
"Uhibbuki fillah,,,," Ucapnya lirih.
Dia mengeluarkan sesuatu dari tangannya, membuka box merah kecil dan meletakkannya di atas meja tepat di hadapanku.
"Pilihan untukmu hanya dua,,," Ucapannya terhenti.
",,,pertama, menerimaku sebagai suamimu, atau kedua, siap menjadi istriku?"
Dia kembali mengangkat wajah nya melihat ke arahku, tanpa senyuman.
Aku tak bisa berucap apapun. Hanya bisa terdiam dan penuh kebingungan.
"Yevn,,,," Dia akhirnya bersuara setelah lama keheningan tercipta dari kami berdua.
"Aku,,,,"
Aku tak bisa berucap lagi, lantas menyunggingkan senyuman padanya.
.
"Maaf,,,,"
.
.
Dia lantas menunduk, begitu mendengar ucapanku.
"Apa bapak bener bener sudah siap menikah?" Tanyaku padanya, membuat kepala nya terangkat melihat ku.
Mungkin dia memikirkan maksud dari pertanyaanku, atau mungkin suaraku begitu lirih.
"Apa bapak siap dengan emosi yang labil dan sikap ketidak dewasaan yang akan bapak hadapi jika saya yang bapak pilih sebagai pendamping?"
Dia semakin terlihat menerka nerka dengan kalimat yang meluncur dari bibirku.
"Apa bapak siap memperistrikan seorang gadis yang tak bisa mencintai pasangannya, walau telah berstatus sah dalam ikatan ijab qabul?"
Dia semakin menatapku dengan lekat, menanti akhir kalimatku, menerka arah pembicaraanku.
"Aku jelas tak ingin berdosa, dengan mengabaikan perasaan suamiku kelak ketika di hatiku masih tertulis nama laki laki lain. Aku sungguh tak ingin berdosa pada Rabb ku dan pada suamiku karena masih membayangkan wajah laki laki lain. Aku jelas tak ingin mendapat murka Tuhanku dan durhaka pada suamiku kelak ketika aku tak bisa mencintai dan menyayanginya dalam waktu yang entah sampai kapan itu."
Tes,,,
, ,,,,Tes,,,,
,,,*Tes*,,,,,,,
Air mataku satu satu menetes di pipiku.
Ku lihat wajahnya yang mematung sedari tadi.
Entah apa yang ada di fikirannya.
"Bapak laki laki baik, saya sangat menghormati dan menghargai bapak. Bapak dengan mudah bisa di terima sama keluarga saya dan mendapatkan kepercayaan mereka. Hanya saja ini tentang kepercayaan bapak pada saya dan tentang kepercayaan saya pada diri saya sendiri."
Pak Kavin masih terdiam mendengarkan ocehanku. Mungkin karena kali ini aku benar benar 'membicarakan' hal seserius ini.
Dan aku juga merasakan demikian. Baru kali ini aku berhadapan dengan beliau membahas tentang perasaan dengan begitu serius.
Apa yang membuatnya terdiam membisu?
Mungkinkah dia sudah bisa menerima kenyataan tentang hatiku yang membatu ini. Tentang ketidak kuasaanku untuk merubah pendirianku dan memilih mundur menerima kenyataan.
Ataukah aku ,,,,,,,,,,
__ADS_1
"Oiy, singa, ponselmu mana?"
Tiba tiba suara cempreng si balabala mengalih perhatianku.
Aku menoleh pada kuntilanak yang tiba tiba muncul menembus dimensi ruang dan waktu.. 😂😂😅😅✌
Aku hanya melirik ke Eva tak bersahabat.
Sadar mendapat tatapan membunuh ku, Eva langsung cengar cengir dan mundur dengan perlahan meninggalkan kami.
Aku memijit pangkal hidungku, pikiran ku kembali ke pembicaraan ku dan pak Kavin tadi.
"Jika aku bisa menerima semua itu, bagaimana?"
Aku lantas mengangkat kepalaku tatkala mendengar suaranya. Tidak, lebih tepatnya mendengar pertanyaannya.
Kali ini aku yang di buat bungkam olehnya.
"Aku bisa merimanya, bukan berarti aku tak mau mendapatkan hatimu. Tapi karena aku tahu, perasaan itu akan berubah, berbalik dari sekarang dengan berjalannya waktu. Aku yakin takkan ada yang sia sia. Karena hanya Tuhan yang tahu bagaimana aku melabuhkan hati ini."
