Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Aku, Kamu dan Dia


__ADS_3

Perlahan ku rasakan sentuhan lembut membelai kepalaku. Mataku tak kuasa di buka, tidur ku sangat nyaman belakangan ini, aku bahkan yang semula nya berusaha tidur dengan bantuan obat, sekarang justru tidak pernah menyentuh obat lagi.


Kehadiran nya memberi dampak positif yang tidak pernah ku sangka sangka.


Kepalaku masih saja merasakan sentuhan itu, bahkan sekali sekali pipi ku di elus dan di cubit. Terlihat wajah nya serius memperhatikan tangan nya yang terus jahil menarik pipiku.


Senyum nya mulai mengembang, duh,, itu sangat mempesona, ku akui dia terlihat semakin tampan dengan senyuman yang terukir itu.


Sebelum nya aku hanya mengira dia hanya laki laki salju yang pelit senyum dan bicara. Tapi setelah mengenalnya dia tidak sepenuhnya seperti dugaan ku, meski perlakuan manis dan senyum yang mempesona itu tidak di tunjukkan ke sembarang orang, di sini aku merasa di istimewa kan.


Melihat wajah manis di hadapan ku, aku melemparkan senyum padanya. Tak sengaja mataku menangkap jam yang menunjukkan waktu subuh yang sudah lewat.


"Astaghfirullah,,, Subuh pak, aku belum Subuh." Ucapku frustasi dan segera menyingkap selimut hendak berlalu untuk wudhu.


Tapi tangan Pak Kavin menarik ku hingga aku kembali terbaring ke tempat semula. Aku melihatnya dengan bingung melemparkan raut penuh tanya padanya.


"Kita sudah Subuh, sayang." Ucap nya memasang raut jahil.


Aku melongo, melihat ke arah tempat sajadah biasa di gelar, dan kembali mengingat ingat ucapan nya.


Malu ku kembali membuat wajahku merah padam, aku tertidur usai shalat subuh, dan kembali berbaring saat mendengar pak Kavin yang bercerita tentang seorang perempuan,,,yang entahlah, aku tak mengingat nya, lebih tepatnya aku tak tertarik dengan ceritanya dan berhasil membuatku merasa ngantuk dan terlelap.


Pak Kavin menarik ku masuk ke dekapan nya, hingga aku bisa mendengar jelas suara detak jantungnya. Bau nya yang khas, sudah mulai terbiasa di penciuman ku, harum maskulin khas yang membuatku nyaman bahkan aku selalu merindukan aroma nya.


"Aku mencintaimu, Yevn. Teramat sangat." Pucuk kepala ku terus di kecup nya dalam dalam.


Di saat seperti ini aku selalu bingung harus bagaimana, jantung ku berdetak cukup cepat.


"Tuhan, hadirkan cinta dalam hati ku, agar bisa membalas perasaan laki laki yang ada di hadapan ku ini. Dia sosok yang sholeh dan sangat baik."


"Pak, apa aku boleh minta izin untuk pergi hari ini?" Tanya ku ragu ragu.


"Kemana?" Tanya pak Kavin pada ku saat sedang menikmati sarapan.


"Aku mau pulang ke kampung mama." Ucapku.


"Iya, boleh." Jawab nya, yang di sambut hamburan bahagia dari ku.


Setelah bersiap siap, aku mengambil kunci di tempat nya, tapi tidak ku temukan.

__ADS_1


"Dek, udah siap? Yuk." Terdengar suara nya dari teras rumah.


"Laahh,, bapak ikut?" Tanya ku.


"Iya." Jawab nya singkat. Melihat nya sudah bersiap aku jadi tak tega jika harus mengatakan kalo aku niat nya berangkat sendiri.


Tiba di rumah mama, terlihat mama sedang s menenteng tas belanjaan yang besar, terlihat penuh dan berat. Mama menyambut dengan penuh bahagia, tergambar jelas raut wajah nya.


Sementara manusia kutub ku, sudah beranjak menyambut tas belanjaan mama, meninggalkan ku di belakang nya. Kemudian meraih dan mencium punggung tangan wanita paruh baya yang sangat ku sayang itu.


