
Makasih yang sudah mampir di coretan Yevn.
Sungguh masih banyak kesalahan dalam penulisan ini. ππ
Disini Yevn hanya berbagi sedikit kisah pribadi Yevn. Ada komentar yang Yevn baca kalo ini lebih seperti membaca diary, betul sekali. πβ
Buat yang dah mampir dan sudah komen, follow Yevn. Nantikan 'surat cinta Yevn' di pc kalian ya. Gift misterinya masih ada ya.... ππ
Pastikan kalian sudah Follow Yevn.
π π π π π π π π π π π π π π π
Tak ada kesempatan buat bicara saat iniπ π π
Aku di kenal tegas dan disiplin saat mengajar.
Aku punya peraturan dan aturan sendiri selama jam mengajarku.
Terkesan sangat tegas daaaan.... bisa di bilang galak. Alhamdulillah, mereka tidak dendam, dan senangnya di rindukan.
Kelasku di nantikan. Bahkan sampai saat aku menulis ini aku masih sering menerima pesan dari siswa siswiku.
Balik ke pangkal cerita.
Sedang asik asik nya mendengar dan bercerita bersama para siswa, Secara tak sengaja aku menangkap sosok yang sedang memperhatikan ke arahku.
Ketika aku menatap nya beliau membuang muka dan menoleh ke arah lain.
Beliau seorang laki laki berseragam dinas. Aku belum pernah melihatnya.
Ya sudah, mungkin perasaanku saja.
Pak Amrisal datang dan para siswa siswi ku yang mengerti akan keadaanku yang sedang sibuk pun berpamitan kembali ke tempat mereka masing masing.
Pak Nazar mengekori di brlakang pak Amrisal.
__ADS_1
Beliau tersenyum ramah sekali. Sangat ramah.
"Jadi seleb sekrang ya Yevn." Ucap pak Nazar di susul ketawa dari pak Am.
Aku hanya menjawab dengan ikut tertawa.
"Tapi emang cocok kan pak Am kalo dia jadi seleb. Penampilan oke, bakat ada, fans ada."
Ucap pak Nazar lagi berusaha menggodaku.
"Dari mana nya coba...." Jawabku sambil tertawa lepas. menanggapi guyonan pak Nazar.
Pak Amrisal tak menanggapi selain dengan ikut tertawa.
"Kalo dari Fans, saya orang pertama dan di barisan pertama." Ucap pak Nazar, aku hanya tertawa.
"Udah, Yevn. Jangan di ladenin. Gombalan dan rayuannya tinggi banget, dan menghanyutkan."
Ucap pak Amrisal, aku hanyak tertawa mengiyakan.
"Yaaaahh,, dukung dikit kenapa sih pak?"
Ucapnya dengan memasang tampang yang kesal.
Aku melanjutkan diskusi dan merevisi naskah susunan acaraku bersama pak Amrisal dan pak Nazar.
Kami terus berdebat dengan pandangan masing masing.
Walaupun beliau adalah guru SMA ku dulu, tapi kami tetap sportif dan profesional saat bekerja.
Akhirnya Camat yang melihat kami sedang diskusi menghampiri dan menanyakan perkembangan acara.
Salah satu yang aku dan pak Amrisal debatkan adalah nama dan gelar camat.
Akhirnya pak Amrisal menanyakan nama dan gelar lengkap sang Camat.
__ADS_1
Aku tersenyum penuh kemenangan ke arah pak Amrisal. Karena akulah yang benar kali ini.
Di sudut mataku dapat ku lihat pak Nazar sedari tadi memperhatikanku.
Kadang saat aku melihat ke arahnya beliau sedang tersenyum ke arahku.
spontan aku bertoss ria ke arah pak Nazar, mendengar jawaban dari sang Camat.
Diskusi kami selesai, ada beberapa item acara yang di buat beserta cadangannya.
Itu tergantung situasi saat acara berlangsung.
Disinilah salah satu titik berat nya menjadi seorang MC.
Gladi resik di mulai, aku memegang microfon ku dan mengambil posisi di bawah astaka saja.
Kenapa di bawah astaka? Ini adalah permintaan ku sendiri, aku tidak mau terekspos oleh masyarakat.
Beda lagi saat acara berlangsung nanti, mau tidak mau, posisiku sudah di tentukan oleh panitia.
Sosok itu masih mencuri curi melihat ke arah ku.
Siapa dia?
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa rate, fav, like dan Komen sebanyak banyak nya biar nama kalian author masukkan ke daftar calon PENERIMA GIFT. ππππ