Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Silakan,, Berhasil Atau Gagal?


__ADS_3

Tes,,,,


Air mataku menitik satu,


dua,,


Dan dengan cepat ku usap, ku pandangi laut lepas,,,,


Aku sungguh hidup dengan kerinduan, di atas kerinduan dan akan selalu merindu,,,,


Suara pengunjung samar samar terdengar, duduk dengan keasikan masing masing.


Saat aku menoleh ke sisi kiriku, sepasang mata sedang menatap ke arahku, tidak,,


tapi menatap ke arah mataku, dalam,, seperti mencari sesuatu yang entah apa.


Rombongan kecamatan sedang asik mengobrol, entah sejak kapan mereka berada di sana.


Tapi dia yang melihat ke arahku, pak Kavindra. Aku menyunggingkan senyum padanya, begitu juga dia.


Sadar hari semakin sore, aku yang masih mengenakan seragam kantor memilih beranjak dari sana.


Aku menolak menatap wajah pengunjung yang lewat di dekat ku. Memilih terus melangkah menuju mobil ku yang terparkir.


Drrrrttt.....


Aku merogoh tas untuk mengambil ponsel ku yang bergetar.


"Hallo,,"


"Yevn, kamu dimana?" Terdengar suara cempreng dari seberang telfon.


"Di jalan mau pulang." Jawabku.


"Kunci rumah ketinggalan di dalam, aku udah di depan rumah. Buruan ya."


Aku spontan tertawa mendengar laporannya.


"Sukurin,,,, ah,, aku ga jadi pulang deh, mau jalan jalan aja." Ucapku masih tertawa.


"Weiy, jangan dong,,," Rengeknya.


"Daahh,, assalamu'alaikum.."


Aku langsung menutup panggilan tak menghiraukan Eva.


Aku langsung mengarahkan mobil pulang ke rumah.


.


.


.


.


Tepat jam dua dinihari aku terbangun dari tidur dan langsung membersihkan diri untuk sholat malam.


Allah lah tempat mengadu segala urusan, segala keluhan dan suka duka.


Aku berserah kepada Nya untuk kejadian lampau, sekarang dan masa yang akan datang.


Usai melaksanakan sholat, aku kembali ke tempat tidur untuk melelapkan mata menjelang subuh. Jadwalku beberapa hari ke depan lumayan menguras tenaga dan stamina.


Tiba tiba ponselku menampilkan notif pesan masuk.


Manusia Kutub:


"Assalamu'alaikum,,,,"


Hanya ku baca dan tak berniat untuk memberi balasan.


Manusia Kutub:


"😀"


Aku tak membalas nya juga. Ku letakkan kembali ponselku di atas nakas. Lalu menarik selimut hingga ke batas leher.

__ADS_1


Namun ponselku kembali menyala dan bergetar.


Kembali ku raih ponselku.


Manusia Kutub:


"🙁"


Apa yang dia inginkan? Huufftt....


Aku:


"😒"


Aku langsung memasang mode silent, dan langsung menarik selimut, melelapkan mata.


Hari ini usai ngantor aku akan gedung untuk persiapan acara yang akan di adakan tiga hari lagi.


Aku dan semua pengisi acara akan melihat segala sesuatu langsung dari lapangan.


Karena dengan langsung turun dan melihat ke lokasi acara, maka akan tercetuslah ide ide yang lebih baik dari hanya sekedar di bahas lewat teori.


.


.


.


.


Usai melaksanakan shalat maghrib aku keluar dari kamar ikut bergabung bersama abang dan kak Aisyah di ruang keluarga.


Aku langsung duduk di samping kak Aisyah yang duduk di lantai dengan menyenderkan punggungnya di sofa.


Kak Aisyah sedang memangku setoples camilan, akhir akhir ini aku lihat kak Aisyah suka nyemil.


Aku ikut menyomot isi toples sambil melihat program televisi yang sedang di tayangkan di layar kaca yang di tonton kak Aisyah.


"Abang mana kak?" Tanyaku.


"Tadi masih di kamar." Jawab kak Aisyah.


"Bang, kita duet bawa lagu apa bagusnya nanti?"


Tanyaku tanpa menoleh pada abang.


"Abang ikut aja." Jawab abang singkat.


Aku pun tak merespon lagi ucapan abang. Kak Aisyah masih asik menonton, aku pun ikut melihat ke televisi dengan pikiran yang kabur kesana kemari.


"Dek,,,," Panggil bang Vhen.


"Hmm,," Aku tak menoleh.


"Abang mau nanya."


"Iya," Masih tak menoleh.


