DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 101 KENAPA DENDAM?


__ADS_3

EPS 101 KENAPA DENDAM?


Dan pergerakan Ken Darsih bersama teman-teman silumannya untuk menghancurkan Miryam dan Arya Janu pun mulai dijalankan sesuai rencana. Dewi Nawangwulan, siluman berwujud peri yang sangat cantik bertugas menggoda Pranaja dan memancingnya keluar dari Pesantren Ksatriyan Santri. Banaspati, siluman penguasa api, bertugas untuk menculik Arya Janu sekaligus membakarnya menjadi debu.



Rajanaga Baruklinting dan Singabarong, siluman berbadan manusia tapi berkepala singa akan membatasi pergerakan Kyai Badrussalam dan Panembahan Mbah Iro. Sedangkan Ken Darsih akan menantang Miryam dan pertarungan hidup mati untuk menentukan siapa yang terbaik di antara mereka. Ken Darsih merasa yakin, kali ini dia pasti bisa membalaskan dendamnya kepada Miryam, setelah pada pertarungan pertama dia dihajar secara memalukan.



“Kali ini tidak ada lagi kekalahan. Dan aku tidak akan mengampunimu, Miryam,” batin Ken Darsih.



Dibenaknya terbayang wajah ibu angkatnya nyai Nagabadra yang telah membunuh jasad siluman naga penguasa hutan Kecipir itu sekaligus membakar sukma silumannya hingga musnah tak bersisa. Dan dia selalu mengingat pesannya untuk membalaskan dendamnya kepada Miryam…


***


Setelah berjalan cukup jauh dari Sanggar Pamujan, barulah Miryam menggunakan kemampuan meringankan tubuhnya. Bayangan tubuhnya berkelebat cepat, mendaki jalan menuju hutan Kecipir di puncak bukit Kethileng. Sebelum matahari mencapai puncaknya di siang hari, dia sudah sampai di tepi hutan Kecipir.


Kakinya terus menjelajah masuk ke dalam hutan, sampai dia melihat sebuah sendang yang tidak begitu luas. Melihat airnya yang begitu jernih, Miryam jadi kepingin mandi. Dilepasnya semua kain yang menutupi tubuhnya. Dengan tubuh tanpa sehelai benangpun, Miryam berjalan ke atas sebuah batu besar di tepi sendang. Lalu dengan satu kali lompatan, tubuhnya berputar di udara sebelum meluncur jatuh ke dalam sendang.


“Byur!”



Bunyi kecipak air itu mengagetkan sebagian penghuni hutan yang sedang asik mencari makan. Termasuk membangunkan pemilik hutan Kecipir Nyai Nagabadra dari tidurnya.



“Siapa yang sedang mandi? Apa Ken Darsih sudah pulang?” bisiknya dalam hati.



Perlahan tubuhnya bergerak diantara pepohonan. Dari balik dedaunan dia melihat sosok perempuan yang sedang membasuh dirinya di sendang Kumitir. Wajah Nyai Nagabadra nampak terkejut, tapi hatinya menjadi senang.



“Ken Darsih? Rupanya anakku sudah pulang.”


__ADS_1


Sambil terus mengamatinya dengan seksama, Nyai Nagabadra menunggu sampai perempuan di sendang itu selesai mandi. Beberapa saat kemudian, saat melihat ‘Ken Darsih’ selesai memakai bajunya, barulah dia mendekat ke sendang.



“Hmm, kau pasti pulang karena ingin minta maaf kepadaku kan?” tanya Nyai Nagabadra teringat saat Ken Darsih menyelamatkan Acarya dari serangannya.



Miryam yang terkejut langsung menoleh. Begitu melihat kepala naga yang besar dan menyeramkan, tubuhnya langsung terbang ke belakang. Nyai Nagabadra juga terkejut. Hatinya dipenuhi tanda tanya. Dia yakin wanita itu adalah Ken Darsih karena memiliki wajah yang hampir sama. Tapi di sisi lain, penciumannya yang tajam tidak membaui hawa siluman pada wanita itu.



“Kau manusia? Siapa kau? Kenapa wajahmu mirip puteriku?” tanya Nyai Nagabadra penuh curiga.


Miryam menarik nafas untuk menenangkan hatinya.


“Oh, ya tentu saja aku manusia. Dan kau pasti Nyai Nagabadra kan?” jawabnya.



Nyai Nagabadra semakin yakin bahwa manusia didepannya bukanlah Ken Darsih. Dia langsung menggeram marah.


“Aku Miryam. Dan aku tidak sedang menyamar, aku datang baik-baik kesini.”



Miryam menatap langsung mata sang naga, tanpa ada rasa takut sedikitpun. Hal yang membuat Nyai Nagabadra semakin marah.


