Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Dilema....


__ADS_3

Usai mencuci piring, aku dan Eva menuju ke ruang makan, tiba tiba kak Aisyah datang, mengatakan bahwa abang memanggilku untuk bergabung di depan, termasuk Eva.


Aku menurut, mereka masih sedang asik mengobrol. Aku memilih duduk di samping kak Aisyah. Eva memilih duduk di bawah bersender di kursi sofa.


Eva memainkan ponselku membalas beberapa chat dari teman teman di Noveltoon.


Aku bisa melihatnya, karena Eva bersender tepat di kursiku.


Ketika ku palingkan wajah, tiba tiba pandangan kami bertemu.


'Deg,,,,


Entah mengapa aku tiba tiba merasa canggung padanya.


Aku membuang muka begitupun pak Kavin.


Saat dia akan pulang, dia sempat menyerahkan paperbag berukuran kecil padaku, yang di ambil nya dari dalam mobil.


"Sukses selalu, bahagia selalu, semoga langkahmu ke depan di permudahkan Allah."


Ucapnya.


"Aamiin, terimakasih pak." Balasku.


Beliau pamit dan berlalu dengan mobilnya meninggalkan area perkarangan rumahku.


***


Tiba di rumah nenek, sudah berkumpul saudara saudaraku. Aku terlambat tiba di rumah nenek, karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.


Setelah makan bersama, mengobrol dan bercanda, mama menghampiriku saat aku duduk di luar menerima telfon.


"Mama udah semakin tua, entah sampai kapan mama bisa bersama anak anak mama."


"Anak anak mama akan tetap bersama mama." Jawabku.


Ku perhatikan wajah mama, kulit nya mulai keriput, tapi mama tetap cantik. Mama keturunan Indonesia asli, tapi wajahnya terlihat campuran.


Beda lagi sama ayah yang memang memiliki darah campuran.


Mama tersenyum melihatku. Ada raut kekhawatiran terlukis di wajahnya.


"Mama tak ingin memaksa kehendak pada anak anak mama, tapi di lain sisi mama akan lebih merasa aman dan tenang jika anak anak mama sudah dengan pasangan masing masing. Mama tak ingin ketika kamu menikah sebagai yatim piatu. Berat nak, membayangkan saja mama sudah tak kuasa."


Aku terdiam mendengarkan mama. Hatiku sesak, pilu, sakit bercampur aduk.


"Cukup yatim yang kau sandang saat ini. Tapi jika ini yang membuatmu bahagia, mama ikut senang, dan selalu mendoakan kebaikan buat anak anak mama."


Air mataku meleleh, sakit mendengar penuturan mama.

__ADS_1


"Ma, Yevn minta ampun karena sudah jadi anak yang durhaka, Yevn minta ampun karena telah menyakiti hati mama. Rasa bersalah Yevn pada ayah masih Yevn rasakan sampai sekarang. Yevn tidak bisa mewujudkan keinginan ayah, dan itu suatu penyesalan buat Yevn. Yevn sungguh tak ingin mengecewakan mama." Aku meraih tangan mama dengan kedua tanganku.


"Mama sangat senang dan bangga dengan apa yang telah kamu capai hingga saat ini. Siapapun pilihanmu, mama terima asal dia laki laki yang baik. Mama tak akan memaksamu lagi, mama hanya minta kamu ga hanyut dengan masa lalu mu.


Biarkan dia pergi dengan tenang nak, kasian almarhum. Yang pergi biarlah pergi, kita yang hidup tetap berjalan memperbaiki diri dan membuat pilihan baik atau buruknya. Baikkah jika kamu masih tetap hanyut dalam kesedihan?"


....


"Bayu, anak bu Eti, teman SD mu dulu, masih ingatkah?"


Tanya mama padaku, aku balas mengangguk.


"Ibu nya sedang mencarikan jodoh untuk dia." Ucap mamaku.


"Tapi kan sekarang udah ga zaman di jodoh jodohin ma." Aku mengerutkan kening.


"Permintaan Bayu nya sendiri seperti itu." Ucapan mama terhenti.


"Bu Eti sempat ketemu sama mama, menanyakan mu. Mama tidak bisa menjawab." Ucapan mama membuatku kaget.


