
Hari terus berlalu, silih berganti meninggalkan segala kenangan di setiap langkah dan helaan nafas.
Aku kembali bekerja ke kantor dan tidak terjun ke lapangan lagi buat sementara waktu. Hanya menyelesaikan pekerjaan di ruangan ku dan juga mengambil alih pekerjaan rekan rekan tim ku. Meski mereka tidak meminta nya setidak nya aku tau bahwa selama ini mereka lah yang banyak membantuku.
Selain itu aku juga sering ikut suamiku ke acara acara safari ramadhan yang di adakan kabupaten di tiap kecamatan secara bergantian.
Disini aku bingung, ketika harus mendampingi suamiku sebagai istri nya, atau mendampingi bupati yang merupakan atasan ku di kantor. Sementara jadwal, waktu, tempat lokasi yang sama.
😂😂😂😂
Hidup ku berubah banyak, apa aku sudah bisa melupakan masa lalu? Tidak, tidak akan pernah, dan tidak akan semudah itu. Kak Arfan merupakan sosok laki laki yang sudah banyak menemaniku, mendukungku, serta mengajariku untuk berjuang hidup.
Bagaimana mungkin aku melupakan nya begitu saja meski beliau telah tiada. Rasa sayang ku pada nya tetap bersemayam di hati sebagai laki laki yang telah berjasa bagiku. Sabar, ikhlas, sederhana, itu yang ku lihat padanya.
Lantas suami ku?
Suami ku laki laki yang sangat baik dan pengertian, bukan berarti aku memanfaatkan keadaan ini. Tapi Tuhan maha mengetahui yang terbaik buat hamba Nya. Dengan kondisi psikis dan perasaan ku yang hancur lebur, ia di hadirkan dengan keteguhan hati, kesabaran dan selalu memupuk kehidupan ku hingga aku bisa bangun dari keterpurukan.
Suamiku laki laki terbaik yang di izinkan Tuhan mendampingiku dalam ikatan yang sah sebagai suami istri. Dan perasaan itu tumbuh seiring berjalan nya waktu.
"Dek,,,," Suara itu terdengar manis di telingaku.
Aku menoleh ke arah pintu kamar.
"Iya, bang." Ku lihat beliau berjalan menghampiri ku yang sedang asik dengan laptop di atas meja. Buru buru ku tutup laptop agar beliau tidak melihat apa yang sedang ku kerjakan dengan nya. ( Bikin coretan lusuh ini )
"Kok pulang awal?" Tanya ku begitu melihat jam masih menunjukkan pukul 15.45.
"Kangen." Jawab nya singkat seraya mengecup kening ku. Hal yang biasa beliau lakukan saat akan pergi atau pulang. Tapi tetap saja hal itu membuat ku gugup, malu, dan deg deg an bukan kepalang... 🤠Entah lah aku tak tau menjabarkan nya, yang jelas pipi ku selalu memanas dengan perlakuan nya itu. 😅
"Kalo masih jahil adek ga mau ngomong loh ya." Ucap ku ngambek padanya. Padahal aku benar benar tidak tahan menahan panas di wajahku, aku yakin wajah ku sudah merah seperti udang rebus.
"Haha,,,, jangan, ntar makin kangen, gimana?" Beliau makin usil mengerjaiku.
"Kutuuuubb."
__ADS_1
"Haha,,, iya sayang.." Beliau merangkul ku lebih erat, seakan melepaskan seluruh kerinduan nya. Lama beliau hanya terdiam sambil terus mendekap ku.
Aku hanya diam membiarkan nya dengan perasaan nya. Yang yang sedang di fikirkan nya? Ada apa?
Semua pertanyaan itu tidak lolos keluar dari bibir ku.
Perlahan dekapan nya mulai mengendur, cup,,
beliau mendaratkan ciuman nya di bibirku.
"Aku sangat rindu pada mu, dek.... Allah menjawab semua doa ku, meski rasa nya sangat lama, bahkan hampir saja putus asa."
Beliau kembali mencium ku lebih lama, aku masih memikirkan kalimat nya. Ada apa? Apa itu ungkapan cinta?
