
Hari ini aku memaksakan diri untuk kerja. Meski tubuh ku belum sepenuhnya fit dan itu tidak membuatku mengurungkan niat untuk bekerja.
Tidak banyak yang harus di kerjakan hari ini, pekerjaanku sedikit terbantu dengan adanya karyawan magang. Aku hanya perlu memeriksa beberapa pekerjaan yang sudah di susun oleh teman teman. Memeriksa jadwal perjalanan rekan rekan protokoler untuk mendampingi atasan ke acara acara baik lokasinya di area kantor, maupun keluar.
Aku menyalin catatannya ke dalam jadwal pribadiku. Untuk mempermudah menyusun jadwal kegiatan harianku. Karena aku harus menyusun jadwalku agar tidak bentrok dengan kegiatanku yang lain.
Meski aku suka mengikuti kegiatan baik seni maupun reuni, berkumpul dengan serior, saling share pengalaman dan masukan, tetapi aku tidak ingin semua itu jadi penghambat dalam urusan kantor. Aku harus bijak membagi waktu, karena ini lah duniaku.
Kepalaku mulai berat,, sekali sekali aku mengurut pangkal hidung, aku mulai merasakan mual.
Aku keluar dari ruangan, mencari letak toilet perempuan.
Ternyata kak Teguh memperhatikan sedari tadi. Merasa ada yang tidak beres beliau menghampiriku. Dan dalam waktu yang sama Eva juga hadir,.
....
Aku duduk di kantin bersama Eva dan kak Teguh.
"Gimana? Udah merasa baikan?" Kak Teguh terlihat khawatir.
"Udah ga apa apa kak." Jawabku.
Siang ini aku memesan mie sagu kuah kacang dengan rasa pedas di campur sedikit sayur kangkung dan potongan timun dengan irisan cabe rawit yang menghijau di atasnya. Tak lupa di dampingi jus jagung.
Biasanya aku memesan sama kak Ijha yang tinggal gak jauh dari rumahku. Beliau menggunakan sistem Delivery, yang mana aku hanya perlu menunggu di rumah.
Hanya saja, beliau menggunakan sayur pakis dan kuahnya lebih pedas, makan selagi hangat memang nikmat. hmmm,,, yummy.... 😙
Kak Teguh memesan menu yang sama denganku, hanya saja cara makan nya sedikit berbeda. Kak Teguh menuangkan kecap manis dan tanpa toping irisan cabe rawit di atasnya.
Eva paling berbeda, beliau memesan mie ayam ekstra kecap manis dan es jeruk. Eva memang tidak bisa memakan makanan pedas.
"Kok bisa ngambil jalan seperti itu?" Tanya kak Teguh tiba tiba.
"Maksudnya gimana?" Aku melihat kak Teguh yang melihat ke arahku dan Eva bergantian.
Eva juga melakukan hal yang sama.
"Yaaaaa,, kehadiranku ga di inginkan,,hiks hiks huaaa😠nyam nyam,, huaaa😠nyam nyam,, huaaaðŸ˜ðŸ˜ " Ucap Eva sambil melahap makanannya.
"Tapi gimana lagi, aku lagi makan." Sambung Eva.
Aku dan kak Teguh menatap ke arah Eva, menekankan sesuatu yang sudah ku pahami. bahwasanya kak Teguh ingin membicarakan sesuatu padaku empat telinga. Tapi kehadiran Eva malah membuatnya harus di bungkam.
__ADS_1
Tapi bagaimanapun aku tak tega mengusirn Eva yang masih asik memberi makan peliharaan yang ada di dalam perutnya.
Dan tak tega juga harus meninggalkan nya sendiri di sini.
"Oke,,oke,, Yevn, mana earphone mu, sini aku disco sambil makan, jadi kalian bisa ngobrol sesuka kalian tanpa ku dengar." Eva memgusulkan ide yang masuk akal.
"Oh, iya, ini."
Aku menyerahkan earphone yang langsung di pakai Eva dengan anteng dan terlihat ikhlas dengan penderitaannya siang ini.
....
"Jadi, kenapa kamu bisa ovdos?" Kak Teguh mulai ke inti.
Aku masih berfikir, bagaimana bisa dia tahu masalah ini. Bukankah teman teman kantor di kabari kalo aku anemia.
"Jangan tanya, bagaimana aku bisa tahu hal ini." Ucapnya lagi, seolah baru saja menerawang dan membaca pikiranku.
"Hmm,, aku kalut kak, aku khilaf,,,,"
"Apa karena pertunanganmu dengan pak Kavin?"
Aku terbelalak dengan ucapan kak Teguh, aku tak boleh meremehkan kehadirannya. Kak Teguh terus mneyerangku dengan pertanyaan pertanyaan yang mengundang seribu tanya bagiku.
"Apa yang lain juga tahu, dengan siapa aku bertunangan?" Tanyaku.
Kak Teguh hanya tertawa mendengar pertanyaan yang ku lontarkan.
"Setahuku tidak, karena kak Desi masih bertanya tanya siapa laki laki yang menjadi pilihanmu. Hmm,,, jadi dia benar benar telah mencuri hatimu?"
"Entahlah kak,, aku hanya mengikut arus saja,," Jawabku malas.
Eva masih asik mendengarkan music menurutku, dan masih menikmati makanannya yang masih tersisa setengah.
"Bagaimana jika aku mencintaimu, apa kamu akan melakukan hal yang sama? Berusaha bunuh diri?"