****


Aku kembali dilema dengan sebuah kenyataan. Sebuah pilihan yang tak bisa aku putuskan.


Kak Risky mengirimiku pesan, beliau mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Selanjutnya beliau mencoba menyampaikan perasaannya lagi padaku.


Sungguh masa masa yang berat.


Aku memiringkan kepalaku, dan terlihatlah sebuah paperbag di atas nakas di samping tempat tidurku.


Lama aku hanya menatap paperbag yang berukuran kecil berwarna maroon pemberian pak Kavindra.


Ku raih bungkusan mungil itu, mengamatinya dari dekat. Menyadari suatu hal aku kembali pusing dan meletakkan kembali pada posisinya.


Aku memilih memejamkan mata, dan melepaskan semua yang menjadi buah pikirku.


.....


Jam menunjukkan pukul 01.37 dinihari, saat aku melihat ke arah jam begitu tiba tiba terbangun dari tidurku.


Selalu seperti ini, terbangun di sela sela tidurku. Beberapa hari aku yang biasanya baru memejamkan mata di jam itu, tapi belakangan tidur awal, tetapi selalu terbangun dinihari.


Tiba tiba aku memikirkan untuk melaksanakan tahajjud.


Usai salam, dan bermunajat pada Rabb, aku teringat ucapan mama tempo hari.


Aku ingin melanjutkan dengan istikharah, begitu berdiri dan membacakan niat, aku tak bisa melanjutkan.


Tubuhku tiba tiba gemetar dan jantungku berdetak sangat kencang. Aku bahkan bisa mendengarnya.

__ADS_1


Aku tak bisa melanjutkan, meminta Allah memberi jawaban atas pilihan apa yang harus ku tempuh.


Menerimanya sebagai calon imam, tanpa memiliki rasa apapun padanya, air mata ku meleleh.


Perasaan ku pada almarhum, sayangku padanya masih sama, bahkan tak goyah.


....


"Yevn, gue gak bisa ikut tugas lapangan di kecamatan X. Lu ikut kah?" Tanya Eva begitu masuk ke kamarku.


Aku menoleh padanya, kemudian lanjut mengenakan kerudung pashmina abu ku.


Aku masih memikirkan pertanyaan Eva, sambil berdiri ke arah nakas di samping tempat tidur, mengambil bros jilbab yang baru ku belikan kemarin.


Saat ku buka laci nya, aku melihat bingkisan paperbag kecil yang belum ku buka pemberian pak Kavin.


"Aku juga ga ikut, Va. Nanti deh sama sama kita ketemu sama kak Teguh. Pikirkan alasannya jika beliau bertanya." Ucapku menutup laci.


Sejak pertemuanku dengan mama, aku jadi semakin tidak siap bertemu dengan manusia kutub itu.


Meskipun kabarnya beliau sedang keluar kota, tapi tetap saja aku khawatir, seandainya dia pulang lebih awal.


"Lu kenapa weh? Ngelamun aja, kesambet duda ntar." Tegur Eva begitu selesai mengunci pintu rumah.


"Apaan," Jawabku.


Aku melajukan mobil menuju kantor. Di perjalanan Eva dan aku bertukar pandangan tentang alasan yang akan kami ambil meminta off turun lapangan pada kak Teguh.


"Gak ada yang bisa gantikan, nama nya sudah di cantum, rekan rekan yang lain udah ambil bagiannya. Apa mau di ganti sama anak magang? Yakin aman?" Ucap kak Teguh.


Akhirnya aku tetap akan turun lapangan, aku tak bisa merepotkan kak Teguh lagi. Apalagi ini salah ku sendiri, mengelak pekerjaan untuk menghindar masalah pribadi yang seharusnya tidak ku lakukan.


***


Di kecamatan X, aku dan rombongan dari kabupaten menghadiri ruangan pertemuan. Di sana terlihat sekcam kecamatan X menyambut kami dengan hangat.


Kabarnya pak Kavin belum masuk karena masih di luar kota.


Aku sangat lega dengan apa yang aku dengar.


.....


Bersambung...


.


Terimakasih yang sudah mendukung corwtan lusuh ini, dengan memberi like, komen, rate 5 nya, yg sudah vote,...


Nantikan undangan dari Yevn dan rekan2 ya..

__ADS_1


__ADS_2