Aku tersentak dengan perlakuan nya yang hangat itu. Sejak dulu, jauh sebelum menikah beliau sudah peduli dan sangat menghormati mama.


Sedang asik dengan fikiran ku, ternyata mereka sudah meninggalkan ku yang masih termenung dengan langkah pelan. Tanpa terasa senyuman ku terlukis begitu saja melihat kehangatan ibu dan menantu nya itu.


Saat memasuki dapur, ibu menunjukkan hasil belanjaan nya pada pak Kavin, yang mana semuanya adalah favoritnya.


Udang, kepiting, dan aneka kerang yang masih segar yang menjadi buruan mama di tempat belanja begitu tau kami akan datang, kini akan segera di olah.


Aku mendengus kesal karena mama begitu memanjakan semua menantu nya dan mengabaikan anak nya. Dulu saat belum menikah, aku biasa saja dan hanya ketawa geli karena kak Mashel dan bang Vhen sempat protes ke mama karena mama lebih menyayangi menantu nya. Meskipun itu hanya bercandaan mereka namun tetap membuat geli hatiku.


"Tenang sayang, mama juga sudah siapin pie kesukaan mu." Aku langsung menatap mama dengan senang.


"Aku akan mengantar mu, sekalian nanti kita ke rumah om Usman." Ucap kutub sambil berlalu ke kamar mandi.


Aku yang mendengar hanya terdiam menatap punggung nya yang menghilang di balik pintu. Aku mengira beliau akan keberatan, tapi wajah nya menggambarkan ketulusan.


.........................


Aku menyusuri bibir pantai, membiarkan ombak yang sesekali menyapa kaki ku. Fikiran ku masih terusik dengan sikap pak Kavin.


Entah mengapa rasa nyaman itu hinggap diam diam tanpa ku sadari.


Kini semua nya semakin jelas, aku bisa melihat bagaimana beliau memperlakukan mama dan keluargaku dengan sangat baik, bahkan juga dengan orang tua kak Arfan.


Bayangan kak Arfan muncul di ingatan ku, senyuman nya, tatapan teduh nya....


Tuhan,,


aku ikhlas dengan takdir ku dengan nya yang sudah Kau garis kan,

__ADS_1


membawa nya ke sisi Mu dengan cinta dan rindu ku padanya,


dengan kisah cinta yang belum usai..


Kini aku sadar dia yang kau hadir kan di sisi ku,


izinkan aku melabuhkan perasaan ku pada laki laki yang kini bergelar suami,


dengan tulus ikhlas,,,,,


Ku lihat laki laki yang berjalan ke arah ku, dengan celana bawah nya yang di lipat, serta lengan kemeja nya yang di gulung menghampiri ku dengan tatapan nya yang teduh.


Aku membalas senyuman nya, ku paling wajahku menatap ombak yang sedari tadi mengusik pendengaran ku dengan deburan nya.


Kutub berdiri di samping ku, menyesuaikan irama langkah kaki ku, tangan nya merangkul pinggang ku. Aku menyandarkan kepala ku pada dada bidang nya, beliau terdiam lama tanpa berucap dan bergerak sedikit pun. Aku tidak tahu apa yang di fikirkan nya.


"Pak, uhibbuka Fillah." Ucap ku dengan posisi yang sama.


Beliau masih tak merespon, tak lama berselang tangan nya mendekap ku, beliau mendarat kan kecupan nya di ubun ku.


"Terima kasih, Yevn. Aku sangat mencintai mu." Ucap nya.


Malam ini di rumah mama semua nya berkumpul, kak Machel dengan suami dan anak nya, bang Vhen dan kak Aisyah.


Malam ini semua nya berkumpul dengan bahagia.


Hingga seorang laki laki muncul mencari bang Vhen setelah di persilakan kak Mashel masuk.


Tangan pak Kavin langsung menggenggam tangan ku, begitu tau siapa yang masuk.


*Mengapa dia di sini?


.


.


.


Bersambung*,,,,,

__ADS_1


__ADS_2