DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 19 ANALISIS SIMSON


__ADS_3

EPS 19 ANALISIS SIMSON


Terbunuhnya Bripka Edhik membuat gempar aparat kepolisian. Apalagi tidak ditemukan petunjuk apapun yang mengarah kepada si pelaku. Baik di TKP maupun di sekitar tempat-tempat yang disinggahi bintara tangguh itu pada malam itu. Informasi yang didapatkan dari saksi-saksi yang di bawa ke kepolisian juga sangat minim. Sama sekali tidak ada bukti keterlibatan beberapa pihak yang dicurigai berkaitan dengan pembunuhan itu.



“Aku mencium aroma dendam dan konspirasi dari pembunuhan ini,” ujar pak Simson.



Dandung terdiam mendengar kata-kata atasannya itu. Dipandangnya wajah pak Simson, seperti meminta penjelasan lebih jauh tentang dugaannya itu.



“Walaupun belum ada petunjuk apapun, tapi aku menangkap pesan yang sangat jelas,” sambung pak Simson lagi.



Dandung mengernyitkan keningnya. Dia mengenal atasannya itu sudah lebih dari lima tahun. Dan dia tahu betul pak Simson memiliki intuisi yang sangat tajam. Analisisnya jarang sekali meleset, walaupun fakta dasarnya masih samar bahkan tidak begitu jelas. Tapi pak Simson selalu memiliki keyakinan yang kuat saat mengeluarkan statemen yang penting.



“Mohon ijin Ndan, kalau boleh tahu, pesan apa yang ditangkap dari situasi ini?” Tanya Dandung.


Simson menghela nafas dalam-dalam. Pandangannya menerawang menatap langit-langit ruang kerjanya yang luas dan nyaman.



“Jelas dia ingin menimbulkan keresahan di intern kepolisian. Aku yakin akan ada pembunuhan berikutnya, dengan modus yang sangat tersamar.”



Simson mengalihkan pandangannya ke arah Dandung. Pernyataan atasannya betul-betul mengagetkan hati Dandung. Akan ada pembunuhan aparat lagi? Siapa?



“Dan kali ini korbannya bukan bintara lagi, tapi perwira di tingkat Poltabes atau Polda,” sambungnya lagi sambil berdiri. “Mereka menginginkan kita resah dan tidak fokus.”


__ADS_1


Mereka? batin Dandung. Berarti ada kelompok yang dicurigai atasannya itu. Simson menepuk-nepuk bahu Dandung, seolah sedang memberi peringatan kepadanya.



“Waspadalah Dandung. Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya, tetapi juga saat dia menemukan kesempatan yang tepat untuk melakukannya.”


Dandung mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Izin bertanya Ndan, apa ada motif tertentu?”


“Tentu. Tapi aku belum tahu,” jawab Simson sambil menggelengkan kepalanya. “Aku merasakan akan terjadi peristiwa besar yang menyeret para pejabat tinggi di negeri ini. Dan ini baru awalnya saja. Tapi ingat, ini baru dugaanku saja. Hanya kau yang tahu, Dandung.”



Dandung masih menatap dalam-dalam wajah Simson. Wajah Edhik begitu terbayang dalam pikirannya. Banyak pertanyaan di dalam hatinya, tapi dia merasa sungkan untuk mengutarakannya. Dia merasa pak Simson menyimpan sesuatu di dalam pikiran dan hatinya. Tapi dia enggan mengatakannya karena belum memiliki alibi dan fakta pendukungnya.



“Baik Ndan. Kalau begitu, saya mohon ijin untuk kembali ke ruangan.”


Simson menganggukkan kepalanya. Dandung memberi hormat, lalu berbalik meninggalkan meja komandannya itu. Namun baru saja melangkah mendekati pintu keluar Simson memanggilnya kembali.



Dandung membalikkan tubuhnya kembali.


“Nikahi Frida. Dia perempuan yang terbaik untukmu. Atau kau akan menemukan penyesalan terbesar dalam hidupmu,” kata Simson. “Saatnya perahu berlabuh untuk memperbaiki diri, sebelum melanjutkan perjalanan dengan tujuan yang lebih baik.”



Suaranya begitu berat, seolah memberi tekanan kepada Dandung. Perwira muda idola polwan-polwan muda itu terdiam sambil tertunduk. Dia tidak berani menatap wajah pak Simson yang sudah dia anggap seperti ayahnya itu secara langsung. Beberapa saat dia mereka terdiam, bermain dengan pikirannya masing-masing. Sebelum Dandung membalikkan tubuhnya kembali menuju ruangannya sendiri.



“Terimakasih pak.”


***


“Tahanlah nafas terakhirmu itu, Dewi. Nikmati kemegahan istanamu untuk yang terakhir kalinya. Begitu kau mengeluarkan nafasmu, aku akan membunuhmu!”

