Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Gundah


__ADS_3

Begitulah dia, ga ada malu malunya sebagai perempuan, aku udah eneg lihat tingkahnya, Yevn. Tapi kamu tenang aja, masa magang nya di kantor akan segera berakhir, pak camat ga ada niat mau mempertahankan dia sebagai karyawan honor di sana." Ucap kak Sri.


Aku hanya diam mendengar ucapan kak Sri dengan sedikit menyunggingkan senyum padanya.


Terlihat Roziana terus mengekori pak Kavin menggantikan posisi laki laki yang bernama Sigit yang harusnya membawakan segala naskah itu pada pak Kavin. Entah bagaimana ceritanya Ozy bisa mengambil alih tugas Sigit.


Manusia kutub terlihat biasa saja.


Aku menikmati aneka camilan bersama kak Sri di saung kecamatan X. Beberapa rekan kak Sri sibuk dengan aktifitas masing masing.


Pak Kavin masih bersama rombongan di saung utama, dan terlihat masih sibuk mengobrol.


Tiba tiba Ozy naik masuk ke saung kecamatan X, langsung berbaur dengan teman temannya.


"Kamu makin deket sama pak camat. Awas di gosipin loh."


"Di gosipin kalo bener adanya ga masalah."


Aku terus melahap makanan yang ada di hadapanku, tak memperdulikan mereka.


Kak Sri terkekeh geli di sampingku, entah apa yang membuatnya lucu.


"Makan nih, coba rasa, enak banget." Kak Sri menyodorkan pie coklat ke arahku, aku tahu ini hanya pengalihan dari beliau. Aku terkekeh dengan cara jitunya.


Sesekali kak Sri membalas pesan yang masuk, katanya itu anak nya yang terus menanyakan kapan ibunya akan pulang. Aku hanya tersenyum membayangkan hangatnya keluarga ibu dua anak yang ada di hadapanku ini.


"Usaha namanya, kalo mau dapatkan sesuatu yaah harus usaha kan?"


"Ku dengar pak Kavin udah tunangan loh."


"Gosip itu mah, kalo bener juga kan baru tunangan, masih ada kesempatan kan."


Mereka terus berbisik dan aku terus asik bersama kak Sri.


Jarang bisa kumpul dengan rekan dari kantor lain seperti ini. Sayang untuk di lewatkan.


....


Seseorang muncul di hadapanku, itu pak Kavin. Beliau duduk menyapa kak Sri yang merupakan pegawainya.


"Pulang sekarang?" Tanya pak Kavin kepadaku setelah melihat jam yang terlilit di tangannya.


Aku mengangguk, mengiyakan.


"Iya, udah sore Yevn, lebih baik pulang dari pada di sini bikin sakit hati." Ucap kak Sri setengah berbisik.


"Sakit hati kenapa?" Tanya pak Kavin penasaran.


Kak Sri hanya memberi kode pada pak Kavin untuk membawaku segera beranjak dari sini.


Karena sepenuhnya percaya pada kak Sri yang merupakan karyawan sekaligus orang kepercayaannya, manusia balok langsung melangkah keluar dari saung. Setelah agak jauh pak Kavin melangkah meninggalkan saung, aku pamit pada kak Sri.


Terdengar suara dari kelompok teman Ozy yang melepaskan Ozy yang sedang berpamitan untuk segera pulang, suara mereka terdengar keras dan ricuh. Padahal aku sudah lumayan jauh meninggalkan saung. Aku tak menoleh ke arah mereka sedikitpun. Mungkin Ozy berniat untuk menghampiri pak Kavin lagi. Terdengar langkah cepat dari arah belakangku.


Aku hanya terkekeh sendiri. Pak Kavin berjalan jauh di depanku sambil memperhatikan ponselnya.


Terlihat dia berhenti dan menoleh, bahkan beliau berbalik arah melangkah ke arahku.

__ADS_1


Aku terus melangkah meski ragu begitu melihat ke arahnya.


Pak Kavin meraih tanganku, menarikku terus berjalan menuju parkir. Aku hanya bisa mengikut langkahnya yang lebar. Tanganku masih di genggamnya.


"Kalo ada yang lihat gimana?" Ucapku protes.


"Yaa bagus dong. Kenapa harus di tutupin lagi" Jawabnya dengan tak bersalah.


Beliau melajukan mobil meninggalkan area parkir.


"Wey,, mbah Singa, beliin sate madura ya kalo balik." Ucap Eva di seberang telfon.


"Kamu dimana? Beli sendiri, kan ngarah pulang ke rumah juga." Jawabku kesal.


"Aku udah di rumah, makanya minta di beliin. Mobil udah semedi di garasi, malas keluar."


"Motor?" Tanyaku semakin kesal.


"Tidur, ga mau di ganggu dia." Omongan Eva semakin aneh.


