EPS 132 AKHIR KEBERSAMAAN
Tak ada gunanya kita teruskan jalan ini. Di tengah rumitnya alur hubungan kita. Karena terlalu sulit tuk kita bersama. Egoku egomu, pikiranku pikiranmu, anganku anganmu, tak pernah sejalan. Selalu bersimpang. Aku ke kanan kau ke kiri. Aku ingin berhenti, kau terus berlari. Mengejar mimpi yang tak pasti. Sementara aku tak mau berlebihan. Karena mimpiku, itu kamu. Cuma kamu. Ya, … cukup kamu.
Susan See menatap wajah Marcon dengan wajah cemas. Dia khawatir jika lelaki yang diam-diam dicintainya itu akan kehilangan kendali. Walaupun gadis itu tahu, tujuan Subrata hanyalah untuk membentuk mental dan daya tahan Marcon. Karena dia mengenal pemuda itu sangatlah temperamental dan selalu memaksakan kehendaknya.
“Apa yang dikatakan Subrata?”
Marcon terdiam. Lalu menarik nafas panjang, terdengar begitu berat.
“Kata Subrata, dokumen kepemilikan perbukitan Kethileng memang sudah diserahkan kepada pemerintah Indonesia dua bulan yang lalu?”
Mendengar kata-kata Marcon, mata Pramono langsung membulat. Wajahnya terlihat tegang. Kali ini dia tidak bisa menebak langkah Subrata.
“Maksudmu dia menyerahkan bongkahan emas sebesar bukit itu kepada negara? Tidak mungkin! Ini pasti bagian dari tipu muslihatnya yang lain.”
Susan mengernyitkan keningnya, mencoba mencerna langkah-langkah Subrata.
“Apa alasannya?”
“Subrata adalah pengusaha yang selalu patuh pada peraturan perundangan dimanapun dia menjalankan bisnisnya. Kali ini dia beralasan karena Konstitusi Indonesia.”
“Apa!” seru Susan dan Pramono hampir serempak.
Mereka sama-sama memandang wajah Marcon seperti tak percaya. Lalu Susan berjalan ke arah meja disudut ruangan. Dia membuka file Konstitusi Indonesia di dalam laptopnya. Di periksanya pasal demi pasal dengan cermat. Saat menemukan pasal yang berkaitan dengan kekayaan alam dia berhenti. Lalu membacanya berulang-ulang.
“Bagaimana Susan?” tanya Pramono.
Susan berbalik memandang Pramono dan Marcon.
“Mungkin Subrata benar. Tapi aku perlu mempelajarinya lebih detail.”
“Bagaimana bunyinya Susan?”
”Ada di pasal 33 Amandemen Undang Undang Dasar 1945,” sahut Susan.
“Bacalah!” kata Marcon tak sabar.
“Pasal 33 ayat 2 : Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara,” Susan membaca keras-keras. “Lalu pasal 33 Ayat 3: Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing. Susan mempelajari makna dan penjelasan dari pasal tersebut, Marcon memikirkan kehancuran bisnisnya jika gunung emas itu sampai lepas dari tangannya, sementara Pramono sedang berpikir bagaimana cara dan strategi menghadapi permainan tingkat tinggi ala Subrata.
“Aku tidak yakin Subrata melepaskan gunung emasnya begitu saja,” gumam Pramono. “Tapi apa yang akan dia lakukan?”
“Aku akan melakukan segala cara untuk mempertahankan gunung emasku, bahkan bila darahku mengalir sampai titik penghabisan,” desis Marcon.
Hrrr…mulutnya menggeram dan kedua tangannya terkepal. Seperti seekor singa yang siap bertempur demi mempertahankan mangsa buruannya. Pramono mengambil ponsel dari sakunya, lalu menghubungi koleganya di pemerintahan. Rupanya dia mulai menangkap strategi Subrata, berdasarkan pengalamannya.
“Halo! Assalamu’alaikum pak Rudy,” sapanya ramah.
“Halo! Wal’aikumsalam. Wah, ini pak Pramono ya?” sahut seseorang dari ujung ponselnya.
“Betul pak!”
“Sudah lama tak terdengar kabarnya. Ada apa?”
“Maaf pak Rudy, biasalah saya mau minta tolong.”
“Minta tolong? Bolehlah. Tapi maaf jangan sekarang ya. Saya sedang banyak urusan soalnya.”
“Maaf pak Rudy, saya sudah kirim jackpot. Mohon dicek di rekening.”
Sesaat tidak ada jawaban. Beberapa saat kemudian suara orang itu terdengar lagi.
