Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Singa ku


__ADS_3

Aku terbangun dalam remang nya lampu kamar. Kepala ku masih terasa berat, mata ku terasa panas dan bengkak.


Bau maskulin yang sangat ku kenal ini menyeruak ke indra penciuman ku. Perut ku seperti di tindih sesuatu yang berat, ku angkat dan ku pindahkan agar tak menindih ku, serta sisi kanan yang tidak terasa seperti guling yang biasanya bertengger di sana.


Ku kumpulkan kesadaran ku dan ku coba membuka mata ku yang masih terasa perih dan berat. Saat aku menoleh ke sisi kanan dan mengangkat sedikit kepala ku, terlihat wajah seorang laki laki sedang menghadap ke arah ku dengan mata terpejam.


Alhasil mata ku membulat sempurna, astaga,,, sejak kapan aku tidur dengan nya dengan jarak begitu dekat?


Dengan jantung yang masih bergemuruh dan berdetak tak karuan, aku menilik nya lekat. Rasa iba atas segala perjuangan dan kesabaran nya membuat hati ku melunak.


Dia begitu mempesona dengan segala keistimewaan nya. 'Apa benar dia suami ku?'


"Sudah puas menatap ku?"


Ucapan nya membuat jantung ku mau copot. Sadar sudah tertangkap basah, membuat ku tak punya muka di depan nya.


Ku coba memberi jarak di antara kami, lari dari membuat diri ku terlihat lebih memalukan. Baru saja hampir berhasil lolos, dia menarik ku hingga membuat tubuhku terhempas di samping nya.


"Akkhhh..."


"Mau coba kabur?" Tanya nya. Apa itu lebih terdengar seperti ancaman?


Tangan nya memeluk pinggang ku, merasa tangan nya mengendur, aku yakin bisa lolos dari manusia seperti singa ini, yang siap menerkam mangsa dan menelan nya hidup hidup.


Baru saja mengangkat tangan nya, pak Kavin semakin mengeratkan pelukannya bahkan hampir menindih ku.


Matanya menatap mata ku dalam dalam, senyumannya menyeringai, berhasil membuat ku gagal jantung.


"Ba,, ba,, pak ma,,, mau apa?" Tanya ku gugup dan penuh ketakutan.


Bukan nya menjawab pertanyaan ku, senyum nya semakin membuat ku takut.


"Jangan gini, aku takut, bahkan bapak lebih menakut kan dari pada singa. Lebih baik jadi manusia kutub saja." Oceh ku.


"Hahaha,,, aku suami mu, apa masih harus kau takuti? Apa semenyeram itu?" Ucap nya sambil melepas pelukan nya yang kencang itu.


Pak Kavin berbaring di samping ku, mengangkat kepalaku ke atas lengan nya. Tangan nya menggenggam tangan ku erat, seakan tak mengizinkan ku untuk kabur dari nya.


Tangan pak Kavin merapikan jilbab yang ku kenakan, yang belum pernah ku lepas di depan nya.


"Kamu cantik, dek." Ucapan nya bukan membuat ku tenang, melainkan membuat hatiku semakin kasak kusuk.


*Allahuakbar Allahuakbar,,,,,


Allahuakbar Allahuakbar*,,,,


Terdengar azan subuh berkumandang, aku bernafas lega.


"Subuh, pak,, ga baik menunda bunda waktu sholat. Bapak yang ke kamar mandi dulu atau aku?" Ucap ku penuh semangat.


Pak Kavin tersenyum dengan tingkahku, kemudian mengalah.

__ADS_1


"Kamu duluan." Ucap nya.


Tak mau membuang kesempatan emas ini, aku langsung bergegas ke kamar mandi.


Tak berlama lama, ku lihat pak Kavin duduk di pinggir tempat tidur menunggu ku.


"Jama'ah ya.." Ucap nya langsung berlalu ke kamar mandi.


Aku membentang kan sajadah kami, sesekali aku masih sesenggukan, seperti baru habis menangis hebat. Tapi kenapa? Aku seperti melupakan sesuatu.


.


.


.


* * * *


"Dek, hari ini aku ke kantor bentar." Ucap nya di sela sela sarapan kami.


Aku hanya tersenyum padanya, toh aku tidak mempermasalah kan apa pun kegiatan nya, atau kemana pun dia akan pergi.


