EPS 08 I MISS YOU
“Ap..apa yang terjadi abah?” tanya Andika tergagap.
Kyai Badrussalam tidak menjawab pertanyaan Andika. Tubuhnya malah melompat ketempat dimana orang-orang Somawangi tadi menghilang. Lalu berdiri tegap dan memutar pandangan. Tidak ada siapapun. Orang-orang misterius tadi benar-benar hilang dari pandangan. Andika segera menghampiri tubuh Abahnya yang masih berdiri tegak sambil berpikir.
“Hm. Kelihatannya ada tabir yang menyembunyikan mereka,” ujarnya.
Kyai Badrussalam mengangkat tangan kanannya ke udara. Terlihat bibirnya mengucapkan ta’awudz dan basmallah sebelum tangannya menepuk ruang kosong didepannya.
“Bismllahirokhmaanirrokhim..plok!”
Begitu tangannya menepuk dinding udara di depannya, tiba-tiba bentang alam yang terlihat di depan mereka seperti berpendar. Layaknya kita menepuk permukaan air, pemandangan di dalamnya akan ikut melekuk-lekuk dan membuat benda-benda di dalamnya menjadi aneh.
“Wow! Apa itu Abah?” teriak Andika.
Andika yang berdiri di belakang Abahnya ikut terkejut. Seperti ada lapisan gelembung air yang memisahkan mereka dengan pemandangan di dalamnya. Andika mengulurkan tangannya perlahan, menembus gelembung air itu, dan dia terkesiap, separuh tangannya yang masuk ke dalam gelembung tidak kelihatan. Secara reflek dia menarik tangannya kembali, dan diperiksanya. Tidak ada masalah, tangannya baik-baik saja.
“Ini seperti selubung transparan yang menipu pandangan kita abah. Pantas orang-orang yang masuk ke dalam selubung ini langsung hilang dari pandangan. Rupanya ini yang menutupi keberadaan mereka,” ujarnya.
Kyai Badrussalam menganggukkan kepalanya.
“Kau benar Andika. Rupanya selubung inilah yang menutup jalan ke Padukuhan Somawangi sehingga tidak bias terlihat oleh sembarang orang.”
Andika masih menatap selubung yang tak terlihat itu dengan seribu tanda tanya. Hm, rupanya aku harus masuk ke dalam selubung itu, batinnya.
“Tunggu kakek! Aku ingin bukti yang lebih meyakinkan,” ujarnya.
Lalu Pranaja memasukkan kepalanya, menembus selubung seperti gelembung air itu. Melihat keadaan sekitar di dalam selubung. Hm, ternyata benar, batinnya, jalan setapak yang dari luar terlihat buntu, ternyata di dalam selubung ini masih bersambung. Ini adalah jalan yang sama menuju dukuh Somawangi. Lalu dia mengeluarkan kepalanya kembali.
“Apa yang kau lihat Andika?” tanya Abah.
“Apa yang aku pikirkan benar kakek. Jalan setapak ini masih bersambung. Pasti menuju dukuh Somawangi yang misterius itu.”
__ADS_1
Kyai Badrussalam tersenyum datar. Lalu dia berbalik kea rah batu besar itu dan kembali duduk di atasnya. Tentu saja Andika menjadi heran.
“Kenapa kau berbalik Abah? Kenapa kita tidak langsung masuk saja dan menemui Panembahan Mbah Iro?”
Kyai Badrussalam menggeleng pelan.
“Tidak Andika, itu namanya melanggar tata krama. Peanembahan Mbah Iro memberi selubung itu artinya dia tidak berkenan ada sembarang orang masuk ke padukuhan Somawangi.”
Andika menatap tak mengerti.
“Lalu apa yang akan kita lakukan Abah?”
“Kita akan menunggu disini. Nanti bila ada orang Somawangi yang lewat, kita bisa menitip pesan untuk disampaikan kepada pemimpin mereka, Panembahan Mbah Iro.”
Andika mengangkat kedua alisnya. Sekarang dia paham maksud Kyai Badrussalam.
“Jadilah tamu yang baik Andika. Bila yang punya rumah mengizinkan, baru kita akan masuk ke dalamnya. Tapi bila tidak diizinkan, kita tidak boleh memaksakan kehendak.”
Dokter muda itu tersenyum. Bertahun-tahun dia hidup di pondok pesantren, rasanya ilmu kyai Badrussalam tidak pernah habis, Selalu saja ada pelajaran baru yang dia dapatkan setiap harinya.
