EPS 147 DIGITAL HIPNOTIK
Terbius oleh cinta, terjerat dalam pesonamu. Hari-hari yang sepi menjadi melodi penghiburku. Jiwa yang kering, kau isi kembali. Ku tahu kau dan aku tak mungkin bersatu. Walaupun kita selalu bersama melalui waktu dan merajut cinta. Namun sesuatu membuat kita harus berdiri bersinggungan.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba diantara pasukan keamanan Megapolitan itu saling menembak sendiri. Dua kelompok pasukan elit dengan senjata super canggih itu mengarahkan senjatanya satu sama lain. Seperti ada kekuatan yang memberikan perintah komando untuk menyerang musuhnya, mereka bergerak serentak dan saling serang antar kawan sendiri. Terdengar bunyi senjata yang ditembakkan tiada henti.
“Tatatatata….!”
“Dor! Dor!”
“Tatatatatatata…!”
“Argh!”
“Auh!”
Dua kendaraan tempur Avenger itu berhenti, lalu memutar ke samping, saling mengambil posisi siap menyerang. Suasana menjadi tegang. Mata Pramono sampai membulat sempurna menyaksikan pemandangan itu lewat layar monitornya.
“Apa yang terjadi Firman?”
Firman. kepala keamanan Megapolitan tidak langsung menjawab, mencoba menganilisis situasi yang terjadi. Lalu dia menghubungi komandan pasukan cadangan yang memimpin penyerangan Avenger itu, tapi tidak ada jawaban. Bahkan kata-katanya seperti diabaikan. Anak buah mereka masih saja saling tembak.
“Tidak ada jawaban bos. Mengapa mereka saling menembak? Padahal tadi mereka baik-baik saja. Sekarang, bahkan mereka tidak mendengar peritahku untuk menghentikan serangan,” ujar Firman.
“Hah?” Pramono tak habis pikir, mulutnya sampai terbuka.
Slap! Slap!
Tiba-tiba mereka di kejutkan cahaya putih menyilaukan mata. Dua buah rudal stinger ditembakkan dari salah satu kendaraan tempur itu. Asap tebal seputih kapas diiringi kilat cahaya keluar dari roket pendorongnya. Langsung melesat ke udara lalu berputar menuju sasaran, yaitu kendaraan tempur Avenger rekannya sendiri.
Rudal Stinger FIM 92 adalah rudal pertahanan udara yang banyak digunakan oleh negara-negara blok sekutu. Seri terbaru yang sangat canggih sanggup mendeteksi keberadaan pesawat tempur musuh dengan kecepatan melebihi kecepatan suara. Diujung pelurunya diletakkan sebuah kamera kecil untuk mengarahkannya ke sasaran yang dituju.
Slap! Slap!
Kendaraan tempur satunya juga membalas meluncurkan dua rudal stinger. Seketika langit diatas Megapolitan dihiasi sinar-sinar menyilaukan yang berkelok-kelok mengikuti kemanapun rudal itu pergi. Sungguh pemandangan yang indah dari kehadiran malaikat maut. Dan keempat peluru kendali itu saling bertabrakan di udara.
Blar! Blar!
Keempat peluru kendali Stinger FIM 92 buatan Amerika itu langsung hancur berkeping-keping. Menimbulkan cahaya api yang besar dan getaran yang dapat dirasakan oleh semua orang, baik yang ada di bukit Kethileng maupun yang ada di Megapolitan. Dan serpihan-serpihan pelurunya menyasar kemana-mana dengan kecepatan tinggi. Sebagian ada yang mengenai tentara elit yang saling baku tembak itu.
Aaakh!
Auw!
Mereka langsung tumbang berkalang tanah, tewas dengan kondisi tubuh berlubang-lubang.
“Keluarkan pasukan kita dari tempat-tempat persembunyian mereka Firman. Langsung saja arahkan ke bukit Kethileng. Habisi Ron Muller sekarang juga!” perintah Pramono dengan penuh kemarahan.
“Siap Bos!”
__ADS_1
Firman segera melaksanakan perintah bosnya. Namun belum juga dia mengeluarkan perintahnya, pasukan utama yang berlindung dibalik bungker pertahanan di beberapa titik pertahanan sudah keluar sendiri. Tapi bukannya menyerang pasukan Ron Muller, mereka malah terlihat berbalik arah. Mereka bergerak dan malah menembaki kantor Megapolitan. Dua peleton pasukan yang bertugas menjaga kantor pusat langsung membalas serangan itu.
Seperti dua pasukan yang tidak saling kenal mereka menembak membabi buta menghabisi kawannya sendiri. Pramono dan Firman hanya saling berpandangan tak mengerti.
“Kelihatannya mereka terkena pengaruh Digital Hipnotik bos,” ujar salah operator yang mengawasi jalannya pertempuran lewat layar monitor.
