
Aku selesai dengan pertunjukan pertamaku menggesek biola kebanggaanku.
Dengan biola dan piano aku hidup melangkahkan kaki tanpa mereka yang ku cintai.
Ayah dan kak Arfan, sosok orang tua dan calon suami yang merupakan guru musicku.
Kini hanya bisa menyapa dalam munajat doaku dan menziarahi makam mereka. Melepas rindu yang tak tersentuh sedikitpun bahkan tak ada ujungnya.
Ku buka ponsel di saat sudah duduk di pojokan yang redup pencahayaan.
"Aku ngehindari dia mak." Ucap ku pada mak Megha.
"Kenapa? Masih lanjut pendekatan nya kan?"
"Aku jadi malas sejak kemarin." Jawabku.
"Kemarin kenapa? Emang nya kemarin kenapa?" Tanya mak Megha mendesak.
Aku menceritakan prihal yang terjadi saat datang ke kantor kecamatan X untuk menagadakan rapat.
Dimana saat aku bertemu dengan calon pasangan hidup pak kutub.
"Cuma candaannya aja kali Yevn." Ucap mak Megha begitu menyimak ceritaku.
"Entahlah mak, beberapa hari ini aku abaikan dia, masa bodo aja lah." Balasku kesal tak tau entah bagaimana hancurnya pikiranku saat ini.
MM: "Trus perasaanmu sekarang gimana?"
Aku: "Gak tau mak."
MM: "Ih, kok ga tau, pahami dulu perasaanmu Yevn. Rada kecewa? Kesel? Marah? Males ketemu dia? Tapi pengen ngomong?" Mak megh menyerang dengan pertanyaan pertanyaan yang membuatku ikut bertanya tanya sendiri.
Aku: "Kesel? Iya, marah? Pengen, malas ketemu dia? Banget,." Balasku.
MM: "Kecewa gak? Ada rasa sesek ga di dada? Masih mikirin percakapan yang itu?" (🤔🙄)
Aku: "Kepikiran juga sih, tapi gak seberapa. Entahlah, yang jelas hingga sekarang aku abaikan semua chat dan panggilan nya mak."
MM: "Pengen nangis ga? Kecewa? Keselnya iya ya." Mak Megha masih asik bertanya seakan belum nemu titik tuju pertanyaannya. 😅😂
Pertanyaan macam apa itu. Tapi pertanyaan pertanyaan nya berhasil membuatku ikut bertanya tanya sendiri.
MM: "Sepertinya ada yang butuh penjelasan, wkwk." Mak Megha meledekku.
MM: "Pasti di dalam hati kamu, pengen minta penjelasan sama Mr.Kutub kan?"
Aku: "Gak tau mak, dadaku sesek." Jawabku terus terang.
Mak Megha tertawa mendengar jawabanku.
"Sepertinya aku ga butuh penjelasannya lagi, semuanya udah jelas." Jawabku.
MM: "Itukan kamu baru tau dari satu pihak, kamu belum tau dari pihak yang satu nya loh."
Aku: "mungkin dia sudah sampai pada titik jenuhnya dalam menanti. Biarlah dia menemukan yang terbaik buat dia." Ujarku.
__ADS_1
MM: "Jangan menyimpulkan seperti itu, Yevn. Jangan di pendam, coba cari tau dulu kebenarannya."
Aku ragu ragu akan hal ini. Menurutku biarlah, kenapa aku mempermasalahkannya. Bukankah hal ini baik buatku.
Aku naik ke atas panggung begitu namaku di panggil oleh mc.
Penampilanku yang kedua, masih memilih biola untuk menemaniku di atas panggung berusaha menampilkan yang terbaik.
Saat sedang memainkan biola, sesekali ku arahkan pandanganku ke hadirin.
Deg,,,
Dia melihat ke arahku dengan pandangan yang bingung, dan mengurut kening nya. Tatapan nya tak bisa ku artikan.
Aku fokus dengan permainan biolaku dan memilih untuk mengabaikan apapun yang berhubungan dengan nya.
Selesai acara, kulihat dia mondar mandir seperti mencari seseorang.
Aku memilih untuk segera pergi dari lokasi acara. Aku melajukan mobil hingga berhenti di salah satu warung nasi goreng.
Aku bertemu pak Am dan beliau menanyakan kabar hubungan pendekatan ku dengan manusia kutub.