"Hm,, kamu sama Kavin gimana?"


Kini fikiranku yang main kabur kabur dan loncat loncat kembali pada titik nya.


"Gimana, gimana maksudnya?" Tanyaku.


"Yaa,, kedepannya gimana? Mau nerima dia, nolak again atau gantungin hingga jadi ikan kering?" Tanya bang Vhen.


"Abang sendiri gimana?" Aku malah balik bertanya.


Ku lihat kak Aisyah menoleh ke arahku dan ke arah bang Vhen bergantian. Lalu kembali fokus pada layar televisi dengan camilannya.


"Kok abang,, yang jalani kamu, yang di butuhkan jawaban dan keputusan kamu."


Jawab bang Vhen, terdengar suara kertas dari buku bacaan bang Vhen. Mungkin bang Vhen membalikkan halaman bukunya.


"Yah, Yevn kan mau tau gimana pandangan abang terhadap dia," Ucapku sambil menyomot isi toples yang di pangku kak Aisyah.


"Abang ga mau jadi pemberat timbanganmu. Karena keputusan ini sepenuhnya di tangan kamu. Dan nurut abang kamu tau jawaban atas pertanyaan yang kamu lontarkan ke abang." Ujar bang Vhen.

__ADS_1


Aku terdiam, kini fikiranku benar benar terkumpul berpusat pada pembicaraanku dengan abang saat ini.


Seketika wajah mama tergambar di hadapanku, senyumannya, raut kekhawatirannya, semua tergambar begitu saja.


"Segera saja masuk melamar."


Kak Aisyah langsung menatap ku, bang Vhen terdiam, aku menoleh ke arah bang Vhen. Ku lihat abang menghentikan bacaannya, bahkan buku bacaannya sudah di tutup dan berjarak dari hadapannya.


"Hmm..?" Ku lihat wajah bang Vhen dan kak Aisyah yang masih menatapku dengan heran.


Entah siapa yang terheran sekarang, aku atau mereka?


"Abang lagi serius ga lagi bercanda. Jangan sampai abang timpuk dengan buku ini ya." Ucap bang Vhen.


Ternyata mereka tidak percaya dengan apa yang telah aku ucapkan.


Aku hanya mendengus kesal, dan kembali melihat ke arah televisi. Ku ambil camilan dan berpindah di dekatku.


Ku abaikan bang Vhen dan kak Aisyah.


"Seriusan, dek?" Tanya kak Aisyah menatapku lekat.


"Iya, kalo dia bener bener yakin dengan keputusan nya, dia bisa melakukannya. Bang Vhen aja yang nyampaikan."


Ucapku dan menoleh ke arah bang Vhen yang menatapku penuh senyum.


"Ga lagi bercanda kan? Kakak laporin ke mama nih, pasti seneng banget mama denger nya."


"Hmm.." Jawabku.


Bang Vhen mengusap kepalaku, kemudian melempar pandangannya dari menatapku, seakan tak ingin aku menyadari perubahan di wajahnya.


Namun, aku tak bisa untuk abang bohongi, tambah lagi dari sudut mata, aku melihat abang meneteskan air mata.


Aku langsung beranjak dari tempatku dan duduk di samping abang, menyandarkan kepalaku di pundaknya.


Abang mengangkat tangannya, meraih pundakku. Kini abang memelukku.


Aku tak tahu apa ini keputusan yang benar atau salah. Karena hingga kini jantungku masih berdetak dengan cepat mengingat keputusan yang telah aku ambil.


.


.


.


***


Aku mengenakan kurung melayu modern dengan riasan natural. Bang Vhen mengenakan kurung melayu dengan warna sama yang ku kenakan.


Beberapa pengisi acara sibuk dengan urusan masing masing.


Kak Aisyah duduk di dekatku sambil sesekali membetulkan kerudung yang telah ku kenakan.


Aku sangat beruntung memiliki kakak ipar seperti kak Aisyah sebagai pasangan bang Vhen.


Hingga aku tak benar benar kehilangan bang Vhen. Justru kak Aisyah memberikan perhatian dan sayang nya tak kalah dari bang Vhen.


.


.


.


Hingga mataku menangkap kehadirannya. Jantungku terpompa dengan cepat. Perasaan apa ini?


Takut? Bersalah? Atau....


, Apa ini?


Seketika, perempuan itu menatap ke arahku,,


,


.


Bersambung,,,,

__ADS_1


Yang sudah mampir, memberikan like, komentar di setiap bab Ombak Rindu, yang udah vote juga, nantikan notif ya....


Segera....


__ADS_2