Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Noveltoon1


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, minggu bergulir dan bulan demi bulan berganti.


Kesehatanku kembali menurun, keluarga kembali di buat gusar oleh ku.


Tubuhku kembali menerima obat obat yang membuatku srperti di siksa.


Hal yang sama terulang lagi.


Disini, saat ini aku sudah sangat menyerah.


Aku pasrah dengan takdir yang telah di gariskan Tuhan untukku.


Tapi mereka mengatakan bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk meraih sembuh.


Karena pertumbuhan 'ianya' belum jelas ketara.


Aku bahkan sudah tidak sanggup menjalani pemeriksaan. Tubuhku sudah membuat batas tetap untuk beraktivitas.


Tapi, melihat wajah mama, dan semua keluargaku, aku coba membangun semangat.


Aku melihat senyum ayah yang memberiku semangat. Ayah, aku rindu,,, aku sangat rindu ayah.


****


Burung burung berkicau, matahari mulai menampakkan sinarnya, menyentuh dan memainkan kelopak mataku.


Membuat aku mengerjap silau karena nya.


Aku membuka mata, dan pantas saja. Terlihat gorden kamar ku sudah terbuka, di nakas sudah di sediakan sarapan dan biji biji yang membuatku eneg, yah,, obat.


Aku kembali tinggal di rumah orang tuaku. Eva ku biarkan tinggal di rumahku dan ku izinkan membawa teman temannya untuk beberapa waktu.


Aku off dari pekerjaan ku dengan menyerahkan surat keterangan dari rumah sakit.


Bersyukur dari pihak kantor tidak mempermasalahkan bahkan mendukung ku untuk tetap semangat.


Aku mulai bosan tinggal di rumah, menjalankan pemeriksaan, melakukan pengobatan, di rumah lagi.


Iseng membuka ponsel, aku menemukan tempat yang menurutkan asik untuk mengalihkan kebosanan ini.


Aku menemukan satu aplikasi membaca, Noveltoon.


Aku mulai membaca dengan perlahan, kemudian menikmatinya. Meski aku tak bisa terus membaca dengan waktu yang lama.


Aku masih harus tetap fokus atas kesehatan ku. Karena sakit yang teramat sangat sering menghampiriku.


Tak peduli kapan pun itu.


Aku mulai asyik dan nyaman dengan aplikasi ini, tak terasa waktu berlalu begitu cepat.


Suatu hari, aku membuka salah satu akun media sosialku. Ada beberapa teman, kerabat, kenalan baik guru maupun yang bekerja di kantor di mutasi silang, dan naik jabatan.


Aku mengirim ucapan selamat secara pribadi ke pada semua yang ku lihat pada hari itu.


Karena jarang membuka akun media sosial, di tambah sakit yang menyerang tiba tiba saat itu, aku tidak lagi membuka akun ku.


Apalagi aku selalu mengambil kesempatan untuk membuka Noveltoon.


Aku menutup semua panggilan yang menurutku tidak penting.


Aku mengabaikan mereka yang menghubungi ku untuk bertanya kabar, memberi semangat, dan,,,,


Iya, beberapa kali aku menerima telfon asing.


Menurut ku paling mereka hanya memintaku untuk mengisi suatu acara.


Atau mungkin perkumpulan teman teman music.


Aku mengabaikan panggilan itu. Siapapun mereka.


****


Rindu itu semakin tumbuh dan terus tumbuh.


Hati dan pikiran masih di penuhi dengan dia yang telah pergi buat selamanya.


Kasih yang hanya bisa ku ingat,


selalu,


Ombak membawa rinduku padanya,


Pada dia yang tak kan bisa lagi bersua,,


'Aku rindu'


Hanya itu yang selalu bergema di hati ini,

__ADS_1


Aku rindu kak,,,,


****


Waktu terus bergulir, purnama terus berganti.


Aku masih bertahan sampai saat ini, Indra pengecapku sudah mati rasa karena sudah terbiasanya aku nerima pahitnya obat.


Aku bekerja seperti biasa, aku telah menyelesaikan kuliah. Aku fokus meniti karir.


Pengobatan ku sampai saat ini berjalan lancar.


Dan aku masih rutin melakukan pemeriksaan.


Malam itu di rumah mama, kami sedang duduk menonton di ruang keluarga.


Aku duduk di samping mama, tiba tiba ponsel berdering tanda ada yang menelfon.


'Bukan urusan kantor' gumamku. Karena nada telfon nya berbeda. Aku sudah set panggilan dari kantor.


Jadi aku mengabaikan panggilan yang masuk. Mama yang duduk di sampingku tak kuasa lagi menanyakan padaku. Karena sudah mengerti bagaimana anaknya ini. πŸ˜…


Bang Vhen yang tidak tahan langsung mengambil ponsel ku.


Sambil melihat ke arah ku dan berkata dengan bahasa wajah 'abang aja yang angkat kalo kamu ga mau.'


Aku menggelengkan kepala pada abang tanda melarang nya menerima panggilan tersebut.


Dan, terlambat.


"Hallo,"


"...."


