Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Nyuuuuuut ,,,, banget.


__ADS_3

Sudah berapa hari kutub mengabaikanku, bahkan hari ini aku tahu beliau sudah masuk ke kantor dan survei kerja lapangan mengunjungi beberapa tempat.


Pertemuanku dengan kak Sri tak membuahkan hasil. Aku tak mendapatkan banyak informasi.


'Mengapa aku harus peduli tentang pengabaiannya?'


"Yevn, sudah siap?" Tanya pak Jerry membuyarkan lamunanku.


"Sudah pak? Berangkat sekarang?"


"Iya,"


Aku bergegas menjalankan tugas lapaan hari itu. Kak Teguh bersikap biasa, meskipun di antara kami sedang tidak biasa biasa. Aku sendiri masih meraaa canggung dengan beliau, tapi kehadiran rekan rekan lain membuat semuanya baik baik saja.


"Kamu kenapa?" Tanya kak Teguh di sela sela waktu kerja.


"Ga kenapa kenapa kak." Jawabku dan melemparkan senyum meyakinkannya.


Kak Teguh hanya tergelak, seakan ada yang menggelitik hatinya.


"Hei, calon pengantin harus enjoy, jangan banyak fikiran apalagi tertekan." Ujar kak Teguh menasehatiku.


"Iya," Jawabku singkat,


.


.


Aku menangkupkan kedua telapak tangan ke wajah, begitu usai shalat isya dan berdoa.


Setelah merapikan semua, ku buka laptop berwarna maroon. Ku buka folder gambar yang menampilkan banyak foto yang tersusun.


Senyumannya sangat manis, wajahnya tampak teduh dan bersahaja. Kerinduanku padanya teramat sangat, hari ini aku masih bisa melihatnya walau hanya lewat foto dari sebuah laptop.


Setelah sah menjadi istri dari laki laki lain, semua pasti akan berubah. Air mata kembali menetes, mengingat lika liku yang sudah aku hadapi dan yang akan menanti.


Rasanya berat, takdir Tuhan terasa tidak adil buatku, hidup seperti ini membuatku selalu di selubungi rasa was was dan khawatir.


Tiba tiba ponselku berdering, aku segera mengambil ponsel sambil mengusap air mataku.


Manusia Kutub


??


"Hallo,,,"


[Assalamu'alaikum...]


"Wa'alaikumsalam warahmatullah,," Jawabku.


[Gimana kabarnya?]


"Baik. Cukup baik."


[Hmm..]


Dia mulai dengan sikap aslinya. Jelas aku hanya terdiam bingung tidak tahu harus bagaimana. Seketika jalan fikirku buntu.


[Yevn, masalah kemarin aku benar benar minta maaf. Ga seharusnya aku bersikap keras. Aku hanya geram dan ga bisa terima caramu menghadapi Ozy dengan mempertaruhkan hubungan kita.] Ucap manusia kutub.

__ADS_1


"Iya, aku ngerti, aku ga seharusnya memperburuk keadaan, disini memang aku yang salah, Maaf. " Ucapku penuh penyesalan.


[Kamu memang salah.] Ucapnya membuatku kesal dan tak terima.


[Kamu biarin orang lain yang bukan siapa siapa mencoba masuk dalam hubungan kita, bahkan berniat menghancurkan apa yang sudah aku bangun dengan susah payah. Aku nilainya kamu benar benar ga ada niat untuk mempertahankan hubungan ini, jangankan untuk maju melangkah bersama, kamu malah say 'welcome' ke dia. Kita sedang ga main main dalam hubungan ini, dek. Aku tahu kamu belum bisa terima aku, tapi bukan gini caranya.]


Kutub menusukkan kalimatnya hingga bertubi tubi, membuatku bungkam seribu bahasa. Ucapannya tidak salah, aku memang sudah melakukan kesalahan fatal, aku sangat menyadari hal itu.


Aku selalu bertindak menggunakan hati dan mengetepikan akal sehatku. Membuat keputusan tanpa mempertimbangkan hal hal lain. Aku terlalu egois dengan semua kehendakku.


Tapi hati aku memang benar adanya, tak bisa ku pungkiri ianya hanya berukir nama Arfan Hadi Al Ghifary. Tak bisa ku bohongi pada siapapun betapa sayangku masih utuh pada lagi lagi yang sudah lama meninggalkanku dengan segala isi dunia.


"Aku minta maaf, pak. Sungguh aku sangat menyesal." Ucapku lirih.


