
Sudah beberapa hari manusia kutub tak menampakkan diri, bahkan aku tidak menerima pesan apapun dari dia.
Aku bangun di sepertiga malam, melaksanakan tahajjud.
Malam ini lebih sendu dari biasanya, entah mengapa, tersadar akan keheningan yang lebih tenang dari biasanya.
.....
Usai melaksanakan tahajud, berdoa, dan tak hentinya bersyukur atas limpahan nikmat yang di berikan.
Aku kembali berdiri,
Bismillahirrahmanirrahim,,,,,
Ku lafaskan niat shalat istikharah, menyerahkan diri sepenuhnya pada sang Khalik.
,,,,,,
Ya Allah,
Tuhan yang maha tahu segala sesuatu,
Sesungguhnya Engkau juga tahu betapa kacau hati dan pikiranku saat ini,
Ya Allah,
Tidak ada yang ingin ku lihat di dunia ini selain melihat pancaran kebahagiaan dari orang tuaku,
Melihat ibu yang tak memikirkan nasib masa depan putrinya dengan penuh khawatir,
Di usianya yang sudah renta ini,
beliau sangat menginginkan putri nya ini memiliki pasangan hidup yang bisa membimbing ke jannah,
Ya Rahman, Tuhan penuh kasih,
Bertahun ini aku di rundung awan kelabu,
hidup penuh rasa menyayangi dan kerinduan yang penuh pada hambaMu yang sudah Kau jemput.
Bertahun ini, aku telah menjaga hati dan pandanganku untuk tak berpaling darinya,
menjaga hati agar tak mengkhianati perasaanku padanya,
Bertahun ini juga, seorang hamba Mu menawar hatinya padaku,
Seorang hamba yang ku abaikan karena tidak adanya rasa yang bernama sayang tumbuh di hati ini.
Seorang laki laki yang telah mencuri banyak hati keluargaku,
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan padaMu dengan ilmu Mu, aku memohon kekuasaan Mu untuk menentukan jodoh ku dengan kodrat Mu, dan aku memohon sebagian karunia Mu yang agung,
Karena sesungguhnya Engkau Maha kuasa, sedangkan aku tidak berkuasa,
Engkau Maha tahu sedang kan aku tidak tahu, dan Engkau mengetahui perkara yang ghaib,,
Ya Rahim, Tuhan maha penyayang,,
Jika laki laki ini memang baik untukkuku, keluargaku, dalam agamaku, kehidupanku dan akibatnya bagiku, maka pertemukan kami dalam ikatan yang sah di hadapanMu,
Namun, apabila laki laki ini buruk untukku, keluargaku, dalam agamaku, kehidupanku dan akibatnya bagiku,
maka jauhkanlah dia dariku, limpahkanlah kebaikan padaku dan keluargaku,
Mukena yang ku kenakan sudah basah bersiram air mata.
Tangis tak bisa ku bendung,
Semua urusan ku serahkan pada yang Maha kuasa, aku sungguh tak mampu tanpa sang Khalik.
Usai shalat, aku duduk bersandar di tempat tidur, memejamkan mata sejenak. Ku buka ponselku sebentar hingga aku terlelap.
.....
__ADS_1
**
"Assalamu'alaikum." Sapaku pada seseorang di seberang telfon.
"Wa'alaikumsalam, Yevn. Nanti ke kafe Aye ya."
"Hah? Jam berapa pak? Aku masih di kantor." Ucap pak Am padaku.
"Ya, sore lah, kosong kan?" Jawab pak Am.
"Iya pak, ok lah." Jawabku setuju.
Aku meletakkan kembali ponselku pada tempat sebelumnya, di atas meja.
Aku kembali melanjutkan pekerjaan ku memeriksa beberapa jadwal acara, dan dinas yang akan di ikuti oleh pj bupati dan pak sekda.
Begitu menyelesaikan semua pekerjaanku yang di kantor, aku memperhatikan jam yang terpasang di pergelangan tangan ku.
Waktu menunjukkan pukul setengah tiga.
Aku merapikan meja kerjaku, berniat akan pulang awal hari ini.
Eva tidak masuk kerja hari ini, karena pulang ke rumah orang tuanya.
..
.
.
Begitu sampai di rumah, aku duduk di sofa di ruang tamu, menyalakan televisi sambil bersandar melepas rasa lelah yang menyerangku.
Sebenarnya pekerjaan di kantor hari ini tidak begitu banyak hingga membuat lelah.
Karena sebenarnya lelah yang ku rasakan datang dari bathin dan pikiranku.
Beberapa hari ini, pikiran ku sangat kacau, sehingga bergabung bersama teman teman online ku tak mampu menepis kegundahan ku ini.
Usai bersih dan menyegarkan diri aku melaksanakan sholat ashar.
...
Ku lihat motor pak Am terparkir di tak jauh dari pintu parkir cafe sekaligus studio itu. Aku pun memarkirkan motor ku di samping nya.
Terlihat pak Am duduk di salah satu meja di pojokan, begitu aku memasuki cafe.
Aku menyalami beliau dan mencium punggung tangannya.
