EPS 136 PERTEMPURAN AWAL
Lalu angin berkesiur lembut, membawa hawa dingin yang membekukan sekaligus menghancurkan. Mengirimkan tanda-tanda alam yang hanya bisa ditangkap oleh indera keenam Ken Darsih. Butir-butir salju seputih kapas jatuh dari langit bagaikan serbuk-sebuk kapur yang menggumpal. Menyentuh lembut dedaunan sebelum bergulir dan jatuh ke bumi, seperti memberi tahu kalau musim dingin telah tiba. Musim Dingin…?
“Eh, apa ini? Kenapa banyak butiran es yang begitu lembut jatuh dari langit?” ujar Nagaraja.
Wajahnya terlihat heran dan penuh tanda tanya. Tapi gerak tubuhnya menunjukkan dia sedang bersiaga. Indera silumannya mengatakan kalau butiran es itu bukan pertanda baik bagi dirinya. Ada sesuatu yang mengancam kedamaian hutan Kecipir dan keselamatan junjungannya, Nyai Ken Darsih.
“Apa yang terjadi Nyai?” sambungnya, lidahnya yang bercabang terlihat keluar masuk mulutnya, mendeteksi efek panas dari tubuh musuhnya.
Ken Darsih berdiri tegak dengan gagah. Matanya tanjam menatap lurus ke depan, menembus kegelapan hutan kecipir. Mata batinnya melihat sosok seorang perempuan mirip dirinya, berpakaian jadul, melayang terbang sambil menggendong seorang bayi di punggungnya. Ada kain sutera berwarna biru yang mengikat erat bayi itu dipunggungnya. Meski terlihat bayi itu belum tahu apa-apa, tapi justru kekuatan dingin ini berasal darinya.
‘Miryam?’ batinnya.
Tanpa menoleh ke arah Nagaraja, gadis itu berujar.
“Bersiaplah Nagaraja, ibu dan adikku sedang bergerak menuju kemari.”
Wajah Nagaraja berubah tegang. Sejak mendengar nama Miryam, dan mengetahui perempuan itu sebagai ibunya Nyai Ken Darsih, sebenarnya dia sudah penasaran. Seberapa besar kesaktian Miryam yang pernah mengalahkan junjungannya itu. Tapi demi melihat buturan-butiran salju yang turun mengiringi kedatangannya, Nagaraja sudah bergidik sendiri, bulu-bulu halusnya langsung merinding. Pantas adikku Nyai Nagabadara dapat dibunuhnya.
“Biarkan aku menghadapinya Nyai. Aku ingin membalaskan kematian adikku,” ujarnya.
Ken Darsih menggelengkan kepalanya.
“Tidak Nagaraja, dia bukan lawan yang sepadan buatmu. Racunmu hanya akan membakar dirimu sendiri. Belajarlah dari Banaspati,” sahut Ken Darsih.
Nagaraja tidak membantah lagi. Dia berdiri di belakang Senapati Kerajaan Laut selatan itu. Disampingnya menyusul Singa Barong, Banaspati, Jin Sepanjang penguasa hutan Kedu, serta Bahu Rekso penguasa alas Roban. Jin-jin legenda itu bermunculan memenuhi panggilan tugas dari Ratu Laut Selatan. Mereka bersiap siaga membantu junjungannya Nyai Ken Darsih menghadapi setiap marabahaya.
__ADS_1
“Dimana Nawangwulan?” tanya Ken Darsih.
“Dia sudah mati Nyai, dibunuh oleh seorang manusia bernama Pranaja,” sahut Bahu Rekso.
Hrrm, Ken Darsih menggeram. Tiba-tiba wajahnya yang cantik jelita berubah menjadi berwarna ungu tua, cenderung menghitam. Ada asap tipis yang keluar dari ujung kepalanya. Matanya juga berubah merah, semerah darah. Kuku-kuku di jarinya yang sekuat baja, dan mengandung racun yang sangat mematikan perlahan keluar. Pertanda bahwa gadis setengah siluman itu sedang berada di puncak kemarahannya dan siap menebar maut.
“Hutang pati di bayar pati, hutang darah di bayar dengan darah, kalau diantara kita ada yang musnah, pastikan musuh kita juga punah!” perintahnya.
Nagaraja dan kawan-kawannya serentak menganggukkan kepalanya. Mereka berdiri tegak dengan penuh kemarahan juga. Darah iblis dalam tubuh mereka mendidih dan siap membakar siapapun yang berani mengusik mereka. Nagaraja bersiap dengan Racun Cakar Naga, Banaspati dengan panas apinya, Singa Barong dengan kekuatannya, Jin Sepanjang dengan asap panasnya dan Bahu Rekso dengan petirnya.
