Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Maafkan Aku,,


__ADS_3

"Kamu sibuk di kantor?" Tanya mama, saat kami sedang komunikasi lewat telfon.


"Lumayan ma, ada apa? Mama sehat?"


Tanyaku mulai cemas pada mama.


Tidak biasanya mama menanyakan kesibukan ku di kantor.


"Enggak,, mama sehat alhamdulillah. Kalo ada masa luang, pulang ya, ajak abang mu juga." Ucap mama membuatku semakin khawatir.


"Mama sama siapa di rumah?" Tanyaku memastikan.


"Ada si Asih, //Seorang wanita yang bekerja di rumah mama) dia kan udah tinggal di sini. Kakak mu juga di sini. Tapi Minggu nanti pulang ke rumahnya." Ucap mama. Aku sedikit tenang mendengarkan.


Ternyata bang Vhen ga pulang ke rumah mama. mungkin masih di rumah mertuanya, karena beliau tidak di rumahku.


"Iya ma, hari Sabtu Yevn pulang ya.. Kalo besok Yevn kerja lapangan ke kecamatan Y, ga tau sampai jam berapa." Ucapku.


"Iya, kamu hati hati, di manapun kamu melangkah, menapaki kaki, jangan lupa ibadah, banyak sedekah, biar rezkinya berkah." Ucap mama yang selalu mengingatkanku.


Setelah menutup telfon aku membuka pintu mobil berniat langsung pulang.


Eva sudah dari tadi masuk ke mobil, dan terlihat sangat lelah.


"Yevn, !"


Terlihat laki laki yang memanggil, berjalan setengah berlari menghampiriku.


.


.


.


Jum'at aku mengenakan pakaian semi formal karena akan kerja lapangan.


Celana kantor berwarna hitam dengan kemeja panjang berwarna navy kombinasi dan jilbab senada.


Aku tetap mengenakan bed nama yang di pasang di sisi kanan dadaku.


Eva ku ajak turun kerja lapangan, yang mana awalnya dia menolak. Tapi setelah ku takuti dengan amarah kak Jerry, akhirnya dia setuju. 😅😅


Acara berlokasi di salah satu pinggir pantai yang di hadiri berbagai komunitas seniman dari tiga kecamatan.


Berbagai penampilan di tampilkan, seni music, tari, drama lawak, senam , termasuk penyerahan dana secara simbolis, dan berbagai acara lainnya.


Hidangan dengan berbagai macam varian, mulai dari makan ringan hingga berat.


Acara sempat terjeda karena laki laki muslim yang akan melaksanakan sholat jumat. Kemudian acara kembali di lanjutkan.


Aku di panggil oleh mc, awalnya ku kira yang di maksud bukan aku, hanya nama yang sama. Tapi tidak ada yang memiliki nama 'aneh' di sini apalagi mc menyebutkan title dan instansi pemerintahan tempat aku bekerja.


Pantas, karena salah satu penggiring music adalah bang Aye. Pasti beliau yang nyari gara gara.


Aku naik ke panggung, bang Aye hanya tertawa padaku, sudah sah, ini ulahnya.

__ADS_1


Akhirnya aku duet dengan salah satu peserta seni dengan membawakan satu lagu melayu duet.


Kemudian mc melakukan tanya jawab, karena kebetulan aku salah satu yang bergabung di komuniatas seni music di provinsi.


Hingga aku di minta memainkan sebait lagu dengan menggunakan biola.


//Aku ke sini karena tugas, bukan peserta dari salah satu komunitas seni yang hadir.. 😭


Saat penyerahan dana dan piagam yang di lakukan oleh camat dari tiga kecamatan, pak Kavin mendapat giliran, beliau di dampingi seorang ajudan dan,,,,, tunggu,, Roziana??


.....


Jam 4 sore, acara selesai, hanya acara hiburan sesama komunitas dan kelompok yang tersisa.


Sampai di depan pagar rumah, sebuah mobil menghampiri, beliau memintaku ikut sebentar dengannya.


Aku mengikuti beliau, dan mobil melaju entah mengarah ke mana.


Beliau masih mengenakan seragam kerja lengkap seperti di lokasi acara, baju kurung berwarna navy, lengkap dengan songket selutut, dan bed nama yang terpasang 'Alfandy Kavindra, SSTP, MPA- camat kecamatan X'.