Kami mulai melempar sapaan dan bertanya kabar.
Aku dan pak Am bercerita banyak, hingga sampai ke acara pentas seni yang aku ikuti tempo hari.
Ternyata pak Am menerima banyak pertanyaan baik langsung maupun lewat telfon dari para hadirin. Mulai yang formal maupun yang terdengar konyol.
Aku hanya tersenyum dan sesekali tertawa mendengar ceritanya. Hingga raut wajah pak Am berubah, tatapan nya lebih serius.
"Bagaimana perasaanmu?" Begitu bunyi pertanyaan yang di lontarkan padaku.
Aku hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan pak Am. Karena aku sungguh tak mampu menjangkau hati ku sendiri.
"Dia menghubungi bapak?" Aku balik bertanya. Dan pak Am hanya tersenyum padaku. Terkesan memberikan jawaban serupa saat beliau bertanya padaku tadi.
"Dia tidak melepasmu atau berusaha mengabaikanmu. Bapak laki laki, dia laki laki, banyak laki laki dari berbagai kalangan yang bapak temui, tapi tidak pernah melihat yang keras kepala seperti ini."
Aku menebak kemana arah pembicaraan ini. Aku menyimpulkan bahwa pak Am mencoba 'merayu' pikiranku bahkan hatiku agar tersentuh dengan ceritanya.
Tapi yang jelas aku tak bisa menyengkalnya, karena yang di katakan pak Am memang benar. Laki laki yang di ceritakan memang keras kepala.
"Dia hanya memberimu waktu untuk berfikir sendiri, menenangkan hatimu dan fikiranmu tanpa campur aduk dari dia."
Aku kembali mencoba mencerna ucapan dari pak Amrisal yang yang membuatku menebak nebak sendiri, bergelut dalam hati dengan pertanyaan pertanyaanku, dan mencari jawabannya.
Memang aku sedikit merasakan rindu pada laki laki dingin yang keras kepala itu. Tapi aku tak yakin apa ini benar benar perasaan rindu?
__ADS_1
Sejak kedatangan nya terakhir malam itu, aku tidak melihatnya lagi. Bahkan sejak terakhir dia berbicara padaku sebelum akan pamit pulang, aku tak mendapat sapaan darinya bahkan hanya lewat sebuah pesan.
Apa ini rindu? Apa aku merinduinya?
.
.
.
.
.
Aku terbangun tepat pukul dua dinihari, lagi.
Mungkin ini alarm alami menyuruhku sholat malam. Disaat seperti ini, Allah mengingatkanku, bahwa Dia ada tempatku mengadu dan memohon petunjuk serta kedamaian.
Aku melaksakan tahajud dan juga istikharah setelahnya.
Ucapan pak Am terngiang kembali.
"Apa sebenarnya yang kamu harapkan?...."
Usai shalat dan bermunajat, aku merapikan mukena dan sajadahku.
Mataku tak bisa di pejamkan lagi. Aku mengambil ponsel dan melihat grup chat di Noveltoon.
Ada ribuan chat yang tak ku buka. Aku tak tahu akan muncul bagaimana dan bergabung seperti apa. Aku benar benar sedang ling lung.
D**rrrtttt....
Aku terbangun begitu mendengar ponsel ku bergetar di atas nakas. Kapan aku tertidur? Aku meraih ponselku, terlihat ada panggilan dengan nomor tanpa nama di layar telfon.
Aku memilih mengabaikan, dan memasang ponselku dalam mode silent. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 05.25. Aku mengerjap melawan rasa kantuk yang masih terasa. Aku tak ingin larut dengan kantukku hingga melewatkan waktu subuh.
.
.
.
....
Aku mencari bros jilbab berukuran kecil yang biasa ku kenakan. Aku tak menemukan di meja rias. Aku sudah mengenakan pashmina, namun ujung jilba di bahuku terlihat menjuntai bebas dan berantakan.
Aku tak menemukan bros yang ku cari.
Hingga ku coba merogoh laci nakas di samping tempat tidurku.
"Ahaa,, kenapa suka sekali di nakas? Kau punya kaki atau sayapkah? Aku tak merasa menaruhmu di laci ini." Ucapku pada bros, 😂😂
Aku mengenakan nya, dan melihat ke arah cermin penampilan dan jilbab yang ku kenakan. Sudah terlihat rapi. Setelah merasa puas, aku menutup laci di nakas yang ku buka tadi.
Hingga gerakan tanganku terhenti, begitu melihat isi di dalam laci.
Aku meraihnya, menaruhnya di atas meja rias. Ku perhatikan lamat lamat bungkusan yang kini di hadapanku.
"Sebegitu bencikah aku padanya? Bahkan hadiah pemberiannya hingga kini tak ku buka, hadiah yang di berikannya dengan tulus. Tulus? Bagaimana mungkin aku bisa menyimpulkan jika dia tulus memberiku hadiah ini." Gumamku dalam hati.
Aku membuka paperbag mini pemberian pak Kavin. Betapa jahat dan sombong nya aku. Aku bahkan membenci diriku saat ini.
Aku membuka box kecil ini,,
Ini,,,,,
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1