***
Di kaki bukit Kethileng, Ron Muller sedang mempelajari medan di depannya. Hamparan tanah yang luas terbentang antara kaki bukit Kethileng dengan Markas Megapolitan membatasi langkah mereka. Melihat medan seperti itu, mau tidak mau Ron harus melakukan perang terbuka dengan para pengawal dan tentara sewaan Pramono.
“Apa pendapatmu Koln?” tanya Ron.
“Pilihan kita hanya melakukan perang terbuka. Tapi melakukan perang terbuka di rumah mereka, jelas butuh perhitungan ekstra Ron. Mereka pasti sudah mempersiapkan sistem keamanan yang tidak mudah di tembus,” ujar Koln.
Ron menganggukkan kepalanya. Terlihat wajahnya sedang berpikir keras, memikirkan strategi yang tepat untuk memenangkan pertempuran.
“Terbangkan beberapa mini drone untuk memindai keberadaan ranjau atau perangkap di bawah tanah Koln,” ujar Ron setelah sekian lama.
“Baik Ron,” sahut Koln.
“Fritz, perintahkan Alex untuk mengerjakan tugasnya setelah ini. Kita lihat apa yang terjadi, baru kita tentukan langkah selanjutnya.”
Fritz menganggukkan kepalanya.
“Langkah yang bagus Ron.”
__ADS_1
Ron segera memerintahkan pasukan pelopor untuk menerbangkan minidrone ke wilayah Megapolitan. Puluhan pesawat nirawak sebesar kepalan tangan orang dewasa itu mulai diterbangkan. Pesawat-pesawat itu meliuk-liuk di medan terbuka itu sambil melepaskan getaran elektromagnetik, untuk memindai apakah ada ranjau atau perangkap di bawah tanahnya. Dari layar laptop, Koln memantau pergerakan dan pemindaiannya.
“Sampai jarak lima kilometer persegi tidak ditemukan ranjau atau perangkap apapun Ron,” ujar Koln lewat headsetnya.
“Oke pantau terus dengan cermat,” sahut Ron.
Namun memasuki kilometer ke enam, mendadak muncul selarik sinar menyilaukan dari arah Megapolitan. Peluru-peluru pintar yang di lengkapi kamera diujungnya melesat mengejar mini drone-mini drone itu. Seperti benda yang memiliki mata, mereka mengejar kemanapun drone-drone kecil itu pergi dengan kecepatan super, melebihi kecepatan suara. Akibatnya bisa diduga, puluhan mini drone itu langsung hancur di udara.
‘Blar! Blar! Blar!’
Ledakan itu menimbulkan bunga-bunga api di angkasa yang bisa dilihat oleh siapapun dari kejauhan. Koln, Ron dan anggota pasukan lainnya terperangah kaget. Mereka tak pernah menyangka serangan yang begitu cepat telah menghancurkan drone-drone canggih milik mereka hanya dalam sekejap.
“What!” teriak Koln.
Ron memegang jidatnya, beberapa saat dia tidak mampu bicara apa-apa.
“Berarti kedatangan kita sudah di ketahui. Koln, beritahu teman-teman kita siap melakukan perang terbuka!” teriak Ron.
Fritz segera meminta tim Alex untuk melakukan tugasnya. Mempengaruhi jalan pikiran orang lewat kekuatan hipnotis lewat saluran ponsel.
“Lakukan tugasmu Lex!” ujar Fritz.
Aleksander Busco, mantan komandan peleton tentara Serbia, salah satu buronan Interpol yang paling dicari karena kejahatan perang. Dia adalah manusia yang sangat kuat. terlatih secara fisik menguasai medan dan pakar tekhnologi digital. Dialah pelaku utama dibalik terbunuhnya beberapa anggota polisi yang dihipnotis lewat saluran ponsel. Alex mempengaruhi para polisi itu untuk melakukan tindakan bunuh diri atau membunuh temannya sendiri.
Dia di rekrut oleh Ron Muller sebagai bagian dari rencananya untuk menuntut balas kematian kakaknya Blade Muler oleh beberapa polisi Indonesia. Bersama timnya di menyusup ke dalam jaringan telekomunikasi musuhnya, lalu melakukan aksi hipnotisnya lewat suara. Dia mempengaruhi dan memerintahkan korbannya untuk melakukan apapun keinginannya lewat alam bawah sadarnya.
__ADS_1
“Siap!” ujar Alexander Busco dengan sikap sempurna.