Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Terungkapnya 1001 Rahasia


__ADS_3

Aku melihat nya heran, ku lihat wajahnya dengan sejuta pertanyaan. Dia melihat ke arah ku kelu. Bingung dan sangat gugup tak tau akan berkata apa.


"Yevn, aku ,,,,"


"Jangan di bahas sekarang pak. Saya harus fokus dengan pekerjaan saya saat ini." Ucapku memotong ucapannya.


"Baiklah." Jawabnya.


"Selesai acara saya butuh penjelasan nya. Dan saya akan menunggu penjelasan bapak."


Ucapku lagi langsung beranjak dari sana menuju ke atas panggung astaka.


Karena tamu yang di tunggu sudah memasuki area lokasi acara.


Ku tinggalkan dia dengan masih gusar dan juga ikut beranjak dari sana untuk menyambut tamu nya.


Aku masih kaget dengan apa yang baru saja aku lihat. Kenapa? Kapan? Bagaimana bisa? Apa maksudnya?


Aku coba tetap tenang, dan fokus pada acara. Aku tepis bayangan akan apa yang baru saja aku lihat.


Meskipun tidak mampu dan tetap saja pertanyaan pertanyaan itu muncul d kepala ku.


Akhirnya acara pun selesai, para tamu mulai bubar. Music masih di mainkan. Bebarapa orang, kelompok bahkan panitia sibuk mengambil foto.


Aku menyusun semua naskah, dan turun dari panggung menuju ruang kepanitiaan untuk mengambil tas.


Saat menuruni tangga, terlihat dia sudah berdiri di tempat sebelumnya kami bertemu.


Aku memperhatikan sekeliling, berfikir apakah akan baik baik saja jika aku membahas hal ini dengan nya berdua?


Ku rasa ini akan wajar wajar saja. Orang orang akan berfikir jika ini hanya membahas tentang acara.


Aku duduk di salah satu kursi dan menjaga jarak kami.


"Jadi?" Ucapku memulai pembicaraan di antara kami.


Dia masih melihatku gusar dan,,, tentu saja beku.


Dia menyalakan ponselnya dan terlihatlah foto seorang gadis yang di set sebagai wallpaper.


Aku mengenal gadis itu, sangat mengenalinya.


Dan aku yakin, itu adalah aku.


Dia menjelaskan bagaimana bisa foto ku di pajang di sana sebagai racun tikus (😅😂😂😂).


Aku menanyakan semua yang ingin ku ketahui sedari tadi. pertanyaan yang membuncah di hati ku.


"Sejak kapan foto itu berada di ponsel bapak?"


"Sudah lama, sangat lama."


"Mengapa?"


"Karena aku suka. Aku suka sama kamu sangat lama." Jawabnya.


Deg,,,, apa ini?


"Jangan bercanda pak." Ucapku sambil tertawa, kesal.


"Aku tidak bercanda, sudah ku katakan aku suka, dan itu sudah sangat lama."


"Tid...." Belum sempat aku berkata, dia memotong ucapanku.


"Yevn, dengarkan. Aku sudah menunggumu selama lebih satu tahun. Aku hanya tidak memiliki waktu untuk mengatakan padamu.


Bahkan aku sempat berkunjung ke rumah orang tua mu ingin menemui mu, dan aku bertemu kedua orang tua mu dan mereka bilang kamu dinas keluar kota." Jelasnya dengan raut wajah yang sangat serius.


Aku hanya terdiam memperhatikan dan menyimak setiap ucapannya.


"Sebelumnya juga aku menelfon kamu, dan kamu tidak pernah mengangkat, bahkan nomor mu pernah ga bisa aku hubungi. Dan ternyata kamu mengganti nomormu. Kemudian aku di mutasi ke kecamatan lain yang jauh dari sini. Kamu sempat mengirimkan pesan di media sosial mengucapkan selamat kepadaku atas jabatan dan tempat tugas baruku." Ucapnya masih dengan raut wajah serius.


"Aku tidak pernah mengirimi bapak pesan apapun." Ucapku cepat membantah ucapannya.


"Periksa ponselmu, buka akun ****mu." Perintahnya.


