Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Laporan Pak Jerry


__ADS_3

Usai acara dan para tamu pulang, hanya menyisakan anggota keluarga dan kerabat dekat, termasuk tante Suhaera sekeluarga. Aku di minta keluar dari kamar dan ikut duduk di antara mereka sekaligus foto bersama.


Hingga aku menangkap sesosok mengerikan dengan wajah penyok dan hancur penuh di siram darah,,,, //ah, tidak tidak,,, aku hanya bercanda,, kenapa tiba tiba jadi cerita horor ya?😅😂


Hingga akhirnya aku menangkap sosok laki laki dengan pakaian yang sama warna denganku, lengkap dengan kopiah hitam dan songket.


Aku di buat kaget dengannya. 'Bukankah dia tidak datang? Kenapa tiba tiba di sini?'


Pak Kavindra di keluarkan dari persembunyiannya yang entah berapa lama di sembunyikan selama prosesi. Atau hanya aku yang tidak tau?🤔 Bahwa sebenarnya dia mengikuti prosesi acara dari awal. Sepertinya begitu.


Saat foto bersama, aku membisikkan pada pak Kavin, dan beliau menundukkan sedikit kepalanya agar bisa mendengar jelas apa yang ku ucapkan.


"Aku ada satu permintaan, apa bisa?" Ucapku.


Laki laki yang berada di samping ku ini, lebih tepatnya di hadapanku menatap ku lekat tatkala mendengar ucapanku.


"Iya, permintaan apa?" Tanya beliau.


"Aku tidak tau akan ada sesi foto seperti ini, meski sebenarnya aku tau. Lagian sebelumnya juga aku minta kalo acara hari ini hanya di adakan bersama keluarga dan kerabat dekat saja, lagian kan pandemi."


Aku menghentikan kalimatku, dengan ragu ragu ku menoleh ke arahnya.


"Bisa ga, kalo foto nya ga di post di sosmed. Dari fotografer dan keluarga bapak, bapak yang selesaikan, keluargaku sendiri aku yang akan handle." Ucapku dengan hati hati tak ingin beliau salah faham dan tersinggung.


"Ga mau." Jawab pak Kavin dengan ekspresi dinginnya.


Aku hanya terpejam dan bungkam saat mendengarnya.


Terlihat mama sedang duduk bersama tante Suhaera dan seorang wanita yang sangat aku kenal. Wanita yang sudah ku anggap sebagai orang tuaku yang kedua.


Aku menghampiri mereka yang sedang asik mengobrol. Aku bersimpuh di hadapan wanita ini, menyalami dan mencium punggung tangan beliau.


Ku peluk wanita paruh baya ini, mama Finda, ibunda almarhum kak Arfan, laki laki yang masih ku cintai hingga hari ini.


Mama Finda memelukku erat, mencium pipiku, layaknya seorang ibu mencium anaknya dengan sayang. Beliau menepuk nepuk punggungku dengan pelan saat air mataku mulai mengalir.


"Selamat nak,, Allah memberkahimu,, mama turut bahagia." Ucap mama Finda dengan suara bergetar masih memelukku.


Ku usap air mata dengan jariku, seketika ku lepas pelukanku dari mama Finda. Terlihat tante Suhaera melihatku dengan tersenyum, juga mamaku.


Di sisi lain, para laki laki sedang asik mengobrol dengan rombongannya, di sana juga ada papa Usman yakni suami dari mama Finda yang merupakan ayah dari almarhum kak Arfan, sedang asik mengobrol bersama rekan seusianya.


Di sampingnya ada pak Kavin dan ayahnya, om Edward ........ Aku tak tau kalo manusia Es bisa menyesuaikan diri di hadapan papa Usman.


Memang ini bukan pertemuan mereka yang pertama kali. Tapi ini jadi aneh dan 'unik' mungkin di penglihatanku yang tak pernah menyangka akan hal ini.


Eva dan kak Aisyah masih asik dengan makanan mereka. Bahkan kak Machel juga ikut ikutan, meski tidak begitu 'fanatik' karena kak Machel harus mengawasi anak nya.


.


.


.


"Yevn ga tau, apa ini keputusan yang tepat ma. Yevn bahkan ga ngerti dan ga tau harus gimana, Yevn ragu. Yang Yevn tau, Yevn masih sayang sama kak Arfan, ma."


Mama Finda mendengarkanku dengan seksama, melihatku dengan tatapan sedih dan sendu.


"Insyaallah, ini yang terbaik,, kamu hanya tidak terbiasa, karena terlalu lama membuat benteng pertahanan dan batasan antara kamu sama semua pria. Kamu melewati banyak waktu yang harusnya kamu lalui dengan normal seperti gadis lain yang seusia denganmu. Selalu berdoa minta kelembutan hati. Mama yakin Kavindra laki laki yang cocok buat kamu." Ujar mama Finda.


Tiba tiba papa Usman menghampiri kami,


"Di cariin ternyata di sini." Ucap papa Usman.

__ADS_1


"Lah,, tadi saya udah pamit sama orang rumah dan langsung keluar, nih Yevn nganter sampai di luar."


Aku hanya tersenyum dengan keharmonisan sepasang suami istri ini yang sudah sangat ku anggap sebagai orang tuaku.


"Mama pulang dulu,, kapan kapan main ke rumah ya."


Ucap mama Finda sembari memelukku. Aku menyalami dan mencium punggung tangan beliau.