Aku berniat mengajak nya makan siang, begitu tahu beliau tidak sibuk gelud di kantor setelah menghubungi nya lewat telfon tadi.
Saat di perjalanan menuju ke kantor nya, aku melihat mobil beliau terparkir di pinggir salah satu tempat makan. Aku segera memarkirkan mobil ku.
Darahku berdesir, jantungku berpacu cepat, entah mengapa akal sehat ku tidak bekerja dengan baik. Ku urung kan niat ku untuk menghampiri nya lebih dekat.
Saat ini aku tak menangis, tapi entah mengapa dada ku sesak, aku merasa kesal entah pada apa.
Bagaimana bisa suamiku bisa berdua dengan perempuan yang sempat hadir di hidup nya, sedang menikmati makan siang? Aku tahu perempuan itu karena sempat di ceritan kakak nya kutub padaku dan menunjuk kan foto nya sebelum kami menikah. Saat itu kakak nya berusaha menjelaskan bagaimana setelah kejadian itu kutub tak berhubungan dengan wanita manapun lalu bertemu dengan ku.
Apa aku cemburu?
Dulu aku pernah cemburu pada kak Arfan, dan itu berbeda, karena aku sangat mencintai kak Arfan. Kavin? Apa aku sudah mencintai nya sedalam itu?
Akal dan hati ku tak bisa bekerja sama. Sementara sedari tadi ponsel ku terus berdering. Aku memutuskan memasang mode off. Dan segera melaju kan mobil ke lokasi dimana teman kantor ku sedang bekerja di salah satu kecamatan. Rencana ingin memberi kejutan tapi malah menerima kejutan.
Hari sudah malam, tidak memungkin kan bagi ku untuk pulang karena lelah. Setelah memesan kamar di salah satu hotel, aku merebahkan tubuh, dan ku amati sebuah benda pipih dan memilih untuk membuang nya.
.....
Tok tok tok,,,
__ADS_1
Pintu kamar ku di ketuk dari luar, ku lirik jam menunjuk kan pukul 12.45 dini hari. Ini berarti aku sudah tertidur beberapa jam.
Tapi siapa yang mengganggu ku di jam segini. Apa mungkin Eva? Yang sebelum nya sudah ku kabari kegundahan ku padanya.
Tok tok tok,,,,
"Aduh, kasian dia." Aku langsung membuka kenop pintu.
"Sayang,,,,"
Tubuh ku langsung mendapat dekapan erat dari tubuh laki laki yang terasa gemetar, nafas nya juga tersengal. Aku bisa mendengar jelas detakan jantung nya yang cepat, sangat cepat.
Aku berusaha lepas dari tubuh nya, terlihat raut wajah nya yang kusut menatap ku cemas.
Aku melihat nya dengan tak suka, kemudian ku lihat Eva di belakang nya menatap ku khawatir meminta ku untuk tenang.
"Aku ada di kamar sebelah," Ucap Eva kemudian berlalu meninggalkan ku.
"Ku mohon dengarkan dulu." Ucap kutub menatapku.
"Apa yang akan ku dengarkan tengah malam begini. Pulang lah, besok bapak akan bekerja, aku juga. Aku tak membawa pakaian bapak di sini, tenang saja semua sudah ku siap kan di rumah. Pergilah." Ucap ku tanpa perasaan.
"Yevn, Sayang,, kita harus bicara. Masa kamu membiarkan suami mu berdiri di depan pintu begini."
"Pulang lah, segera tidur, jangan sampai terlambat ke kantor." Aku masih tak kuat melihat nya.
Aku semakin lupa diri, memilih membalikkan tubuhku. Hampir saja pintu tertutup jika tidak di tahan nya dengan cepat.
"Ada apa? Mengapa ponsel nya kamu matikan?"
"Apa karena kamu melihat aku sama perempuan lain? Sayang, aku minta maaf, tolong, jangan gini." Desak beliau.
"Enggak, aku ga lihat apa apa." Jawab ku sambil memilih naik ke atas tempat tidur.
Tubuh ku benar benar merasa tidak fit, rasanya sangat lelah.
__ADS_1
Bersambung,,,,,,