DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS124 KUIL BONGJEONG


__ADS_3

EPS 124 KUIL BONGJEONG


Menatap indahnya senyuman, di wajahmu. Membuatku terdiam dan terpaku. Mengerti arti hadirnya cinta terindah, saat kau peluk mesra tubuhku. Banyak kata yang tak bisa ku ucapkan, kepada dirimu. Aku ingin engkau selalu. hadir dan temani aku. Di setiap langkah yang meyakiniku kau tercipta untukku. Meski waktu akan mampu, memanggil seluruh ragaku. Ku ingin kau tahu, ku selalu milikmu. Yang mencintaimu sepanjang hidupku.


Pagi begitu berkabut. Menghalangi pandangan mata untuk melihat dengan jelas benda yang ada di depan kita. Yang terlihat hanyalah bayang-bayang hitam yang tersamar. Musim gugur yang sedang mencapai puncaknya. Angin dingin berkesiur keras, menggugurkan daun-daun kering kembali ke bumi. Karena hakekatnya kehidupan berasal dari bumi dan akan kembali ke bumi. Lalu apa yang ditakutkan dengan kematian?


Ren berjalan tertatih menembus kabut. Hawa dingin dibawah sepuluh derajat Celsius menambah penderitaannya. Rasa sakit yang mendera tubuhnya semakin terasa. Nafasnya begitu sesak dan ulu hatinya begitu sakit setiap jantungnya berdegup. Seperti ada luka yang tergores didalamnya, dan terasa perih luka yang tersentuh berkali-kali.


“Aku harus kuat,” batinnya.


Ren memang gadis tangguh yang tidak mudah menyerah menghadapi hidup. Dengan langkah gontai, dia tetap berjalan menembus tebalnya kabut dan menepis hawa dinginnya. Tujuannya hanya satu, Kuil Bongjeong. Kuil paling tua dan paling tersembunyi di Korea. Memang tidak mudah memperoleh izin masuk ke kedalamnya, namun Ren akan tetapa berusaha untuk masuk.


Kuil Bongjeong (Bongjeongsa) adalah sebuah komplek kuil Buddha yang terletak di


Andong, Provinsi Gyeongsang Utara, Korea Selatan. Kuil Bongjeong dianggap sebagai salah satu arsitektur kayu tertua di Korea. Pada tanggal 2 Juli 2018, Kuil Bongjeong bersama enam kuil Buddhis lain, yakni Seonamsa, Daeheungsa, Beopjusa, Magoksa, Tongdosa, Buseoksa ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.


Letaknya di sebuah lembah perbukitan yang termasuk lereng gunung Cheondeung. Kuil ini pertama kali dibangun tahun 672 oleh biksu besar paling terkemuka bernama UIsang. Pemandangan dari kuil terlihat sangat indah dengan nuansa alam yang memanjakan mata. Sangat cocok untuk meditasi dan menyembuhkan penyakit-penyakit kejiwaan. Atau orang yang ingin mencari hakikat hidup yang sebenarnya, yaitu kehidupan setelah kematian.


“Siapa namamu nona?” tanya biksu O, seorang biksu senior yang cukup disegani di kuil itu.


“Ryung Nae. Tapi orang-orang memanggilku Ren,” sahut gadis itu.


Biksu O memandang tubuh Ren dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hm, gadis ini memiliki struktur tulang yang sempurna. Dia juga gadis yang kuat. Namun wajahnya begitu pucat dan auranya tertutup kabut putih yang sangat tipis. Mata batinnya bisa melihat dengan jelas, gadis ini bukan orang sembarangan, dan saat ini dia membutuhkan pertolongan, batinnya. Biksu O merasa ini pasti tugas dari dewa untuknya membimbing gadis itu.


“Masuklah ke dalam Nona,” ujar biksu O dengan segera.


Dia meminta para pembantunya yang melayani Ren dengan sebaik-baiknya.


“Jaga dia. Gadis ini membutuhkan pertolongan kalian,” bisiknya.


“Baik biksu,” sahut mereka.

__ADS_1


Para penghuni Kuil yang berkepala plontos dan memakai jubah warna abu-abu segera meminta Ren untuk mengikuti mereka. Walaupun hati mereka diliputi tanda tanya, tidak biasanya biksu O menerima orang asing masuk ke dalam kuil dengan mudahnya. Bahkan mereka semua harus berjuang keras menghapalkan beberapa lembar kitab Buddha untuk bisa diterima di dalam kuil ini.


