
Aku keluar dari ruangan kerjaku begitu selesai absen di kantor. Aku sudah memeriksa jadwal untuk hari ini dan jadwal sementara beberapa hari kedepan.
Aku melajukan mobil pulang ke rumah berganti pakaian.
Manusia kutub sudah menghubungiku untuk ikut pulang ke rumah orang tuaku.
Aku pilih mengenakan celana panjang, baju kaos panjang di tutupi hoodie muslimah di luarnya dengan jilbab senada.
Mobil manusia kutub sudah terparkir di luar.
Aku menenteng bukuku masuk ke dalam mobilnya.
"Ga ada yang ketinggalan?" Tanya beliau.
"Ga." Jawabku.
Pak Es pun menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan aku lebih memilih buat baca buku. Dia juga lebih memilih diam, dan hanya sekali sekali bertanya padaku.
Sampai di rumah mama, udang udang segar sudah menanti.
Beberapa ekor udang masih menunjukkan tanda tanda kehidupan. 😅
Dan,, jujur aku tidak berani menyentuhnya,,,, lebih tepatnya takut.
Manusia kutub hanya tersenyum meledekku, dan jelas itu membuatku kesal.
Bang Vhen sudah siap membuat api di bantu dengan pak Kavin. Abangku memang pecinta seafood. Dua jenis udang dengan jumlah yang tidak sedikit siap untuk di luncurkan ke perutnya.
Aku sendiri memiliki alergi beberapa jenis makanan, namun aku tidak begitu peduli bahkan harus 'berpantang'.
Aku akan tetap memakan makanan yang kiranya ingin di makan.
Ku kira tidak apa apa jika aku mengkonsumsi udang saat ini.
Sejatinya udang merupakan salah satu jenis makanan yang bisa menimbulkan alergiku.
Tapi semoga tidak apa apa seperti sebelumnya.
Manusia kutup terlihat agak khawatir karena tahu alergi ku ini. Tapi beliau tetap membantu mengupas kulit udangnya.
"Ga apa apa, aku bisa sendiri." Ucapku pada beliau.
Yang lain sibuk dengan pembicaraan mereka.
Seperti sengaja memberi privasi pada kami berdua.
"Ga apa apa ini?" Tanya Mr.kutub masih khawatir terhadapku.
"Hmm, iya." Jawabku.
"Dek, obatmu adakan?" Tanya bang Vhen.
"Ga ada." Jawabku tanpa menoleh.
"Ga apa apa, insyaallah. Ngomong yang baik baik aja." Ucap mamaku.
Semua orang masih asik mengobrol sambil membakar udang pilihan mereka dan memakannya.
Kak Aisyah dan kak Machel memilih memakannya dengan nasi dan sambel yang sudah di sediakan, beserta makanan lainnya termasuk lalapan yang sedari tadi aku makan.
Hingga aku mulai menggaruk tangan kiriku menggunakan jari kelingking tanpa menyadari sesuatu sedang terjadi.
Bibirku mulai tidak nyaman serta rasa gatalnya semakin menyebar.
__ADS_1
"Kenapa? Mulai kambuh?" Selidik pak Kavin.
"Hm, iya." Jawabku.
Belum ada yang menyadari perubahanku selain manusia kutub ini.
Dia membantuku membersihkan tanganku.
"Vhen, Yevn mulai kambuh. Dimana cari obat nya?" Tanya beliau tanpa menoleh pada bang Vhen dan masih membantuku mencuci tangan.
Wajahku mulai terasa gatal, bang Vhen menghampiriku.
"Serius ga bawa obatnya?" Tanya abang.
"Iya ga bawa tas. Merah ga bang mukaku?" Tanyaku pada bang Vhen.
"Ga sih, ga ada merah merah atau apa apanya." Jawab abang.
"Tapi tangan udah mulai merah merah bang, sama bibir rasanya bengkak." Ucapku mengadu.
"Tapi ga kelihatan apa apa, biasa biasa aja." Ucap bang Vhen.
"Biar aku cari obatnya dulu." Ucap manusia kutub.
"Ga usah." Tolakku.
"Bandel." Ucap bang Vhen menjitak kepalaku.
"Serius ga usah. Aku mandi aja." Ucapku berlalu meninggalkan mereka.
....
"Dek, kenapa sih tega sama Alfan?" Tanya kak machel yang masuk menemuiku di kamar.
"Kavin kak." Ucapku tak senang dengan panggilan yang kak Machel berikan pada manusia kutub itu. "Tega gimana?" Tanyaku.