"Eva belum pulang ke sini?" Tanya nya lagi.


"Belum, kata nya ada urusan di kampung." Jawab ku.


......


Aku menghabiskan waktu seharian di rumah, mengetik huruf demi huruf menyapa teman teman online ku lewat coretan lusuh ini.


Aku mulai menggembur tanah nya lagi, untuk menanam yang baru, tapi ternyata ada banyak isi kunyit akhir nya ku panen, wadah berikut nya juga. Dengan semangat aku mulai memanen beberapa pot kemudian mengganti dengan tanah baru dan menanam lagi. Ku tata sedemikian rupa.


Aku sudah membersih diri setelah azan ashar berkumandang, pak Kavin belum pulang, aku lanjut dengan shalat ashar, kemudian lanjut memeriksa laporan yang di serahkan pihak sekolah pada yayasan.


Terdengar suara mengucapkan salam dari luar, itu suara pak Kavin, dan benar saja belum sempat aku menyambut nya beliau sudah menyapa ku ke ruang kerja.


Beliau meraih pucuk kepala ku, tapi kalah cepat karena aku menghindar duluan.


Seakan mengerti beliau langsung berucap


"Aku sudah mandi di kantor, sudah tak bersentuhan dengan siapapun bahkan langsung pulang." Ujarnya.


"Terus?" Aku menjawab polos.


"Aku kangen." Ucap nya memelas dengan senyum yang silit ku artikan.


Beliau mencoba menjangkau ku, namun tetap nihil.


"Sholat ashar."


"Ah iya," Horreee berhasil.. Pak Kavin memutar langkah nya dengan tergesa. "Makasih sayang.." Ucap nya berbalik badan sebelum benar benar meninggalkan ruangan kerja.

__ADS_1


Aku sangat syok dengan perubahan nya dari yang semula nya manusia kutub super beku dan ketus, cuueeekk pake banget, dingin sejagat, kini berubah drastis bahkan terlihat mengerikan.


.


"Pak, teh nya,," Ucap ku begitu melihat nya keluar dari kamar melangkah ke arahku.


"Makasih." Ucap nya.


Aku mulai menata nasi, ayam serta aneka seafood goreng, sambel serta berbagai jenis lalapan di atas meja.


"Waah,, beneran di bikin,, ku kira kamu mengabaikan permintaan ku tadi pagi."


Yang benar saja, mana aku tega mengabaikan permintaan orang terutama soal makanan.


"Makasih sayang, .....(🙈🙊) "


Aku tertegun pada posisi ku saat sebuah kecupan mendarat di pipi ku.


Ini kecupan pertama sejak pernikahan kami, meski saat akad dan resepsi beliau pernah mengecup kening ku.


Ya ampun,,, rasa nya sangat canggung, apa ini.


Wajahku mengalahkan kepiting goreng. 🦀


.


.


.


Ku lihat 'suami ku' sedang duduk bersandar di samping tempat tidur menatap ponsel nya dengan serius, aku tak ingin mengusik nya.


Setelah mengaman kan jilbab ku, memastikan tidak ada jarum atau sejenis nya, aku berbaring di sisi satu nya dengan jarak seperti biasa. Ku nyalakan televisi kemudian mematikan lampu kamar dan lampu di sisi ku, dan,,,, aha,, film horror menjadi pilihan ku malam ini.


Sedang asik menonton, pak Kavin mengangkat tubuhku, sontak membuat ku kaget luar biasa. Aku sudah terbaring di samping nya, beralas kan lengan nya yang menjadi alas kepalaku.


Tuhan,, selamat kan aku......


Terdengar suara tawa nya yang cekikikan, apa yang lucu? Apa dia begitu senang membuat copot jantung ku, bahkan hingga sekarang......?


"Aku senang dengan wajah mu seperti ini?" Ucap nya. Aku hanya menoleh tak percaya, bagaimana mungkin dan apa maksud nya.


Wajah nya kini begitu dekat, sangat dekat hingga aku bisa merasa kan nafas nya.


Kecupan nya mendarat di kening ku, otomatis kan aku kaget luar biasa.


Bagi orang lain mungkin aku terkesan lebay atau apa lah,,, biar kan, tapi ini sangat sulit, dan entahlah.


Tangan pak Kavin merangkul pundak ku, memeluk ku erat.


,,

__ADS_1


,,


Bersambung , , , ,


__ADS_2