***


Rumah sakit dimana Ren diraat menjadi gempar. Salah satu pasien mereka, bintang debutan NJ Entertainment yang bisa langsung main film bareng Lee Min Ho, hilang. Tidak ada seorangpun tahu kemana perginya gadis cantik itu. Semua orang auto panik. Song, Min Ho, Seong Jun, Jason Kim dan semua krew serta artis yang terlibat dalam syuting film Black Mask.


“Kau sama sekali tidak melihatnya Song?” tanya Min Ho kesal.


Wajahnya terlihat begitu marah, walaupun tetap menggemaskan. Di belakang Song, sekelompok perawat yang mendapatkan tugas jaga semalam, menggigil ketakutan. Orang sekelas Min Ho bisa saja memecat mereka. Dia tinggal menghubungi direktur Rumah Sakit untuk memecat mereka. Mereka telah merasakan keuntungan berlipat, sejak Min Ho sering terdeteksi wartawan memasuki rumah sakit ini.


“Maafkan kami Min Ho,” ujar mereka.


Min Ho mengernyitkan keningnya, Di tatapnya wajah-wajah suster penjaga itu satu persatu. Siapa tahu Ren menyamar menjadi suster untuk nge-prank yang lainnya, pikirnya nakal. Tapi tak ada satupun wajah yang mirip Ren. Hatinya bertambah kesal. Bukan karena kecerobohan mereka, tetapi karena tiba-tiba hatinya begitu merindukan gadis itu.


“Mengapa kalian begitu ceroboh? Menjaga satu orang saja tidak becus! Kalian tertidur semua?” tanya Min Ho ketus.


Song melangkah mendekati Min Ho. Dia bisa memahami kemarahan Min Ho, karena dia juga ikut merasa bersalah, tidak bisa menjaga sahabatnya itu dengan baik.


“Kau tidak bisa menuduh ini semua karena kesalahan mereka Min Ho,” ujar Song.


“Apa maksudmu? Kau mau menyalahkan aku?” tanya Min Ho.


“Tentu saja aku tidak akan menyalahkan siapapun, apalagi menyalahkanmu.”


“Lalu?”


“Ingatlah, Ren itu tidak seperti gadis-gadis pada umumnya. Dia memiliki ilmu yang cukup tinggi untuk sekedar lari dari rumah sakit ini.”


Min Ho langsung terdiam. Kemarahannya sedikit sirna. Hm, benar juga omongannya Song. Ilmu bela diri yang dimiliki Ren sangat langka, karena itu adalah ilmu tenaga dalam yang levelnya sudah sejajar level pendekar dunia. Dia pasti juga memotong gembok pintu gerbang dengan tangannya yang mungil tapi indah.


“Kalau begitu kita akan melacaknya,” ujar Min Ho tiba-tiba.

__ADS_1


Song hanya terdiam tak mengerti. Min Ho menepukkan keda tangannya. Lalu tanpa di aba-aba, beberapa orang berbadantegap keluar dari berbagai sudut rumah sakit. Juga seorang perempuan cantik, yang memakai pakaian hitam-hitam. Dia berdiri di samping pemuda tampan itu, lalu meminta anak buahnya untuk berdiri berjajar di hadapannya.


“Periksa seluruh CCTV rumah sakit ini. Lalu cari Ryung Nae di setiap sudut Korea,” ucapnya.


“Junbiga Doen!” ucap mereka serempak menyatakan kesiapannya.



Setelah itu mereka membubarkan diri. Josephine Conan, detektif kepercayaan Min Ho, memandang wajah tampan Min Ho dalam-dalam. Tapi pemuda itu malah terdiam. Tatapannya lurus ke depan, dan dahinya sedikit mengkerut. Mungkin ada sesuatu yang sedang dipikirkan bos nya. Lalu perempuan berbadan tegap itu pura-pura terbatuk untuk mengalihkan perhatian Min Ho.



“Uhuk!”



Dan upayanya berhasil. Min Ho langsung memandang wajah Josephine.


“Ada yang sedang kau pikirkan bos?” tanya Josephine.


Min Ho mengangguk tapi kemudian menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak tahu Josh, hanya saja aku merasa Ren menyembunyikan sesuatu dariku.”


“Apa maksudmu bos?”



“Sejak aku mengenalnya, dia tidak pernah bersikap aneh,” ujar Min Ho. “Orangnya ramah, senyumnya menawan dan lembut. Namun dibalik itu semua dia adalah perempuan yang sangat tangguh.”


Joshepine mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tahu kalau bosnya itu sedang dimabuk cinta. Tiba-tiba kedua tangan Min Ho memegang kedua bahunya, sambil menatap dirinya penuh harap.

__ADS_1



“Cari dia dengan segenap kemampuanmu Josh. Cari dia untukku.”


__ADS_2