“Digital Hipnotik? Apa itu?” tanya Pramono.
“Ada satu perintah komando dari sumber asing yang mempengaruhi alam bawah sadar pasukan kita,” ujar operator tadi. “Dan dia mempengaruhi pikiran pasukan kita untuk saling menembak.”
“Maksudmu, siapapun yang mendengar suara itu akan terpengaruh oleh perintahnya?” tanya Pramono.
“Benar Bos.”
“Apa perintah terakhirnya?”
“Bunuh Pramono dan kaki tangannya sampai habis!”
Si Operator menatap Pramono dengan tatapan tajam. Pramono langsung merasa tidak enak hati. Instingnya bergerak cepat menangkap situasi yang terjadi.
“Ya Bos. I’m infected!”
Tiba-tiba sang operator mencabut senjata serbu miliknya dan langsung menembak Pramono.
Tatatatatata…!
Firman yang sudah melihat gelagat mencurigakan langsung melompat melindungi Pramono sambil menembak balik. Tembakannya tepat mengenai kepala sang operator yang langsung tewas dengan kepala hancur. Namun tubuh Firman juga terkena rentetan peluru yang ditembakkan sang operator. Pengawal setia Pramono itu pun jatuh bersimbah darah.
“Aaaargh!”
Firman tewas sambil memeluk tubuh bos-nya.
“Firman!” teriak Pramono.
Dia berusaha menyadarkan pengawal terkuatnya itu, tapi terlambat. Firman sudah meregang nyawanya.
“BUNUH PRAMONO!”
__ADS_1
Perintah aneh dari orang yang menggunakan digital hipnotik itu terdengar lewat pengeras suara. Rupanya sebelum mati, sang operator sempat menekan tombol pengeras suara. Akibatnya semua orang yang ada di ruang kantor langsung berbalik memandang Pramono dengan tatapan marah. Lalu mereka menembak tubuh Pramono yang masih berdiri syok itu beramai-ramai.
Tatatatatata…!
Pyar!
Pramono langsung melompat ke belakang. Menabrak dinding kaca, dan jatuh dari gedung lantai dua itu ke tanah. Tubuhnya meluncur deras. Namun sebelum menyentuh tanah, dia menekan salah satu kancing bajunya. Mendadak dari saku bajunya keluar balon udara yang menggelembung dan membuat tubuhnya jatuh di tempat yang empuk.
Bluk!
Tubuhnya mental beberapa meter menjauhi gedung itu. Dia langsung berlari cepat melintasi lapangan dan menyelinap diantara kendaraan proyek yang banyak terparkir disana. Para pengawalnya berusaha mencarinya kemana-mana. Mereka terus mengejarnya kemanapun bayangan Pramono berlari. Hingga akhirnya mereka berhasil mengepungnya sedang bersembunyi dibelakang pohon Cinta. Satu-satunya pohon yang masih tumbuh disitu.
“Bunuh Pramono! Bunuh Pramono!” teriak para pengawalnya itu.
Mereka langsung menembaki tubuh bosnya yang sedang berdiri di balik pohon Cinta. Pohon keramat dimana jazad Miryam dan Santika tersimpan selama lima ratus tahun. Pohon abadi yang terus hidup karena kekuatan Tirtanala. Pohon yang menjadi bukti kekuatan cinta Miryam-Santika.
“Tembaaaak!”
“Trattatatatatata!”
“Trattatatatatata!”
“Trattatatatatata!”
Semua orang mengarahkan senjatanya dan menembaki pohon cinta. Namun anehnya tubuh Pramono sama sekali tak terluka. Rupanya pohon keramat itu telah membuatnya tidak bisa tersentuh oleh peluru-peluru M16 itu. Bahkan peluru-peluru itu berbalik menyerang para pengawalnya.
“Akh!”
“Auw!”
“Aargh!”
Satu-persatu para pengawalnya itu ambruk dan tewas terkena peluru sendiri. Dalam keadaan sekarat, Pramono hanya bisa melihat anak-anak buahnya itu tewas dalam satu pertempuran yang aneh. Pertempuran yang dia sendiri belum bisa memahami kenapa bisa terjadi seperti ini. Kekuatan Digital Hipnotik benar-benar dahsyat dan mematikan!
“Hash,,hash..hash..”
Nafas Pramono semakin sesak dan memburu. Wajahnya pias dan pucat karena menahan rasa dingin yang luar biasa. Rasa dingin yang membuat aliran darahnya seperti berhenti, urat-urat syarafnya seperti membeku dan tidak bisa digerakkan. Sakit sekali. Namun, perlahan rasa sakit itu hilang untuk selama-lamanya. Ya, Pramono akhirnya mati di medan pertempuran itu.
Bukan karena peluru, tapi karena rasa dingin yang menyengatnya.
__ADS_1