[Iya, istirahatlah,, banyak hal yang menanti di depan.] Ucapnya.


[Assalamu'alaikum.] Sambungnya lagi.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah..." Jawabku.


.


.


"Jadi kutub es sudah menghubungimu?" Tanya Eva pagi pagi sekali.


"Iya, sudah keluar sana, aku masih ngantuk...." Ucapku dengan suara khas pagi buta dan mata belum siap menatap dunia.


"Aaaa ,,,,, bangun, aku lapar, buatin sarapan." Rengek Eva.


Bukannya menjawab atau segera bangun, aku lantas menutup telingaku dengan bantal.


Alhasil aku langsung berontak menjauh dari Eva, hingga turun dari atas tempat tidur bagaimana tidak, aku sangat risih di peluk.


"Tau takut lu kan,, buruan bangun makanya." Ucap Eva penuh kemenangan.


"Jijik Vong, lu mah kayak siluman ular. Awas kamu deket deket, aku ga mau, dah terlanjur geli, sumpah dah."


Eva semakin mengerjaiku, berusaha mendekati aku yang semakin mundur dan memasang kaki siap kabur dari siluman ular yang meresahkan.


"Usia bukan penghalang untuk berekspresi"


Semboyan aku dan Eva kalo udah kumpul bareng. 😅🙊🙈


.


.


.


.....


"Jadi, dia yang mulai nelfon duluan?" Tanya Eva memastikan begitu mendengar ceritaku.


"Hmm,,," Aku mengangguk dengan melahap roti isi milikku.


"Gunung es meleleh juga akhirnya." Ucap Eva menyunggingkan senyum ngerinya.


"Tapi gimanapun, tetap elu yang salah weh. Kalo gue di posisi dia, sudah gue ceburin elu di empang, kejam elu weh." Sambungnya lagi.

__ADS_1


"Yang nyeburin siapa, yang di bilang kejam siapa." Ucapku melirik ke Eva, dan berlalu ke dapur untuk mencuci gelas kotor milikku.


Aku langsung menuju kamar untuk mengenakan jilbab pasmina, karena sebelum sarapan aku sudah mengenakan seragam kantor berwarna khaki combi batik, model blazer ujung bawah bagian depannya sedikit miring dan ke samping, yang memiliki tali di atas pinggang yang sudah ku ikat.


Aku dan Eva berangkat ke kantor pagi pagi sekali, karena akan segera berangkat ke wisma daerah.


....


Waktu sudah menunjukkan siang hari, matahari mulai di atas kepala, waktu zuhur akan segera masuk.


Kutub mengirimiku pesan yang cukup membuatku pusing bukan kepalang..


Pertemuan dua keluarga akan segera datang ubtuk membahas dan membuat keputusan terkait waktu pernikahan.


...Manusia Kutub:...


"Kalo keluarga ku, makin cepat makin bagus."


...Aku:...


"Kalo bapak sendiri, bagaimana?"


...Manusia Kutub:...


"Lebih cepat dari yang direncanakan orang tua."


Aku cukup kesal dengan balasan pesan dari manusia kutub.


...Manusia Kutub:...


"Sebelum Ramadhan."


Lagi lagi aku tak membalas pesan kutub. Aku sudah cukup setres saat ini.


Semua bercampur jadi satu.


...Manusia Kutub:...


"Hei,


Itu kan maunya aku, bukan kesepakatan, keputusan belum di ambil, dan tetap semuanya di tangan kamu."


Aku lagi lagi tak membalas.


...Manusia Kutub:...


"Tadi kan bahasnya, sebelum orangtua bertemu, mungkin kamu bisa fikir fikir dulu, atau mungkin kita bisa saling bertukar pikiran. Sama seperti saat kita diskusi sama Vhen dan yang lainnya tentang pertunangan. Biar hatimu lebih mantap dan tidak begitu was was ketika orang tua sudah saling berhadapan dan membuat keputusan jadwal hari pernikahan kita."


...Aku:...


"Iya, makasih."


...Manusia kutub:...


"Ya sudah, tenangin dulu pikiranmu, tenangkan hati. Jangan buru buru, jangan terlalu di fikirkan."


Kutub mengalah, kepalaku sudah sangat sakit. Hatiku semakin gundah gulana, pada siapa hendak mengadu tentang kegelisahan hati ini?


Ku jemput rinduku pada belaian kasih sang Rabb, ku adukan semua kegundahanku.

__ADS_1


__ADS_2