"Lah, aku kan bersikap seperti biasanya, kak. Salah dimananya coba?" Jawabku.
"Iya, respon dikit lah sama dia, hargain dikit usaha dia peduli sama kamu, ngomong sama kamu, bukan di jawab 'hmm, iya, gak, hooh, iya, hmm." Ceramah di mulai. 😅
Bang Vhen tertawa mendengar ocehan kak Machel begitu masuk ke kamarku.
"Dah yuk, lanjut makan,, kamu cukup liatin aja dek, makan daun kayak 'moo mooo' hahahha." Ucap bang Vhen, sontak membuat kami bertiga tertawa.
Aku memain ponselku, mengirim beberapa foto udang ke gc. Berbagi kabar tentang kegiatan yang sedang di lakukan.
Aku memilih duduk di samping bang Vhen, dan sekali sekali menyomot udang yang sudah di kupasnya, dan memakan nya diam diam.
Abang menjitak kepalaku karena ulahku yang keras kepala.
.....
Pulangnya, badanku benar benar bermasalah karena alergi yang di sebabkan kebandelanku. 😂🙈
Manusia kutub berhenti di salah satu apotek terdekat dan menyerahkan obat alergi padaku.
Aku meminumnya, "Makasih pak." Ucapku padanya.
"Hmm, iya." Jawabnya melajukan mobil ke jalan.
'Maafkan, ketidak nyamanan mu terhadapku. Jujur aku belum tau merespon mu seperti apa. Aku belum bisa merasakan apa apa meski dengan pendekatan ini.'
Aku tertidur selama perjalanan, hingga sadar saat mobil memasuki kawasan kota di kecamatan X.
****
__ADS_1
"Ada ya manusia secuek itu?" Tanya mak Megh padaku saat aku menceritakan tentang hari ini.
"Siapa mak? dia?" Tanyaku.
"Kamu Yevn. Kamu, haahahaha. Sendirinya ga nyadar." Ucap mak Megha meledekku.
"Astaghfirullah, aku ga cuek mak, ini dan beginilah aku di RL, di dunia nyatanya. Emang banyak yang bilang aku cuek, dingin atau apalah. Tapi nurut aku, biasa aja, iya biasa aja." Ucapku memberi pandangan tentang diri sendiri 😂😅😅😂.
....
****
Aku memasuki kantor kecamatan X untuk ikut rapat kepanitiaan.
Setelah beberapa hari lalu di hubungi oleh pak Amrisal selaku ketua panitia.
Hanya karena pak Amrisal yang memintaku, aku tak bisa menolak. Aku sangat menghargai beliau.
Aku duduk di loby kantor sambil menunggu waktu rapat di mulai.
"Yevn, gimana kabarnya?" Ucap salah satu karyawan kantor sekaligus teman ku saat masih di bangku SMA.
"Baik, alhamdulillah." Jawabku sekenanya.
Ana duduk di sampingku.
"Kapan rencana nya nikah?" Tanya Ana padaku.
"Insyaallah, bakal di undang kalo udah saatnya." Jawabku. "Kamu kapan lagi?"
"Dalam waktu dekat, insyaallah tahun depan jika tak berhalangan." Ucapnya mantap.
"Kerja di sini jugakah calonmu?" Tanyaku kepo 😅.
"Ah iya, di sini." Jawabnya yang membuat ku semakin penasaran.
"Sama bapak yang itu. Yang masih menyendiri sampai sekarang?" Tanya ku mulai bercanda.
"Camat? Lah iya sama dia." Jawabnya membuatku bingung dan entahlah.
"Selamat ya." Ucapku lalu tersenyum padanya .
Aku mulai risih terhadap Ana. Mungkin karena masa lalu ku pernah berselisih dengan beliau.
Tapi itu hanya masa lalu, dan tak layak di kenang.
.....
***
Malam ini acara berlangsung. Aku tidak menjadi MC, bujang dara atau sebagai protokoler kabupaten mewakili kantorku.
Melainkan di utus untuk tampil single dengan biolaku pada pertunjukan malam ini.
Aku melihatnya yang kebetulan melihat ke arahku.
Akhirnya aku mencari posisi pengisi acara mengelak dari pengawasannya.
Aku tak siap dan tak ingin melihatnya sejak kemarin, setelah ku dapati dia akan segera menikah.
Perasaan dan pikiranku bercampur tak menentu.
Ada rasa senang karena beliau tak perlu lagi menunggu hatiku yang belum bisa menerimanya.
Setidaknya aku tak perlu merasa bersalah padanya lagi.
__ADS_1
Bersambung
Melepasnya 2