EPS 39 KENALAN BARU
“Kriyuk..kriyuk.”
Terdengar perut Song berbunyi.
“Aku lapar Ren. Ayo kita cari makan”
Ren menganggukkan kepalanya. Dia juga merasa lapar, sejak pagi perutnya belum diisi makanan. Hanya segelas susu yang sempat dia minum tadi pagi.
“Mau makan dimana?” tanya Ren.
“Kita makan di restaurant depan ya. Hari ini aku ingin makan yang enak-enak,” sahut Song sambil menggandeng tangan Ren.
“Jangan boros Song. Kita kan sudah janji mau hidup berhemat.”
“Hari ini hari special Ren. Kita harus merayakanya,” sahut Song sambil tersemyum aneh.
“Kenapa kau tersenyum begitu?”
“Sebenarnya aku baru saja mendapatkan banyak uang Ren.”
Ren terdiam.
“Kok kamu terdiam Ren?”
“Memangnya aku harus ngomong apa?”
“Kau tidak ingin tahu, aku mendapatkan uang banyak darimana?”
“Tentu saja. Tapi itu hal yang tidak perlu aku tanyakan. Kau yang seharusnya menjelaskannya sendiri.”
Song tertawa. Lalu dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam sakunya.
“Manajer Seon Jun yang memberinya padaku.”
“Kenapa?”
“Karena dia menyukaimu. Emh, maksudnya dia menyukai penampilanmu.”
“Menyukaiku? Terus, kenapa dia memberimu uang?”
Song menggelengkan kepalanya.
“Aku juga tidak tahu Ren. Mungkin dia kasihan melihat wajahku yang imut atau mungkin juga dia kasihan karena mendengar suara keriyuk di dalam perutku.
Ren jadi tersenyum. Wajah Song memang imut dan lucu, walau kadang menjengkelkan. Mudah bagi orang untuk berempati kepadanya.
“Kamu setuju kan kita makan makanan mahal hari ini?”
Ren menganggukkan kepalanya.
“Ya.”
Akhirnya mereka bersepakat untuk makan di restoran depan gedung NJ Entertainment. Song menggandeng tangan Ren dan berjalan pelan menembus kerumunan orang yang semakin ramai.
“Eh, Song. Kamu mengenal Sasaeng nggak?”
Song tersenyum.
“Sasaeng itu bukan nama orang, itu julukan,” kata Song
Lalu Song menjelaskan arti Sasaeng yang sebenarnya. Memiliki arti stalker fans, Sasaeng adalah fans garis keras yang akan mengikuti idolnya kemana pun ia pergi. Sasaeng ini memiliki arti negatif dalam dunia hiburan karena keberadaan sasaeng Sering mengganggu aktivitas dan privasi dari artis yang diidolakannya.
“Kenapa kau bertanya begitu?” tanya Song penasaran.
“Ada orang yang mengira aku Sasaeng, padahal bukan.”
__ADS_1
Song mengernyitkan keningnya.
“Siapa yang mengatakan begitu?”
“Seorang lelaki asing. Gelagatnya mencurigakan, dia bahkan berlari saat melihatku. Akhirnya aku menangkapnya dan kuserahkan kepada petugas keamanan. Tapi mereka malah menertawaiku. Mengira aku adalah Sasaeng.”
“Apa?”
Song langsung menghentikan langkahnya. Wajahnya tampak berbinar. Dengan mata melotot dia memegang kedua bahu Ren.
“Apa kau melihat wajahnya?”
Ren menganggukkan kepalanya. Mata Song semakin membulat sempurna.
“Apa dia menyebutkan namanya?”
Ren mengangukkan kepalanya kembali.
“Siapa?”
Ren berpikir sejenak. Song serasa hampir mati menunggu jawaban Ren.
“Siapa namanya Ren?” Song sudah diambang batas kesabaran.
“Ehm..kalau tidak salah namanya Lee Min….
“Lee Min Ho!” teriak Song dengan segenap jiwa.
Kesabaran Song meledak.
“Iya benar.”
“Aaaaaakkhhhh!”
Song menjerit histeris, mengagetkan orang-orang. Sekejap tubuhnya melesat dan melompat tinggi melewati orang-orang. Ren, terperanjat. Apa Song seorang Sasaeng? batinnya, kok tiba-tiba jadi bisa terbang?
“SONG! MAU KEMANA KAMU!” teriak Ren melihat sahabatnya semakin jauh.
“MAU KE RUANG SATPAM! KETEMU LEE MIN HO!” Song balas beteriak.
Eh, katanya tadi lapar sekali, kok sekarang malah pergi ke ruang satpam?
“Aaaa!”
