
Hari sudah menunjukkan pukul lima lewat. Semua orang sudah bersiap siap untuk pulang.
Aku masih di kamar, mengenakan jilbabku. Bang Vhen beberapa kali memanggilku sejak aku masih di kamar mandi.
Begitu usai bersiap aku keluar dari kamar, dan ku lihat mama sedang duduk di depan rumah bersama manusia kutub.
Abang ku tersayang bersama istrinya sudah meninggalkanku. Benar benar membangun macan tidur sore. 🙄
"Bagaimana mungkin Yevn pulang di antar manusia kut,,, maksudnya di antar pak Kavin, ma. Mama ga khawatir anak mama ini pulang bareng dia?" Ucapku berbisik pada mama.
"Mama kenal dia. Wa'alaikumsalam, hati hati di jalan." Ucap mama tak menghiraukan.
Manusia kutub menghampiri mama dan berpamitan.
Aku pasrah, tau begini aku tak akan bareng bang Vhen.
Di perjalanan, aku hanya diam dan memainkan ponselku. Pikiran ku tidak dengan keasikan ku di ponsel. Melainkan buyar dan mencari cara bagaimana aku bisa melewati waktu beberapa jam perjalanan menuju rumah.
Aku benar benar merasa bersalah dengan manusia kutub, lebih tepat nya sangat malu.
Prihal bajunya yang habis basah karena tangisku, mungkin juga terkena cairan yang keluar dari hidungku 🙈.
(Mak Megha mengatakan demikian, dan itu menjadi buah pikirku, yang mana sebelumnya aku ga terpikirkan hal itu.)
Mungkin juga make up ku ikut mengotori pakaiannya. Astaghfirullah,, membayangkan saja membuat muka ku panas dan sangat kesal.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya beliau membuka percakapan di antara kami.
"Hm? Baik." Jawabku.
"Tentang malam itu,,,"
"Diem, aku lagi ga mau ngomong." Aku memotong ucapanya.
Aku tidak sanggup mendengarkannya. Karena ku yakin beliau akan membahas apa yang menjadi buah pikirku ini.
Aku memasang earphone memutar lagu dengan volume keras.
Saat sedang di daerah sepi penduduk, kami berhenti di salah satu masjid untuk melaksanakan sholat maghrib.
Aku hanya diam memperhatikannya membuka pintu mobil hendak turun, namun beliau kembali menoleh ke arahku.
"Sholat kan?" Tanya nya serius.
Aku hanya mengangguk lalu ikut turun.
Usai sholat dan merapikan mukena, aku berjalan menuju pintu masjid. Ku lihat beliau sudah menunggu di luar bersama seorang laki laki.
Mereka sedang mengobrol, ku tajamkan mata melihat dengan siapa dia mengobrol.
Aku mengenal laki laki itu, beliau merupakan salah satu karyawan kantor kecamatan Y. Yang mana sebelumnya beliau bertugas di kecamatan X tempat bertugas manusia kutub saat ini.
Pak Tatang, jelas aku mengenalnya. Akhirnya aku memilih keluar mengendap ngendap mengambil sepatu dan kabur lewat pintu samping masjid menuju mobil.
Dan sialnya pintu mobil terkunci. 'Dasar manusia kutub, apes banget nasib ku hari ini.' Gumamku.
Aku hanya bisa bersembunyi di samping mobil, karena ponselku tertinggal di dalam mobil dan sepertinya ponselnya juga demikian.
Nyamuk berlalu lalang mendendangkan lagu dan meledekku. Membuatku kesal karena sesekali mengambil kesempatan menciumku. 🙈😅
"Ngapain?"
"Astagfirullah." Aku mengucap karena kaget dengan suara yang tiba tiba di dekatku.
Beliau juga kaget melihatku yang terkaget kaget. (Bagaimana dengan kalimat ini? 😂😂)
Aku langsung masuk ke mobil tak memperdulikannya.
"Ngapain sembunyi di sana?" Tanya nya heran.
"Ga ada, cari suasana lebaran." Jawabku asal.
Kami melanjutkan perjalanan menuju pulang. Maksudku aku pulang ke rumahku, dia pulang ke rumah nya. 🙄😅
__ADS_1
"Yevn," Panggilnya.
"Hm." Jawabku tanpa menoleh.
Dia hanya tertawa melihat reaksiku. Aku hanya heran, apa yang membuatnya lucu?
Kemudian aku kembali mengabaikannya.
"Yevn." Panggilnya lagi.
"Hm." Jawabku menatap ponsel.
"Sehat?" Tanyanya.
"Iya." Jawabku.
"...." Ucapnya
"Iya." Jawabku.
"....."
"...."
"...."
Entah berapa kali dia bertanya atau memanggil atau apalah itu, aku bahkan tak mendengar karena asik membalas chat di group chat author Noveltoon.
Dia lalu tertawa dan menoleh wajahnya kearah berlawanan dariku.
