Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Satu Permintaan


__ADS_3

"Jadi, kapan aku bisa membawa keluargaku bertemu wali nya Yevn?" Tanya beliau pada bang Vhen, yang jelas membuat aku tercekat.


'Jadi bang Vhen beneran kasi tau ke dia prihal kemarin? Tentang lamaran.'


"Gimana Yevn? Bagusnya kapan?" Tanya bang Vhen menoleh ke arahku.


Aku jadi gugu dan bengong seperti orang bodoh.


"Hah?? Oh."


Aku menjatuhkan kepalaku di pundak kak Aisyah, berpura pura tidur.


Sontak mereka tertawa, terlebih Eva mati matian menertawaiku.


Sial, apa yang aku lakukan. Dasar Yevn bodoh, bisa bisanya bertingkah begini. Matilah akuuu,,,,,,,,


Aku tidak siap melihat wajah mereka sekarang. Karena sudah terlanjur malu yang teramat sangat.


"Dek,, apa apaan kamu." Ucap bang Vhen.


Eva dan kak Aisyah masih tertawa meledekku. Puas banget mereka melihatku yang tersudut.


Aku menoleh pelan ke arah bang Vhen yang masih tertawa dan pak Kavin yang menunduk dengan gelengan kepala nya yang pelan masih menahan tawanya.


"Gimana?" Tanya bang Vhen begitu melihatku menoleh ke arahnya.


Aku berusaha memaksimalkan raut wajah yang sudah memerah menahan malu karena tingkahku yang bodoh.


"Hm. Yevn ikut aja." Jawabku pasrah.


Dia tersenyum begitu mendengar ucapanku.


Apa itu, sangat manis,, sayang, aku tak bisa mencintainya.


"Apa mama sudah tau?" Aku menoleh pada bang Vhen menunggu jawabannya.


"Udah." Jawab bang Vhen, ia menyeruput teh hangat yang sudsh di buat kak Aisyah.


"Iya, mama seneng banget, tau." Ucap kak Aisyah yang masih melahap makanan nya. Mereka dengan anteng duduk di lantai.


Eva melihat ku dengan tatapan aneh. Aku tak tau apa maksudnya melihatku seperti itu.


Akankah semua baik baik saja setelah aku membuat keputusan seperti ini?


Aku memainkan makanan ku dengan sendok, mengaduk asal dengan pelan.


Pikiranku mulai sesak, hanyut kesana kemari. Suara obrolan mereka mulai samar samar hingga tak lagi ku dengar.


.


.


***


ya Allah….


Seandainya telah Engkau catatkan dia milikku, tercipta buatku,,


maka satukanlah hatinya dengan hatiku,,,


titipkanlah kebahagian antara kami,,


agar kemesraan itu abadi,,


dan Ya Allah ya Tuhanku maha Mengasihi,,


seiringkanlah kami melayari hidup ini ketepian yang sejahtera dan abadi…


Tetapi Ya Allah…


Seandainya telah Engkau takdirkan dia bukan milikku,,


Bawalah ia jauh dari pandanganku,,


luputkanlah ia dari ingatanku,,

__ADS_1


dan peliharalah aku dari kekecewaan,,


Serta Ya Allah Ya Tuhanku Yang Maha mengerti….


berikanlah aku kekuatan,,


melontar bayangannya jauh ke dada langit,,


hilang bersama senja nan merah,,


agarku bisa bahagia walaupun tanpa bersama dengannya,,


Dan Ya Allah yang tercinta…


Gantilah yang telah hilang,,


tumbuhkanlah kembali yang telah patah walaupun tidak sama dengan dirinya,,


Ya Allah Ya Tuhanku…


Pasrahkanlah aku dengan takdirMu,


sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan adalah yang terbaik buat ku,,


karena Engkau maha mengetahui segala yang terbaik buat hamba-Mu ini,,


Ya Allah,, Cukuplah Engkau saja yang


menjadi pemeliharaku di dunia dan di akhirat…


dengarlah rintihan dari hamba-Mu yang daif ini,


jangan Engkau biarkan aku sendirian di dunia ini maupun di akhirat,,


menjuruskan aku ke arah kemaksiatan dan kemungkaran…


Rabbi, jika cintaku Kau ciptakan untuk dia,


tabahkan hatinya, teguhkan imannya,


sucikan cintanya, lembutkan rindunya..


penuhi hatinya dengan Kasih-MU,


terangi langkahnya dengan Nur-MU,


bisikkan kedamaian dalam keresahannya..


temani dia dalam kesepian..


***


.


.


.


Aku duduk di depan meja rias di dalam kamarku. Kini aku berada di rumah mama.


Rasa gugup dan khawatir menyerangku, meski di kamar sudah mengaktifkan pendingin ruangan, tapi sekujur tubuhku terasa panas dan sesak.


Telapak tanganku mulai berkeringat, apa ini jalan terbaik nya ya Allah....?


"Weh, jangan ngelamun,, kesambet lu ntar." Suara Eva mengagetkanku.


Eva yang berbaring di atas tempat tidurku sambil memainkan ponsel terlihat melirikku kesal.


Aku memainkan jari jariku di atas meja dengan mengetuk nya beruntun. Hati ku benar benar kacau, isi kepala ku sudah kusut.


Tiba tiba kak Aisyah masuk ke dalam kamar membuatku kaget. Terlebih Eva yang langsung melompat. Kak Aisyah tertawa mendengar ocehan Eva protes kesal pada kak Aisyah yang masuk tiba tiba.