"Keluarin bentar, kan bisa. Aku baru keluar dari lokasi acara. Sampai di sana udah jam berapa juga." Jawabku kesal.


"Tega nian kau padaku,, hiks hiks,, sungguh hanya kau saudara yang ku punya, mengapa kau perlakukan aku seperti ini? hiks hiks,,, Semenjak manusia mbah es fujiko mu hadir, aku kau abaikan dan kau buang... huuuaaaaa,,, hiks hiks.." Terdengar Eva melantunkan drama menyayat hati di seberang telfon.


Dia tak tahu kalo suaranya di dengar juga oleh pak Kavin yang sudah menahan tawa sedari tadi. Panggilannya ku pasang mode loudspeaker.


Aku hanya tertawa geli membayangkan ekspresi wajah Eva saat ini.


"Sudah ku duga, akhir dariku seperti ini. Dibuang oleh sahabat tercinta,, hiks hiks,,"


"Yevn,, !! Elu lagi sama mbah es fujiko?! Elu loudspeaker ya?! Aseem."


Aku hanya tertawa mendengar kekesalannya di seberang telfon dan menutup panggilannya.


.....


Pak Kutub baru saja menerima telfon dari seseorang, wajah nya terlihat serius mendengarkan.


"Dek,," Pak Kavin bersuara, masih sambil menyetir.


"Aku tak menoleh dan memilih mengabaikannya.


Aku membuka aplikasi noveltoon, membuka privat chat antara aku dan mak Megha. Aku mengirimkan sebuah foto padanya, melihat respon dari mak Megh.


Sebenarnya aku mau cerita banyak pada beliau, meminta pandangan dan sarannya tentang masalah dan buah fikirku. Tapi aku terlalu segan untuk itu.


Tak di sangka mak Megha merespon dengan cepat, akhirnya aku berbalas chat dengan mak Megha sebentar.


****


Eva terlihat sedikit berbeda malam ini, yang jelas tidak seperti biasanya. Aku cukup mengenal nya, pasti sedang di landa angin yang menerpa tegaknya.


Aku hanya diam memperhatikan, menunggu beliau membuka suaranya sendiri, menceritakan keluh kesahnya.


Eva masuk ke kamarku, dia melihatku dari pantulan cermin saat aku sedang menilik leherku, yang masih terasa panas di kerongkongan pasca keluar dari Rumah Sakit tempo hari.


"Tengorokanmu masih sakit?" Tanya Eva.

__ADS_1


"Sedikit, agak aneh aku sering merasa mual di tambah pusing." Jawabku.


"Hmm, Yevn.."


"Hmm,,, apa?" Aku tak menoleh ke arah Eva. Melihatnya tak kunjung bersuara danblama terdiam, aku menoleh ke arahnya, menilik air mukanya.


"Ada masalah?" Tanyaku.


"Gue jenuh,,, Jenuh menutup mata dan berpura pura tuli." Suara Eva mulai terdengar parau.


Aku masih diam mendengarkannya.


"Gue udah menyelidikinya, mencari tau sana sini, dan beberapa kali dia kepergok melakukan video call dengan perempuan mana yang gue ga tau."


Aku tercekat dan masih diam menyimak.


"Bukan sekali dua, Yevn. Setiap kali ketemu gue sering mengecek ponselnya diam diam. Dia sering melakukan komunikasi dengan tuh cewek. Gue bahkan nanya ke dia masalah ini, dia cuma bilang itu temen, tapi kenapa harus berjam jam dan itu rutin. Bahkan setiap kalo gue nelfon, dia selalu bilang sibuk ini dan itu. Dia juga udah bisa berkata kasar padaku"


Eva terus meluahkan isi hatinya.


"Va, jujur aku hanya bisa jadi pendengarmu. Rasanya tak layak aku memberi saran atau masukan, coba sampaikan hal ini pada orang tuamu jika kamu merasa cukup yakin setelah melakukan penyelidikan terhadapnya. Jika memang Rahmad sudah ga bisa di ajak diskusi, coba sampaikan ke orang tuamu. Karena pernikahan ini milik kita, kita adalah tokoh utama bagi hidup kita."


Aku mencoba menenangkan sahabatku yang sedang di rundung mendung.


***


.


.


.


Eva sudah kembali ke kamarnya. Masalahnya cukup rumit buatku.


Setiap orang memang memiliki ragam masalah masing masing.


"Semoga kasih Tuhan membuat kita merasa adil di setiap keputusannya. Cinta itu akan hadir,,,"


Aku membuka pesan dari seseorang.


Aku menahan dadaku yang terasa sakit dengan jantungku yang memompa cepat.


.


Bersambung,,,,,


..


.


.


**


Siap siap bagi yang mau ikut event,, tantangannya ada di depan, nantikan. ✌🤗


Hanya buat yang terpilih.

__ADS_1


__ADS_2