DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)

DIBALIK EMOTICON CINTA 1515 (END OF LOVE STORIES)
EPS 108 PERTEMPURAN API DENGAN API


__ADS_3

EPS 108 PERTEMPURAN API DENGAN API


Kebingungan melanda hati dan pikiran Banaspati saat melihat sosok perempuan yang sedang berbicara dengannya. Nyai Ken Darsih? batinnya. Tak salah lagi, sosok perempuan di depannya itu adalah junjungannya sendiri. Tetapi kenapa dia seperti sedang memarahinya? Apa dia kecewa dengan cara kerjaku? batin Banaspati.


“Maaf Nyai. Ampuni hamba yang telah mengecewakanmu,” ujar Banaspati.


Miryam tersenyum sinis. Dia tahu siluman api itu telah mengira dirinya sebagai Ken Darsih. Pasti gadis setengah siluman itu lupa memberitahu Banaspati kalau dia telah meniru wajah dan tubuhnya, sehingga sangat mirip dengannya.


“Jangan berpura-pura Banaspati. Aku bisa saja membakar tubuhmu dengan apimu sendiri.”



Mendengar kata-kata Miryam, tubuh Banaspati bergetar hebat. Dia langsung berlutut.


“Ampuni hamba Nyai!” ujar Banaspati.


“Siapa yang menyuruhmu!” bentak Miryam.


“Apa?” Banaspati sampai mendongak memandang wajah perempuan didepannya itu.


“Cepat katakan, siapa yang meyuruhmu!” ulang Miryam.


“Hamba hanya menjalankan tugas yang diberikan oleh Nyai sendiri,” sahut Banaspati sambil menunjuk ke arah Miryam.



Seperti mendengar petir di siang bolong, Andika, Raden Mas Parto dan Eyang Penatus terkejut bukan kepalang. Apa? Jadi biang dari segala kegaduhan ini adalah Miryam? Perempuan bidadari itu melirik sekilas wajah ketiga orang itu yang terlihat gusar kepadanya. Tapi Miryam hanya tersenyum.



“Aku yang memberimu perintah? Memang kau tahu siapa aku?”


Banaspati menganggukkan kepalanya.


“Ya. Nyai Ken Darsih, Senapati Utama Kerajaan Laut Kidul. Pemimpin tertinggi para siluman di tanah Jawa.”



Miryam kembali tersenyum. Sementara Andika. Raden Mas Parto dan Eyang Penatus menyadari kesalahpahaman yang sedang dialami oleh Banaspati.


__ADS_1


“Matamu buta Banaspati. Apa kau tidak bisa membedakan manusia dengan siluman?”


Banaspati terhenyak. Dipandangnya wajah perempuan cantik itu dalam-dalam. Ya, perempuan di depannya itu memang mirip junjungannya Nyai Ken Darsih, tapi dia tidak mencium bau siluman pada dirinya. Dia mulai sadar dengan apa yang sedang terjadi. Ternyata perempuan di depannya itu bukan Nyai Ken Darsih.



“Siapa kau? Kenapa berani meniru wajah Nyai Ken Darsih?” tanya Banaspati dengan nafas memburu karena marah dan merasa dibohongi.


Miryam menggelengkan kepalanya.


“Kau salah Banaspati. Bukan aku yang meniru Ken Darsih, tapi junjunganmu itu yang meniru penampilanku.”


Kemarahan Banaspati sudah sampai ke puncaknya.


“Perempuan licik! Terima kematianmu!”



Burr!



Tubuh Banspati diselubungi api yang sangat panas. Kemudian dia melompat tinggi ke udara sambil mengibaskan tangan kanannya. Sebongkah gumpalan api merah sebesar balon udara yang sangat panas meluncur deras melabrak tubuh Miryam. Perempuan itu terlihat tenang melihat serangan Banaspati itu.


:”Hm, rupanya kau yang mau bermain-main denganku,” kata Miryam.


Dia bisa mengukur kekuatan bola api milik Banaspati. Dengan satu sentakan, tubuhnya melayang menuju padang rumput di samping hutan jati. Banaspati merasa ada di atas angin. Dengan kekuatan penuh dia menembakkan bola-bola api itu sambung menyambung tiada henti.


“Hahaha..hendak lari kemana kau perempuan jadi-jadian!”


Serangan bola-bola api terus datang susul menyusul menghujani tubuh Miryam. Dibiarkannya bola-bola api menyentuh tubuhnya. Tapi diam-diam perempuan jadul tapi mempesona itu mengeluarkan kekuatan Geni Sawiji. Sama dengan Banspati, mendadak tubuh Miryam juga diselubungi nyala api berwarna merah yang sangat panas. Bahkan melebihi panasnya api milik Banaspati.


Namun siluman api itu begitu sombong dan menganggap enteng musuhnya. Sehingga dia tidak menyadari jika Miryam sedang mempermainkan dirinya. Tubuh Miryam yang masih melayang diudara itu perlahan turun. Gumpalan api sebesar gubug itu terus membakarnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Walaupun begitu, Banaspati dapat merasakan desah nafas Miryam yang teratur pertanda perempuan itu masih hidup.