Aku reflek menuruti ucapannya, memeriksa pesan di akun media sosialku. Yang mana sudah sangat lama aku tidak pernah membukanya lagi.


Ada banyak pesan ucapan selamat yang ku kirimkan,, dan ku lihat ada namanya.


Aku mendongak melihat ke arahnya.


"Kau tahu, setelah itu aku berusaha untuk pindah ke sini dan berusaha mencari tau tentangmu, nomormu. Akhir nya aku berhasil kembali ke sini setelah menunggu beberapa bulan." Ucapnya.


"Aku, menemukanmu, dan selalu tidak punya kesempatan untuk menyampaikan hal ini padamu. Aku sudah mendengar banyak tentang mu dari pak Amrisal dan beberapa rekan yang lain. Dan tak ada alasan buat aku menyerah." Ucapnya.

__ADS_1


Entah mengapa, aku bisa diam menyimak setiap ucapannya. Padahal dari awal.aku sudah ingin beranjak dari tempat ini.


Semua orang masih berlalu lalang.


"Jangan konyol pak, bapak tidak mengenal saya, kita tidak saling kenal." Ucapku.


"Jika begitu, kita bisa untuk saling mengenal." Ucapnya.


"Bapak tidak pantas berbicara seperti ini pada saya. Dimana reputasi bapak?" Ucapku mulai kesal.


"Kita tidak dalam masa kerja, Yevn. Dan hal ini tidak berhubungan dengan status pekerjaan."


Aku hanya bisa menelan saliva mendengar ucapannya. Tidak salah.


"Kita sama sama bukan anak anak, kita bukan bocah untuk meng artikan semua ini. Aku yakin kamu mengerti, posisi kita sama, kondisi kita sama, sibuk dengan pekerjaan, apa masih sempat untuk bercanda dan bermain main dengan hal seperti ini?"


Seorang yang beku kini sudah angkat bicara.


Hening, kami sibuk dengan pikiran masing masing. Aku sangat menyesal akan apa yang terjadi di malam ini.


Dan tiba tiba salah satu karyawannya menghampiri, menyampaikan untuk foto bersama sama dengan panitia yang lain.


Aku menolak, dan dia langsung pergi naik ke atas panggung.


Pak Amrisal yang melihatku dari kejauhan langsung menghampiri.


Seolah mengerti dengan apa yang telah terjadi, beliau langsung menenangkan dan mengajakku ikut bergabung dengan panitia lain.


Kak Sri dan panitia yang lain memanggil namaku dari atas panggung meminta ikut bergabung.


Aku tidak bisa lagi menolak.


Aku dan pak Am berjalan beriringan.


"Cobalah tetap biasa saja, jangan menunjukkan ekspresi seperti itu. Orang orang yang melihatmu bersama dia tadi bisa saja menilai macam macam." Ucap pak Am menyarankan.


"Ini konyol pak. " Jawabku setengah berbisik.


Pak Am hanya tertawa mendengar ucapanku. Aku mengambil posisi di samping pak Am.


Pak Am adalah salah satu otang yang tau banyak tentang ku, kisah silamku.


Beliau benar benar ayah kedua buat ku. Beliau pernah suka sama kak Mashel, hanya saja sebaliknya.


Memang usianya dan usia kakak berpaut jauh.


Selesai sesi pemotretan bersama semua anggota panitia dan anggota kecamatan,


sesi selanjutnya pemotretan anggota panitia dan camat.


Aku satu satunya perempuan di sini. Aku memilih posisi paling sudut, tapi fg mengatakan posisinya tidak imbang.


Alhasil aku di pindahkan di tengah di samping camat, dia. Aku menolak dengan menarik ujung lengan baju pak Am.


Alhasil posisi pak Am berada di antara aku dan camat.


"Bayar mahal untuk ini pak Camat, "ucap pak Am setengah berbisik sambil bercanda.


"Setelah ini segera hapus foto nya" Ucapku juga setengah berbisik.


Dan aku yakin ucapanku masih bisa di dengar pak Am dan juga dia.


"Foto apa Yevn? Ucap pak Am sambil memalingkan wajah nya ke arahku bingung.