Aku tidak tau, apa yang membuatnya mendesakku untuk ikut dengannya. Apa karena,,,,,


.


.


.


Aku melirik ke arahnya yang memasang,, ekspresi apa itu? Beliau sepertinya penuh amarah. Tatapan nya lurus ke depan, tajam.


Tapi apa yang membuatnya seperti sekarang?


Kami hanya saling terdiam. Sibuk dengan perasaan masing masing.


Hingga beliau menghentikan mobil nya di sebuah caffe yang terletak di salah satu studio music.


Aku mengenal tempat ini, ini milik bang Aye. Tapi mengapa beliau tiba tiba membawaku ke sini. Apa tidak lelah seharian di lokasi acara? Aku sudah gerah, bahkan butuh udara rumah saat ini.


Aku mengikut beliau duduk di salah satu bangku yang terbuat dari kayu dengan warna alami, tepat di sudut jendela yang memaparkan pamandangan dari lantai dua ini.


Di sini tidak seramai di lantai dasar kafe.


Beliau menatap ku lekat penuh makna, jujur aku di buat takut oleh nya.


"Kamu dengar omongan orang orang di sana?" Tanya beliau.


Aku tak mengerti pasti arah omongannya.


"Apa?" Ucapku.


"Aku tahu kamu mendengarnya, tentang Ana yang,,,,,aku,,,," Beliau tak berucap sempurna. Tapi aku mengerti maksudnya.


Flashback on


Saat penyerahan dana dan piagam yang di lakukan oleh camat dari tiga kecamatan, pak Kavin mendapat giliran, beliau di dampingi seorang ajudan dan,,,,, tunggu,, Roziana??

__ADS_1


"Apa sekarang Ozy bertugas di lapangan? Tapi,, setahu ku ini bukan bidangnya, atau mungkin Ozy salah satu anggota dari komunitas seni? Sejak kapan? Selama mengenyam bangku sekolah dengan nya, aku tidak pernah tahu jika dia ikut seni apapun. Mungkin dia mengikuti sejak kuliah, aku kan tidak tau." Gumamku.


Tapi, menurutku Ozy lebih terkesan mencoba mengetepikan jarak dan pembatas nya dengan manusia es itu. Mungkin aku terbawa suasana saja, secara aku pernah tahu kalo dia menaruh hati pada manusia kutub.


Desas desus dari bibir orang sekelilingku mulai terdengar.


'Itu pacar pak camat kali,'


'*Itu R*oziana kan, kok bisa dekat sama camat ya?'


'Tunangannya kali,'


'Tapi cocok kok, kan ga masalah, secara yang aku tahu pak Kavindra masih sendiri.'


Aku hanya mendengar semuanya dengan diam, dan memilih melahap buah yang ada di piringku.


Seseorang menyenggol lenganku, itu kak Sri salah satu pegawai kantor kecamatan X.


//Sebelumnya aku menyebut kak Sri di bab bab sebelumnya.


Flashback off


Aku hanya diam menunggu apa yang akan sampaikan.


"Ini boomerang buat hubungan kita, ini sebenarnya alasan aku ga mau hubungan ini kita sembunyikan. Memang aku tau maksud kamu meminta kita begini, dan ada beberapa hal yang positifnya. Tapi menurutku tetap banyak negatifnya."


Aku masih diam, menyimak, apa maunya.


"Apalagi berurusan sama Ana. Kamu tau kan, khabar yang tercipta dari mulut ke mulut itu tajam, dan bisa melebar. Aku ga dengar langsung, untung Sri menyampaikan ke aku."


"Aku tak ingin kamu mikir yang aneh aneh tentang aku, dengan gosip dan berita hoax. Ga mudah buat bisa sampai pada titik ini, Yevn. Kamu tau gimana aku mendapatkan semua ini, meskipun itu masih hambar di hatimu."


Jujur mendengar setiap kata dan kalimat dari es balok ini, aku benar benar merasa bersalah yang teramat sangat padanya.


Tuhan,


jika di hadapanku ini, laki laki yang tercatat di lauhul mahfudz sebagai jodohku, maka lembutkan hatiku,,


Hadirkan rasa yang membuat aku ikhlas menerimanya dan menyambutnya.


jangan biarkan aku menyakiti dan menzolimi dirinya serta hatinya....


.


.


"Pak Kavin,,,,"


.


.


.


,,,,"Maaf"

__ADS_1


Bersambung,,,,,


__ADS_2