DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 13 KEKUATAN KEN DARSIH


__ADS_3

EPS 13 KEKUATAN KEN DARSIH


Dengan penuh kasih sayang Ken Darsih mengangkat tubuh ibunya dalam pelukannya. Kemudian gadis setengah siluman itu melangkah meninggalkan balairung istana Karang Bolong dengan tenang. Dia tidak mempedulikan pandangan mata orang-orang yang ada di sana. Dalam hatinya dia berbisik lirih, yang hanya bisa didengar oleh Dewi Suryakanti.



“Tunggu aku Dewi Suryakanti! Setelah menyembuhkan ibuku, aku akan membuat perhitungan dengan istana Karang Bolong!”



Sang Dewi menajamkan pandangannya. Tapi wajahnya tetap terlihat tenang. Dia paham, Ken Darsih masih berada dalam keadaan marah. Dan dia belum menyadari di dunia apa sekarang dia berada. Dia juga belum memahami sesungguhnya apa yang sedang terjadi dengan ibunya.



“Kau tidak akan bisa membawa ibumu kemana-mana Ken Darsih!” ucap Dewi Suryakanti cukup keras.



Tapi Ken Darsih tidak menggubrisnya. Dia terus saja berjalan melewatan deretan petinggi istana Karang Bolong yang berdiri di sebelah kanan dan kirinya. Wajah mereka terlihat marah, tinggal menunggu perintah dari sang Dewi, pasti mereka akan bergerak menyerang gadis itu. Namun begitu mendekati pintu keluar setinggi pohon jambe itu, langkahnya langsung terhenti.



Tap! Tap! Tap!


Brrrgghh!



Terdengar tiga langkah kaki yang cukup berat menggetarkan lantai ruang balairung. Perhatian Ken Darsih langsung tertuju ke depan. Tiga orang siluman bertubuh raksasa masuk ke dalam ruangan. Setiap mereka membawa sebuah gada yang terbuat dari logam yang sangat keras yang dilapis kuningan, dan bebatuan laut yang berarna warni. Tubuh mereka yang begitu besar berdiri berjajar menutup jalan Ken Darsih.


Wajah raksasa-raksasa siluman itu sangat mengerikan. Mata sebesar bola dunia itu begitu dingin menatap gadis itu. Mulut mereka terus tertawa tapi tidak terdengar suara apapun. Dari sudut mulutnya menetes darah segar yang mengalir melewati gigi taring yang menyembul keluar.

__ADS_1


“Dasar Genderuwo sontoloyo! Berani menghalangi jalanku, kalian cari mati?” teriak Ken Darsih.


Ketiga Genderuwo itu berlari ke arahnya sambil mengacungkan gada Rujak Polo milik mereka. Ken Darsih meletakkan tubuh ibunya di atas sebuah kursi kencana. Lalu dia mengeluarkan seruling dari balik bajunya. Serangan senjata gada bagaikan kecepatan bayangan yang kasat mata. Ken Darsih mengangkat serulignya ke atas.


“Trang! Trang! Trang!”


Slap!


Terdengar suara benturan logam dan percikan api yang sangat besar saat ketiga gada itu bertemu seruling kecil milik Ken Darsih. Kekuatan Seruling kecil itu sungguh luar biasa. Tubuh gadis itu tetap berdiri tegak di tempatnya. Tapi ketiga tubuh siluman raksasa langsung terpental, dan jatuh berdebum dengan sangat keras.


Bum! Brak! Bug!


“Aaarrrgghhh!”


Mendadak terdengar ketiganya menjerit keras. Percikan api tadi sempat mengenai tubuh mereka. Dan kekuatan panasnya terasa merambat ke seluruh jaringan tubuh mereka. Dari titik kecil kemudian semakin melebar dan semakin panas. Dan rasanya begitu perih, ngilu, dan menyakitkan. Tubuh-tubuh raksasa itu bergulingan di lantai Istana.


“Tutututuiiit tutuut tututututuiiit! Tutututuiiit tutuut tututututuiiit!”


“Aaargghh..!”


Jeritan mereka semakin keras. Tubuhnya menggigil, bola matanya melotot hampir keluar. Dan dari lubang telinga, mata, hidung, mulut dan kedua lubang dibawahnya keluar cairan darah segar yang terus mengalir tiada henti. Tubuh ketiga siluman raksasa itu meregang nyawa dan mengakhirinya dengan jerit kesakitan yang menyayat hati.


“Tutup indera pendengaran kalian!” teriak Dewi Suryakanti.


