Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Canggung 2


__ADS_3

Dalam kondisi kamar dengan pencahayaan yang redup, ku lihat wajah nya, matanya yang tertutup rapat, nafasnya yang teratur, benar benar tertidur pulas.


Ku lirik jam di atas meja di sampingku, masih menunjukkan pukul tiga lewat lima belas. Aku bangun berniat melaksanakan shalat malam.


Usai shalat dan berdoa, aku lihat pak Kavin keluar dari kamar mandi. Aku menoleh, terlihat senyum manis terukir di bibirnya.


"Apa aku mengganggu tidur bapak? Maaf." Ucap ku merasa bersalah.


"Tidak sama sekali." Ucap nya.


Rambut nya terlihat masih basah, berjalan kemudian melepas baju yang di kenakan nya. Aku kembali membuang muka, menunduk, rasanya tak pantas melihat nya.


Hingga di ujung mataku terlihat beliau sudah berganti baju Koko putih berdiri di atas sajadah.


Aku meraih ponselku, melihat ada banyak pesan yang dari kemarin belum ku buka semua nya. Bahkan aku belum ingin menggubris nya, dan memilih membuka aplikasi Noveltoon, terlihat beberapa komentar yang meminta aku untuk update episode di coretan ku. Bahkan Mak Megha yang ngomen rusuh seakan gedor pintu, aku tau beliau tahu aku tidak bisa up karena sedang melaksanakan prosesi pernikahan.


Aku kembali membuka pesan pesan WhatsApp yang sudah menumpuk, aku scroll rata rata dari teman teman ku, teman kuliah, teman music, rekan kantor, mantan siswa ku dulu, dan,,,, kak Teguh?


Aku baru ingat, aku tak melihat nya di acara pernikahan ku, bahkan di hari hari sebelum aku mengambil izin dari kantor. Ku buka pesan nya yang sangat panjang, ucapan selamat, luahan dan segala kegundahan hatinya, aku membaca kata demi kata dengan tak percaya.


Hingga dengan cepat ku hapus pesan nya, tak ingin membuat masalah jika ada yang membacanya.


Terdengar suara kutub membaca Qur'an dengan lembut, sungguh menenangkan hati. Hingga azan subuh berkumandang.


"Subuh bareng ya?" Tanya nya padaku. Aku tersenyum mengangguk mengiyakan.


.


.


.


Aku akhir nya tiba di rumah orang tua pak Kavin setelah menempuh perjalanan panjang, lebih kurang memakan waktu sekitar empat jam berkendara.


Tante Suhaera langsung menyambutku, beberapa pasang mata melihat ke arah kami dengan sambil berbisik-bisik. Aku menoleh ke arah pak Kavin,


"Apa ada yang salah dengan ku? atau penampilan ku?" Aku merasa tidak nyaman di lihat dengan demikian.

__ADS_1


Kutub malah tersenyum, seakan mengerti masalah ku.


"Masalah nya hanya kamu terlihat begitu cantik." Ucap nya berbisik ke wajahku yang tentu saja membuat ku seperti berada di panggangan, panas.


Aku memilih terus melangkah mengikuti ibu mertua ku yang mengantarkan kami ke dalam. Bayangan kutub terlihat mengekori di belakang.


"Istirahat dulu Yevn, nanti akan ada beberapa prosesi acara, Vin, bawa istri mu istirahat. Jangan malah mengganggu nya." Ucap Tante Suhaera.


"Apa Yevn ga perlu ikut bantu bantu saja tante?" Tanya ku, merasa tak enak jika harus berdiam diri di kamar.


"Ndak usah, kalian masih jadi raja dan ratu, istirahat saja ya nak, pasti masih capek. Dan jangan panggil mama 'tante', kamu sudah jadi anak mama sekarang." Ucap Tante Suhaera membuat ku malu malu meong.


"Iya, ma."


Tante Suhaera pergi meninggalkan kami di depan pintu kamar, yang ku yakin ini kamar kutub.


Pak Kavin membuka pintu dan mengangkat koper yang berisi segala kebutuhan ku. Aroma maskulin menyeruak begitu aku masuk ke kamar. Benar seperti bau khas manusia kutub.


"Langsung istirahat saja dek, mau tidur juga ga apa apa." Ucap nya pada ku.


"Ini langsung ku rapikan ya di lemari." Sambung nya sambil membuka koper.