“Tentang pak Subrata.”
Terdengar suara tawa terkekeh.
“Hehehe.. sudah aku duga. Oke, nanti aku kirim file nya ya. Tapi ingat! Ini rahasia negara, jangan bocor kemana-mana. Kalau sampai bocor, aku matiin kamu!”
“Tenang saja pak. Bapak kan lama kenal saya.”
Terdengar suara tawa lagi.
“Oke. Nanti aku kirim. Aku tutup telponnya ya.”
“Saya tunggu pak! Terimakasih!”
Tut… tut.. tut..
Sambungan telepon terputus. Tak lama kemudian terdengar bunyi mesin facsimile. Setengah berlari Pramono menghampiri mesin faksimil itu. Lalu menangkap lembar demi lembar kertas berisi dokumen yang dikirim oleh koleganya Pramono itu. Setelah disusun dengan rapi, dia membacanya dengan cermat. Susan dan Marcon hanya melihat tingkahnya dalam diam.
__ADS_1
“Apa yang kau dapatkan Pramono?” tanya Marcon beberapa saat kemudian.
“Subrata mendirikan perusahaan penambangan emas baru. Namanya PT Golden Eagle, yang sudah mulai beroperasi satu minggu yang lalu.”
“Hah? Cepat sekali,” ujar Marcon.
“Dan dia mengangkat Desta Rahman, mantan Presiden Direktur Megapolitan Intercorp sebagai Presiden Direktur di perusaahaan barunya itu.”
Marcon dan Susan saling memandang. Bagaikan permukaan air sendang yang dalam, Subrata bergerak begitu tenang dan menghanyutkan.Tapi sesungguhnya gerakannya sangat cepat dan mematikan. Dan Marcon tahu, perusahaan emas itu pasti bertujuan untuk menambang kandungan emas di perbukitan Kethileng.
“Lanjutkan Pramono!” ujarnya.
“Mereka baru saja mendapatkan izin kontrak karya dari pemerintah Indonesia untuk melakukan kegiatan penambangan emas di perbukitan Kethileng dengan pembagian keuntungan yang adil.”
Deg! Kepala Marcon serasa dihantam palu yang beratnya satu ton. Tubuhnya menggelosoh terkulai lemas di tengah ruangan. Kepalanya tertunduk dalam, seolah dia baru saja kehilangan seluruh energi tubuhnya. Sementara tubuh Pramono menggigil menahan amarah. Rahangnya langsung mengeras dan giginya bergemeretak. Dia adalah bos dunia hitam nomer satu. Dan baginya, ini semua adalah penghinaan atas egonya.
“Kurang ajar! Bajingan, kau Subrata!” teriaknya. “Akan aku balas penghinaan ini dengan kematianmu!”
Drrt! Drrrt! Drrt!
Ponselnya berbunyi. Dia segera mengambilnya, ternyata Firman kepala pengawalnya sekaligus komandan pasukan keamanan Megapolitan City.
“Ada apa Firman?”
“Bos, ada pergerakan pasukan tak dikenal di puncak bukit Kethileng. Mereka bersenjata lengkap dan sedang bergerak turun menuju kemari.”
“Apa? Apa kau mengenal mereka?”
“Kelihatannya mereka sama dengan anak buah Blade Muller Bos.”
Pramono terkejut bukan kepalang. Wajahnya terlihat memucat. Anak buah Blade Muller adalah tentara professional yang diambil dari prajurit-prajurit terbaik yang datang dari seluruh dunia. Mereka dididik dan dilatih oleh Blade Muller, mantan komandan dan instruktur pasukan elit Angkatan Bersenjata Inggris, menjadi tentara-tentara bayaran yang siap diterjunkan di medan pertempuran yang paling brutal sekalipun.
“Ada apa mereka beramai-ramai datang kemari? Apakah mereka akan membalas dendam kematian Blade?” batinnya.
Bergegas lelaki separuh baya itu keluar ruangan. Meninggalkan Marcon Allpanigard dan Susan See berduaan. Mereka hanya duduk terdiam. Susan memandang tubuh lelaki gagah itu, sementara Marcon hanya tertunduk tak berdaya. Beberapa saat kemudian bibirnya bersuara.
“Aku memang bodoh dan tolol,” ucapnya lirih, hampir tak terdengar.
Susan tak bereaksi, tapi matanya terus menatap tubuh yang sedang kehilangan seluruh harga dirinya itu.
__ADS_1
“Pergilah Susan. Kebersamaan kita mungkin harus berakhir mulai hari ini.”