DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 97 PEMBUKTIAN RYONG


__ADS_3

EPS 97 PEMBUKTIAN RYONG


Bertemu denganmu, menyergap hatiku. Coba tuk nimati makna yang menikam. Kala rasa tiba-tiba bersemayam. Matamu begitu lembut. Menyapukan merah yang merona, disetiap sudut wajahku. Lalu kau pergi, meninggalkan bayang disudut hati. Langkahmu gagah, berselempang kain merah dan mengikat kepalamu dengan selendang putih, pemberianku.


Katamu (kepadaku) : Kamu cantik seperti mawar di pagi hari.


Siang begitu panas. Angin yang berkesiur lembut tak mampu mendinginkan sinar matahari yang terik. Musim kemarau yang begitu panjang membuat semuanya menjadi kering. Debu dan tanah beterbangan di udara, membuat nafas menjadi sesak. Tapi hidup harus terus berjalan, apalagi bagi mereka yang bekerja di luar rumah.


Pulang dari pasar Andini mencari Ryong. Gadis cantik itu terlihat begitu gugup mencari kekasihnya.


“Ryong! Ryong! Ryong!” teriaknya.


Tidak ada jawaban. Andini sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak ketemu juga. Padahal biasanya saat matahari sedang mencapai puncaknya, pemuda itu sedang beristirahat di beranda samping sepulang dari sawah.


“Ada apa Adini, pulang dari pasar teriak-teriak panggil Ryong,” tanya ibu.


“Abah dimana bu? “


“Abahmu lagi di kebun belakang.”


“Kok masih di kebun? Biasanya Andini pulang dari pasar, Abah sudah di rumah.”


“Ibu juga tidak tahu. Dari pagi Abahmu belum pulang.”


“Andni susul ke kebun ya bu,” kata Andini sambil berlari.


Ibunya jadi bingung. Tadi cari Ryong, kenapa tiba-tiba dia berubah mencari Abahnya? Batin ibu sambil menggaruk kepalanya yan tidak gatal.


“Eit! Tunggu Andini,”panggil ibu. “Ganti baju dulu. Masa ke kebun memakai gamis.”


Andini tersenyum malu dan sedikit salah tingkah.


“Kamu ada apa sih? Tadi panggil-panggil Ryong. Sekarang mencari Abahmu.”


“Ups! Oh ya, apa Ryong juga belum kembali?”


Ibu menggelengkan kepalanya.


“Eh, jangan-jangan mereka merahasiakan sesuatu dari kita,” kata ibu.

__ADS_1


“Ya sudah nanti aku yang cari mereka ya?”


Andini masuk kamar dan berganti baju. Ibu menyiapkan makanan dan minuman.


“Ini kamu bawa makanan dan minuman ya. Kasihan Abahmu kehausan,” ujar ibu.


“Ya bu, kebetulan Andini juga lapar.”


Andini menyimpan makanannya dalam keranjang sepeda. Kemudian dia kayuh sepedanya ke dalam kebun. Walaupun kebun Abah di belakang rumah. Tetapi kebunya luas sekali. Jadi kalau tidak pakai sepeda akan kecapaian.


Kebun Abah di bagi menjadi lima bidang. Bidang pertama untuk tanaman buah, seperti durian, mangga dan manggis. Bidang kedua diatanami sayur-sayuran seperti cabai, bayam, ketimun dan lainnya. Bidang ketiga ditanami pohon pisang, Bidang ke empat ditanami pohon jambu merah, sedang bidang terakhir ditanami pohon kayu keras seperti jati, mahoni angsana dan sebagainya.


Masing-masing bidang luasnya sekitar satu hektar. Di bidang ketiga ada kolam ikan dan sumber air. Karena banyak pepohonan maka sumber airnya terjaga dengan baik.


“Abah! Abah!” Andini berteriak memanggil Abahnya.


“Woi!! Abah di kebon pisang,” sahut Abah keluar dari kerimbunan daun pisang.


Abah hanya menanam pisang klutuk di kebunnya. Disebut pisang yang klutuk karena bijinya yang terlalu baik. Karena dia tidak mengambil buahnya. Tapi mengambil daunnya. Setiap hari dia dan beberapa pembantunya memanen daun pisang. Setelah dibersihkan dan di rapikan kemudian dimasukkan kantong plastik. Setelah ditimbang, daun-daun pisang itu akan dikirim ke supermarket-supermarket di wilayah Tangerang dan Bekasi.


