
Dua hari aku di rawat setelah sadar dari koma, pak Am mengunjungiku bersama istrinya.
Setelah bertanya kabar dan mengobrol pak Am angkat bicara.
"Kau tau betapa khawatirnya dia?" Tanyanya.
"Siapa pak?" Aku kembali bertanya.
"Alfandy." Jawab pak Am. "Seperti orang gila dan pucat Yevn. Bapak sendiri ga nyangka dia yang biasa nya dingin, calm, cuek, seperti batu es, berubah gugup dan khawatir." Ucap pak Am.
Aku melihat ke arah istrinya, dan beliau mengangguk membenarkan ucapan pak Am.
"Bapak sudah menceritakan maksud baik nya pada mama mu, sisanya biar Vhen yang menjelaskan pada mamamu."
Ucap pak Am.
Aku hanya bisa terdiam, akhirnya kabarnya sampai pada mama dan keluargaku.
Yang jelas mama sangat ingin melihatku segera menikah.
"Tak ada kah niat mu menerima dia?" Tanya pak Am.
Aku hanya diam dan tersenyum pada pak Am.
Pak Am hanya menarik nafas panjang mengerti jawaban ku.
Tidak.
Di saat manusia kutub itu datang berkunjung ke rumah sakit, aku selalu menghindar dengan berpura pura tidur.
Aku tidak ingin terlalu sering berinteraksi dengan nya.
Setelah di bolehkan pulang, aku menjalani rutinitas ku seperti biasanya. Kali ini mama dan bang Vhen yang tinggal di rumahku.
Mama menghampiriku saat aku duduk membawa pikiranku jauh melayang.
Membayangkan banyak hal yang sudah terjadi, memikirkan seperti apa yang akan terjadi.
"Apa yang kamu fikirkan, nak?" Tanya mama begitu duduk di sampingku.
"Hm,,? oh, tidak mah, Yevn berniat ingin membeli tanah yang di depan mah, fokus nabung dulu." Jawabku mengalih pembicaraan.
Tak ingin mama mengetahui apa yang sedang menjadi buah fikiran ku.
"Untuk apa? Kamu bekerja keras, tanpa memikirkan masa depanmu nak." Ucap mamahku.
"Ini kan buat buat masa depan juga mah, bisa jadi investasi." Jawabku sambil tersenyum tanpa menoleh ke arah mamah.
"Investasi masa depan hatimu juga penting." Ucap mamah.
Aku hanya tertawa mendengar ucapan mama, tak mengerti maksud nya.
"Mama semakin tua, umur semakin berkurang, tidak ada orang tua yang tidak bahagia sengan prestasi anak anak nya. Mama dan ayah sangat bangga padamu, di usia begini kamu sudah bisa mandiri, bahagia dengan apa yang kamu miliki saat ini. Tapi nak tak ada orang tua yang bisa tenang melihat anak nya menahan beban hati dan perasaan, melihat anak nya diam diam menangis dan berpura seakan baik baik saja."
Mama menarik nafas panjang melepasnya berat.
"Hati mama jauh lebih terluka ketika tahu anak nya tidak bahagia."
Aku tak sanggup melihat wajah mama. Aku hanya menunduk melihat kakiku.
Mama melihatku tertawa, sambil memegang kedua pipiku.
"Heii,, mama tau anak mama kuat, dan pasti bisa, tersenyumlah." Ucap mama.
Aku menangis dan langsung memeluk mama.
"Maaf mah, maaf." Ucapku sambil terisak.
Mama tertawa, mengelus kepalaku dengan lembut.
**
Aku sedang asik membaca novel via ponselku.
Sambil sekali sekali membuka grup chat author dan membalas beberapa pesan.
Mama menghampiriku dan duduk di hadapanku membawa beberapa buah yang sudah di potong potong.
"Yevn,"
"Hm,," Jawabku tanpa menoleh sambil meraih buah di dalam piring yang di bawa mama.
"Bagaimana hubungan kamu sama Alfandy?" Tanya mama hati hati.
Uhuk huk, uhukk
Aku melihat ke arah mama dan masih terbatuk.
__ADS_1
Bang Vhen tiba tiba datang dan duduk di sampingku.
"Yevn sama dia ga ada hubungan apa apa." Jawabku.
Aku melihat ke arah mama dan bang Vhen bergantian.
"Ga ada apa apa, tapi dia nya dah lama ngejar adek ma. Kasian tuh anak di cuekin, di acuhin." Jawab bang Vhen yang langsung mendapat pukulan dariku.
"Anak nya baik, sopan, apa adanya. Mama suka." Ucap mama pura pura tak mau melihat ke arahku.
Aku memutar mataku malas, dan langsung membaringkan kepalaku di paha bang Vhen.
"Jangan mulai deh, Yevn ga suka, ga ada rasa apa apa sama dia. Cuma teman. Eh enggak, bukan teman, Yevn sama dia cuma sekali sekali ketemu di acara, di kantor Yevn. Itu doang." Jelasku.
"Dia dah ngomong sama mamah, dah menyampaikan isi hati nya dia." Ucap mamaku sambil melirik ke arahku.
"Hah?? Dia nyampaikan isi hati nya ke mama? Dia nembak mama?" Ucapku kaget.
Bang Vhen langsung menjitak kepalaku.
Sakit ternyata di jitak 😅😂😂
"Hussh,," Mama melirik ku tajam.
Aku tertawa terpingkal pingkal.
Bang Vhen menarik hidungku melihat aksiku mengerjai mama.
***
Aku bergabung lagi di salah satu grup chat author. Di sana aku bertemu teman baru.