‘Hm, rupanya perempuan ini punya sedikit kemampuan, pantas yang lain hanya menonton saja,’ batin Banaspati sambil melirik Andika, Raden Mas Parto dan Eyang Penatus yang terlihat santai menonton mereka bertarung.


Tentu saja Banaspati menjadi semakin terbakar hatinya. Pandangan mereka seolah-olah meremehkan kemampuannya.


“Terimalah kematianmu perempuan jadi-jadian!” teriaknya.


Tangannya dia angkat ke atas. Terlihat gumpalan api merah kekuningan berputar-putar di ujung tangannya. Semakin lama semakin besar. Lalu dengan satu kali hentakan, gumpalan api itu kembali dilemparkan ke tubuh Miryam yang sudah terbakar hebat. Bola api sebesar gubuk itu kembali menghajar tubuh Miryam.

__ADS_1


Heyaa…!


Byar!


Begitu bola api itu melabrak tubuh Miryam, tubuh Banaspati melompat dengan keepatan tinggi. Kedua tangannya kembali menghujani tubuh perempuan itu. Seolah lupa kalau musuhnya ‘hanyalah’ seorang ibu muda yang sedang menggendong bayinya. Banaspati mendekati tubuh Miryam sambil terus melancarkan serangan. Dan saat tangan Banaspati hampir menyentuh tubuhnya, mendadak Miryam maju dan mencekal pergelangan tangannya.


“Argh!”


Banaspati berteriak keras. Disamping terkejut dia juga merasakan rasa sakit yang luar biasa. Dia merasakan serangan api yang dilancarkanya berbalik menyerang dirinya. Seketika tubuh siluman api itu terbakar dengan kekuatan panas yang melebihi kekuatannya. Dia mencoba berontak, tapi cekalan tangan Miryam sangat kuat. Tangannya seperti dibelenggu rantai panas yang membuat tubuhnya tak bisa bergerak.


“Arrgh! Panas!” teriaknya.


Andika, Raden Mas Parto dan Eyang Penatus tertawa lebar. Masa siluman api kepanasan terbakar apinya sendiri? Hehehe..


Tubuh Miryam melayang tenang dan mendarat dengan lembut di atas tanah yang cukup luas itu. Begitu kakinya menginjak tanah, dia mengibaskan kedua lengan bajunya. Hawa dingin menyebar dan mematikan gumpalan api yang membakar tubuhnya dan tubuh Banaspati.


“Kenapa harus berteriak Banaspati! Aku hanya membakar tubuhmu dengan apimu sendiri!” kata perempuan bidadari itu.


Suaranya datar dan wajahnya nampak begitu tenang. Tubuh Banaspati terkulai lemah duduk di tanah dengan tangan yang masih dicekal oleh Miryam..


“Kau bisa membakar semua orang dengan apimu. Tapi tidak denganku,” ujarnya.



Dengan tenang perempuan jadul tapi mempesona itu melepaskan tangan Banaspati. Lalu membalikkan tubuhnya. Membiarkan tubuh siluman api itu menarik nafasnya kembali. Lalu dia melihat kesempatan itu. Miryam yang sedang lengah diserangnya kembali dengan kekuatan bola-bola apinya.



Heyaa!


Tanpa menoleh Miryam mengibaskan kedua lengan bajunya. Hawa yang sangat dingin mendadak membekukan tempat itu. Rerumputan diliputi embun es, bola-bola api langsung padam, bahkan mulut Banaspati seperti tersedak. Saat siluman api itu belum sadar dengan apa yang terjadi, Miryam sudah berdiri didepannya.


“Sok pamer! Aku bahkan bisa mematikan sumber apimu Banaspati!”


Dicekalnya leher sang siluman api dengan tangan kanannya. Banaspati merasakan urat-urat di lehernya menjadi dingin, kaku dan membeku. Dan hampir tidak bisa bernafas.


“A...ampuni aku Nyai,” katanya dengan suara yang tercekat.


Miryam tersenyum dingin.


“Tidak ada maaf Banaspati. Aku hanya akan menunda kematianmu. Sekarang pulang dan katakan kepada junjunganmu, ada salam dariku. Janganlah jadi pecundang, datanglah sendiri dan hadapi aku.”

__ADS_1


Miryam melepaskan cengkeramannya. Tubuh Banaspati langsung jatuh tersungkur di tanah. Siluman Api itu memegangi lehernya dengan kedua tangannya agar kembali hangat. Beberapa saat kemudian dia mencoba berdiri. Lalu perlahan kekuatan apinya kembali menyelubungi tubuhnya. Dan tanpa menunggu lama, tubuhnya melesat cepat, kembali ke bukit Kethileng untuk menemui junjungannya, Nyai Ken Darsih.


“Tunggu pembalasanku Miryam!” teriaknya menggelegar membelah angkasa.


__ADS_2