Kecuali tas kecil yang ku pegang erat, aku bingung harus menempatkan nya dimana.


"Kenapa?" Tanya kutub.


"Ah, enggak, hmm,,, ini ku taruh di sini, hmm,, ga ada yang boleh buka." Ucap ku padanya.


Terlihat wajahnya bingung, seakan bertanya apa maksud ku.


"Ini kebutuhan perempuan." Ucap ku malu, rasanya ingin ku gali kubur untuk mengubur diri ku sendiri karena menahan malu.


"Oh, hahah,,, simpan di laci bawah sana, di depan mu, semua sudah ku perkirakan." Ucap nya.


"Aku ke luar dulu ya, setelah selesai, langsung istirahat." Sambung nya lagi, kemudian berlalu setelah menyimpan koper di samping lemari.


Ku buka laci yang di tunjuk pak Kavin padaku, kosong, mungkin memang sudah di siapkan nya jauh jauh hari sebelum kami menikah. Ya ampun, memalukan sekali ....😣

__ADS_1


Ku perhatikan sekeliling kamar nya, benar benar rapi. Ku lihat di atas nakas di samping tempat tidur bingkai foto berwarna putih yang bertengger di atas nya. Aku mendekat, meraih foto perempuan yang membuat ku tertarik untuk melihat nya dari dekat.


Ya ampun, ini foto ku yang di ambil tanpa ku sadari, seperti nya di tangkap kamera pro yang di pakai FG, aku ingat ini foto saat sebuah acara sedang di gelar sekitar dua tahun yang lalu.


Aku teringat saat dulu kutub mengungkap kan isi hati nya beberapa kali padaku. Beliau pernah mengatakan telah menunggu ku selama dua tahun, memperhatikan dan mencari latar belakang ku, Detak jantung ku bergemuruh.


Sayup sayup terdengar suara kutub dari luar rumah, ku perhatikan salah satu jendela yang terbuka. Ku pandangi laki laki itu dari kejauhan yang sedang asik mengobrol dengan rekan nya.


Dia begitu bersahaja, namun terlihat sangat mempesona, pantas jika banyak kaum hawa yang tertarik padanya. Tapi entah kenapa, hatiku belum bisa jatuh cinta pada nya.


Seketika pandangan kami bertemu, dia menoleh ke arahku yang melihat nya dari jendela kaca di lantai atas. Ku lihat dia mulai meninggalkan rekan rekan nya dan menghilang entah kemana.


"Apa kamu ga betah di sini?" Tiba tiba suara laki laki mengagetkan ku dari arah pintu kamar.


"Ah, enggak, hmm,, cuma rasanya aneh harus berdiam diri di kamar di saat orang lain sibuk di luar."


Jawab ku.


Beliau berdiri di samping bangku ku, menyandarkan tubuhnya di kusen jendela. Kedua tangan nya di lipat di depan dada nya.


"Hanya sebentar, setelah semua nya selesai tak ada yang akan mengurung mu di kamar." Ucap pak Kavin seraya tersenyum.


"Sebentar lagi, mama, Vhen, dan semuanya sampai, tadi aku nelfon, katanya masih di kapal, mungkin sekarang sedang menuju ke sini." Sambung nya, membuat hati ku girang bukan kepalang.


Seseorang mengetuk pintu kamar, kutub membuka dan masuk seorang perempuan membawa hidangan.


"Dek, yuk makan dulu." Aku menghampiri mereka, dan membantu perempuan tadi menatq hidangan yang di bawanya di atas meja di sudut kamar.


"Biar saya saja, Bu." Ucap nya penuh sungkan.


"Ga apa apa kak, panggil Yevn saja kak." Ucap ku, jelas merasa tak enak dengan rasa sungkan nya padaku. Usia nya mungkin jauh lebih tua dari ku.


Kak Wati yang merupakan pekerja di rumah ini, menoleh ke arah pak Kavin, aku ikut menoleh, pak Kavin mengangguk mengiyakan.


"Sudah terbiasa Bu, lagian lebih nyaman rasanya. Yuk bu, pak, silakan di nikmati, saya tinggal ke belakang dulu." Ucap nya mulai ramah.


Pak Kavin menutup pintu kamar, kami menikmati makan siang berdua di dalam kamar.

__ADS_1


Sesekali manusia kutub bercerita tentang orang orang yang tinggal di rumah ini.


__ADS_2