__ADS_1


Ruang Balairung Istana Karang Bolong yang megah benar-benar berantakan. Amukan Ken Darsih membuat para pengawal dan penghuni istana siluman itu benar-benar kewalahan. Beberapa senapati, pengawal, dan dayang sudah tewas terkena kekuatan sinar beracun yang keluar dari kedua matanya. Bahkan Dewi Suryakanti, penguasa Istana Karang Bolong, sudah berhasil dilumpuhkan dengan tali jiwo dan siap dihabisi dengan seruling mustikanya.


“Turunkan senjatamu anak muda! Ssshhh… !”


Pada saat yang genting, satu suara yang bengitu nyaring namun terdengar lembut dan menusuk telinga, menghentikan gerakan Ken Darsih. Seruling di tangannya yang sudah terayun, siap menusuk ulu hati Dewi Suryakanti dia angkat kembali, Rupanya Ken Darsih terkejut nendengar suara mendesis seperti ular, begitu sosok yang baru dating itu mangakhiri kata - katanya.


“Turunkan senjatamu anak muda! Ssshhh… !” sosok asing itu mengulangi ucapannya. “Dia tidak bersalah sedikitpun!”


Serentak Ken Darsih dan Dewi Suryakanti menoleh ke arah pintu gerbang. Keduanya terkesiap kaget dengan ekspresi yang berbeda. Ken Darsih terlihat heran dengan sosok yang baru pernah dilihatnya. Sebaliknya Dewi Suryakanti begitu gembira dan bersemangat. Matanya melotot dan bibirnya tersenyum lebar. Seketika dia berseru memanggil sosok yang baru datang itu.


“Kanjeng Ratu Nyai Blorong!”


Sosok berwujud perempuan yang sangat cantik. mengenakan kebaya berwarna hijau dengan rajutan emas. Kain berwarna hijau keemasan yang begitu panjang hingga menutupi bagian bawah pinggangnya. Bahunya dan perutnya dibiarkan terbuka, untung terhalang selendang hijau transparan yang bergoyang-goyang tertiup angin.


Namun kecantikan dan kemolekan tubuhnya terlihat hanya bagian atasnya saja. Tubuh bagian bawahnya, tidak memiliki kaki selayaknya manusia. Karena bagian pinggang ke bawah tubuh perempuan cantik itu berupa ekor ular yang sangat panjang. Sebagian melingkar di dalam ruang balairung, sebagian lagi keluar tidak kelihatan ujungnya. Dan sosok siluman berwujud manusia canti inilah yang disebut nyai Blorong.


Nyi Blorong merupakan merupakan panglima terkuat yang dimiliki oleh Kanjeng Ratu Kidul dan sering dianggap kekuatannya sama dengan Nyi Roro Kidul oleh para pemujanya. Dia memiliki kesaktian luar biasa, memiliki pengikut berbagai macam makluk halus. Ia konon memang ditugaskan untuk menyesatkan manusia agar terjerumus pesugihan dan menjadikan manusia budak-budaknya yang taat.


Pada saat bulan purnama, kacantikan dan kesaktian Nyi Blorong mencapai puncaknya, tetapi saat bulan mengecil, ia akan kembali ke wujudnya yang semula yaitu ular raksasa. Serat Centhini menyebutkan bahwa Nyi Blorong yang cantik adalah putri dari Ratu Anginangin. Ia dinikahkan dengan Jaka Linglung setelah calon suaminya itu berhasil membunuh buaya putih penjelmaan Prabu Dewatacengkar.


“Urungkan niatmu membunuh makhluk yang tidak bersalah Ken Darsih, atau kau akan menyesali perbuatanmu,” ujar Nyi Blorong lagi.


Ken Darsih membalikkan tubuhnya, lalu berdiri tegak. Matanya yang semerah darah menatap tubuh Nyi Blorong dengan wajah penuh kemarahan.


“Siapa kau perempuan aneh yang berani merusak kesenanganku?” tanya Ken Darsih.


“Aku Nyi Blorong. Senopati utama Ratu Pantai Selatan.”


“Kenapa kau menghalangiku membunuh orang yang telah menyiksa ibuku.”


“Karena bukan dia yang menyiksa ibumu.”


Hm, Ken Darsih tersenyum sinis.


“Aku tidak pernah mempercayai perempuan siluman macam kalian. Bersiaplah menerima kematianmu, setelah urusanku dengan Suryakanti selesai.”


Ken Darsih membalikkan tubuhnya kembali, siap menghabisi nyawa Dewi Suryakanti. Tapi mendadak suara Daningrum menghentkan niatnya kembali.


“Jangan kau lakukan itu Ken Darsih!”

__ADS_1


“Ibu?”


__ADS_2