Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Sebuah Kenyataan


__ADS_3

***


Suatu hari aku mendapat pesan, pak Amrisal mengajak ku keluar, bertemu di kafe di salah satu studio music.


Dan aku menjawab bahwa aku kosong dari jadwal dan bisa kesana.


Sebenarnya, aku tidak benar benar kosong, karena hari ini jadwal aku latihan music.


Tapi setelah ku fikir fikir, tidak masalah bertemu hari ini toh hanya jadwal latihan dan aku bisa datang lebih awal untuk latihan d studionya.


Aku meminta Eva mengantarku ke studio. Karena Eva memiliki urusan lain, dia langsung pergi begitu tiba di sana.


Di depan studio aku bertemu seorang teman lama, seorang pemusik juga.


Rahim, sebenarnya dia adik kelas ku, hanya saja usia nya satu tahun lebih tua dari aku.


Dia sangat pintar bermain music, apalagi melayu.


Akhirnya, kami memilih untuk duduk di kafe sambil mengobrol. Kami saling berbagi cerita dan pengalaman kerja.


Dan akhirnya aku batal buat latihan hingga Rahim pamit undur diri.


Ku lihat jam, dan masih ada waktu 25 menit sebelum waktu janji bertemu pak Amrisal.


Aku akhirnya memutuskan masuk ke studio, dan di dalam nya aku bertemu pemilik nya, yang mana beliau adalah bang Aye kenalanku.


Aku dan bang Aye sering bertemu di lokasi acara, beliau salah satu teman bang Vhen.


Biola yang ku bawa tak jadi ku buka. Aku berubah fikiran begitu melihat piano di sudut ruangan.


Aku iseng membawakan lagu yang pernah di populerkan oleh Emilia.


I'm a big big girl


In a big big world


It's not a big big thing if you leave me


But I do do feel that


I do do will miss you much


Miss you much...


I can see the first leaf falling


It's all yellow and nice


It's so very cold outside


Like the way I'm feeling inside


I'm a big big girl


In a big big world


It's not a big big thing if you leave me


But I do do feel that


I do do will miss you much


Miss you much...


Outside it's now raining


And tears are falling from my eyes


Why did it have to happen?


Why did it all have to end?


I'm a big big girl


In a big big world


It's not a big big thing if you leave me


But I do do feel that


I do do will miss you much


Miss you much...


I have your arms around me warm like fire


But when I open my eyes


You're gone...


I'm a big big girl


In a big big world


It's not a big big thing if you leave me


But I do do feel that


I do do will miss you much


Miss you much...


I'm a big big girl


In a big big world


It's not a big big thing if you leave me


But I do feel I will miss you much...


Miss you much...


Ku mainkan jari jari ku di setiap tuts keybord.

__ADS_1


Hingga lagu usai.


Aku lanjut memainkan sebuah lagu, hingga lupa melirik jam. Jari jemariku mulai menari di atas keyboard piano sambil ku dendangkan liriknya.


Tuhan tolong lembutkan hati dia


untuk terima ku seadanya


karena ku tak sanggup


Karena ku tak mampu


hidup tanpa dia di sisiku


Tuhan aku tahu banyak dosaku


hanya ingat Kamu kala duka ku


namun hanya Kamu yang mampu membuka


pintu hatinya tuk cintaku


Malam, kau bawalah rinduku


Untuk dirinya yang jauh dariku


Agar dia tidak kesepian


Selalu rasa ada cinta agung


Hujan bawa air mataku


Yang mengalir membasuh lukaku


Agar dia tahu kutersiksa


Tanpa cinta dia di hatiku


Hanya mampu berserah


Moga cahaya tiba nanti


Tuhan, tolong lembutkan hati dia


Untuk terima 'ku seadanya


Kerna 'ku tak sanggup


Kerna 'ku tak mampu


Hidup tanpa dia di sisiku


....


Hingga selesai menyanyikan baris lagu terakhir dan jari jariku juga telah sampai di tuts terakhir, aku menghapus air mataku.


Ya Allah, aku sangat merinduinya..


Teringat pada pertemuanku dengan pak Am, aku kembali mengusap pipiku, dan menoleh ke belakang.


Ternyata di sudut ruangan sudah ada pak Am yang sedang memperhatikan ponsel di tangan nya.


Yang membuat ku lebih kaget, bahwa pak Amrisal tidak sendiri.


Di sampingnya sudah ada laki laki yang melihat ke arahku dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


Laki laki yang selama ini selalu menjadi sepasang mata di setiap acaraku.


Dan ternyata beliau merupakan sekcam di kecamatan X. Pantas aku sering melihatnya.


Pak Am melihat ke arah dia bergantian melihat ke arahku.


"Udah siap?" Tanya pak Am masih tetap melihatku.


"Hah?? Ah iya, udah pak." Jawab ku bingung.


Aku bingung, sejak kapan mereka di sana. Dan kenapa ada si beku ini.


Aku melangkah menghampiri pak Am sambil menenteng biolaku.


Pak Am hanya tersenyum padaku.


"Bapak dah lama nunggu?" Tanya ku begitu di dekatnya.


"Tidak, baru saja tiba." Jawabnya.


"Aku tadi cuma iseng main di sini, ga taunya aku melewatkan jam janjinya." Ucapku penuh penyesalan.


Kami melangkah keluar studio, dan masuk ke kafe memilih tempat yang agak jauh dari tamu yang lain.