Papa Usman menyentuh ubun kepalaku, mengelusnya lembut. Aku teringat dengan almarhum ayah ku, rinduku semakin kuat.


"Jangan lupa sholat, rajin ibadah. Papa sama mama pulang." Ucap beliau.


Aku melakukan hal yang sama, menyalami dan mencium punggung tangan papa Usman.


Aku melihat mobil yang di kendarai mereka pergi meninggalkan halaman rumah mama.


.


.


.


***


.


.


Hari berganti, dan semua masih baik baik saja,.


Aku ke kantor, ke studio music, latihan biola dan piano.


Sejauh ini semua teman teman ku tidak mengetahui tentang lamaran dan pertunanganku.


Cincin pertunangan juga tidak ku kenakan.


Hari ini aku akan mengadakan rapat kantor, dua pertemuan rapat dalam satu hari. Pertama, rapat antar protokoler kabupaten, yang berhubungan dengan kinerja setiap protokoler.


Kedua, rapat antar kecamatan, mengenai tindak lanjut dari rapat pertama yang sebelumnya telah di adakan.


Aku membawa berkas yang sudah ku siapkan kemarin. Aku merasa seperti dejavu, karena kak Teguh menghampiriku dengan senyumnya. Hanya saja kali ini beliau tidak sedang melakukan panggilan via telfon.


"Ga usah kak, aku saja. Lagian ga banyak kok."


Ucapku saat beliau memberikan bantuan untuk membawa tumpukan kertas untuk rapat hari ini.


Beliau tidak memaksa, dan kami langsung menuju ke ruangan rapat yang akan segera di laksanakan.


.


.


.


"Yevn,," Sebuah suara terdengar memanggilku, aku menoleh. Kak Teguh menghampiriku, ikut berdiri di sampingku yang sedari tadi berdiri di depan dinding kaca di lantai 4, melihat ke arah luar.


"Yang lain masih di dalam kak?" Tanyaku pada beliau.


"Kak Sri dan bang Syam yang di dalam, yang lain paling pada bahas hasil rapat tadi pagi." Ucap kak Teguh.


"Lagian bagus ada kebijakan gitu, meskipun aku sendiri salah satu yang sering lalai karena jadwal pengobatan dan pemeriksaan rutin."


Kak Teguh menoleh, dapat ku lihat dari sudut mataku.

__ADS_1


"Itu beda kasus, Yevn. Lagian pihak kantor selalu senang dengan hasil kerjamu. Kamu menyiapkan semuanya jauh jauh hari sebelum mengambil izin. Jangan mikir yang aneh aneh, kebiasaan buruk itu. Lagian ga mungkin semuanya minta kamu bertahan saat kamu mau berhenti kalo bukan karena tak ingin kehilangan seorang yang bertalenta dan berkemampuan sepertimu." Jelas kak Teguh.


"Aku makasih banget sama semua senior dan rekan rekan, karena selalu menutup kekurangan ku dalam pekerjaan ini." Ucapku dengan tulus.


Ku lihat kak Teguh menatapku dengan pandangan yang tak bisa di artikan. Seolah ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.


"Kenapa?" Tanya ku terus terang.


"Jika aku,,,," Kalimat kak Teguh terhenti. Kami sama sama menoleh tat kala seseorang menghampiri dan memanggil kak Teguh.


"Ke ruangan pak Sekda, Guh. Buat laporan, berkasnya ku titip sama Syam. Alergos ku kambuh." Ucap pak Jerry yang merupakan seniorku.


Kak Teguh langsung bergegas setelah pamit padaku dan pak Jerry.


"Yuk Yevn, cari minuman yang seger seger." Ucap pak Jerry.


Beliau seorang non muslim yang selalu mengingatkan rekan rekan dan junior saat tiba waktu sholat.


.


.


"Teguh, ngomong apa?" Tanya pak Jerry membuat alis ku terangkat.


Pak Jerry menarik nafas dan menghempasnya berat.


Aku hanya menebak mungkin beliau mengira pembahasan kantor.


"Apa kamu lihat perubahan Teguh akhir akhir ini." Tanya kak Jerry seakan mengajakku bermain tebak tebakan.


Ku kira semua orang memang sudah berubah dan bertingkah aneh.


Lagian pembahasan orang dewasa macam apa ini?


Meski sebenarnya ucapan pak Jerry ada benarnya, dan bisa di terima oleh akalku.


Aku masih memilih diam, memberikan waktu buat pak Jerry untuk menuntaskan kemana arah pembicaraannya.


"Teguh ingin melamarmu."


Gleduukk,,,, DUUAAAARRRRR!!!!


Tanpa sadar aku terbelalak,, aku yakin kalo aku sudah salah dengar, dan hanya berhalusinasi membayangkan film film romantis atau film ikan terbang yang sering di bahas dan jadi lelucon oleh teman Republik Keluarga Gesrek di grup chat author. Atau film ikan terbang yang sering ku lihat mama menontonya dan menikmatinya.....


Seketika ku lihat manusia kutub bersama teman kantornya baru saja keluar dari pintu utama kantorku dan sedang berjalan ke arahku bahkan sudah sangat dekat, bahkan aku bisa mencium aroma parfum nya.


Aku masih terpaku, diam setelah mendengar ucapan ucapan pak Jerry.


"Teguh, ingin melamarmu."


.


.


.


.


.


Bersambung,,,,


.

__ADS_1


.


__ADS_2