Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Kak Teguh,,


__ADS_3

Aku mengenakan kurung melayu modern dengan riasan natural. Bang Vhen mengenakan kurung melayu dengan warna sama yang ku kenakan.


Beberapa pengisi acara sibuk dengan urusan masing masing.


Kak Aisyah duduk di dekatku sambil sesekali membetulkan kerudung yang telah ku kenakan.


Aku sangat beruntung memiliki kakak ipar seperti kak Aisyah sebagai pasangan bang Vhen.


Hingga aku tak benar benar kehilangan bang Vhen. Justru kak Aisyah memberikan perhatian dan sayang nya tak kalah dari bang Vhen.


.


.


.


Hingga mataku menangkap kehadirannya. Jantungku terpompa dengan cepat. Perasaan apa ini?


Takut? Bersalah? Atau....


, Apa ini?


Seketika, perempuan itu menatap ke arahku,,


Tatapan yang menyorotkan kebencian dan amarah.


Tapi kenapa?


Perempuan itu merupakan salah satu karyawan kecamatan X, Roziana.


Apa ini ada hubungan nya dengan manusia kutub? Bisa jadi.


Terlintas di pikiranku untuk membakar hati nya yang sudah memanas. Mengingat apa yang telah di lakukannya padaku di masa lalu. Tapi bagaimana? Apa aku bisa melakukannya?


Aku tak akan bisa melakukannya, meskipun ingin.


Saat aku menuruni tangga panggung begitu usai penampilan solo dengan biolaku, aku sedikit kesulitan karena tangga yang sedikit curam dan aku mengenakan high heels.


Sadar dengan kesulitanku, sebuah tangan terulur memberikan bantuan.


Aku menengadah melihat siapa gerangan yang mengulurkan tangan.


Ku lihat laki laki dengan seragam melayu berwarna toska dengan songket yang sepadan serta kopiah hitam yang ia kenakan.


Aku langsung menyambut uluran tangannya begitu aku tahu bahwa aku mengenalnya.


Kak Teguh langsung tersenyum begitu aku menginjak tanah yang datar.


"Kenapa turun dari tangga sini, bukan yang di sebelah sana?" Tanya beliau.


Memang tangga yang di sebelah tidak securam tangga ini. Ketika naik ke panggung aku melewati tangga yang di sebelah.


"Aku kira sama aja, makanya aku lewat di sini, hehe." Jawabku malu malu.


Kak Teguh tersenyum begitu mendengarkan jawabanku, sangat manis.


Di tambah malam ini penampilannya sangat elegan dan terlihat sangat berwibawa dengan sudut pipi kiri dan kanan hingga ke dagu yang mulai di tumbuhi rambut tipis.


Tiba tiba alat komunikasi (walkie talkie/handy talkie) miliknya bersuara dan beliau juga merespon.


Aku langsung berbalik badan untuk kembali ke tempat dudukku di dekat bang Vhen. Baru akan melangkah, tanganku di sambar dari belakang.


Sebuah tangan yang menyambar tanganku dengan cepat. Aku langsung menoleh ke arah kak Teguh.

__ADS_1


Iya, itu memang tangannya, beliau terlihat masih sedang memberi laporan pada rekan yang lain lewat alat komunikasinya, dan sebelah tangannya yang sedang memegang tanganku.


Begitu usai memberi laporan, dia melihat ke arahku, seketika tangannya terlepas berhenti menarik tanganku.


"Iya? Kenapa kak?" Tanyaku.


"Hm,, ah ga apa apa, cuma ngingatin, jangan salah tangga lagi." Ucap beliau.


Aku tak bisa melihat raut wajahnya dengan jelas, karena sorot lampu dari panggung di matikan, hanya cahaya yang samar dari penerangan atas panggung yang menimpa kami.


Aku mengangguk mengiyakan dan kembali membalikkan tubuhku ingin beranjak dari sana.


"Hmm, Yevn?!"


Aku kembali menoleh ke arahnya. Aku sedikit merasa asing dengannya.


"Iya. kak."


"Penampilanmu luar biasa." Kak Teguh memuji penampilan bermusicku malam ini.


"Ok, hati hati." Imbuhnya lagi, mempersilakan aku kembali ke tempat ku.


"Hahaha, iya, makasih ya. Aku balik ketempat dulu." Ucapku dan langsung meninggalkan beliau.


Aku duduk di samping bang Vhen, hingga seorang panitia menghampiri kami dan mengatakan bahwa Disparbudpora meminta untuk pindah ke meja yang di tunjuk. Dimana di sana sudah ada beberapa pejabat sedang melihat ke arah kami dengan senyum ramah.


"Ah mulai, hahaha." Ucap bang Vhen sambil tertawa pelan.


"Yuk," Ucap bang Vhen mengajakku.


"Abang kenal?" Tanyaku ragu.


"Lebih dari kenal, liat aja nanti." Ucap bang Vhen masih tersenyum ,,,, dan sedikit tertawa.


Aku tak melanjutkan bertanya pada bang Vhen, karena disana mereka telah menunggu, di tambah panitia yang memanggil tadi masih berdiri di dekat kami.