Aku menceritakan semuanya pada pak Am. Termasuk tentang Roziana yang dulunya merupakan salah satu siswanya.
Pak Amrisal menarik nafas dalam dalam.
"Nanti bapak selidiki." Ucap pak Amrisal.
"Ga usah pak, ga perlu. Begini lebih baik." Ucap ku tersenyum pada beliau.
Sesampainya di rumah aku lanjut bersih bersih dan mandi. Mengerjakan beberapa pekerjaan kantor lalu tidur menjemput mimpi.
****
Bukan mengadakan sebuah perayaan akhir tahun atau menyambut tahun baru. Hanya sebuah perkumpulan yang waktunya kebetulan saat semua libur kerja dan tepat di akhir tahun.
Lokasi nya sengaja memilih di rumahku. karena halaman yang luas dan jauh dari rumah tetangga dan jalan raya.
Meski sedikit berantakan karena memang sedang ada sedikit pekerjaan bangunan.
Aku masuk ke kamar mengurung diri saat melihat mobil manusia kutub memasuki halaman rumah.
Entah apa yang membuatku tak kuasa untuk menemuinya.
Tumben bang Vhen tak mengetuk pintu kamarku atau memanggilku.
"Assalamu'alaikum, mah." Sapaku saat menerima telfon mama.
"...."
"Apa Yevn, kenapa nak? Dengerin dulu penjelasan Kavin. Kasi dia kesempatan buat jelasin semuanya." Ucap mamaku di seberang telfon.
"Hmm." Aku tak tau berkata apa sama mama.
Kabar berita nya sudah sampai ke mama.
__ADS_1
Bang Vhen mengetuk pintu kamarku setelah dua jam aku mengurung diri di kamar.
Aku membukanya karena tau manusia kutub itu sudah pergi.
Aku menunduk tak berani melihat wajah bang Vhen, aku tau dia akan marah karena tindakan dan sikapku pagi ini.
Bang Vhen menghela nafas dengan berat, meraih pucuk kepalaku menarik kedalam pelukannya.
Begitu tenang, abang menyampaikan maksud manusia kutub itu kemari. Betapa kesal dan marahnya pak Kavin begitu tau kenyataannya.
"Temanmu hanya bercanda kali dek,"
"Tidak bang, gak mungkin dia bercanda." Tuturku memotong ucapan bang Vhen.
"Abang laki laki, Kavin laki laki, dia bukan anak anak atau bocah dek untuk menyikapi hal berhubungan dengan hati, perasaan. Dia punya niat untuk mendirikan masjid." Jawab bang Vhen.
....
****
Ayam sedang ku ungkep dengan bumbunya. (Bukan ayam Nathan ya😅😂😂🙈). Beberapa makanan lainnya sedang di persiapkan. Kak Aisyah juga ikut mengerjakan prkerjaan dapur, serta Eva yang tak begitu tau urusan dapur menyiapkan alat makan dan lain lain. 😂🙈
Beberapa teman ada yang mengabari bahwa mereka sedang di jalan, sudah sampai di penginapan dan memilih istirahat setelah menempuh perjalanan panjang.
Beberapa teman lain juga ada yang sudah sampai dan membantu merapikan halaman tempat pertunjukan dan berkumpul.
Malam tiba, aku menarik bang Vhen dan berbisik.
"Ngapain dia di sini?" Tanya ku pada abang begitu melihat Es balok.
"Lah, dia kan teman abang." Ucap abang dan membuatku tak bisa lagi berkata kata atau membantahnya.
Semua orang asik berbagi pengalaman mereka, tentang pekerjaan, kuliah, tawaran bermusic dan sebagainya.
Pak Kavin tiba tiba duduk di sampingku.
"Kenapa menghindar lagi?" Tanyanya.
Aku tak menjawab memilih diam seakan buta telinga 😱😅😂
"Itu semua bohong Yevn. Hanya cerita dia, omong kosong dan ga benar." Ucapnya.
"Benar juga ga apa apa." Jawabku tanpa menoleh.
"Astaghfirullah.," Beliau menekan pangkal hidung nya.
"Oke, jadi mau nya bagaimana?" Sambung beliau.
"Bapak, hati aku sampai sekarang masih ga bisa menerima kehadiran orang lain. Aku dah coba, kita berhenti disini. Belum terlambat karena ini baru pendekatan." Ujarku.
"Baiklah." Jawab nya singkat.
"..........,
.
__ADS_1
.
Bersambung