Lagi lagi aku hanya bisa terdiam dengan detakkan jantung yang tak menentu. Di tambah tatapannya yang teduh namun tajam.
Apa artinya?
Aku terlalu bodoh untuk menafsirkan kalimatnya.
"Aku menyukaimu karena Allah. Dan sebaliknya, aku hanya berharap pada Nya untuk mendapatkan secuil hatimu."
-Lagi,,,,
"Buat apa aku berharap pada manusia, terlebih manusia itu sendiri tak tahu dengan apa yang dia rasa. Tapi setidaknya dia sadar akan ketidak tahuannya dari pada sok tahu dan berpura pura."
-,,,Aku benar benar di buat bungkam oleh laki laki yang ada di hadapan ku ini.
"Jadi kapan kita mengikat hubungan kita?"
Apa dia tidak mendengar penjelasanku sedari tadi.
Aku semakin tak mengerti dengan jalan fikir laki laki ini.
"Jika bapak memang benar benar siap dengan konsekuensinya,,," kalimatku terjeda.
"Aku yakin bapak laki laki yang bijak, dan bapak sudah mengerti dengan apa yang aku katakan sedari tadi. Hmm,, maksudku,,, hmm,," Aku ragu dengan apa yang akan aku katakan.
"...bapak masih waras kan?" Aku memejamkan mata tatkala kalimat itu meluncur begitu saja.
Dia hanya menatapku heran dan kemudian tertawa..
"Jadi? jawabanmu?" Dia balik bertanya padaku. Seolah pertanyaanku tak ada arti apa apa, dan tidak harus di respon.
"Baiklah."
"Baiklah?" Tanya nya saat belum ku selesaikan kalimatku.
Aku hanya melihatnya dengan sedikit senyum.
"Setelah ini, sebaiknya bapak renungkan lagi, dan istikharah." Ucapku.
"Semoga dengan demikian Allah memberi kita petunjuk." Imbuhku lagi.
.
.
.
__ADS_1
.
Sore sepulang dari kantor aku mampir di cafe tea tanic. Menikmati tiupan angin dengan lembut, dengan suara gaduh ombak yang silih berganti.
Aku duduk di sudut kanan cafe yang menyayap, agar tak terganggu dengan manusia yang berlalu lalang.
Aku bukan lah seorang yang begitu senang dengan pantai, bahkan justru sebalikknya.
Tapi sejak bersama almarhum bahkan hingga saat ini aku justru banyak menghabiskan waktu santai di pantai setelah kamar yang menjadi tempat pertama yang paling ku gemari.
Dimana dulu almarhum kak Arfan sering membawaku ke pantai, aku menikmati waktu itu meski aku tak menyukai pantai.
Kini, pantai menjadi tempat labuhan kerinduan ku padanya. Dengan hempasan ombak yang melambangkan kerinduanku yang kuat dan teramat sangat, tiupan angin sebagai dekapan dan sentuhan kasih sayang nya.
'Aku mencintaimu kak, selalu mencintaimu,,,,
dan,,,,
tunggu aku,,,,'
Dia tersenyum hangat menatapku dengan tatapannya yang sendu. Seakan menjawab suara hatiku, memintaku tegar dan dia akan selalu di sini.
Dia masih duduk di hadapanku.
Tiupan angin membuat kerudungku bergerak dan sesekali berkibar.
Ku resapi perasaan ini, begitu hangat dan nyaman. Begitu mata ku buka dengan pelan, dia menghilang..
Aku sendiri, membeku kaku,
Tes,,
Air mataku menitik satu,
dua,,
Dan dengan cepat ku usap, ku pandangi laut lepas,,,,
Aku sungguh hidup dengan kerinduan, di atas kerinduan dan akan selalu merindu,,,,
Suara pengunjung samar samar terdengar, duduk dengan keasikan masing masing.
Saat aku menoleh ke sisi kiriku, sepasang mata sedang menatap ke arahku, tidak,,
tapi menatap ke arah mataku, dalam,, seperti mencari sesuatu yang entah apa.
Rombongan kecamatan sedang asik mengobrol, entah sejak kapan mereka berada di sana.
Tapi dia yang melihat ke arahku, pak Kavindra. Aku menyunggingkan senyum padanya, begitu juga dia.
Sadar hari semakin sore, aku yang masih mengenakan seragam kantor memilih beranjak dari sana.
.
.
.
.
.
Aku menolak,,
Bersambung,,,
__ADS_1
.
.