Suasana sunyi menyelimuti hati. Saat kepuasaan membuat hati tak bisa bicara. Setelah berpacu dengan waktu, mendaki bukit itu biar cepat sampai ke puncaknya, akhirnya jerit kemenangan itu terdengar begitu nyaring. Seolah semua beban yang terhempaskan, atau hutang yang membelit terlunaskan. Semua selesai dalam keangkuhan dinding hati karena berhasil membuktikan kedigdayaannya.
Kepala Lucra terkulai manja di atas lengan Dandung yang melingkari lehernya dari belakang. Sesekali bibir Dandung masih mendarat di belakang telinganya, memberikan sentuhan hangat lewat desah nafasnya. Dan jilatan lidahnya yang basah, membuat tubuh lucre ta henti bergetar dan menggelinjang. Hal-hal kecil yang mengakibatkan sensasi yang luar biasa. Tak perduli seberapa banyak peluh yang mengalir di dahimu, dan seberapa benyak keringat yang kau peras dari tubuhmu.
“Kau memang nakal Dandung,” sahut Lucra.
Lucra memandang mata pemuda tampan itu dalam-dalam. Bukan pandangan mata penuh cinta, tapi tatapan kekaguman akan keperkasaan yang baru saja dirasakannya. Ah, dia rela meluangkan waktunya untuk menikmati kebersamaan dengan pemuda itu setiap waktu. Di setiap tugas yang dilakukannya, dia memang selalu terlibat cinta lokasi, Tapi dengan Dandung dia merasakan sensasi yang luar biasa.
“Mungkin aku akan membutuhkan waktu lama untuk melupakanmu,” ujarnya.
“Mengapa kau berkata begitu?” tanya Dandung.
“Tugasku sudah selesai. Urusanku dengan Blade Muller sudah tuntas. M16 akan menarikku kembali ke markasnya. Memberiku tugas yang lain, dan mungkin aku akan terlibat love story yang lain lagi,” sahut Lucra sambil tersenyum.
__ADS_1
Senyum Lucra begitu dingin dan datar. Seolah semua hanyalah permainan hasrat saja, tanpa ada kata cinta dan tak ada hati di dalamnya. M16 memang membebaskan agen-agennya terlibat hubungan asmara di setiap tempat yang mereka kunjungi. Syaratnya hanya dua, tidak membahayakan tugas dan tidak pakai hati. Dan Dandung tahu itu. Beberapa kali dia melakukan hubungan terlarang dengan beberapa gadis bule, dan setelah selesai mereka akan pergi begitu saja.
Dandung hanya mengangguk sambil memanyunkan bibirnya.
“Kenapa?” tanya Lucra.
“Mungkin aku juga butuh waktu lama untuk melupakanmu. Kau wanita paling tangguh yang pernah aku taklukkan.”
Lucra memperbaiki duduknya, lalu wajahnya menghadap wajah Dandung.
“Oh, ya? Bagaimana dengan polisi wanita itu. Jangan bilang kau tidak ada hubungan dengannya. Aku tahu dari tatapan matanya.”
“Frida maksudmu?” ujar Dandung sambil tersenyum lebar. “Ya, dia juga tangguh sepertimu. Tapi dia terlalu tulus, terkadang aku merasa bersalah kepadanya.”
Lucra menggelengkan kepalanya.
“Tentu saja kau merasa bersalah, karena sesungguhnya kau mencintainya.”
Ujar Lucra dengan penuh penekanan. Kali ini wajah Lucra terlihat serius.
“Aku benar kan?”
Dandung tercenung. Cinta? Apa benar dia mencintai Frida? Tapi kenapa hati dan pikirannya selalu teringat kepada Ken Darsih?
“Aku tidak tahu Lucra. Aku sendiri terlalu takut untuk jatuh cinta.”
Lucra terdiam mendengar kata-kata pemuda itu. Hm, melangkoli juga.
“Aku takut tidak bisa menjaga cinta yang aku bangun dan pada akhirnya akan menyakitinya,” sambung Dandung seperti mendesah.
Lucra mengoyak oyak rambut Dandung yang sudah acak-acakan.
“Hm. Pada akhirnya, semua orang akan selalu belajar untuk mencintai sayang. Karena setiap perjalanan pasti berhenti, dan setiap hati membutuhkan cinta sejati”
__ADS_1
Lucra bangkit berdiri. Memakai kembali satu persatu pakaiannya yang bertebaran kemana-mana. Lalu mengecup bibir Dandung dengan lembut dan berlalu begitu saja. Meninggalkan hati laki-laki itu yang tiba-tiba diselubungi rasa gelisah. Menuntunnya pada satu pintu menuju ruang rindu.
Frida, I miss you.