Tangan Eva sontak berhenti tepat setelah kak Teguh menyelesaikan kalimatnya. Aku melihat raut wajah Eva yang meraih gelas miliknya.
Ku alihkan pandanganku ke arah laki laki yang ku anggap kakak ini.
"Hahaha,, kakak hanya bercanda, jangan kau pikirkan."
"Ah,, kakak membuatku takut. Hehe." Aku tertawa kaku,,
__ADS_1
"Teguh ingin melamarmu."
Ucapan kak Jerry kembali terngiang. Aku meraih minumanku berusaha menyingkir kan rasa gugupku.
"Dengar, Yevn,, tapi sungguh, aku memang menyukaimu, bahkan berniat ingin melamarmu. Tapi aku terlambat, aku terlalu takut untuk menyampaikan niatku, aku terlalu banyak berfikir. Aku mengenalmu dan keluargamu dengan baik, terutama Vhen. Aku juga tahu bagaimana kau menilaiku, memandangku dan menganggapku. Aku rekan kerjamu, lebih istimewanya aku kau anggap kakak bagimu. Itu yang membeda kan ku dengan yang lainnya. Dulu awalnya aku juga menganggapmu rekan, junior yang teristimewa dengan segala bakatmu. Tapi tiap bersamamu perasaanku semakin senang, ada rasa bangga bisa di sampingmu. Aku terus berusaha memahami perasaanku, meyakinkan diriku sendiri, apa sebenarnya yang aku inginkan. Hingga aku sadar, bahwa aku telah jatuh hati padamu, aku melihatmu lebih dari seorang adik atau rekan."
Jantungku berdetak dengan laju, memompa dengan kecepatan max. Aku tak sanggup menahan saliva.
Ucapannya menohok dan menusuk ku berkali kali. Rasanya sakit, setiap kata yang di ucapkannya seakan mengulitiku.
"Aku pernah menyampaikan niatku pada Jerry, tak ada yamg tahu pertunanganmu, hingga aku benar benar kaget saat kak Desi mengumumkan statusmu saat di ruanganmu. Aku yakin tak ada yang menyangka sebelumnya. Bahkan sampai sekarang aku masih tak menyangka. Hingga ku tahu kamu melakukan percobaan konyol itu, aku sadar bahwa kamu memang sudah milik orang lain. Hahaha,, kenapa bisa aku baru sadar ketika kamu telah melakukan percobaan bunuh diri? karena itulah kamu, kamu tidak siap dengan perubahan pada dirimu, kamu masih bergantung pada almarhum. Aku tahu itu tidak mudah."
Aku lupa dengan sekitarku, aku mengabaikan semuanya, setiap ucapan kak Teguh tak ingin aku lewatkan. Aku terus mendengarkan kak Teguh yang terus berucap. Sepertinya beliau sudah mengumpulkan dengan susah payah keberaniannya. Aku mengerti itu, seperti dulu kak Arfan yang menyatakan perasaannya padaku.
Jantungku terus berdetak dengan cepat,, sangat cepat, keringat terus membasahi telapak tanganku. Lidahku kelu tak bisa berucap, fikiranku buntu di hadang tembok besar yang menutup semua jalanku. Otakku mengarahkanku untuk tetap jadi pendengar.
"Aku sudah selesai makan... Apa kalian sudah selesai rapat? Kepala ku gosong, otakku sudah meleleh karena dentuman musik yang memekakkan telingaku yang sudah lembek ini.... Aku sud,,,,,"
Kak Teguh menahan tangan Eva agar tak melepaskan earphone yang di kenakannya sedari tadi.
Eva tercegat mematung,, sementara kak Teguh melihat ke arahku yang kaget dengan tindakannya yang cepat menahan Eva.
"Aku, sungguh mencintaimu." Ucap kak Teguh menatap lekat ke arahku.
Kemudian kak Teguh meminta Eva tetap diam agar tak membuka alat yang menutup lubang telinga nya. Kak Teguh menyogok Eva dengan semangkok Ice cream. Jelas raut wajah Eva kembali berseri seri seakan melupakan penderitaannya.
"Aku tidak ingin tahu bagaimana perasaanmu terhadap pak Kavin. Aku hanya mengutarakan semua yang sudah lama ingin di sampaikan sejak lama. Meski sekarang rasanya sudah terlambat, tapi mencintai tanpa meminta imbalan itu lah sebenar benarnya cinta kan? Seperti yang telah kamu lakukan selama ini, mencintai laki laki yang bernama Arfan meski kamu tahu dia telah tiada. Entah siapa yang lebih beruntung atau merugi di antara aku dan kamu. Jika kamu mencintai laki laki yang tidak bisa kamu gapai dan kamu lihat lagi, sementara aku mencintai dan hanya bisa melihat wanita yang melabuhkan hidup bersama laki laki yang telah di pilihnya."
Aku semakin sesak dengan kata kata yang di tusukkan kak Teguh padaku. Tiap katanya mampu melumpuhkanku.
......
"Aku selesai,, alhamdulillah,, nikmat dan kenyang,, apa kalian sudah selesai?" Eva kembali bersuara.
Hingga kak Teguh mengangkat jempolnya ke arah Eva, menandakan bahwa Eva sudah boleh melepas kan earphonenya.
Aku masih melihat ke arah kak Teguh yang menyibukkan dirinya dengan merespon ocehan Eva. Aku tahu itu merupakan pengalihannya dari situasi tegang yang terjadi di antara kami.
.
Bersambung,,,,,,
Author mulai merencanakan pesta (Event yang akan di adakan. Edisi terbatas)
__ADS_1