Ternyata tidak hanya ketiga siluman raksasa itu yang merasakan kekuatan seruling sakti milik Ken Darsih. Bahkan Dewi Suryakanti, bersama para senapati dan dayang-dayangnya pun ikut terdampak kekuatannya. Dengan kekuatan tenaga dalamnya, penguasa Istana Karang Bolong itu menutup indera pendengarannya diikuti para panglima perangnya.


Sementara para dayang dan pengawal lainnya juga segera menutup telinga mereka. Dengan kedua tangan, kain selendang, baju, kain korden, sampai sobekan kain terpal. Tak urung beberapa pengawal dan dayang yang terlambat menutup telinga langsung jatuh meregang nyawa dengan kondisi bersimbah darah. Dan tangis serta jerit kematian yang terdengar di setiap sudut istana, membuat sang Dewi tak lagi dapat menahan amarahnya.


“Cukup Ken Darsih! Aku yang akan memberikan sedikit pelajaran kepadamu,” teriaknya.


Lalu dari atas singgasananya yang megah, Dewi Suryakanti mengibaskan selendang hijaunya. Selaksa angin seperti tembok baja menghantam keras tubuh Ken Darsih. Begitu cepatnya serangan itu hingga Ken Darsih terlambat mengantisipasinya. Tubuhnya terpental dan menghantam keras dinding istana hingga ambrol. Seruling mustika miliknya terpental dan berputar-putar tinggi di udara.

__ADS_1


Bug!


Brol!


Belum lagi Ken Darsih bangkit serangan kedua kembali menghantam tubuhnya. Gadis itu sempat mengangkat kedua tangannya ke depan, mencoba menahan kekuatan selaksa angin itu. Tapi kuda-kudanya yang belum tegak sempurna membuat tubuhnya sempat terseret puluhan meter ke belakang, lalu terpental kembali dan jatuh ke lantai dengan keras.


Bug!


Lalu dengan satu kali sentakan, tubuhnya melenting tinggi menghindari serangan ketiga. Selaksa angin melewatinya dan menghantam tempat kosong. Tembok pembatas ruang Balairung Istana yang cukup tebal, langsung ambrol. Meninggalkan jejak lubang yang cukup besar.


“Heya!” teriak Ken Darsih di udara sambal menjentikkan jarinya. “Ceplek!”


Seruling kecilnya yang masih berputar-putar di udara seperti tersedot. Melesat cepat kembali kepada pemiliknya. Lalu dari kedua mata Ken Darsih melesat dua larik sinar berwarna abu-abu tua yang penuh dengan racun tingkat tinggi. Jangankan manusia, iblis pun akan langsung tewas dengan tubuh hitam melepuh jika terkena sinar ini.


“Slap! Slap!”


Dewi Suryakanti memutar selendang hijau itu melingkari tubuhnya. Kedua sinar abu-abu tua itu melesat kea rah tubuhnya. Namun seperti ada tabir kasat mata yang melindungi tubuh sang Dewi. Kedua sinar itu langsung memantul kemana-kemana. Akibatnya dua orang senapati Karang Bolong yang tidak menduga serangan pantulan itu langsung meregang nyawa. Tubuh mereka seperti mengeluarkan cahaya putih menyilaukan sebelum berubah menjadi hitam melepuh pertanda terkena racun tingkat tinggi.


Aaarggh!


Suasana di ruang Balairung Istana Karang Bolong langsung gempar. Para siluman berwujud manusia itu terlihat begitu panik. Mereka berlarian kesana kemari, sebagian mencoba keluar dari ruangan itu. Sebagian lainnya mencari tempat-tempat berlindung. Hanya para Senapati istana langsung bergerak melindungi tubuh sang Dewi. Tubuh-tubuh mereka melesat cepat dengan senjata terhunus menyerang Ken Darsih.


“Huaaay!” teriak mereka.


Namun itu adalah tindakan yang sia-sia. Ken Darsih yang sedang berada di puncak kemarahannya langsung menebarkan sinar beracunnya kesana kemari. Sebaran sinar beracun seperi pita berwarna abu-abu tua itu menghantam tubuh-tubuh siluman digdaya istana Karang Bolong. Tubuh-tubuh itu meregang di udara, mengeluarkan cahaya putih menyilaukan sebelum jatuh ke lantai dengan tubuh gosong hitam melepuh.


Aaargh!


Dewi Suryakanti terkejut dengan kekuatan gadis setengah siluman itu. Di luar perhitungannya, ternyata Ken Darsih yang baru menjalani separuh waktu pemulihan tubuhnya di sendang Kumitir, telah membuat kekuatannya meningkat berlipat-lipat. Dan wajahnya terkesiap menjadi pucat saat Ken Darsih mengeluarkan benda pusaka lainnya.


“Tali Jiwo!”

__ADS_1


__ADS_2