Tidak begitu akrab, tapi kami yang saling berinteraksi bersama.
Salah satu dari kami seorang laki laki, nama yang di gunakan saat itu Lee (😅) dan dia sering merayu satu orang perempuan di antara kami yang bernama Ayu.
Entah bagaimana aku dan Ayu semakin dekat. Kak Uchy jarang aktif di grup. Hingga aku dan Ayu saling berbagi kisah, cerita dan pengalaman kami.
Hingga ke masalah pribadi kami, terutama masalah hati. Dan baru kali ini aku bercerita lepas adanya, karena aku fikir aku dan Ayu tidak saling bertemu dan hanya kontak jarak jauh.
Aku bebas berbagi cerita di dunia online.
Bahkan saat aku sedang jalan bersama seseorang menemani nya bekerja. Aku masih chat sama Ayu, meminta pandangan harus seperti apa dan bagaimana. 😅
****
Aku sebenarnya hanya mengikuti demi mereka. Mereka berkata bahwa aku hanya terlalu menutup diri sejak kepergian almarhum.
Meski ku beri tahu bahwa aku tidak memiliki rasa apapun pada dia si manusia kutub.
Hmmm,, mungkin aku memang menutup diri atau hati aku. Karena bagi ku, almarhum kak Arfan adalah satu satu nya cinta dan laki laki yang aku sayang.
Hari itu, aku kosong dari jadwal pekerjaan atau latihan, jadi manusia kutub membawaku ikut ke lokasi gedung untuk persiapan acara kecamatan.
Aku menunggu nya sambil duduk di sudut ruangan. Sekali sekali ku lihat ke arahnya yang serius berinteraksi dengan karyawan nya.
Aku memainkan ponsel sambil membuka Noveltoon dan berbalas pesan bersama Ayu.
Sambil menunggu pesan di balas, aku memperhatikan manusia kutub dan beberapa orang di dekat nya.
Salah satunya,,,,, seorang perempuan yang aku kenal. Dia teman ku saat SMA, hanya beda ruang kelas.
Dia selalu mencoba mencari perhatian dari manusia kutup.
Aku hanya tertawa melihat apa yang terjadi di sana. Dan aku juga menyampaikan hal itu pada Ayu. Karena menurutku itu cerita yang lucu.
Karena bosan menunggu di dalam ruangan, dan para pekerja juga sibuk mendekorasi, aku memilih keluar dari ruangan dan duduk di teras sambil menikmati udara segar dan pemandangan yang menakjubkan.
Benar benar terawat.
Pesan dari kutub masuk, menanyakan keberadaanku. Aku rasa dia kehilangan jejak aku.
Aku pun menyampaikan posisi keberadaanku. Dia mengabariku bahwa pekerjaan nya akan segera selesai.
Pikiran ku hanyut, hingga aku mengingat dia. Dia yang telah pergi dan tak kembali, dia yang hingga saat ini masih bertahta di hatiku.
Dan akan selalu begitu.
Air mataku menetes, perlahan kemudian menderas tak bisa di hentikan.
Aku berlari ke arah toilet, mengurung diri dan menangis sejadi jadinya.
Aku ingin berhenti, gapi tak kunjung bisa.
Bayangan kak Arfan, suaranya, ucapannya semua tergambar dan terngiang ngiang.
Allahu akbar,,,,
__ADS_1
Ya Allah, bagaimana mungkin aku bisa menjalani ini semua.
Setelah lama di dalam toilet dan tangis ku mereda, ku bersih kan wajah di depan cermin.
Mata ku masih bengkak, merah dan perih.
Kadang air mata ku masih meleleh tak bisa di kontrol.
Aku akan berdiam di dalam mobil saja, akan lebih aman. Pikirku.
Segera aku berlari sambil menunduk, dan aku menabrak nya.
Laki laki itu, aku menabrak nya dan dia melihat kondisiku. Dia menanyakan apa yang terjadi padaku, bagaimana aku bisa seperti ini.
Aku tak kuasa menjawab, selain menangis.
Dia membawaku ke mushalla yang terletak di samping gedung acara untuk melaksanakan shalat ashar.
.....
Saat di dalam mobil menuju pulang, aku melihat ke arahnya yang fokus menyetir.
"Apa bapak tidak ingin bertanya apa yang membuatku menangis seperti tadi?" Tanyaku.
"Aku tak akan bertanya jika itu privasimu, tapi jika kamu bersedia ingin bercerita, aku mendengarkan." Jawabnya.
Aku menceritakan padanya, apa yang tadi aku alami.
Berharap dia mengerti bahwa aku tidak bisa menerimanya.
Dia langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Aku tak mempermasalahkan masa lalu mu, Yevn. Sama sekali tidak. Kamu bisa menyimpannya atau mengenangnya." Ucapnya.
Aku menyampaikan padanya bahwa aku tak bisa melakukan perkenalan ini lagi.
****
Aku terombang ambing bersama ombak,
Hanyut dengan sapuannya hingga ke pantai,
Kemudian dengan deburannya aku ikut terhempas di karang,,
Aku menari dengan ombak,
Dengannya ku sampaikan pesan pesan,
tentang aku dan pelabuhan,
Aku bernyanyi dengan ombak,
menulis kisah di butiran pasir yang terhampar luas,
namun tak pernah usai,,
Aku menangis dengan ombak,
menangis dengan sejuta perasaan,
perasaan ku yang terlabuhkan di bait bait munajah,
Disini,
bersama ombak,
aku rindu......
.
.
.
.
.
.
bersambung
Pernikahan
.
.
__ADS_1