"Pak Am, lihat ke sini." Ucap fg.


Pak Am kembali melihat ke arah kamera.


"Tidak akan." Ucapnya masih setengah berbisik, dan aku mendengar jelas.


Pak Am melihat ke arah dia dengan kebingungan.


"Pak Am, lihat ke arah kamera." Ucap fg kembali mengingatkan pak Am.


"Salah satu dari kalian, baik pak Camat atau kamu Yevn, lebih baik kita berganti posisi."


Ucap pak Am pelan.


Tidak ada yang menjawab, hingga pemotretan selesai.


Aku menyiapkan semua barang barangku dan berlalu pergi dari atas panggung.


Aku menelfon Eva memintanya buat menjemputku. Tapi tidak ada jawaban. Aku menunggu di pinggir jalan masuk lokasi acara.


Beberapa orang menyapaku, dan menawari untuk mengantar.

__ADS_1


Dan aku menolaknya.


Sampai saat ini aku belum di izinkan menyetir mobil sendiri terutama di malam hari.


Kepalaku mulai berat, Tubuhku mulai di serang sakit. Memang sakitnya masih ringan.


Tapi aku butuh obat obatku dan segera istirahat. Aku terus menghubungi Eva.


Tiba tiba sebuah mobil berhenti di depanku.


"Ayo masuk, akan ku antar." Ucapnya.


Ternyata si manusia kutub.


"Terima kasih pak, saya akan menunggu jemputan saja." Jawabku formal.


"Kamu yang masuk atau saya yang akan keluar memintamu masuk?" Ucapnya memaksa.


Aku memelototinya karena sikapnya malam ini.


"Kamu mau di liatin banyak orang kemudian muncul kabar angin." Ucap nya lagi.


Kali ini aku benar benar di buat kesal. Ingin rasanya aku memasang taring kebanggaan ku ini.


Tapi ku lihat sekitarku masih ramai orang berlalu lalang. Dan di kejauhan aku melihat sekelompok karyawan kantor, dan teman dari berbagai organisasi nenuju pintu keluar.


Jelas aku tidak mau mendapat gosip aneh aneh antara aku dan camat.


Akhirnya aku menyerah, aku memasuki mobil dan duduk di sampingnya.


Diapun menjalankan mobilnya, dan aku teringat sesuatu kemudian banyak hal.


Selain dia adalah sepasang mata yang selalu ku lihat dan menghilang di setiap acara, dan pernah bertemu di musholla kantor camat, dia juga yang ku temui saat bertemu pak Safri.


Dia juga yang ikut bersama pak Amrisal saat kami berkunjung ke Rumah Sakit untuk bertemu ayahku.


Apa apaan semua ini. Apa hanya kebetulan, atau dia benar benar seorang penguntit?


Huuffttt....


Aku menarik nafas panjang, kesal, bingung dan sakit ini bercampur aduk.


Ku lihat wajah nya yang sedang menyetir.


Sangat dingin, seluruh ruangan mobil ini seakan ikut membeku.


Dan,,,, selain dia adalah gunung es, dia juga keras kepala dan suka memaksa.


"Soal itu, saya harap bapak segera menghapus foto nya." Ucap ku teringat tentang ponselnya .


"Tidak." Jawabnya.


Aku langsung melihat ke arah nya tajam saat mendengar jawaban yang egois itu.


"انا احبك في الله."


Duaarr....


Jantungku seakan berhenti berdetak.


Seketika sosok nya muncul di kepalaku, sosok dia yang tak akan pernah kembali. Senyuman itu terlukis indah di wajahnya, aku sangat merinduinya,, 😢


Kak, ananuhibbuka fillah,,,, mengapa kakak pergi begitu cepat? Aku ikhlas kak, tapi rinduku masih kuat dan terus bertambah kuat.


Adilkah ini buat aku kak?


Aku sangat rindu....


Aku rindu


Arfan Hadi Al Ghifary, ana uhibbuka fillah....


.


.


.


.


.


Bersambung,


Rindu Yang Tumpah

__ADS_1


.


.


__ADS_2