Mendadak serombongan gadis-gadis lewat sambil berteriak histeris dan berlari menyusul langkah Song menuju ruang keamanan. Ren yang terkejut hanya bisa menepuk jidat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Angin berkesiur lembut, membelai wajah seorang pemuda yang sedang tertidur pulas di atas pasir pantai Eurwangni, Korea Selatan. Pantai yang terletak tidak jauh dari Bandara Internasional Incheon, Seoul, Korea Selatan itu begitu cantik dan damai. Pasirnya padat dan airnya dangkal sehingga banyak anak-anak yang bermain di sana. Apalagi saat hari Minggu atau hari libur lainnya.
Mendadak sebuah bola plastic yang cukup besar, melayang ringan dan jatuh tepat di wajah pemuda itu. Mata pemuda itu langsung terbuka. Seperti terlatih menghadapi situasi yang berbahaya, pemuda itu langsung memukul keras bola yang sudah berada di tepat di atas wajahnya.
Buk!
Duar!
Bola plastik itu langsung meletus. Pemuda itu reflek melompat ke samping untuk menyelamatkan diri. Beberapa saat dia baru sadar. Ternyata suara ledakan tadi berasal dari sebuah balon plastik yang dipukulnya. Dia mengedarkan pandangannya. Di depannya, pada jarak sepuluh meter, terlihat seorang anak kecil yang sedang menangis dalam pelukan ibunya. Terlihat anak itu menunjuk-nunjuk kea rah balon yang dipukulnya tadi.
Pemuda itu langsung mengambil balon yang sudah robek tadi dan berlari menghampiri anak kecil itu.
“Eh, ini balon kamu ya. Maafkan kakak ya, tak sengaja memecahkan balon milikmu,” kata pemuda tadi sambil tersenyum.
Bukannya terdiam, anak kecil itu malah menangis semakin keras. Ibunya juga berusaha membujuknya agar diam, tapi tak berhasil.
“Oaa!..Oaa!..Oaa!”
“Akira diamlah! Malu dilihat banyak orang,” ucap ibunya.
Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pandangannya diedarkan ke sepanjang pantai. Tapi tidak menemukan yang dia cari.
__ADS_1
“Emh, tadi beli balonnya dimana?” tanya pemuda itu kepada ibu Akira.
“Jauh dari sini Oppa. Di ujung pantai,” katanya sambil menunjuk ke arah pasar.
Pemuda itu memandang dengan cermat. Hm, jaraknya kira-kira satu kilometer.
“Kalian tunggu di sini ya. Aku akan mencari ganti balonmu yang meledak.”
Lalu pemuda itu berlari cepat ke arah pasar. Tubuhnya yang tegap dan kakinya yang kuat begitu tenang berlari di atas pasir. Terlihat seperti pelari professional. Tak sampai sepuluh menit, pemuda itu sudah sampai kembali di tempat itu dengan membawa dua buah balon plastik yang baru.
“Ini untukmu. Kakak minta maaf ya?” katanya.
Akira langsung berteriak senang melihat balon-balon itu. Diterimanya balon-balon itu dan dibawanya kembali ke tempat teman-temannya tadi bermain. Pemuda itu melihat keceriaan anak-anak itu sambil tersenyum. Tanpa sadar bibirnya ikut tersenyum, Ingatannya melayang kembali ke masa kecilnya saat tinggal di desa.
“Hem!”
Perempuan yang bersama Akira tadi pura-pura batuk. Wajah pemuda itu terkesiap kaget lalu dengan cepat menoleh ke arah perempuan tadi.
“Eh, maaf. Hampir saja aku melupakanmu.”
Perempuan itu tersenyum.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menyampaikan terimakasih, kau sudah mencari balon pengganti untuk Akira.”
Pemuda itu menganggukkan kepalanya.
“Jangan sungkan. Aku hanya mengganti balon yang pecah tadi.”
Perempuan itu tersenyum. Lalu mereka terdiam, memandang Akira kembali yang sedang bermain bola.
“Dimana ayahnya?” tanya pemuda itu.
“Maksudmu ayah Akira?” sahut perempuan tadi.
Pemuda itu menganggukkan kepalanya.
“Ayah dan ibunya Akira sedang berlibur ke Singapura.”
Pemuda itu menoleh ke arah si perempuan.
“Maksudmu..Akira bukan anakmu?”
Perempuan itu menggelengkan kepalanya.
“Bukan. Akira anak bosku. Aku baby sisternya.”
Pemuda itu menganggukkan kepalanya. Lalu mengulurkan tangannya.
“Boleh berkenalan? Namaku Ryong Bae.”
Perempuan itu menyambut tangan Ryong.
“Aku Andini dari Indonesia.”
Ryong nampak terkekejut. Mendadak dia teringat Pranaja.
__ADS_1
“Indonesia? Apa kau mengenal Rich Pranaja?”