Bang Vhen juga menjaga langkahnya mengimbangiku, tak mau aku tertinggal jauh karena langkahnya yang lebar.


Mereka,, maksudku bang Vhen dan Disparbudpora dan rekan pejabat yang lain menyambut dengan hangat. Sepertinya ini bukan pertemuan bang Vhen yang pertama dengan mereka.


Mereka lebih terlihat seperti sahabat yang sudah lama tak berjumpa. Bang Vhen juga memperkenalkanku pada mereka.


Aku memang sudah mengenal mereka yang di hadapanku ini. Tapi hanya tahu sedikit. Jadi aku memilih tidak banyak bicara, dan hanya memilih diam mendengarkan.


Dan benar dugaanku, mereka teman nya bang Vhen.


.


.


.


.


***


Hari ini aku bekerja non stop. Mengerjakan beberapa pekerjaan kantor, pulang nya aku membersihkan halaman memangkas tanaman yang terlihat sudah rusak.


Tukang kebun di rumahku mungkin masih kaku dan masih segan untuk mengambil langkah lebih melakukan pekerjaannya. Bang Adi dan kak Fatimah, mereka sepasang suami istri yang bekerja di rumahku menggantikan tukang kebun yang lama, yang berhenti karena harus pulang kampung halamannya,


Padahal sudah ku katakan bahwa tanaman yang rusak dan beberapa yang lain di buang saja, untuk di ganti dengan yang baru.


Sebenarnya aku tak ingin merekrut tukang kebun lagi, tapi karena bang Vhen dan kak Aisyah bersikeras, terlebih sejak cuaca panas, dedaunan kering dari beberapa pohon besar di sekeliling rumah dan berserakan dengan tak karuan.

__ADS_1


"Sekalian membuka lapangan pekerjaan buat mereka yang tak pernah mengenyam meja sekolah. Membantu menambah biaya sekolah anak anak mereka."


Begitu yang di ucapkan bang Vhen.


Kepala ku terasa berat karena belum istirahat sejak pagi, lagi pula tadi malam aku kurang tidur, karena menulis dan mataku tak bisa di pejamkan.


Usai sholat maghrib berjamaah bersama kak Aisyah dan Eva yang di imami bang Vhen. Kami duduk di hamparan sajadah, bang Vhen bersandar di dinding tak jauh dari tempat sajadahnya.


"Kak, lapar ga?" Tanya Eva pada kak Aisyah.


"Gak sih, tapi kalo ada makanan, mau juga makan." Jawab kak Aisyah di sambut tawa bang Vhen.


"Ini ya, berdua,, kalo dekat ngomongin makan mulu." Kataku.


"Lu yang aneh Yevn, makan malam itu, ya malam, maka di sebut 'makan malam'. Kalo jam 4 itu, namanya makan sore." Eva mulai mengoceh.


"Ya dah, pesan makan, apa makan di luar?" Bang Vhen menengahi di sambut tatapan berbinar dari kak Aisyah dan Eva.


"Ayang yang pergi beli. Ntar makan nya di rumah aja, bisa lebih santai." Ucap kak Aisyah.


"Ayaaaaaanggg.... bukan tak ayang.." Eva menggoda.


Aku hanya bisa tertawa mendengar ledekan dari Eva.


Tiba tiba teringat dengan Mak Meghan yang selalu meledekku dengan 'pemain tunggal' alias jombo.


Usai sholat isya' bang Vhen pergi keluar membeli makanan.


Sepulang nya bang Vhen dari luar membeli makanan, terdengar beliau bercakap cakap di luar rumah dengan seseorang.


Begitu masuk kami di buat kaget, terlebih aku yang sedang berbaring di sofa ruang tamu sambil memainkan ponsel ku dengan kondisi setengah sadar karena menahan kantuk.


"Oiy, bu Singa, manusia es mu datang." bisik Eva pelan membuat mataku terbuka lebar.


.


.


.


Kami menikmati makan malam di ruang keluarga, biar lebih santai.


Sebenarnya mereka sengaja memindahkan semua alat makan ke ruang keluarga karena aku tak ingin makan malam.


Mereka mengira karena aku malas berpindah dari tempatku sekarang. Padahal aku benar benar sudah kenyang dan perutku sudah menolak buat di isi lagi.


"Jadi, kapan aku bisa membawa keluargaku bertemu wali nya Yevn?" Tanya beliau pada bang Vhen, yang jelas membuat aku tercekat.


'Jadi bang Vhen beneran kasi tau ke dia prihal kemarin? Tentang lamaran.'


"Gimana Yevn? Bagusnya kapan?" Tanya bang Vhen menoleh ke arahku.


Aku jadi gugu dan bengong seperti orang bodoh.


"Hah?? Oh."


Aku menjatuhkan kepalaku di pundak kak Aisyah, berpura pura tidur.


Sontak mereka tertawa, terlebih Eva mati matian menertawaiku.


Sial, apa yang aku lakukan. Dasar Yevn bodoh, bisa bisanya bertingkah begini. Matilah akuuu,,,,,,,,


Aku tidak siap,,,,,

__ADS_1


Bersambung,,,,


.


__ADS_2