“Hii, baju Abah kok kotor sekali. Penuh lumpur dan kotoran, bau!” kata Andini.


“Lihat tanah ini Andini. Tanah yang menurutmu kotor ini, telah menghidupkan jutaan pepohonan. Yang manfaatnya dirasakan oleh milyaran manusia,” kata Abah.


“Kenapa tanah bisa menghidupkan pepohonan Abah?” tanya Andini.


“Tanah adalah sumber makanan bagi pohon, sedangkan pohon adalah sumber makanan kita,” kata Abah. “Jadi kita harus menghargai tanah karena dia telah memberi kita kehidupan.”


Andini mengangguk-angguk. Dia mulai paham maksud Abah.


“Kakekmu menyekolahkan Abah, merawat dari kecil hingga dewasa juga hasil dari pepohonan ini. Dan suatu saat nanti ini semua akan menjadi milikmu.”


Andini tahu, Abah sangat mencintai kebunnya. Hari-harinya dihabiskan untuk merawat kebunnya. Semua pohon yang ditanamnya diatur rapi, dipupuk dan disiram sehingga mereka tumbuh subur. Kebun dan tamannya juga bersih, tidak ada rerumputan tinggi apalagi semak-semak, karena Abah juga rajin membersihkannya.


“Pohon pisang ini harus diatur pertumbuhannya biar daunnya banyak dan tebal-tebal. Anak pohon pisangnya ditebang lalu jarak antar tanaman jangan terlalu dekat,”kata Abah.


“Andini boleh bantu bersih-bersih Bah?” tanya Irina.


“Boleh. Tapi kok tumben, ada apa nih?” tanya Abah curiga.

__ADS_1


Andini hanya cengar-cengir.


“Apa Ryong ada disini?”


“Oh, jadi kamu mencari Ryong bukan mencari Abah?”


Andini menggeleng cepat.


“Eh Abah, bukan begitu. Tapi memang ada sesuatu yang penting buat Ryong.


Abah mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Ya. Dia sedang berada di kolam ikan. Nah, sekarang kita makan dulu, soalnya Adini sudah lapar kan?”


“Kok Abah tahu?”


“Lha perutmu berbunyi tuh glutak glutuk glutak glutuk hehehe,” Abah tertawa.


Akhirnya Andini ikut tertawa.


“Eh, ada Andini,” terdengar suara Ryong dari bawah.


Abah dan Andini melihat ke arah kolam ikan. Terlihat Ryong dengan baju basah dan berlumpur naik ke atas pematang. Rupanya dia baru saja menguras sebuah kolam dan membersihkannya. Rumput dan tanaman perdu yang menutupi pematang sudah dibabat habis. Air kolam diganti dengan yang baru, lalu diisi bibit ikan kecil-kecil. Sedangkan ikan yang besar di masukkan ke dalam tong besar untuk dijual.


Andini jadi terharu melihat apa yang dibawa kekasihnya. Di tangannya tergantung beberapa ekor ikan gurame sebesar telapak tangan orang dewasa yang masih menggelepar. Wajahnya yang penuh lumpur, dan sinar matahari yang cukup panas, membuat kulitnya yang putih menjadi sedikit cokelat. Tapi Ryong tidak terlihat kelelahan. Fisiknya betul-betul terjaga dan tetap bugar.


“Ryong, naiklah. Kita makan siang dulu,” teriak Andini sambil tersenyum.


Ryong membalas senyuman Andini.


“Ya. Kau siapkan dulu makanannya. Aku akan membersihkan diri sambil membakar ikan-ikan ini,” sahut pemuda itu.


Ryong berjalan menuju pancuran kecil di sudut kolam. Di tempat itu dia membersihkan kotoran ikan yang dibawanya. Lalu dilumuri lumpur yang cukup tebal satu persatu. Setelah itu dia menyiapkan perapian. Beberapa bambu dan kayu kering dia kumpulkan kemudian di bakar. Setelah apinya menyala cukup besar, satu persatu ikan-ikan itu dimasukkan ke dalam api. Andini terus memperhatikan apa yang dilakukan kekasihnya.


“Eh, kamu kok malah berdiri mematung di situ Andini,” tegur Abahnya. “Ayo di gelar tikarnya dibawah pohon pisang itu. Kita makan di sana.”


“Baik Abah,” sahut Andini sedikit malu.


Abahnya hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi melihat apa yang dilakukan Ryong, dia yakin pemuda itu mampu membahagiakan puterinya.

__ADS_1


Buktikan Ryong!


__ADS_2