"Tadi si Aye yang bilangin kalo kamu lagi di dalam sana, makanya langsung ke sana."


Ucap pak Amrisal.


Kami memesan minuman dan camilan di sana.


Aku melihat ke arah dia, lalu melihat ke arah pak Am dengan tanda tanya.


Pak Am akhirnya menjelaskan seolah mengerti dengan maksud ku.


"Ah, iya, pak Sekcam, kenalin dulu ini Anastasya Sadulayevna, protokoler kabupaten sekaligus MC." Ucap pak Am.


Dan dia melihat ke arahku menyunggingkan sedikit senyuman.


Aku mengangguk kan kepala kepadanya.


"Yevn, dah kenalkan?" Tanya pak Am.


Aku hanya melongo dengan ucapan pak Am. Dan di sambut tawa oleh pak Am.


"Beliau Sekcam di sini. Pak Alfandy Kavindra."Jelas pak Am.


Kami mulai mengobrol berbagai hal. Tiba tiba pak Am meninggalkan kami karena menerima telfon.

__ADS_1


"Pesan ku ga di bales." Ucap nya tiba tiba.


Aku melihat ke arah nya memastikan jika dia sedang bicara padaku.


Dan, dia melihat ke arahku menunggu respon.


"Ah, benarkah? Kapan bapak mengirimnya?" Tanyaku kaget.


Dia menjelaskan dan aku segera mengecek ponselku.


"Oh, ini bapak? Maaf, soalnya yang biasa chat di nomor kerja, itu biasanya langsung jelasin tujuannya." Jawabku.


Aku ingat belakangan emang sering terima pesan, dan aku abaikan.


Bahkan setelah melihat nomornya, aku ingat dia pernah beberapa kali nelfon.


Bahkan bukan beberapa hari ini, jauh sebelumnya, dia pernah menghubungiku. bahkan saat aku sakit.


"Aku sudah mencari mu lama, selalu tak punya kesempatan. Bahkan kamu sempat menghilang." Ucap nya. Aku hanya melihatnya heran.


"Oh, mencari ku kenapa? Aku ingat kita pernah menyapa pas di kantor usai rapat." Ucapku.


"Di mushalla, aku nunggu jemputan. Dan bapak usai sholat." Sambungku.


Beliau hanya tersenyum kearahku.


"Jauh sebelum itu juga, Yevn." Ucapnya.


Aku ingin bertanya apa maksud dari ucapannya. Tapi ku urungkan saat pak Am kembali duduk di antara kami.


****


Setelah itu aku selalu menerima pesan dari beliau, dan aku? Aku hanya membalas mana yang menurutku harus di balas.


Lebih tepatnya selain urusan pekerjaan, aku tidak menanggapinya.


Karena hal itu dia juga mulai membatasi chat nya dengan ku.


****


Beberapa purnama berlalu....


Si Beku itu sekarang menjadi Camat di kecamatan X, setelah sebelumnya sempat di mutasi di Kecamatan Z, dan kembali ke kecamatan semula dengan jabatan yang baru.


Aku di tawari lagi menjadi MC di acara pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran di kecamatan X.


Aku mengenakan baju kurung modern yang warnanya sama dengan panitia, hanya modelnya ku buat berbeda.


Warna jilbab nya juga ku pilih berbeda.


Aku menunggu di samping astaka sebelum acara di mulai.


Sembari menunggu undangan kebesaran tiba aku memilih menunggu di bawah panggung.


Tiba tiba ponselku berdering, memberi notif pesan baru.


Manusia Kutub


'Yevn, kamu dimana?'


Aku hanya membalas,


'di samping astaka, udah stand by'


Aku langsung pasang ponsel ku ke mode silent.


Tiba tiba saat aku sedang berdiri di posisiku memberi tanda pada naskah ku akan nama nama tamu yang masuk di dalam acara, pak camat menghampiriku.


"Aman?" Tanyanya.


"Sepertinya aman, dari kabupaten aman semua, cuma tersisa buat data tamu dari beberapa kecamatan saja." Ucapku.


Beliau duduk di salah satu kursi di dekatku.


"Yevn,,,," Ucap nya terpotong saat tiba tiba ponsel yang di genggamnya berdering.


Setelah menerima dan menutup telfon nya, tak sengaja aku ikut melihat ke arah layar ponselnya.


Aku melihat nya heran, ku lihat wajahnya dengan sejuta pertanyaan. Dia melihat ke arah ku kelu. Bingung dan sangat gugup tak tau akan berkata apa.


"Yevn, aku ,,,,"


"Jangan di bahas sekarang pak. Saya harus fokus dengan pekerjaan saya saat ini." Ucapku memotong ucapannya.


"Baiklah." Jawabnya.


"Selesai acara saya butuh penjelasan nya. Dan saya akan menunggu penjelasan bapak."


Ucapku lagi langsung beranjak dari sana menuju ke atas panggung astaka.


Karena tamu yang di tunggu sudah memasuki area lokasi acara.


Ku tinggalkan dia dengan masih gusar dan juga ikut beranjak dari sana untuk menyambut tamu nya.


Aku masih kaget dengan apa yang baru saja aku lihat. Kenapa? Kapan? Bagaimana bisa? Apa maksudnya?


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Terungkapnya 1001 Rahasia


.


.

__ADS_1


__ADS_2