Kak Aisyah berdiri di belakangku, merapikan letak jilbab dengan bros kecil yang tersemat di bagian pundakku, dan melihat lewat pantulan cermin.


Aku mengenakan baju kurung dengan lapisan borkat berwarna peach kombinasi.

__ADS_1


Tok tok tok....


Pintu kamar terbuka, aku menoleh ke cermin melihat pantulan wajah yang masuk ke kamarku.


Begitu melihat wajah bang Vhen, aku langsung menoleh ke arahnya.


Abang tersenyum ke arahku.


"Bisa ga, kalo nanti aku ga perlu keluar dari kamar?"


Ucapku dengan hati hati. Abang hanya tersenyum mengerti dengan kegundahan hatiku.


"Iya, boleh. Tapi kalo pihak keluarga mereka ingin menemuimu, tetap harus keluar." Ucap bang Vhen.


"Weh,, zaman sekarang orang tunangan terus foto foto. Gimana sih?" Ucap Eva ketus, mungkin karena kesal dengan sikapku yang gulana ini.


"Itu bukan adat. Kamu yang gimana." Jawabku tak kalah ketus.


Bang Vhen dan kak Aisyah hanya diam seperti melihat kucing sedang adu mulut sama tikus.


Kak Aisyah menghampiri Eva dengan sepiring aneka kue. Mungkin untuk menutup mulut Eva yang sedari tadi nyari gara gara. ✌😅


"Vhen, rombongan mereka datang. Yuk, buruan keluar. Aisyah di dalam aj ya, temenin Yevn."


Ucap kak Machel yang tiba tiba masuk ke kamar ku. Bang Vhen langsung menyusul kak Machel keluar kamar meninggalkanku bersama duo cewek doyan makan. (peace ✌kak Aisy, Eva)


"Kalo merasa ga tenang, di bawa baca quran aja dek,, ya.." Ucap bang Vhen kemuadian berlalu meninggalkan kami di kamar.


....


Eva menarik knop pintunya agar tidak tertutup rapat. Mereka benar benar klop dan kompak dalam segala hal, bahkan saat ini mereka sama sama nguping pembicaraan rombongan di luar.


Ku rasa tidak perlu segitunya, karena kamar ku tidak kedap suara, di tambah di luar para pemuka dari kedua belah pihak menggunakan pengeras suara saat berbalas pantun mengungkapkan hajat sesuai dengan adat melayu setempat.


Saat ini aku hanya berharap jika acara lamaran ini benar benar mengikuti adat, bukan tren zaman kini. Bukan karena aku yang begitu fanatik dengan adat budaya, tapi saat ini aku benar benar gundah gulana.


Di luar aku bisa mendengar jelas pantun dan petatah petitih yang di laungkan perwakilan masing masing pihak.


Eva dan kak Aisyah masih setia menjadi penunggu pintu, dengan camilan yang tak rela di lepaskan. 😅


Aku masih melantunkan bacaan ayat suci Quran dengan pelan. Hingga Eva dan kak Aisyah tergopoh gopoh merapikan diri dan memilih duduk manis di satu sisi kamar.


Tiba tiba mama ku masuk di susul perempuan paruh baya lebih kurang seusia mama, tante Suhaera - ibunda pak Kavindra si manusia kutub.


Benar, akhirnya aku sedikit lega karena prosesi nya mengikut adat. Dan yang akan menyarung cincin adalah tante Suhaera, bukan anaknya.


Tante Suhaera menyarungkan cincin di jari manisku, pertanda aku sudah sah menjadi tunangan dari anak laki laki nya, Alfandy Kavindra.


Aku mencium punggung tangan nya, dan langsung di sambut peluk dari beliau.


Tak henti nya tante Haera membisikkan terimakasih padaku dengan isak tangisnya. Aku hanya bisa terdiam dan membalas pelukan tante Suhaera. Dari sudut mata ku lihat mamaku mengusapkan air matanya.


Aku yakin, itu airmata haru, dan syukur mama. Aku tidak tau harus sedih atau bahagia sekarang.


Ya Allah, hamba yakin Engkau tak kan pernah meninggalkan hamba Mu ini. Beri aku kekuatan dan kemudahan dalam setiap langkah....


Usai acara dan para tamu pulang, hanya menyisakan anggota keluarga dan kerabat dekat, termasuk tante Suhaera sekeluarga. Aku di minta keluar dari kamar dan ikut duduk di antara mereka sekaligus foto bersama.


Hingga aku menangkap sesosok mengerikan dengan wajah penyok dan hancur penuh di siram darah,,,, //ah, tidak tidak,,, aku hanya bercanda,, kenapa tiba tiba jadi cerita horor ya?😅😂


Hingga akhirnya aku menangkap sosok laki laki dengan pakaian yang sama warna denganku, lengkap dengan kopiah hitam dan songket.


Aku di buat kaget dengannya. 'Bukankah dia tidak datang? Kenapa tiba tiba di sini?'


Pak Kavindra di keluarkan dari persembunyiannya yang entah berapa lama di sembunyikan selama prosesi. Atau hanya aku yang tidak tau?🤔 Bahwa sebenarnya dia mengikuti prosesi acara dari awal. Sepertinya begitu.


Saat foto bersama, aku membisikkan pada pak Kavin, dan beliau menundukkan sedikit kepalanya agar bisa mendengar jelas apa yang ku ucapkan.


"Aku ada satu permintaan, apa bisa?" Ucapku.


.


.


Bersambung,,,,,

__ADS_1


.


.


__ADS_2