bersemangat membantu bekerja.
kletaak
Ponselku jatuh dari posisi awalnya, untungnya baik baik saja.
Aku membuka layar, terlihat panggilan masih berlanjut, nama pemanggil Manusia Kutub masih tertera dengan waktu 57 menit 16 detik.
Aku terbelalak, ku letakkan benda pipih itu di telingaku, memastikan kalo ponsel ku baik baik saja dan tidak hang. Karena panggilan suara itu masih terlihat berlanjut.
"Pak Kavin?" Panggilku memastikan.
"Hmm.." Jawabnya. Aku tambah tak percaya.
"Udah bangun?" Tanya nya lagi.
Aku lantas menepuk pipiku berkali kali dan cukup keras. Malu dan menyesal atas hal bodoh yang baru saja terjadi.
"Teruuussss, yang kenceng, ooyy.." Suara Eva terdengar berteriak dari kejauhan mungkin karena melihat tingkahku.
"Heh,, hehe, iya. Maaf pak. Lagian kenapa ga di tutup telfonnya." Tanyaku pada beliau.
"Kan yang biasa nutup telfon kamu," Jawabnya menyindirku. Aku di buat tambah salah tingkah.
"Ok, aku masih ada kerjaan, nanti aku telfon lagi." Ucapnya.
"Oh, jangan." Ucapku spontan.
"Kenapa?" Tanya es balok.
"Eh, ga apa apa." Aku semakin bodoh, pasti efek tidur siang.
"Ok, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam,,," Jawabku.
Begitu telfon berakhir, terlihat ada banyak pesan yang masuk.
Terutama darii,,,, hah?? Apa yang membuat perempuan ini mengirimku begitu banyak pesan?
.
.
__ADS_1
Bersambung,,