“Kalau begitu kau harus mati,” kata Nyai Nagabadra sambil melompat menerjang tubuh perempuan mirip Ken Darsih itu.



Miryam mengangkat kedua tangannya. Telapak tangannya diarahkan kedepan. Seketika laju tubuh Nyai Nagabadra terhenti, seperti menabrak tembok besi yang dingin dan begitu kokoh. Lalu tubuhnya terpental kembali ke belakang, dan jatuh berdebum ke bumi.



Bum!



Nyai Nagabadra terhenyak seperti hilang akal. Lalu kembali berdiri dengan penuh rasa penasaran. Siapa manusia berwajah mirip Ken Darsih itu? Kenapa dia begitu mudah mementahkan serangannya?

__ADS_1


“Kenapa terburu-buru menyerangku Nyai Nagabadra? Aku bahkan belum mengatakan maksud kedatanganku,” kata Miryam.


Tubuhnya melayang diam di udara. Wajahnya terlihat bercahaya ditempa sinar matahari yang menembus dedaunan hutan. Angin yang berhembus perlahan menggoyangkan anak-anak rambut dan selendangnya. Owh, sungguh kecantikan yang sempurna. Seperti bidadari yang hendak turun dari langit.



Nyai Nagabadra menggeram. Hatinya di penuhi rasa marah. Dia betul-betul diremehkan oleh manusia yang ada di hadapannya itu.


“Tidak usah pamer kemampuan dihadapanku. Karena sebentar lagi malaikat maut akan menjemputmu.”


“Oh ya? Memangnya apa yang ditakutkan dari sebuah kematian Nyai Nagabadra? Bahkan siluman sepertimu pun akan mengalami akhir kehidupan,” sahut Miryam datar.



Kemarahan Nyai Nagabadra sampai ke ubun-ubunnya. Hrrghh!



“Kurang ajar! Kalau begitu biarlah aku yang akan menjadi malaikat kematianmu!”


Dengan sekuat tenaga, Nyai Nagabadra menghembuskan sinar beracun dari dalam mulutnya. Wus! Selarik sinar berwarna hitam melesat ke arah tubuh Miryam. Diikuti terjangan cakar naga yang mengeluarkan hawa penuh racun. Itu adalah racun paling tinggi, jangankan manusia, pepohonanpun akan hangus pada jarak duapuluh meter persegi.



Miryam yang sudah memperkirakan serangan itu langsung melindungi tubuhnya dengan ajian Geni Sawiji pemberian Eyang Karangkobar. Hawa panas yang luar biasa menyelubungi tubuh Miryam. Kekuatan panas itu langsung membakar habis racun-racun dan merontokkan serangan sinar beracun Nyai Nagabadara.



“Aaarkk!!”


Nyai Nagabadra berteriak kesakitan. Bahkan menjerit keras dan terpental ke belakang. Sebagian cakar yang dimilikinya habis terbakar saat akan menyentuh tubuh Miryam! Dan hawa panas itu terus merambat perlahan membakar seluruh racun yang ada dalam tubuhnya. Sakit dan perih terasa sampai ke dalam sumsum tulangnya.


“Arrgh..Arrdgh…!” teriaknya


Tubuh Naga penguasa hutan Kecipir itu bergulingan kesana –kemari. Rasa sakit dari dalam tubuhnya begitu mendera, mencabik-cabik dan membakarnya. Miryam melayang mendekatinya. Menempelkan tangan kanan kanannya diatas kepala naga itu. Mengalirkan ajian Tirtanala yang menyejukkan sekaligus menyembuhkan. Hawa sejuk seperti merasuk ke dalam pori-pori tubuhnya. Seketika hawa panas yang menyakiti tubuhnya pun lenyap.


“Aku bukan malaikat pembunuh Nyai Nagabadra. Karena aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah rakyat Jalatunda yang telah kau habisi dengan kejam. Aku hanya menghabisi racunmu yang telah meracuni pikiranmu.”


Setelah itu tubuh Miryam melayang semakin tinggi dan menghilang diantara kelebatan dedaunan hutan Kecipir. Meninggalkan tubuh Nyai Nagabadra yang terpuruk setelah kehilangan seluruh racunnya. Miryam memang tidak membunuhnya, tapi dia telah menghina martabatnya. Siluman naga tanpa racun di tubuhnya? Apa kata dunia? Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kematian.


“Ken Darsih, puteriku. Di mana kamu? Ibu membutuhkanmu untuk melampiaskan dendam kepada perempuan yang mirip denganmu. Bunuhlah dia, bagaimanapun caranya!”

__ADS_1


__ADS_2