"Iya, Yevn sedang di kamar mandi."


Aku yang mendengar ucapan bang Vhen, langsung melempar bantal ke arahnya.


Bagaimana mungkin dia mempermalukanku pada orang lain.


"Wa'alaikumsalam."


"Siapa Vhen?" Tanya mama yang ternyata sudah pengen tau dari awal.


Aku ikut menunggu jawaban dari bang Vhen.


Aku tertawa lepas mendengar ucapan bang Vhen.


"Tapi laki laki dek." Ucap nya lagi.


Mama dan Vhen saling melihat ke arah ku.


Aku memutar mataku dan kembali menonton.


****


Malam ini aku mengisi acara di luar pekerjaan kantor.


Aku memandu acara di sebuah acara resmi di kecamatan X.


Camat baru di kecamatan ini, dan aku mengenalnya.


Pak Mulyadi yang mana sebelumnya beliau pernah menjabat sebagai sekretaris kecamatan di sini.


Kemudian beliau di pindahkan di kecamatan Y sebagai Camat.


Dan sekrang beliau kembali di pindahkan di kecamatam X sebagai camat.


Struktur kecamatan banyak yang berubah sejak mutasi besar besaran.


Mulai dari naik jabatan atau pemindahan tempat bertugas.


deg,,,


Aku melihat sosok 'dia' sesekali memalingkan muka ke arahku, dan tersenyum.


Saat itu dia salah satu pendamping camat ke atas panggung beserta ketua DPRD, Manager pertamina, Kapolsek, Danramil, edece lah.


Salah satu nya 'dia'.


Siapa dia? kenapa dia ikut naik ke atas panggung?


Kenapa dia selalu memperhatikanku?


Kenapa dia selalu ada saat aku di acara acara seperti ini?


Aku di buat bertanya oleh si 'dia' ini. Dan seperti biasa aku mengabaikan pertanyaan pertanyaan di kepala ini saat aku butuh kepala ini buat memikirkan rangkaian kata susunan acara dan lain.

__ADS_1


Selesai acara pak Mulyadi dan panitia, tentu saja pak Amrisal πŸ˜… mengajak ku untuk ikut makan makan merayakan kesukseaan acara malam ini.


Karena ada pak Amrisal yang ikut, maka aku mengiyakan.


Saat makan dan mengobrol aku duduk di samping pak Am dan pak Mulyadi.


Di ikuti rombongan lain yang sibuk memesan makanan.


Dan lagi lagi aku di buat kaget. (bentar bentar, kita masukin kata 'deg' nyaπŸ˜…πŸ˜‚)


Deg,,,,


Si 'dia' duduk tak jauh di depanku.


Aku kembali di buat bertanya tanya.


'Siapa dia? Apa dia salah satu panitia atau pegawai kantor?'


Dia menanggapi rekan rekan yang lain dengan sangat berwibawa dan,,,,, dia beku.


Saat semua nya sibuk berkicau, pak Am membisikkan sesuatu padaku, seolah mengerti isi kepalaku.


"Ingat laki laki yang pernah bapak bilang ke kamu, nitip salam dan tertarik sama kamu? Itu dia."


uhukk hukk,, beberapa mata melihat ke arahku, termasuk dia.


Mereka kembali berkicau. πŸ˜…πŸ˜‚untunglah.


Setelah selesai acara perkicauan malam ini, πŸ˜‚πŸ˜…πŸ˜… kami pulang.


Pak Amrisal ternyata bareng temannya. Sementara aku harus menelfon bang Vhen minta di jemput.


Pak Amrisal berencana menunggu ku di jemput baru akan pulang.


Si 'dia' menghampiri kami buat menyapa. Pak Am menyampaikan kondisi kami saat ini.


Dan akhirnya, aku dan pak Am di antar sama dia, laki laki yang aku tak tau namnya.


Di dalam mobil, aku hanya duduk di belakang dan bang Vhen menelfonku,.


"...."


"Udah di jalan bang."


....


"Di antar sama pak Am dan,,, temannya." Ucap ku ragu ragu.


"....."


****


Setelah berganti pakaian dan membersihkan diri,, aku masuk ke dalam selimut.


Eva pasti sudah sampai di langit ke tujuh merajut mimpi.


Bang Vhen juga, karena malam ini bang Vhen menginap di rumahku.


Abang lebih banyak tinggal bersama ku sekarang, mama yang meminta. Mungkin tanpa di minta sama mama, bang Vhen pasti akan tetap tinggal bersamaku, karena khawatir.


Sementara mama tidak bisa, karena harus merawat nenek.


Aku sendiri juga tidak bisa tinggal di rumah mama, karena jauh dengan tempat kerja.


Aku mengambil ponsel ku di atas nakas dan ku lihat ada pesan dari,,, tidak di kenali.


Isinya,,,,


"Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Bu Yevn."


Dan, aku mengabaikan nya, karena aku ingin membaca novel di aplikasi Noveltoon.


***


.


.


.


.


.


.


Bersambung,,,,

__ADS_1


Sebuah Kenyataan


__ADS_2