EPS 94 SAAT PALING MEMBAHAGIAKAN
Waktu terasa berkelebat cepat, menggerogoti usia malam. Sepinya begitu sepi, sunyi memagut sukma. Hening menikam rasa, rindu menghunjam dada. Begitu sesak tak tertumpahkan. Padahal kau begitu dekat, tinggal ku sergap mengalirkan kehangatan. Lalu mengucap buaian padamu yang terlena. Tapi mengapa semua itu tak kulakukan? Hingga angin senja mengajakmu kembali pulang. Dan aku kembali berteman dengan sepi.
Pranaja diam menatap takjub wajah sahabatnya. Betapa beruntungnya pemuda seperti Andika. Sudah kehilangan jantung dan penglihatannya, tapi secepat itu pula mendapatkan gantinya. Jantung dan mata Santika yang tersimpan di ruang pendingin Subrata’s Hospital langsung diambil dan dicangkokkan ke dalam tubuhnya. Tanpa izin dan sepengetahuan sipemilik hati Santika.
“Apa yang kau rasakan saat pertama kali menyadari jantung Santika ada di dalam tubuhmu?” tanya Pranaja.
Andika mengernyitkan keningnya, seperti mengingat sesuatu.
“Ya. Rasanya aneh saja. Aku sempat kehilangan rasa dengan tunanganku Fitri Ray.”
Pranaja tersenyum. Tapi dia bisa memahaminya.
“Ya iyalah. Pasti kau tak lagi merasa deg-deg an saat bertemu kekasihmu itu.”
“Ya. Kau benar. Bahkan anehnya, saat pertama kali aku siuman, Miryam adalah orang pertama yang aku tanyakan. Padahal saat itu aku belum mengenalnya.”
“Berarti saat itu eyang Miryam juga belum tahu, kalau jantung dan mata suaminya ada di dalam tubuhmu?” tanya Pranaja.
Andika menganggukkan kepalanya.
“Ya. Itu semua adalah keputusan ayah. Dia tidak ingin aku hidup dengan jantung dan mata yang cacat.”
“Tapi, bukankah itu tidak adil bagi eyang Miryam? Pasti dia akan mengamuk kalau tahu hal yang sebenarnya.”
Andika terdiam. Ah, memang tidak ada yang adil dengan Miryam. Dia adalah gadis secantik bidadari yang diperlakukan dengan kejam oleh takdirnya sendiri. Bahkan setelah kematian Santika, kekejaman itu masih berlaku untuknya. Dan kali ini karena kekuasaan uang yang dimiliki ayahnya sendiri.
“Pada awalnya dia memang marah kepadaku, tapi kemudian dia menikmatinya. Di senang sekali memeluk tubuhku hanya untuk mendengarkan jantung suaminya. Dia juga suka menatap mataku, karena ada binar cinta yang berkilau untuknya,” sahut Andika.
Pranaja tersenyum. Mungkin itulah saat-saat yang paling membahagiakan bagi Miryam. Mendengarkan detak jantung kekasihnya sambil menatap matanya. Meski mungkin dia tersenyum sambil meneteskan air mata.
“Bagaimana kau bisa bertemu eyang Miryam?”
“Karena kami saling mencari. Miryam terus mencariku karena dia yakin aku mengetahui keberadaan Santika. Sedangkan aku mencari Miryam karena desakan dari detak jantungku sendiri.”
“Dan apa yang kemudian terjadi begitu kalian bertemu?”
__ADS_1
“Awalnya Miryam marah dan hendak membunuhku, tapi kemudian dia memafkanku…”
***
Suasana ruangan khusus Subrata di lantai lima gedung Subrata’s Hospital, cukup luas dan nyaman. Semua desainnya merupakan perpaduan antara desain tradisional dan modern. Rupanya Subrata merupakan penyuka warna biru. Hampir semua benda di dalam ruangan itu merupakan perpaduan dari berbagai macam warna biru.
Dari warna biru muda, biru biasa, biru tua, biru langit, biru laut, biru dongker, biru gelap dan warna-warna biru lainnya. Di tangan desainer interior handal, warna-warna itu dipadukan menjadi harmoni warna yang indah dan mempesona. Dan yang paling utama, warna biru memberikan aura positif bagi kinerja seseorang.
Dari ruangan itu, Subrata juga bisa menikmati landscape yang membentang jauh di bawahnya. Bumi adalah hamparan permadani hijau, yang dari dalamnya tumbuh buah-buahan dan warna-warni bunga dengan aroma wangi dan keindahannya. Uh, sungguh pemandangan yang sangat indah.
Dan kyai Badrussalam melihat Subrata begitu menikmati ‘kekuasaannya.’ Tidak ada seorang pun yang boleh menginjakkan kakinya di ruangan ini, walaupun dia sendiri jarang singgah ke tempat ini.
