Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Mengungkap Kenyataan


__ADS_3

Begitu telfon berakhir, terlihat ada banyak pesan yang masuk.


Terutama darii,,,, hah?? Apa yang membuat perempuan ini mengirimku begitu banyak pesan?


Aku memeriksa satu persatu pesan yang masuk, mulai pesan yang di kirim oleh bang Aye terkait lagu yang di cover beberapa waktu lalu di studio. Beliau juga mengajak ku untuk ikut berkumpul lagi di studio music miliknya. Aku mulai mengetik satu persatu huruf membalas pesan dari bang Aye, menanyakan kapan kiranya waktu yang tepat untuk berkumpul.


Aku memutar lengan kananku yang masih sakit dan terasa berat. Kemudian memeriksa pesan berikutnya, yang merupakan alumnus siswaku dulu. Aku hanya tersenyum membaca sapaan dari mantan siswaku dan beberapa kalimat gombalnya.


Aku terus membuka pesan demi pesan. Menuntaskan hingga tak bersisa. Termasuk pesan pak Kutubku yang di kirim saat panggilan via telfon sedang berlangsung.


"Selamat tidur, sayang,,"


Membacanya membuat pipiku terasa panas tiba tiba. Ah, cuaca nya terlalu ekstrim, panas terik begitu menyengat.


Aku lanjut menscroll membuka pesan berikutnya.


"Assalamu'alaikum, Yevn, apa kamu sibuk? Bisa bertemu?"


"Aku mencoba menghubungi nomor mu sedari tadi, tapi sibuk."


"Hmm.."


"Apa aku pernah membuat masalah denganmu?"


Aku membaca setiap pesan yang di kirimnya secara beruntun.


Aku tak tahu kemana arah pembicaraannya ini, tapi sepertinya ini tidak mudah.


Apa yang membuat Ozy mengirimku pesan seperti ini.


Lama aku menebak nebak. Tawa Eva melengking, mengalihkan lamunanku. Perutku terasa lapar mencium aroma wangi dari gazebo tempat mereka menyajikan aneka camilan dan minuman. Aku menghampiri ikut bergabung bersama mereka.


.


.


Pagi ini aku berangkat ke kantor lebih awal, karena akan mengikuti apel rutin di awal pekan.


Tubuhku masih terasa sakit padahal aku sudah minum obat penghilang rasa nyeri.


"Bagaimana acara kemarin?" Tanya kak Teguh saat kami melangkah menuju kantor.


"Alhamdulillah, lancar, Tapi aku lebih senang turun ke lapangan bersama tim Jeroszt." Ucapku membalas pertanyaan kak Teguh.


Langkah kami beriring,


"Oh, ya? Kenapa?" Tanya kak Teguh lagi.


"Apa itu harus di sertakan alasan?" Tanyaku setengah tertawa.


"Hanya ingin tahu, siapa tahu alasannya karena aak...."


"Kak,," Aku mendelik ke arahnya.


Aku sudah berhenti di depan pintu ruanganku.


"Ah iya, becanda." Ucap kak Teguh tertawa.

__ADS_1


"Siap siap ke aula, ada sedikit arahan dari Humas." Ucap kak Teguh.


"Siap," Jawabku singkat sebelum kak Teguh berlalu meninggalkanku. Aku mengambil buku catatan kerjaku untuk di bawa ke ruang rapat.


Masalah hubunganbku dengan kak Teguh, memang aku sedikit canggung sama beliau sejak kejadian hari itu.


Flasback On


"Dengar, Yevn,, tapi sungguh, aku memang menyukaimu, bahkan berniat ingin melamarmu. Tapi aku terlambat, aku terlalu takut untuk menyampaikan niatku, aku terlalu banyak berfikir. Aku mengenalmu dan keluargamu dengan baik, terutama Vhen. Aku juga tahu bagaimana kau menilaiku, memandangku dan menganggapku. Aku rekan kerjamu, lebih istimewanya aku kau anggap kakak bagimu. Itu yang membeda kan ku dengan yang lainnya. Dulu awalnya aku juga menganggapmu rekan, junior yang teristimewa dengan segala bakatmu. Tapi tiap bersamamu perasaanku semakin senang, ada rasa bangga bisa di sampingmu. Aku terus berusaha memahami perasaanku, meyakinkan diriku sendiri, apa sebenarnya yang aku inginkan. Hingga aku sadar, bahwa aku telah jatuh hati padamu, aku melihatmu lebih dari seorang adik atau rekan."


Jantungku berdetak dengan laju, memompa dengan kecepatan max. Aku tak sanggup menahan saliva.


Ucapannya menohok dan menusuk ku berkali kali. Rasanya sakit, setiap kata yang di ucapkannya seakan mengulitiku.


"Aku pernah menyampaikan niatku pada Jerry, tak ada yamg tahu pertunanganmu, hingga aku benar benar kaget saat kak Desi mengumumkan statusmu saat di ruanganmu. Aku yakin tak ada yang menyangka sebelumnya. Bahkan sampai sekarang aku masih tak menyangka. Hingga ku tahu kamu melakukan percobaan konyol itu, aku sadar bahwa kamu memang sudah milik orang lain. Hahaha,, kenapa bisa aku baru sadar ketika kamu telah melakukan percobaan bunuh diri? karena itulah kamu, kamu tidak siap dengan perubahan pada dirimu, kamu masih bergantung pada almarhum. Aku tahu itu tidak mudah."