Aku bingung, dan tak pernah melihatnya seperti ini. Apa yang salah?
Aku masih melihat ke arahnya menunggu penjelasan, apa yang salah?
Apa yang di tertawakan? Apanya yang lucu?
Dia melihat ke arahku sambil masih tertawa pelan.
"Besok pagi atau siang aku jemput." Ucapnya melihat ke arahku dan sesekali melihat ke arah jalan, masih menyetir.
"Buat apa?" Tanyaku mengerutkan kening. Gila, aku benar benar kesal.
"Beli cincin." Ucapnya yang sontak membuatku kaget.
"Cincin apa?" Tanya ku cepat.
"Tadi katanya mau ku khitbah. Jadi besok kita cari cincin." Ucapnya tak merasa bersalah.
Aku langsung memakai earphone tak mau mendengar apa pun lagi. Darahku mendidih, aku benar benar kesal.
Tapi aku tak bisa menyalahkannya, karena salah ku juga mengabaikan nya saat sedang di ajak berbicara.
Aku menjawab setiap ucapannya, tanoa mendengar apa yang di sampaikan.
Ku lihat manusia kutub masih tertawa meledekku.
Saat memasuki kecamatan X, dan sudah memasuki kota yang ramai, aku merasa lenganku di colek sama dia.
Aku menoleh "Apa?" Bibirnya mengucapkan sesuatu yang aku tak mengerti.
Menyadari masih mengenakan earphone aku langsung melepas nya.
"Mau makan dulu?" Tanyanya.
"Gak, gak laper." Jawabku.
rrrrtttt.....
Beliau kembali tertawa, jelas aku malu karena perutku sedang disco dengan suara keras.
"Yakin ga laper? kampung tengah mu dah berontak dari tadi." Ucapnya membuat ku,,,, aaakhhh,, aku sangat malu, ya Tuhan....
Hari ini benar benar apes.
__ADS_1
"Mau makan apa?" Tanya nya lagi sambil melihat ke arah jalan.
"Terserah." Aku pasrah.
"Oke, di tempat 'Lesehan Prabu' sepertinya bagus." Ucapnya.
Saat memasuki kawasan yg di tuju dan memberhentikan mobil, beliau mengajak turun.
"Bisa di caffe 'Tea Tanic' aja ga?" Tanyaku sambil mengamati sekitar 'Lesehan Prabu'.
Tempat nya terlalu terang, ramai, dan dekat dengan jalanan. Aku khawatir ada yang mengenali kami.
ku tak ingin ada gosip miring, karena berita mulut dan media sosial sangat kejam.
Aku kemudian menyadari dia memperhatikan ku dan tersenyum.
"Maksudnya 'Tea Tanic' di pinggir pantai itu?" Tanya nya, aku hanya mengangguk.
Mobil langsung melaju kesana.
....
Sambil menunggu makanan yang sudah di pesan, ku lihat dia mengamati area tempat makan malam itu.
Aku melihatnya sesekali sambil memperhatikan ponselku.
"Kamu udah biasa ke sini?" Tanya nya.
"Hm, iya." Jawabku. "Eva yang sering mengajakku ke sini, dan lama lama aku suka. Tempatnya masih baru sih, tapi cukup bikin nyaman." Imbuhku lagi melihat ke arah laut.
Kami menikmati makan malam begitu pesanan nya terhidang di meja.
Usai makan, tiba tiba dia menatapku serius.
Aku yang menyadari langsung memasang ekspresi bertanya padanya, 'apa? Kenapa?'
"Masih mengingatnya?" Tanya nya serius.
Aku tau, bukan itu inti dari pertanyaannya. Dan aku mengerti maksudnya.
Aku menarik nafas dalam dan melepasnya. Ku arahkan pandanganku ke laut lepas.
"Dia laki laki yang berbeda, dia tulus, sangat tulus. Aku nyaman sama dia, dia siap melindungiku, selalu mendukungku, dia bisa jadi siapapun baik teman dalam kondisi apapun, jadi seorang kakak yang memberikan kenyamanan, dia calon suami idaman semua kaum hawa." Aku bercerita hingga melupakan bahasa formal antara aku dan dia.
Kemudian aku hanyut dengan pikiranku dan terus menatap laut.
Hening, hanya deburan ombak yang terdengar memecah kesunyian.
Menyadari lama terdiam, aku langsung memintanya pulang. Aku akan meminta Eva menjemputku.
Dia keberatan akan hal itu, dan langsung mengantarku pulang.
Begitu memasuki mobil beliau langsung menyalakan mesin dan diam terpaku.
Aku melihatnya yang fokus melihat ke arah stir.
Lama, lama dia terdiam memaku. Kemudian mobil berjalan , dia mengantarku pulang.
***
.....
Tak ada kabar darinya, sejak dia mengantarku pulang malam itu.
Mak Megha sudah hiatus berapa hari ini.
Jangan lama lama mak. Kangen tau. ðŸ˜
.
Bersambung,,
.
__ADS_1