“Apa yang ingin mas Badru sampaikan?” tanya Subrata.
Kyai Badrusslam memandang tajam wajah Subrata.
“Brata, apakah masih ada kejujuran di dalam hatimu?”
Subrata agak terkesiap mendengar pertanyaan itu. Badrussalam adalah teman karibnya sejak mereka masih menimba ilmu di madrasah dan pesantren. Dia pasti tahu kalau dirinya selalu menjunjung tinggi kejujuran dan tidak pernah berbohong.
“Dalam dunia bisnis, kepercayaan adalah sesuatu yang sangat mahal. Karena itulah kita harus selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran. Karena kejujuran pangkal dari kepercayaan, dan kepercayaan berarti uang mengalir ke dalam kantongmu.”
“Eh, tapi kok tumben, mas Badru menanyakan hal semacam itu?” tanya Subrata kemudia.
“Baik, aku pegang ucapanmu. Sekarang katakan padaku, jantung dan mata siapa yang kau cangkokkan ke dalam tubuh Andika?” tanya kyai Badrussalam.
Subrata nampak sedikit kaget dengan pertanyaan itu. Namun kemudian dia dapat mengendalikan pikirannya.
“Santika.”
“Maksudmu?”
“Iya. Mata dan jantung yang dicangkok ke tubuh Andika adalah milik Santika.”
Walaupun sudah memperkirakannya, kyai Badrussalam tetap terkejut menangkap kata-kata Subrata barusan.
“Apa kau tahu siapa Santika?”
“Emh.. dia manusia dari masa lampau, yang diangkat dari dalam tanah dalam keadaan mati, lalu aku menyimpannya di almari pendingin.”
__ADS_1
“Apa kau mengenalnya?”
“Tentu saja tidak. Apalagi dia datang dari dalam tanah dan tak pernah mengucapkan satu kata pun.”
“Lalu kenapa kau begitu berani mencangkokan jantung dan matanya ke dalam tubuh anakmu?”
Subrata menghela nafas panjang. Dia mulai memahami arah pertanyaan sahabatnya itu.
“Yang jelas saat itu keadaan darurat, Nikimura menyarankan aku mencari donatur jantung dan mata yang sehat. Tentu saja aku langsung terpikir Santika yang jelas jantung dan matanya sehat, sudah tersedia di ruang pendingin, dan tidak melalui prosedur yaang berbelit karena dia tidak punya keluarga.”
“Tidak punya keluarga? Kau lupa kalau Santika terpendam bersama isterinya si Miryam dan perempuan itu masih hidup?”
Subrata terdiam. Sama sekali tak terpikirkan masalah itu kemarin.
“Astaghfirullahal’adzim,” gumamnya.
“Kau lupa, Miryam terus mencari jasad suaminya. Dan dia akan memburu Andika kalau tahu jantung dan mata Santika ada di dalam tubuhnya?”
Subrata terhenyak. Rupanya dia telah melakukan kesalahan yang fatal.
“Dan kau tahu akibat kecerobohanmu, hati Andika kehilangan cintanya terhadap Fitri, dan hatinya akan berdegup kencang saat ada Miryam di dekatnya.”
“What?
Kali ini Subrata betul-betul syok. Ditatapnya wajah kyai Badrussalam dalam-dalam. Miryam adalah perempuan berkemampuan tinggi yang mampu menghancurkan apapun yang dibencinya. Dan hanya kyai Badrussalam yang bisa menghentikannya saat ini.
***
Dan di kegelapan malam itu, Miryam berjalan sendiri. Berjalan di atas jalan layang yang berlapis-lapis, dan dia ada dipuncaknya. Sinar purnama yang terang tak mampu menerangi sisi hatinya yang begitu gelap. Di pagar jalan yang terbuat dari beton, dia berhenti, lalu duduk bersila menikmati wajah bulan. Kemudian menyanyikan kidung Asmarandahana kesukaannya, saambil matanya menatap keindahan bulan purnama.
Kidung yang dia nyanyikan adalah lagu tentang kisah cinta seorang ksatria kepada puteri seorang raja. Dan saat sedang dilanda kerinduan, dia akan menyanyikan kidung Asmarandhana ciptaannya, sebagai ungkapan cintanya kepada sang puteri.
Kidung kedresaning kapti, (Nyanyian kesungguhan hati)
Yayah nglamong tanpa mangsa, (Seolah meracau tanpa kenal waktu)
Hingan silarja jatine, (Hingga keselamatan yang paling hakiki)
Satata samaptaptinya, (Selalu siap hatinya)
Raket rakiting ruksa, (Menghadapi rangkaian gangguan)
Tahan tumaneming siku, (Kuat menghadapi kemarahan)
__ADS_1
Karasuk sakeh kasrakat. (Menerima semua penderitaan)
(Rangga Warsita, Serat Jayengbaya)