Aku lupa dengan sekitarku, aku mengabaikan semuanya, setiap ucapan kak Teguh tak ingin aku lewatkan. Aku terus mendengarkan kak Teguh yang terus berucap. Sepertinya beliau sudah mengumpulkan dengan susah payah keberaniannya. Aku mengerti itu, seperti dulu kak Arfan yang menyatakan perasaannya padaku.


Jantungku terus berdetak dengan cepat,, sangat cepat, keringat terus membasahi telapak tanganku. Lidahku kelu tak bisa berucap, fikiranku buntu di hadang tembok besar yang menutup semua jalanku. Otakku mengarahkanku untuk tetap jadi pendengar.


"Aku, sungguh mencintaimu." Ucap kak Teguh menatap lekat ke arahku.


Kemudian kak Teguh meminta Eva tetap diam agar tak membuka alat yang menutup lubang telinga nya. Kak Teguh menyogok Eva dengan semangkok Ice cream. Jelas raut wajah Eva kembali berseri seri seakan melupakan penderitaannya.


"Aku tidak ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadap pak Kavin. Aku hanya mengutarakan semua yang sudah lama ingin di sampaikan sejak lama. Meski sekarang rasanya sudah terlambat, tapi mencintai tanpa meminta imbalan itu lah sebenar benarnya cinta kan? Seperti yang telah kamu lakukan selama ini, mencintai laki laki yang bernama Arfan meski kamu tahu dia telah tiada. Entah siapa yang lebih beruntung atau merugi di antara aku dan kamu. Jika kamu mencintai laki laki yang tidak bisa kamu gapai dan kamu lihat lagi, sementara aku mencintai dan hanya bisa melihat wanita yang melabuhkan hidup bersama laki laki yang telah di pilihnya."


Aku semakin sesak dengan kata kata yang di tusukkan kak Teguh padaku. Tiap katanya mampu melumpuhkanku.


..


.


..


"Tapi disisi lain aku takut, satu persatu kalian meninggalkan aku. Aku cukup dengan kasih sayang yang Tuhan berikan, dengan di hadirkan perasaan sayang pada laki laki yang bakal bergelar suami, meski sekarang perpisahan yang menimpa, Tuhan lebih menyayanginya."


"Aku hanya ingin mencintainya di sisa hidupku, memperbaiki diri, memantaskan diri untuk bisa bertemu dengannya dengan izin Tuhanku. Dan siapapun yang telah di tuliskan di lauhul mahfudz sebagai jodohku di dunia, Aku yakin itu yang terbaik yang Allah titipkan padaku. Entah siapa itu,,"


Lama aku terdiam menatap jariku yang kosong.


Aku masih melihat ke arah kak Teguh yang menyibukkan dirinya dengan merespon ocehan Eva. Aku tahu itu merupakan pengalihannya dari situasi tegang yang terjadi di antara kami.


Flashback Off.


Rapat sudah berakhir, aku memanggil anggota yang kemarin ikut menemaniku bertugas di ekowisata mangrove meminta mereka ke ruang bendahara untuk mengambil komisi.


Aku berlalu menuju ke ruangan kak Desi.


Begitu membuka ponsel yang bergetar sedari tadi. Ternyata kak Sri dari kecamatan X.


"...."


"Maaf kak, aku tadi rapat jadi ga bisa angkat telfon." Ucapku sungkan.


"Oh, iya, kakak juga maaf ya. Kamu masih sibuk sekarang?" Tanya beliau.


" Hmm,, enggak sih kak, rencana nya juga pulang awal," Ucapku.

__ADS_1


"Nah, kebetulan kakak juga kosong, mau makan siang bareng ga? Ada yang mau kakak gosipin nih" Ucap nya.


Aku tertawa mendengar beliau yang mengajakku bergosip. Meski aku tahu itu hanya bercandaannya saja.


"Ini tentang Roziana." Ucapan kak Sri membuatku sedikit tertarik, mengingat pesan yang di kirimkan Ozy padaku.


"Gimana kalo aku siapkan beberapa pekerjaanku dulu, Habis Zuhur kita ketemu."


Aku memawar pada beliau, sebenarnya ini waktu istirahat jam kantor, aku berencana mengajak kak Desi untuk makan siang dan sedikit bercerita pasa beliau.


Tapi ku urungkan, aku mengubah rencana, memilih menggunakan waktu istirahat untuk bekerja dan pulang lebih awal.


.


.


Aku selesai mengerjakan beberapa hal, menyusun jadwal, membuat daftar keberangkatan, menulis hasil laporan pekerjaan kemarin.


Aku bersandar di bahu kursi, melepas lelah setelah menyimak hasil pekerjaanku.


Ada apa dengan Ozy? Apa yang ingin di sampaikan kak Sri?


Aku melirik jam yang melilit di pergelangan tanganku, jam setengah dua. Aku menelfon kak Sri mengabari beliau bahwa aku tidak membawa kendaraan. Akhirnya kak Sri yang akan menjemputku.


Bersambung,,,,,


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Note:


Untuk event yang akan author adakan, info dan syaratnya silakan pc admin: Anastasya / Qalby.

__ADS_1


Yang belum follow dengan beliau, silakan cek di pengikut author ada di urutan awal, jadi ga perlu jauh jauh scroll ke bawah. 😉


__ADS_2